
Adri sudah bosan karena cuman duduk merhatiin para preman yang sedang santuy baringan di atas aspal. Ia pun segera turun dan berjalan menghampiri pemuda yang di kroyok tadi. Namun saat ia hendak menghampiri tubuh pemuda itu, tanpa di sangka seorang pemuda yang berbicara padanya tadi ia akan menikam Adri dari belakang.
Namun nasib pemuda tersebut sangatlah tidak beruntung, Adri dengan sangat cepat menyadari hal itu. Pemuda yang akan menikam Adri pun langsung tergeletak di aspal dan ia langsung muntah darah. Adri melayangkan dua kali tendangan serta tinjunya ke arah dada pemuda tersebut, hingga ia terpental dan langsung memuntahkan darah.
" Kalian memang hanya seorang pengecut, dasar pemuda lemah. Kalian hanya bisa main kroyokan dan menikam musuh dari belakang. Untuk kali ini aku akan mengampuni kalian, tapi jika besok aku lihat kau seperti ini lagi. Jangan berharap Tuhan akan memberikan kalian keberuntungan " Adri berkata dengan lumayan keras, ia paling gak suka dengan orang yang main di belakang. Karena menurutnya orang tersebut hanyalah manusia lemah dan tak lebih dari sampah.
Keempat pemuda itu pun langsung menghampiri temannya yang sudah muntah darah. Walau kondisi tubuh mereka juga sudah ringsek, namun mereka tetap membantu teman yang terluka cukup parah untuk pergi meninggalkan tempat itu. Mereka sangat ketakutan setelah mendapat peringatan dari Adri.
Melihat kelima pemuda yang menyerangnya sudah lari kocar kacir, Adri hanya tersenyum melihat kepergian mereka yang sudah menghilang dari pandangannya. Adri kemudian membantu pemuda yang sudah di kroyok itu dengan membawa ke dalam mobil miliknya.
" Heh, loe ini makan apa sih. Berat loe udah kaya babon aja, eh bukan lebih tepatnya loe mirip sama king Kong " Gerutu Adri yang tadi membopong tubuh pemuda tersebut.
Setelah memasangkan sabuk pengaman pada tubuh pemuda tersebut, Adri segera melajukan mobilnya menuju ke perumahan tempat ia tinggal. selama di perjalanan, Adri hanya pokus pada jalannya di depan. Ia juga membawa mobilnya dengan sangat Hati-hati, karena ia takut membuat pemuda yang ada disampingnya tambah terluka.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, kini Adri sudah memasuki wilayah komplek perumahan Cinta Raya. Salah satu perumahan yang bisa di bilang cukup mewah yang hanya di huni oleh TNI, Polisi dan para anggota pemerintahan lainnya. Saat Adri sampai di depan rumahnya, ia segera memarkirkan mobil kesayangannya itu tempat parkir yang biasa.
Namun sebelum Adri membawa pemuda itu keluar dari dalam mobil, tadi ia sempat melihat ada pak Hendro tetangga nya yang terlihat sedang menyiram tanaman kesayangannya. Ia adalah seorang TNI AD, beliau sangat menyayangi tanaman yang istrinya tanaman tersebut.
Adri segera menghampiri Hendro dan menyapanya, tak lupa ia juga mencium tangan Hendro layak nya orang tua Adri sendiri. Hendro yang sudah bertetangga dengan Adri sangat senang, terlebih dengan sikap ramah serta sopan yang selalu Adri tunjukan pada keluarga dirinya.
" Sore om, tumben nih bukan Tante Mira yang nyiram tanaman nya " Adri langsung menyapa Hendro dan mencium tangan Hendro seperti ia menghormati kedua orang tuanya.
" Eh nak Adri, Iya nih Tante kamu lagi Jalan-jalan ke mall sama si Radit " jawab Hendro. Ia sangat mengagumi Adri, walau ia tahu bagaimana sikap Adri yang terkesan seperti anak Liar dengan penampilannya yang terlihat seperti anak tidak baik. Namun ia sangat takjub dengan sikap ramah serta sopan santun yang selalu Adri tunjukan padanya.
" Oh, Anu om apa Adri boleh ganggu waktu om sebentar. Adri ingin minta bantuan om, Adri janji ini cuman sebentar " Adri memohon kepada Hendro dengan sopan.
" Kamu jangan sungkan seperti itu, ayok apa yang bisa om bantu sama kamu " Hendro terlihat sangat semangat kalo jika Adri yang meminta bantuan kepadanya.
Mereka pun berjalan kearah rumah Adri, tak lupa Adri juga memberi tahu kan maksud dari ia meminta bantuan pada Hendro.
Mereka pun telah sampai di dekat mobil milik Adri, sebenarnya Hendro sedikit penasaran dengan keluarga Adri. Bagaimana tidak, ia hampir takjub dan bahkan sampai tak percaya saat ia melihat kendaraan yang selalu Adri bawa. Dan saat ini, Hendro di buat terpana dengan tampilan mobil yang baru ia lihat, Mobil yang sangat terkenal di dunia dengan harga yang sangat pantastis. Hendro terkadang ingin sekali menanyakan tentang keluarganya, pernah ia juga berpikir negatif tentang Adri. Melihat penampilan yang seperti anak gang dan ia juga selalu membawa kendaraan mewah yang notabe nya hanya di gunakan oleh orang kaya atau miliarder.
Kini Adri sudah membuka pintu mobilnya, disana sudah terpampang dengan jelas pemuda dengan wajah boyok dan di penuhi darah yang sudah mengering menghiasi wajahnya. Hendro tidak terkejut melihat hal seperti itu, karena ia sering melihat hal itu saat dirinya bertugas atau bahkan lebih parah dari itu.
" Nak, kenapa kau tidak bawa pemuda ini kerumah sakit saja, sepertinya ia terluka lumayan parah " Kata Hendro setelah melihat kondisi pemuda tersebut.
" Tak apa om, biar dia dirawat disini aja. Nanti aku akan memanggil dokter kesini jadi aku tak perlu mengurus data administrasi di rumah sakit " Jawab Adri.
Adri memang sangat pintar, dirinya sudah memikirkan bagaimana dampak jika dirinya mengisi sembarangan pormulir dan malah membongkar jati dirinya. Walaupun itu rumah sakit milik kedua orang tuanya, tapi ia tetap menjaga privasi nya dengan sangat lihai. Lagian dia juga malas berurusan dengan polisi kalau pihak rumah sakit melaporkannya.
" Loh, bukannya itu malah nyusahin kamu ya " tanya Hendro.
" Malas om, aku gak mau berurusan dengan pihak berwajib dan mengurus data administrasi nya. Kalo disini kan cukup di periksa dan menebus obat. Lagian om aku cuma berniat menolongnya bukan untuk mencampuri kehidupannya " Jawab Adri membuat Hendro seketika tertohok dengan ucapannya. Adri memang gadis yang sangat cerdik dan pintar dalam segala situasi.
" Anak ini benar-benar membuatku serasa malu sekaligus mati tertembak dengan perkataannya. Bagaimana anak seperti dia bisa berkata seperti itu, bahkan aku yang penasaran dengan nya pun langsung menciut. Baru kali ini aku berhadapan dengan orang misterius seperti nak Adri " Batin Hendro.
" Ya sudah ayok bantu om buat angkat kakinya, sepertinya dia juga semakin kesakitan. Kita harus cepat menolong pemuda ini" Hendro segera bertindak dan mengangkat tubuh pemuda tersebut.
Setelah Adri dan Hendro menggotong tubuh pemuda itu, mereka langsung membaringkannya di kamar tamu rumah Adri. Hendro juga langsung membantu membersihkan pemuda itu dan membuka pakaian yang ia kenakan. Adri juga melihat bi Supiyem tengah sibuk mempersiapkan baskom berisi air.
_________________________________________________
Jangan lupa kasih Rate 5 likeπ, komen π dan vote nya ya.
See you next chapter ππππ