
" Maaf, gue sangat salah dan udah buat loe malu " Cicit Radit pelan. Ia baru mau buka mulut setelah bungkam sedari perdebatan tadi.
" Gak usah diambil hati, gue cuman kasih nasehat buat cowok playboy macam loe bang " Kekeh Adri pelan sambil memainkan rambut di kepala Radit.
Sontak Adri kaget karena Radit tiba-tiba memeluk Adri dan mengucapkan banyak terimakasih padanya, sedangkan Adri tersenyum mendengar perkataan Radit. Bahkan Adri jadi terbawa suasana karena teringat dengan sang kakak Arja yang masih belum di ketemukan hingga saat ini.
" Kok malah kebawa suasana sih, ini gara-gara elo bang " Kata Adri dengan kesal dan kembali memasang wajah datarnya untuk menutupi dan juga menekan perasaan sedih dalam hatinya.
" Sorry, gue sangat terharu sekaligus bangga karena dipertemukan sama elo Dri, gue merasa begitu bangga dengan loe dan semakin sayang sama loe Dri. Loe udah gue anggap seperti adik kandung gue sendiri, jadi gak papakan kalo gue berubah jadi manja saat deket sama elo dan gue gak mau nerima penolakan " Kata Radit sambil terkekeh pelan.
" Cih.. Dasar pemaksa, udah cepet jalankan mobilnya. Gue mau pulang dah pengen mandi terus tidur, cape gue seharian beraktivitas mulu " Kata Adri dengan wajah datarnya.
" Siap adek ku tersayang, maksud gue siap Kapten " Ucap Radit sambil hormat sama Adri, hingga Adri tertawa puas melihat tingkah konyol Radit.
Tanpa disadari oleh mereka berdua, Samudra melihat kegiatan yang sedari tadi di lakukan Adri dan Radit. Samudra bahkan semakin terbakar api cemburu dan tanpa ia sadari, sejak tadi dirinya sudah mengepalkan tangan dan memukuk stir mobilnya sambil mengumpati Radit yang terlihat mesra sama Adri. Kebetulan mobil samudra terletak di samping kiri mobil Adri, hingga ia bisa melihat dengan seksama ekspresi bahagia dari Radit dan Adri karena kaca mobil Adri bening.
Akhirnya mobil Adri keluar dari barisan parkir dan melaju untuk keluar dari arena itu, setelah di jalan raya Radit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan biasa. Hari ini Adri membawa mobil Honda Accord yang di modifikasi, sebenarnya ia ingin membawa mobil lambo nya tapi ia urungkan karena malas menukar ke Mansion.
Sementara di belakang mobil Adri, samudra mengikutinya menggunakan mobil Perarri berwarna putih. Adri dan Radit tidak menyadari jika mereka selalu diikuti oleh samudra dari kafe.
Perjalanan berlangsung begitu lama, saat ini Adri sudah memasuki wilayah perumahan Elite dan berhenti di sebuah rumah mewah dengan pagar besi berwarna putih menjulabg tinggi dan membunyikan klakson mobilnya. Seorang satpam kemudian membuka pagar besi itu dan mempersilahkan mobil Adri masuk. Setelah sampai di depan rumah mewah itu, Radit membunyikan klakson mobil lalu keluar dari mobil.
Tak lama kemudian, nyonya dan tuan rumah itu keluar sambil tersenyum bahagian menyambut kedatangan Adri yang di beritahukan oleh anak nya lewat pesan chat. Tak lama seorang pemuda yang lebih tua beberapa tahun dari Radit keluar sambil menyela teriakan mami nya yang udah ngalahin kencengnya suara toa Masjid.
" Akh.. Akhirnya anak kesayangan Mami dateng juga, habis dari mana kalian ini sampe baru pulang malam begini " Teriak Tia dengan penuh kegirangan.
" Mami ini, udah sadar suara melebihi toa masjid masih aja berteriak. Gak malu apa sama tetangga " Cerca sang anak pertama sambil berdiri di sekat sang ayah.
" Dasar anak durhaka kalian, gak yang gede gak yang kecil sama saja " Ucap Tia dengan kesal.
