
Semua orang yang ada disana begitu terkejut dengan serangan dadakan tersebut. Begitu pun dengan orang-orang yang sedang ada di dekat parkiran yang jaraknya gak terlalu jauh dari lapangan. Ia tak lain adalah Samudra Dkk, mereka belum pulang karena tadi mereka memilih untuk beristirahat terlebih dahulu dan pulang untuk bagian paling terakhir.
Namun siapa sangka, ternyata bukan hanya rombongan mereka saja yang belum pulang. Dan hal yang membuat mereka terkejut adalah, serangan yang akan dilakukan oleh Niken pada Adri dari arah belakang. Samudra ingin berteriak dan menyelamatkan Adri, namun dengan cepat Tirta mencegah hal itu dengan membekap nya dan dibantu Reza yang menahan tubuh Samudra.
Mata mereka terbelalak saat melihat Adri menyerang terlebih dahulu dan ternyata sudah menyadari hal itu, sedangkan Tirta memberikan penjelasan jika dirinya sudah melihat gerak-gerik Adri yang akan menyerang balik tadi.
" Lepaskan... " Teriak Samudra sambil berontak dengan keras.
" Loe harus diam, karena kita gak boleh sampai ketahuan. Sebaiknya kita balik sekarang " Kata Tirta sambil berbisik, lalu Samudra mengangguk dan Tirta pun melepaskan Bekapan nya.
" Maksud loe apa, gue mau nolongin gadis gue yang akan di serang dari belakang " Kata garda dengan emosi.
" Gue sempet lihat gerakan Adri yang begitu waspada, makanya gue segera nahan loe karena mereka gak tau kalau di sekolah ini masih ada kita " Jelas widya dengan kesal saat menghadapi sikap Samudra yang terlihat seperti itu.
Samudra kemudian membenarkan perkataan dari Tirta setelah melihat area sekolah yang sudah sangat sepi itu.
" Sebaiknya kita saat ini gak ikutan gabung sama mereka, loe tau kan dengan ini akan berpotensi merusak persahabatan antar sekolah " Kata Reza membela Tirta.
" Reza benar Dra, kita sebaiknya balik sebelum mereka sadar tentang keberadaan kita. Biarkan Adri mengurus anak itu, gue percaya dia melakukan itu pasti gara-gara kalah tanding tadi dan gak Terima dengan Hasilnya " Kata Wirya pada Samudra.
Mereka bertiga berpikir jika kejadian tersebut berhubungan dengan acara pertandingan tadi. Samudra yang mendengar perkataan ketiga temannya pun mengerti dan mengikuti sarannya, walau hati kecilnya ingin sekali mendekati Adri dan membantunya karena ia merasakan kekhawatiran yang sangat pada Adri.
" Kau benar, sebaiknya kita balik sekarang dan biarkan dia yang mengurus hal itu. Gue yakin dia akan melakukan yang terbaik " Kata Samudra sambil berjalan pincang menuju mobilnya.
Rombongan Samudra pun segara pulang menggunakan kendaraan mereka masing-masing, dan lekas pergi meninggalkan sekolahan. Mereka berpikir jika kejadian tadi ada sangkut pautnya sama masalah pertandingan, dan alasan Tirta dan Reza menahan Samudra karena dia sang kapten Basket sekolah nya. Terlebih, ia juga terlibat adu mulut karena cedera yang di alaminya dengan tim Bakti.
Sementara dilapangan, Adri terlihat begitu geram dengan perlakuan Niken yang terlihat layaknya pengecut yang beraninya menyerang dari belakang. Adri pun menatap kearah rekan Niken yang sangat ia kenal, kemudian Adri mendekat dan berbincang kepadanya. Setelah percakapan itu, siswa tersebut nampak tersenyum sambil mengucapkan terimakasih pada Adri, padahal awalnya tadi ia sangat gugup dan ketakutan saat di dekati oleh Adri.
Begitupun Adri yang kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat parkir dan bergegas pulang. Namun sesampai disana, Radit ternyata mencegat Adri dan ikut Adri untuk pulang. Sedangkan mobilnya akan di titipkan sama temannya Sandy dan akan mengambilnya setelah urusan dengan Adri selesai.
