BAD???

BAD???
Ending....



Saputra langsung terkejut karena sasarannya ternyata salah, pistol yang ia pegang pun jatuh ke tanah dan tubuhnya seketika merosot karena tak kuasa melihat kenyataan yang terjadi di depan matanya. Dia malah menembak orang yang selama ini ia cintai dan selalu ia puja dengan segenap hatinya sudah tergeletak tak sadarkan diri.


Galuh pun langsung berlari menuju kearah Adri dan berusaha menolongnya, ia mengangkat kepala Adri dan berusaha menekan kedua sisi lubang yang di hasil kan oleh peluru tadi.


" Tidak jangan pergi, aku mohon, maaf kan aku Adri, maaf kan aku. Aku tahu aku salah jangan seperti ini jangan pergi aku mohon " Ucap Galuh sambil menangis histeris memangku Adri.


" Jaga diri loe... Tugas dan janji gue udah selesai... Sor.. rry... " Kata adri pelan dan tersendat-sendat. Hingga akhirnya ia menutup mata.


" Tidak, aku mohon bangunlah, jangan seperti ini aku mohon bantu lah aku, siapapun tolong Adri " Teriak Galuh sambil menangis. Tangan nya sudah penuh dengan darah yang mengalir dari luka di tubuh Adri.


Teman-teman nya mendekati Adri dengan perasaan yang sulit untuk di gambarkan, mereka menangis dan melihat Adri yang sudah tak berdaya.


" Hey dek, kau jangan seperti ini. Apa kau sedang membohongi ku dan berpura-pura pingsan " Kata Garda sambil terisak memegang tangan Adri yang sudah lemah. " Kau ingin balas dendam bukan, ayok pukulah aku, pukul kalo kau mau. Aku tidak akan melawan dan akan menuruti kemauan loe, tapi tolong jangan seperti ini " Ucapnya lagi sambil memukul-mukulkan tangan Adri kewajah nya sendiri.


" Dek, loe jangan seperti ini. Kita masih akan bertanding PS4 bukan, kau selalu kalah jika bertanding dengan ku. Ayok kita main sampai pagi lagi, bukankah kau menyukainya " Ucap Radit sambil menangis.


" Dek, ayok kita berpesta di klub nya bang Jess. Bukankah loe sangat senang disaat kita berkumpul bersama " Ucap Rido.


" Dri, loe pengen matahin papan skateboard milik ku kan. Gue bakal kasih Papan skateboard milik gue dan loe bebas mau lakuin apa saja sama barang itu, tapi aku minta loe harus bangun " Kata tessa sambil terisak.


" Adri, loe jangan tinggalkan gue. Loe kawan gue, loe yang udah merubah kehidupan gue dri. Jangan tinggalin gue sendiri " Ucap Sigit sambil nangis dan menyusut ingus yang keluar dari hidung nya dengan bercampur darah.


" Maafin kita, karena kita gak bisa jagain loe. Kita mohon loe jangan seperti ini, jangan tinggalin kita lagi dri kita mohon " Ucap doni dan Alif sambil terisak.


Mereka mengutarakan isi hati mereka kepada Adri, mereka tak kuasa melihat Adri sudah tergeletak tak berdaya dengan luka yang mengerikan di raga nya.


Tak lama kemudian, suara sirine mobil polisi terdengar semakin memasuki area itu. Dan benar saja, satu mobil patroli dan dua truk pengangkut dari kepolisian telah tiba. Seketika anak Gang ancora dan tengkroak langsung lari untuk kabur dari tangkapan polisi.


Terlihat Max langsung keluar dari mobil patroli itu dan mencari keberadaan adri, seketika Max langsung lemas saat melihat sosok yang ia khawatirkan tergeletak tak sadarkan diri dengan luka di sekujur tubuhnya. Max menangis dan berusaha mendekati Adri, begitupun dengan teman Adri yang memberikan ruang untuk Max melihat nya. Dengan tangan gemetar dan air mata yang membasahi kedua pipinya, Max menyentuh tubuh Adri yang mulai mendingin.


Seketika Max langsung memeluk tubuh Adri dan menghiraukan darah dan juga lumpur mengotori pakaiannya. Max menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh Adri yang sudah tak bergerak.


" Jangan pergi, aku mohon jangan tinggalkan aku dek. Kau saudari ku satu-satunya, hanya kau yang aku miliki disini saat ini. Jangan tinggalkan aku, aku mohon bangunlah " Teriak Max sambil menangis histeris. Dia juga menciumi wajah Adri yang sudah kotor dengan lumpur dan juga darah serta luka, dan berharap Adri akan bangun karena merasakan sentuhan kasih sayang seorang kakaknya.


Max kemudian menggendong Adri dan membawa pergi dari sana, sambil menangis terisak tak kuasa, Max berusaha membawa nya sambil berlari menuju mobil patroli polisi.


" Pak cepatlah bawa adik ku kerumah sakit, tolong bawalah mobil nya dengan cepat. Adik ku sedang sekarat dan dia sedang memerlukan tenaga medis sekarang " Kata max sambil masuk kedalam mobil patroli dengan bantuan pak polisi. Akhirnya Adri di bawa oleh Max dengan dua orang polisi yang duduk di bagian depan mobil.


