
Kembali lagi di rumah sakit, Max terlihat tidak tenang dan begitu emosi setelah mendengar paktanya. Ia sedari tadi terus saja mondar mandir di depan ruang operasi seperti robot yang tak mau berhenti. Edi dan Nia menyuruh nya untuk duduk dan tenang, namun max menolak dan terus saja melakukan hal itu.
Tak lama kemudian, lampu indikasi yang berada di atas pintu ruang operasi tiba-tiba saja mati. Dan tak lama kemudian Hanzo keluar dari sana, dan max langsung menatap nya dengan tajam seolah ingin menerkamnya.
" Bagai mana keadaan nya Hanz, apa dia baik-baik saja " Kata max dengan gelisah.
Hanzo hanya menggelengkan kepalanya dan memegang pundak Max agar tidak salah paham maksud ucapannya. Sedangkan Nia sudah membungkam mulutnya dengan tangan dan mata yang sudah berkaca-kaca, Edi juga merangkul sang istri dan saling menguatkan satu sama lain. Sedangkan yang lain hanya bisa berharap dengan hati yang begitu cemas.
" Aku hanya bisa berdoa agar adik mu itu bisa selamat, luka yang di deritanya sangat parah. Tapi dia sudah berjuang untuk hidup, aku sangat takjub melihat kekuatan dalam dirinya itu. Beruntung peluru nya tidak mengenai jantungnya, dan itu hanya berjarak 2 cm dari organ jantung. Tapi luka sayatan yang melintang di punggungnya, itu sangatlah lebar dan juga dalam. Untuk saat ini Dia sedang dalam keadaan kritis karena lukanya itu, aku juga melihat masih ada bekas luka dalam yang masih belum sembuh total. Kita berdoa aja dan memohon agar dia bisa cepat sadar dan melewati masa-masa kritisnya ini. Aku juga sudah meronggen tubuh Adri dan melihat beberapa tulang yang patah dan tengkorak kepala yang sedikit retak juga. Aku akan membicarakan lebih detail nya nanti setelah aku melihat dan menganalisanya dengan lebih teliti " Ucap Hanzo menjelaskan kepada Max dan semua orang.
" Baiklah, pindahkan dia keruang VVIP kelas pertama. Dan siapkan beberapa perawat untuk menjaganya selama 24 jam, begitu pun dengan dokter yang harus selalu standby setiap waktu jika di perlukan " Titah Max kepada Hanzo.
" Baiklah, kalo gitu aku harus pergi dulu " Ucap Hanzo sambil pamit pergi.
Max kemudian masuk kedalam ruangan dan melihat Adri yang sudah terbungkus oleh kain perban di tubuhnya tanpa menggunakan pakaian atas. Wajah dan bagian kepalanya yang luka juga sudah di berikan perban di bagian itu. Berbagai macam alat medis kini menempel di tubuh Adri, dan itu adalah hal yang paling Adri benci. Ia sangat benci dengan alat medis dan selalu saja kabur jika Max akan merawatnya di rumah sakit, kecuali jika Adri di beri obat tidur agar dirinya bisa mendapatkan perawatan.
Max berdiri di samping Adri, ia mengusap pelipis hingga ke pipi Adri. Bulir bening jatuh membasahi pipi Adri, dan Max menyusutnya dengan sangat lembut.
" Maaf abang terlalu terbawa suasana, aku sangat malu saat ini. Karena ulah mu aku menjadi seperti orang gila, dan hanya bisa menangis. Bukankah aku sangat cengeng, cepat lah sadar aku sangat merindukan wajah datar mu itu. Aku ingin kau tidur di pangkuan ku lagi dan aku akan menjaga mu " Ucap Max sambil menyusut air mata nya yang hampir jatuh.
Tak lama kemudian, beberapa suster datang dan akan memindahkan Adri. Max hanya memberikan arahan dan juga memperhatikan para suster itu agar tidak melakukan kesalahan.
Setelah adri di tempatkan di ruangan lain,yang lainnya bisa masuk bergantian dan melihat kondisi adri yang sedang terbaring di atas brangkar rumah sakit. Nia menangis dan kembali jatuh pingsan karena tak kuasa melihat Adri yang terbaring dengan berbagai macam alat medis menempel di tubuh nya. Edi dan Max membantu membaringkan Nia di sofa yang ada di ruangan itu, tak lama kemudian dua suster masuk untuk menjaga Adri.