Mereka pun langsung berpamitan untuk pulang dan mengucapkan salam perpisahan mereka. Begitupun Adri dan Radit yang sudah pergi duluan menuju tempat yang akan Adri tuju.
" Jadi apa yang tadi loe bicarakan sama salah satu teman nya si Niken, gue lihat dia senyum pas ngobrol sama elo dek. Padahal ekspresi nya kan ketakutan pas loe deketin dia " Tanya Radit penasaran. Ia juga memaksa untuk menyetir mobil Adri walau harus dengan sedikit perdebatan.
" Cuman nyaranin buat segera di bawa kerumah sakit aja " Jawab adri santai.
" Loe serius cuman nyebut gitu doang, gue lihat loe kaya akrab banget sama tu anak? " Ucap radit dengan curiga.
" Gue kan penasaran dek " Jawab Radit dengan ketus.
" Kalo gak tau diam aja, gak usah banyak bacot. Pusing gue dengernya, ditambah lagi perut gue udah lapar dari tadi " Keluh Adri.
" Loe mau langsung pulang atau mau kemana?, apa kita singgah buat makan dulu di cafe atau gimana? " Tanya Radit sama Adri.
" Ya udah, loe cari tempat makan dulu. Habis itu langsung balik anter loe pulang " Jelas Adri.
Radit pun hanya mengiyakan perkataan Adri, sebenarnya ia masih merasa kesal dan juga penasaran dengan apa yang di bicarakan oleh Adri dan salah satu teman Niken saat di lapangan tadi. Namun melihat Adri yang tak mau menjawab, ia pun pasrah dan memilih menunggu Adri yang suka rela memberitahu jawaban nya sendiri.
Sesampai disana tempat makan, Radit segera memarkirkan mobilnya dan langsung turun untuk pergi kedalam kafe tersebut. Tempat itu sangat ramai sekali, terlihat dari parkiran yang hampir penuh, bahkan mobil Adri pun ti tempatkan di parkiran paling ujung karena ramainya pengunjung sore itu.
" Jauh amat loe bang kalo parkir " Gerutu Adri kesal, karena harus berjalan kaki menuju kafe itu.
" Ya mau gimana lagi, yang kosong cuman di sana doang dek. Kayaknya kafe itu sedang ramai deh " Jawab Radit.
" Tau gini mah, mending balik aja " Ucap Adri.
Radit hanya bisa menghela nafasnya dan bersabar mendengarkan gerutuan Adri, ia juga salah karena gak milih tempat yang lain saja. Namun karena tempat itu sering di datengin ia sama temannya, ditambah perut yang sudah minta di isi juga. Membuat ia mau tak mau tetap masuk ke dalam kafe itu. Sebelum turun dari mobil, Adri sudah membersihkan bercak darah di sudut bibirnya dan juga memakai hoodie milik Radit yang besar untuk menutupi seragam basketnya.
Setelah masuk, Radit mengedarkan pandangannya untuk mencari meja yang kosong. Tak lama kemudian, seorang pramusaji mempersilahkan mereka untuk masuk. Pramusaji itu mengatakan kalo tempat di sana sudah penuh sama pengunjung, tapi ia juga menawarkan tempat VIP yang letaknya ada di atas bangunan itu.
" Permisi Dek, ada yang bisa saya bantu " Sapa pramusaji itu dengan ramah.
" Saya lagi cari tempat kosong kak, adek saya udah kelaperan tuh. Tapi dari tadi saya belum nemu meja yang kosong " Jelas Radit pada pramusaji itu.
" Oh kami mohon maaf dek, meja umum di kafe kami memang saat ini sudah penuh sama pengunjung. Tapi kalo adek mau, kita masih ada meja untuk dua orang lagi di kelas VIP " Kata pramusaji itu sambil menawarkannya.
" Baiklah mas, kami ambil itu saja. Untuk ordernya bisa disana kan mas? "Ucap adri.
" Tentu dek, mari saya antar ke lantai atas " Kata pramusaji itu sambil mempersilahkan Adri dan Radit menuju tempat VIP itu.
_________________________________________________
Jangan lupa untuk like komen dan vote ya...