Sementara mobil patroli tadi berjalan sambil menyalakan suara sirine mobil nya agar tak ada hambatan di perjalanan, pukul menunjukan jam 3 dini hari. Mobil yang membawa Max dan juga Adri sampat di rumah sakit milik keluarga Adri. Disana para suster dan dokter sudah menunggu kedatangan Max dengan brangkar yang sudah siap di sana, karena Max menghubungi mereka saat di perjalanan. Max segera turun dan meletakan Adri di atas brangkar itu, kemudian dokter dan suster mendorong nya menuju ruang UGD untuk di tangani lebih lanjut.


Max hanya bisa mengantarkan Adri sampai di depan pintu ruangan, ia tak bisa masuk dan malah mengacaukan pekerjaan para dokter di dalam sana. Max yang tidak bisa merasa tenang hanya mondar mandir gak jelas di depan ruangan itu.


Setelah menunggu cukup lama, seorang dokter yang tak lain adalah rekan kerja nya pun keluar dari ruangan itu. Max pun segera menghampiri rekan yang bernama Hanzo itu pun langsung bertanya mengenai keadaan Adri.


" Bagaimana keadaan nya, apakah dia baik-baik saja " Tanya max dengan raut wajah yang sedih.


" aku tidak bisa memastikannya, dia terlalu banyak kehilangan darah dan mengalami kerusakan organ tubuh yang sangat patal, ditambah luka tembak di dada kirinya membuat ku semakin sulit untuk menjelaskan situasi nya. Maafkan aku " Kata Hanzo kepada Max dengan sedih.


" Aku akan melakukan operasi darurat karena peluru itu bisa saja mengenai jantung nya dan juga luka sayatan di punggung ya sangat dalam hingga tulang punggung dan rusuknya nya sampai kelihatan. Apa kau ingin bergabung dengan tim kita " Tanya Hanzo setelah menjelaskan kondisi Adri.


" Tidak, aku tidak akan sanggup melihat luka yang di derita adik kesayangan ku. Aku meminta bantuan dan juga memohon kepadamu untuk menyelamatkan adikku, lupakan aku yang seorang dokter, anggaplah aku keluarga pasien yang meminta pertolongan pada dokter hebat seperti mu. Aku mohon selamat kan adik ku " Ucap Max sambil menangis dan berlutut di hadapan Hanzo memohon untuk menyelamatkan Adri.


Pemandangan menyayat hati itu tak lepas dari penglihatan beberapa pasien dan juga suster yang ada tak jauh dari sana. Mereka juga merasakan kesedihan yang sedang di alami oleh dokter Max, terlebih dokter Max itu terkenal dengan ketegasan dan juga disiplin tinggi. Namun melihat keadaan nya saat ini, membuat mereka merasa terenyuh dengan sisi lain dokter yang di cap sebagai dokter paling garang.


" Senior, kau tahu bukan aku bukanlah Tuhan yang bisa mengabulkan keinginan semua orang. Kau sudah berpengalaman dan sangat tahu akan hal ini, jangan terlalu merendah dan membuat ku semakin malu dengan posisi mu " Ucap Hanzo menenangkan Max rekan sekaligus seniornya itu.


" Tapi aku mohon, selamatkan lah adik ku. Hanya dia satu-satunya keluarga ku disini, tolonglah selamatkan adik ku " Pinta Max sambil terus menangis dengan bayangan Adri yang terdapat dipangkuannya.


" Heh.. Baiklah, bantu lah dengan do'a supaya operasinya berjalan lancar. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan adik kesayangan mu itu " Ucap Hanzo menyerah sambil membantu Max berdiri.


Lalu ia pun pamit untuk pergi bersiap diri sebelum melakukan operasi darurat itu. Tak lama kemudian beberapa suster keluar sambil membawa brangkar tempat Adri berbaring, Max kembali menangis tak kuasa melihat wajah cantik yang biasa tersenyum, wajah jutek dan wajah datar khasnya kini sudah pucat dengan luka yang menghiasi wajah pucatnya itu. Alat bantu pernafasan pun sudah terpasang menutupi sebagian wajahnya.


" Kau harus kuat dan berjuang dek, aku tak ingin kehilangan siapapun lagi. Kau adalah keluarga ku satu-satunya dan aku sangat mencintai dan menyayangi dirimu melebihi diriku sendiri. Kau harus berjuang dan bertahan demi ku dan juga yang lainnya " Ucap Max sambil ikut mendorong brangkar itu menuju ruang operasi.


Sebelum memasuki ruang operasi, Max sempat mencium dahi dan kedua pipi Adri sebagai tanda kasih sayang serta doa yang ia berikan agar Adri mampu bertahan dan kembali kepadanya.


Setalah Adri masuk kedalam, Max terus berdoa untuk kebaikan Adri dan duduk di lantai menunggu hasil operasinya. Sesekali max kembali menangis dan berusaha tegar kembali dan kembali berdoa memohon keselamatan Adri.


_________________________________________________


Masih lanjut oke, jadi tetap tunggu kelanjutannya.


Masih ada rahasia dan juga kejutan dari pemain Adri, pokok nya stay oke...