" Ayok nak masuk dulu, kamu makan malam lah dulu dan veristirahatlah disini " Kata Raihan hendak menggandeng Adri masuk kedalam.
Namun sebelum Raihan menyentuh Adri, Tia lebih dulu memeluknya posesif lalu pergi mengajak Adri masuk kedalam dan meninggalkan ketiga lelaki keluarga Sanjaya mematung di luar.
" Kalo ada anak cewek nya, Mami suka lupa sama kita deh. Sebenarnya yang anak kandung itu siapa sih " Gerutu anak tertua keluarga Sanjaya.
" Sabar Kak, Mami emang kaya gitu karena di keluarga kita gak ada anak cewek. Makanya dia suka lupa sama daratan kalo ketemu sama si adek " Jelas Radit sambil menyusul masuk dan meninggalkan kakak beserta ayahnya.
" Tuh dengerin Pih, sebaiknya Papi buat lagi anak dan usahain cetak anak cewek. Biar si Mami gak ngaku-ngaku anak orang mulu, kasian tuh anak pasti habis di kerjain sama Mami " Kata anak sulung nya dengan kesal.
" Dasar kau ini, di usia ku saat ini seharusnya sudah pantas menimang cucu. Kau malah menyruhku buat anak lagi di usia yang sudah menua ini, membayangkan nya saja membuat pinggangku terasa sakit dan ngilu. Seharusnya kau segera menikah dan memberi kami cucu, dasar gak berguna " Jawab Raihan dengan wajah kesalnya sambil masuk kedalam rumah meninggalkan anak sulung nya itu.
Sementara di luar rumah, anak sulung keluarga Sanjaya hanya mendengus sambil ngumpat karena kekesalannya itu. Ia pun menyusul masuk kedalam dengan wajah datar serta penuh kesal. Ia kemudian ikut bergabung di ruang keluarga, dan bergabung berbincang bersama Adri dan keluarganya.
" Apa kamu mau makan dulu, atau mau mandi dulu. Loh kok kamu pakai jaket Adit sih sayang, gimana kalo kamu ketularan sesuatu dari dia. Ayok lepasin jaket nya, sini biar mami bantu bukain " Ucap Tia tanpa jeda.
Sedangkan Adri sedari tadi sudah menelan ludah nya dengan kasar dan menurut saja dengan perlakuan Mami angkat nya itu, sebenarnya Adri ingin sekali menjawab pertanyaan Tia. Namun ia tidak bisa memotong perkataan nya yang seperti laju kereta, begitupun dengan keluarga nya yang terlihat pasrah setia mendengar setiap ocehan yang keluar dari mulut Tia.
" Mih, aku gak punya penyakit kurap ya, jadi jangan asal tuduh aja " Kata Radit membela dirinya pada sang Mami.
" Mami gak nyebut kamu punya penyakit kurap kok, kamu nya aja yang sensi dan kegeeran. Sudah sana kamu jadi dulu, badan kamu bau sama keringat, pantas saja kamu gak laku kaya abang kamu itu " Ledek Tia balik pada kedua anaknya.
" Kok Mami malah bawa-bawa aku sih, padahal siapa yang protes nya coba " Kata anak sulung nya dengan kesal.
" Entah, lagian si Adri juga sama kaya aku habis tanding permainan basket. Tapi Mami cuman nuduh aku doang yang bau disini " Dengus Radit kesal.
" Wah, anak Mami berbakat sekali. Kamu juga pandai bermain basket juga, apa kakak kamu kalah dalam permainan tadi. Ayok cerita sama Mami sayang " kata Tia dengan terkejut dan semakin bangga sama Adri.
" Huh, bahkan Mami gak pernah memuji aku dari dulu dan cuman bisa ngomel saja. dan sekarang lihat lah, aku semakin tak dianggap dan seperti di buang " ucap Radit mendramatir mimik wajahnya.
" Sudah lah, sebaiknya Anak papi pada mandi dulu agar wangi dan Mami kalian gak lagi ngomel-ngomel lagi " Kata Raihan melerai perdebatan tak berfaedah itu.
_________________________________________________
Jangan lupa untuk Vote, Like Dan komen ya.. πππβ€β€β€