
Tiba-tiba keranjang apel yang di pegang Arjanta lepas dan jatuh ke lantai hingga buah apelnya jatuh berserakan. Arjanta langsung bergetar dan mengusap matanya karena ia sudah menangis setelah mendengarkan ucapan dari Garda. Arja tidak percaya dan menganggap jika itu hanya settingan Adri dan Max untuk menyambut kedatangannya. Ia bahkan tidak memperdulikan Galih yang menangis histeris di samping Adri sambil memegang tangan Adri.
" Kenapa dengan adiku, aku kira ini hanya settingan saja antara Oni sama bang Max. Katakan apa dugaan ku benar, kalian hanya pura-pura bukan. Kau juga sama kan Jo, kau ingin mengerjai ku dan bergabung dengan rencana licik mereka " Kata Arja sambil menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena ia masih belum menerima kenyataan pahit yang ia dapatkan.
" Oni sayang bangunlah, apa kau tidak merindukan ku. Aku sudah kembali karena aku sangat.. Sangat merindukan dirimu, aku ingin sekali memeluk mu dan meluapkan segala kerinduanku selama ini. Ayolah sayang bangunlah, jangan bercanda seperti ini " Ucap Arja sambil mendekati Adri.
Galih seketika luruh dan duduk karena tak kuasa melihat gadis yang amat ia cintai dan sayangi itu kini sudah terbaring lemah di atas brangkar. Hingga Candra datang dan memeluk Galih karena lama sudah tidak berjumpa dengan sang anak nya itu. Dan karena ia sangat mengerti perasaan sang anak hingga dirinya memberikan dorongan kekuatan mental padanya.
" Kenapa bisa seperti ini, aku berjuang selama ini hanya untuk tetap bersama nya dan ingin selalu bersamanya. Tapi kenapa dia seperti ini, kenapa Tuhan tidak adil padaku " Gumam Galih dengan lirih sambil membenamkan kepalanya di dalam tekukan lututnya.
" Sayang maafkan aku, aku janji akan selalu ada untuk mu dan tak akan pergi meninggalkan dirimu lagi. Aku sangat merindukan dirimu, bangunlah dan lihatlah aku " Ucap Arja sambil memegang tangan Adri yang dingin. Arja mengusap pipi Adri dan mencium kening dan pipi Adri berulang-ulang, ia begitu merindukan adik nya itu namun kenyataan pahitlah yang harus ia dapatkan.
Sementara Alfred kini sudah memeluk Max, ia terus saja mengatakan maaf kepada cucu besarnya itu dan mencoba menanyakan tentang keadaan Adri yang sebenarnya. Begitupun dengan Max yang akhirnya luruh juga pertahanan nya dan kembali menangis di pelukan sang kakek.
" Kenapa kau tidak bisa menjaga adik ku, kau lihat dia menjadi seperti itu dan sekarang dia sekarat. Aku sangat menyayanginya, hanya dia putri kecil yang paling aku sayangi. Aku mohon selamatkan lah dia, jangan biarkan Tuhan mengambil nya sama seperti kedua orang tuaku " Ucap Max.
" Maafkan aku nak, sungguh aku sangat menyesal akan hal ini. Maafkan aku.. " Kata Alfred.
" Apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana keadaannya sekarang ini " Tanya Alfred kepada Max sambil melepas pelukannya.
" Aku tidak tahu, Hanz hanya mengatakan jika dia mengalami luka tembak di dekat jantungnya dan luka tebasan senjata tajam di bagian punggung nya. Aku bahkan tidak bisa mengobatinya dan membuat dirinya kembali sadar dan kembali kedalam pelukanku " Kata Max.
" Tenangkanlah dirimu, dia akan baik-baik saja. Jika dia belum ada perubahan, maka aku akan membawanya ke Amerika dan mengobatinya disana agar pasilitas yang di gunakan lebih lengkap dan bagus " Kata Alfred.
" Aku sudah memberitahu keadaan cucu kesayanganku kepada mereka, aku rasa mereka akan balik ke Indo " Jawab Alfred.
