BAD???

BAD???
Ekspresi Aneh



" Kenapa loe diam, ngaku kalah " Cibir Max sambil ketawa bangga bersama Radit karena satu orang sudah kalah.


Adri yang malas mendengarkan percakapan mereka hendak pergi saja dan membiarkan perdebatan unfaedah itu, namun Jess yang sedari tadi diam saja langsung menyerahkan piring makanan nya kepada Adri. Adri yang senang karena Jess tidak banyak bicara dan memilih mengalah, ia hendak menerima piring makanan nya dan segera menyantap makanan lezat itu.


" Ini Dek, abang bawain sosis sama daging nya, abang udah potongan kecil-kecil sama udah dikasih saus juga. Lagian ini juga masih anget, gih makan dulu. Loe pasti udah laper kan " Kata Jess sambil tersenyum bahagia. " Yes, rencana gue berhasil. Kalian boleh ribut dari tadi, dan gue yang sengaja diam bakal menang kali ini. Rasain loe pada karena sudah cape ribut gak jelas dan malah nelan kekalahan. Hahaha " Tawa penuh kemenangan Jess dalam hatinya.


" Wah abang gue yang satu ini tumben kalem bener, biasanya juga suka rusuh kaya mereka " Kata Adri sambil mengulurkan tangannya hendak mengambil piring dari Jess.


" Iya lah, kalo ikut rusuh semua siapa yang bakal loe pilih dek. Kan kalo kalem gini, loe juga langsung ambil makanan dari gue " Batin Garda sambil tersenyum licik. " Kali-kali damai kek dek, gak usah rusuh mulu " Ucap Jess sambil tersenyum.


" Jangan.... " Teriak mereka bertiga tidak Terima.


Rido yang melihat tingkah mereka hanya bisa menepuk jidatnya karena tingkah konyol yang sudah mereka lakukan demi Adri. Sedangkan Adri kembali mendengus kesal karena ketiga biang rusuh itu kembali membuat mood nya hancur, padahal dirinya sudah membayangkan bagaimana enaknya makanan yang ada di piringnya Jess.


" Apa sih kalian, gak lihat apa adek gue udah kelaparan Gara-gara tingkah kalian itu " Bentak Jess dengan keras.


" Eh Jessie, loe enak aja ya maen menang gitu aja. Dari tadi kami sibuk debat buat memperebutkan piring siapa yang akan diambil oleh si adek, loe dengan seenaknya malah ngasih gitu aja " Balas Max tak mau kalah.


" Entah loe enak banget cuman diam langsung di Terima gitu aja " Kata Garda tak mau kalah.


" Eh bang, loe kalo mau main yang adil dong, loe ini cowok atau apa sih. Maen terima bersihnya aja, gak mau usaha dulu loe bang, dasar cemen " