
Saat pelajaran sedang berlangsung, Tiba-tiba Samudra datang masuk ke kelas Adri. Tak lupa ia minta izin dulu sama pak Budi, setelah itu ia langsung menghampiri Adri.
" Heh, ngapain loe kabur lagi, kan gue udah bilang jangan pergi sebelum hukumannya selesai. Ayok ikut gue, hukuman loe belum selesai " ucap Samudra dengan wajah kesalnya.
" Apa sih loe, orang lagi belajar juga. Sana pergi loe, gak usah ganggu orang yang lagi belajar " jawab Adri dengan nada jengkel.
" Gak usah banyak ngomong deh, cepet atau gue tambahin lagi hukumannya " Samudra semakin geram dengan tingkah Adri, apalagi wajah datar dan sikap santuy nya yang bikin emosi membuncah.
" Sana loe pergi, biar gue bisa tidur dengan tenang. Kalo ada disini gue gak bisa bermimpi tentang masa depan gue " ucap Galuh dengan meledek puas. Ia memang gak bakal tidur tenang jika Adri ada di dalam kelas, karena Adri seringkali usil dan mengganggu tidur nyenyak nya.
" Kok lu malah bantuin dia sih, sebenarnya kawan loe tuh dia apa gue. Harusnya tuh bantuin gue gitu, dasar kawan durhaka luh. Makan tuh mimpi sialan " cerca Adri, tak lupa ia menghadiahkan sebuah jitakan di kepalanya Galuh. Ia juga bisa melihat sangat empunya meringis kesakitan, dan Adri bisa puas dengan apa yang sudah ia lakukan.
Karena sudah bosan akhirnya Samudra menarik tangan Adri dan membawanya keluar kelas. Namun bukan Adri jika hanya pasrah di bawa keluar begitu saja.
" Papi ganteng dan terbohay se Jakarta, tolongin inces Adri, dia udah jahat loh pi. Apa papi gak mau aku bantuin buat dapetin mami Selly atau inces Adri comblangin aja sama papi Iken " bujuk Adri dengan wajah memelas nya. Ia memang sangat lihat dalam memainkan drama, apalagi kalau itu menyangkut pak Budi.
" Maaf ya nak, bukan papi gak mau nolongin kamu. Papi emang cinta sama Mami Selly, tapi ini demi kebaikan kamu nak " ucap pak Budi dengan wajah sedih.
" Ooy Garda bantuin gue kek, loe jadi abang gak ada kasih sayang nya ya " ucap Adri dengan wajah yang sudah tertekuk. Ia sangat kesal karena rayuan mautnya gak berpengaruh sama pak Budi.
" Emang siapa abang loe, udahlah Dri loe gak usah banyak drama deh. Tinggal ngikutin Samudra doang apa salahnya sih " jawab Garda dengan acuh.
" Sialan loe Ucok, awas aja nanti kalo loe butuh bantuan. Gak bakalan gue bantuin loe " umpat Adri dengan wajah yang sudah kesal.
" Ayok cepetan, gak usah banyak ngomong deh. Cape gue denger nya juga " ucap Samudra.
Ia kemudian menarik tangan Adri keluar dari dalam kelas tersebut.
" Buketu, semangat ya,sorry ya gue gak bisa bantuin loe. Entar deh gue samperin loe kesana" teriak Sigit pada Adri.
Kini Adri dan Samudra tengah berjalan menuju ruangan BK. Disana Pak Hadi tengah duduk santai karena hari ini menurutnya tidak ada yang berbuat kekacauan dan juga ulah nakal. Namun pemikirannya langsung sirna seketika saat Samudra membawa masuk Adri kedalam ruangannya.
" Huuh.. Bapak kira kamu sudah tobat Adriani, Bapak tadi udah seneng loh sekolah kita aman. Lah sekarang malah kamu lagi yang masuk " gerutu Hadi, ia hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar dan pasrah dengan apa yang harus ia jalankan.
" Ini juga bukan kemauan Adri kok pak, tuh anak buah bapak sendiri yang paksa Adri buat dateng kesini. Orang aku tadi lagi belajar kok " sanggah Adri dengan wajah datar.
Pak Hadi Tiba-tiba keheranan dengan apa yang di ucapkan Adri. Samudra juga terlihat mengerutkan kedua alisnya, ia tidak percaya Adri malah membalikan pakta nya. Namun Samudra langsung sadar jika Adri sedang mencoba membuat alasan untuk pergi dari ruangan tersebut.
" Bohong pak, orang dia dateng telat kok. Tadi aku lagi nge hukum dia karena telat masuk sekolah, nah aku tinggal soalnya pak Supyan manggil aku buat ke ruangannya. Eh pas balik dia udah ngilang, ya udah aku tarik paksa buat bikin surat pernyataan disini " terang Samudra pada Pak Hadi.
" Lah kan Bapak yang bertanggung jawab disini, masa malah di serahin sama murid sih. Lagian aku juga harus pokus belajar, Bapak kan tau sebentar lagi aku bakal ujian dan juga Sertijab " jelas Samudra pada Pak Hadi.
" Bukan gitu Dra, bapak bakalan ngurus siswa yang lainnya. Dan kamu cuman ngurus nih anak satu, lagian kan kamu lagi PDKT an sama si Adri. Ya sekalian aja ngambil kesempatan buat deketin nih anak " bujuk Hadi dengan berbisik.
" Sialan ni guru kampret, beraninya nyuruh-nyuruh gue. Emang dia siapa, mana dia tau lagi gue lagi deket sama Adri. Huh terpaksa deh " batin Samudra.
" Baiklah urusan dia biar aku saja yang urus, bapak bisa ngurus hal lainya " jawab Samudra dengan pasrah.
" Nah gitu dong, ini baru anak teladan " puji Hadi pada Samudra.
Adri yang sudah bosan jadi kambing congek di situ langsung bicara, dan hendak pergi dari sana. Namun semua itu Sia-sia saat ia melihat kedua orang yang ada dihadapannya melotot tajam kearahnya.
" Udah selesai kompromi nya, aku mau pergi dulu, males disini cuman berdiri gak jelas " ucap Adri, ia hendak berbalik dan berjalan kearah pintu.
" Diam kamu " teriak Hadi dan Samudra secara bersamaan sambil melotot kearah Adri.
Adri yang melihat hal tersebut pun hanya bisa meringis ngeliat mata seperti mau loncat dari kepala kedua orang yang barusan berteriak padanya.
" Apa sih, gak usah melotot juga kali, itu mata bisa nge gelinding kelantai. Lagian aku juga bosen disini cuma berdiri sama jadi kambing congek kalian, mending di kelas dengerin Pak bohay jelasin gunung sama lembah " ucap Adri dengan santainya.
Mereka tak percaya dengan apa yang mereka dengar dari Adri, ia juga dengan santai memasang wajah datarnya yang terlihat sangat menyebalkan.
" Ya Tuhan, ini anak wajah nya kaya tembok aja. Pengen gue meng Uyel-uyel itu wajah biar gak nyebelin " gerutu Samudra dalam hatinya.
" Ya udah bapak tinggal kalian dulu, bapak mau ngajar bimbingan di kelas. Kamu Dra yang sabar ya bimbing si Adri nya, dan semangat " ucap Hadi sambil melenggang pergi keluar ruangan tersebut.
Samudra hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi kali ini, tadi kepala sekolah juga sudah menyerahkan Adri dalam bimbingan dirinya dan sekarang Pak Hadi juga menyerahkan Adri kepadanya. Ia berpikir untuk segera melangsungkan sertijab agar dirinya tidak repot dengan urusan sekolah dan pokus belajar dan deketin Adri.
" Sekarang loe duduk dulu, gue mau ngambil dulu kertas nya " ucap Samudra kepada Adri.
Dengan terpaksa Adri langsung duduk tanpa menyaut ucapan Samudra, ia lebih memilih diam dan menikmati Masa-masa santuy di ruangan yang ber AC.
_________________________________________________
Jangan lupa π & π
See next chapter ππ