
Kini Adri sudah terbaring di salah satu bangsal yang ada dirumah sakit, dia terlihat lebih baik sekarang. Walau pun masih terlihat lebam kebiruan di tulang pipi dan juga sudut bibirnya. Adri sudah terbaring di sana selama satu hari dua malam, luka yang ia derit cukup serius. Ia mengalami cedera yang lumayan parah di bagian tulang rusuk kanan dan juga di bagian tulang punggung karena benturan yang keras. Sedangkan untuk muntah darah yang Adri alami itu karena pembuluh darah pecah karena pukulan yang cukup keras dan berulang.
Hari ini Robi, Malik, Tessa, Rido dan juga Radit sedang menunggu Adri. Setiap malam mereka akan menjaga Adri dan tidur di ruangan tersebut, siangnya mereka bergantian dengan keluarga Mahardika untuk menjaga nya. Sebenarnya Max sudah menghubungi John dan memberitahukan bahwa Adri di rawat, namun sang kakek sedang ada urusan yang sangat penting dan akan berkunjung lain waktu. Begitupun dengan janjinya yang akan menjenguk Adri sang cucu kesayangannya, terpaksa diundur dengan waktu yang tidak di tentukan.
Untuk Garda, ia benar-benar habis di marahi oleh sang ayah dan juga ibunya. Mereka mencabut semua pasilitas mewah yang selalu ia gunakan, termasuk uang saku yang di potong juga.
Flashback...
" Sebenarnya apa yang sudah membuat dirimu membenci hingga berniat meleyapkannya Garda? "Tanya edi Edi dengan marah.
" Dia terus memaksaku untuk memutuskan Rosa Pah, aku sangat benci dia karena selalu saja berbuat semaunya dan mengatur hidup ku seperti boneka mainannya " Bela Garda.
" Sudah cukup!, hentikanlah perdebatan kalian. Tidak puaskah kalian sudah membuat putriku pergi dengan luka parah seperti itu, apa kalian belum puas sekarang hah... " Teriak Nia sambil menangis, ia sangat kesal dengan dua lelaki yang selama ini ia cintai tersebut, mereka dari tadi terus bedebat dan melayangkan argumen mereka dan tidak memikirkan kondisi Adri yang pergi dengan luka parah.
Edi mengambil flashdisk yang sempat Adri berikan sebelum ia pergi, ia kemudian langsung menghidupkannya dan itu terhubung langsung ke TV besar yang ada di ruangan itu. Semua pelayan dan security masih berdiri disana, mereka tidak ada yang berani untuk pergi melangkah apalagi meninggalkan tempat itu.
Setelah terpasang sempurna, TV tersebut memperlihatkan gambar di sebuah kamar. Disana tidak ada hal yang mencurigakan atau pun aneh, hanya ada tempat tidur dengan ranjang berukuran sedang dengan pencahayaan yang agak sedikit temaram. Di menit ke sepuluh, ada suara pintu yang seperti di buka, Namun di dalam sana masih tidak ada siapapun. Hingga munculah seorang pemuda dengan pakaian kasual memangku seorang wanita dengan pakaian yang cukup sexy, wanita itu hanya mengenakan dress ketat sejengkal di atas paha dan juga bagian bahu yang terbuka.
Mereka terlihat sangat mesra, hingga adegan ranjang pun dimulai, suara desahan dan erangan kuat menggema di ruang tengah kediaman Mahardika. Edi dan Nia sangat terkejut dengan isi rekaman tersebut, mereka berfikir jika Adri berniat mempermalukan mereka dengan memberi vidio tersebut. Semua pelayan menunduk menahan malu karena melihat dan mendengar isi dari rekaman tersebut.