Alfred kemudian berjalan kearah Arja yang masih menangis sambil sesekali mencium punggung tangan Adri yang di pasangkan alat medis. Dia berusaha menenangkan cucu keduanya itu dan ia juga melihat Adri sang cucu kesayangan. Sementara Arja bergeser dan berpelukan dengan Max melepas kerinduan yang sudah begitu lama dan saling menguatkan, Alfred menangis melihat kondisi Adri. Ia mengusap pipi Adri dan memegang tangan Adri, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya. Seberapa keras sikap Alfred yang di tunjukan kepada semua orang, ia akan luruh setelah melihat kondisi Adri yang sedang sakit atau pun sedang terluka. Dan ia tidak akan menghiraukan Katrina sekalipun karena Alfred lebih menyayangi Adri dibandingkan anak nya itu.
Padahal kemarin lusa Alfred baru saja mendengar kabar jika Adri sangat baik dan sehat dari orang suruhan yang ada di Indonesia. Namun semenjak hari itu, ia tidak mendapatkan kabar karena Adri kembali mengetahui tentang mereka dan kembali mengelabui mereka hingga Adri dapat lolos di beberapa waktu dan kesempatan.
Alasan Alfred tak kunjung datang mengunjungi Adri adalah karena urusan Galih yang sudah hampir dua tahun menjadi tanggung jawab karena perjanjian yang ia buat. ( chapter 39 " Last story ago "). Ditambah Arja yang di ketemukan oleh Candra yang saat ia sedang ada proyek di luar kota dan lokasi yang sangat jauh dan terpencil. Karena hal itu lah Alfred semakin berhutang budi kepada Candra dan semakin memperhatikan kesembuhan Galih, karena ia juga tahu jika Adri begitu sangat menyayanginya dan sudah mengetahui dari Galih sendiri, jika mereka sudah menjalin hubungan serius.
Sebenarnya kematian Jo sudah Alfred rencanakan bersama dengan Candra, dan Max juga terlibat dalam hal itu. Karena sebenarnya saat itu luka yang di derita Jo tidak patal hingga masih bisa sembuh walau waktu penyembuhannya lama. Tapi karena sebuah pakta yang Jo sembunyikan dari semua orang terungkap oleh Max, membuatnya dalam keadaan kritis karena hal itu.
Jo di ketahui memiliki penyakit kanker stadium 3 dan itu ia sembunyikan dari semua orang termasuk Adri dan temannya. Untuk itulah Jo menulis surat terakhir agar Adri bisa menjaga Galih adiknya dan berharap jika Adri bisa mencintai kembarannya dan tidak melupakan dirinya. Karena ia tahu jika umurnya tak akan lama dan untuk itu juga dirinya tidak menyerang Aldi dan lebih memilih mengorbankan dirinya demi Adri yang ia sayangi. Untuk itu pula mengapa Jo selalu Mati-matian melarang Adri untuk merokok dan meminum alkohol, karena Jo tak ingin Adri merasakan sakit yang ia derita.
Alfred dan Candra memalsukan kematian Jo dengan menukar mayat yang kebetulan namanya sama, dia adalah Galih Sucipto pemuda berusia 28 tahun dari keluarga biasa yang menderita penyakit tumor ganas di otaknya, dia meninggal sehari sebelum Jo di pindahkan ke Amerika.
Dan untuk Max, ia hanya bisa membantu menukarkan jenajah dan bernegosiasi dengan pihak keluarga jenajah itu. Dengan imbalan dari Candra dan Alfred yang akan menyekolahkan anak dari keluarga itu hingga lulus sarjana dan akan bekerja dengan layak di perusahaannya. Dan untuk biaya perawatan serta pemakamannya akan ditanggung oleh pihak Candra sepenuhnya, tapi mereka juga bisa melayat dan berkunjung ke makam. Batu nisannya juga di desain khusus, yakni dengan nama asli sang jenajah, dan untuk bagian nama belakangnya kembali di lapisi dengan bahan khusus dengan nama belakang Jo. Jadi bisa kapan saja dilepas dan memperlihatkan nama asli orang yang di kuburkan di makam itu. Sebenarnya Max menduga jika Galih tak akan bertahan dengan penyakit nya itu, dan akan tetap meninggal karena keadaannya yang semakin memburuk. Untuk itulah ia tidak memberitahu Adri karena ia tidak ingin melihat Adri hancur dan terpuruk kemudian menjadi stress karena hal itu.
_________________________________________________
Jangan lupa untuk mendukung cerita aku ya..