Mereka memutuskan untuk duduk di sofa dan beristirahat, Alif, Doni dan Garda sudah berbaring di Ekstrabad lantai. Mereka terlihat begitu lelah dan Max menyuruh nya untuk mengistirahatkan tubuh mereka karena ia tahu jika berkelahi itu menguras tenaga yang banyak.
Sementara di kantor polisi, Roky, Saputra, Niken dan Tejo mereka masih ditahan karena bukti dari vidio yang di serahkan oleh Max saat melapor sebelum menangkap mereka semua. Pihak kepolisian telah memponis jika Saputra dan Roky akan terkena jerat hukuman dengan pasal pembunuhan secara di sengaja dan di rencanakan, lalu kepemilikan senjata api ilegal dan pengeroyokan serta penculikan. Untuk Tejo, dia hanya akan di tahan karena sudah meresahkan masyarakat dengan aksi kelompoknya yang suka membegal dan mencopet. Dan untuk Niken ia akan ditahan beberapa hari bersama dengan anak yang lainnya karena masih Sekolah.
Tak lama kemudian, Niken di panggil oleh polisi dan dibawa keluar dari jeruji penjara karena keluarganya datang ingin menemui dirinya.
" Kau, bukankah kau sedang berada di rumah sakit " Tanya Niken kaget melihat seorang pemuda yang sedang duduk di dekat wanita parubaya yang tak lain adalah ibu Niken.
" Aku sudah sadar kemarin lusa, aku mendapat kabar dari teman ku, jika kau berbuat ulah saat turnamen di SMA Harapan. Apakah itu benar? " Tanya pemuda yang duduk di samping ibunya Niken.
" Itu karena aku ingin membalas apa yang telah mereka lakukan padamu, bukankah dia yang sudah membuat mu koma beberapa bulan terakhir " Jawab Niken dengan emosi.
" Kau salah, justru orang yang membuat ku seperti ini adalah orang yang sudah kau bantu dan sudah menghasut mu " Jelas pemuda itu dengan kesal.
" Apa maksudmu Ruly, kenapa kau malah mempitnah orang lain yang jelas sudah membantu ku balas dendam atas perlakuan mereka. Jangan bicara omong kosong " Bentak Niken sambil menggebrak meja nya.
" Dulu, aku sama anak yang lain hendak pergi ke warnet tempat biasa kami nongkrong kalo bolos. Tapi seorang siswa SMA Harapan yang berpenamilan culun menghadang kita dan ngajakin buat tanding kekuatan, awalnya kita gak dengerin anak itu karena dari penampilannya yang seperti idiot membuat kami malas untuk meladeninya. Tapi siapa yang menyangka, dia malah memancing emosi kita dengan mendorong salah satu teman ku hingga jatuh ke aspal. Dari sanalah kami langsung tersulut emosi dan hendak memberinya pelajaran. Tapi belum sempat kami bertanya, malah datang murid cewek yang ternyata anak SMA Harapan juga, dan dia kabur dan berhasil membuatku jatuh. Karena kejadian itu pula, aku sampai begini. Awalnya aku hendak menyerang siswi itu dari arah belakang, tapi sialnya anak culun itu malah memukul kepalaku dengan botol beling hingga hancur " Cerita Ruly adik sepupu dari Niken.
Niken langsung terdiam setelah mendengarkan perkataan dari Ruly, ia merasa sangat bersalah terhadap Adri. Namun otak jahat nya malah senang karena ia berpikir jika kejadian malam tadi untuk membalas kekalahan yang selalu sekolahnya dapatkan.
" Kau tahu, siapa yang sudah menyelamatkan dan membiayai pengobatan serta keperluan selama aku sakit. Dia adalah siswi yang hendak aku pukul dari belakang, disaat semua temanku ketakutan dan malah meninggalkan aku dalam kondisi yang sangat miris. Hanya satu teman ku yang masih ada disana, tapi dia juga seperti kebingungan karena jalan itu sangat sepi. Beruntung orang yang aku kira musuh, ternyata dia adalah penyelamat nyawa ku sendiri " Jelas Ruly sambil tersenyum.
_________________________________________________
Jangan lupa untuk like, komen dan vote ya..