Saat ini mereka belum mengetahui siapa wanita di dalam vidio tersebut. Hingga di menit ke empat puluh, sang wanita mulai berbincang walau masih mendesah karena pasangannya memainkan area sensitif nya. Mereka berbincang walau mereka masih asik bercumbu dengan satu sama lainnya. ' Apa yang kau harapkan dari pemuda idiot itu Ros?, apa kau masih belum puas dengan ku selama ini, apa pemuda bernama Garda itu lebih memuaskan ketimbang diriku ' pemuda tersebut terlihat kesal karena Rosa tidak menjawab pertanyaan nya, wanita itu terlihat sedang menikmati apa yang tengah lelaki itu lakukan padanya. Lelaki itu lantas menghentikan kegiatan nya tersebut, dan itu sukses membuat sang wanita menjawab dan kembali menggoda lelaki itu berharap melakukannya lagi. ' aku hanya menguras harta nya sayang, aku bahkan tak pernah mencintai nya. Mana mau seorang Rosa Amelia Saputra memiliki kekasih idiot seperti si Garda Mahardika, anak idiot yang selalu dilindungi oleh cewek sialan bernama Indri. Hah gue bahkan sangat benci dan ingin sekali membunuh gadis sialan itu, karena dia telah membuat hidup seseorang yang aku sayangi pergi meninggalkan ku selamanya '. Perkataan itu seakan menggema dan terus berulang di ruangan itu. Dan benar saja, wanita itu seketika melihat ke sudut yang ada kamera, dan dari situlah wajahnya terpampang jelas di layar TV yang berukuran sangat lebar itu.
Sedangkan Garda, ia terlihat sangat kecewa dan langsung terkulai lemas di lantai. Ia masih enggan untuk mencerna kebenaran yang ia lihat barusan, ia terlalu mencintai Rosa dan itu adalah cinta pertamanya. Ia tidak menyangka jika wanita yang berperangai manja dan lembut itu hanyalah topeng semata, Garda bahkan tak memiliki keberanian untuk menatap kedua orang tuanya.
" Apa itu yang membuat mu ingin membunuh sodaramu sendiri, apa karena wanita itu kau sudah menghinanya dan membencinya. Jawab aku GARDA.... " Teriak Edi dengan emosi. Ia terlihat sangat marah setelah melihat bukti yang Adri berikan, ia memijat pangkal hidungnya karena bingung harus melakukan apa di situasinya saat ini.
Edi terlihat menahan marah, ia kemudian pergi dari sana dan meninggalkan semua orang. Ia tidak ingin berbuat lebih kasar lagi jika berhadapan dengan anak nya tersebut. Sedangkan Nia ia masih tidak bergeming, ia menatap sayu putra tunggalnya itu. Ia tidak menyangka jika putranya akan membuat dirinya kecewa dan marah seperti sekarang.
Plak.... Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Garda, ia tidak bergeming dari duduknya dan memilih menerima semua siksaan yang akan di layang kan oleh sang Mami tercintanya.
" Sudah puaskah kamu membuat kami malu, dan kau sudah berani memukul saudara mu sendiri demi wanita seperti dia. Aku sangat kecewa padamu Garda, aku benar-benar merasa gagal sebagai seorang ibu " Tangis Nia kembali pecah setelah mengatakan ke kecewaan nya itu. Sedangkan Garda terlihat semakin menunduk tanda ia menyesali semua perbuatannya, ia tidak dapat berbicara karena ia merasa jika suaranya seakan terhenti dengan mulut yang terkunci.
" Kalian semua pergilah ketempat kalian, biarkan dia disini sendiri. Dan mulai sekarang jangan pernah melayani atau pun menuruti apapun yang dia ucapkan, jika kalian ada yang melanggar itu, maka bersiaplah angkat kaki dari sini " Peringatan Nia pada semua pelayannya. Seketika mereka bubar dan pergi ke tempat mereka.
" Dan untuk mu Garda, jangan pernah memanggilku dengan sebutan Mami, karena aku sangat kecewa dengan apa yang telah kau lakukan. Dan semua pasilitas serta uang saku mu aku potong, dan jangan harap kau akan mendapatkan apapun sebelum putriku kembali memaafkan mu " Ancam Nia, ia kemudian pergi dari sana meninggalkan Garda seorang diri.
" Tapi... " Garda hendak menyanggah ucapan ibunya tersebut, namun hal itu sia-sia ketika sang ibu kembali mengeluarkan kata-kata beracun lainnya.
" Kau tidak memiliki hak istimewa sekarang, dan belajarlah dari kesalahan yang sudah kau buat " Kata sang Nia tegas, ia kemudian benar-benar pergi meninggalkan Garda seorang diri disana dengan semua kekacauan yang disebabkan kan olehnya sendiri.
Back Again.....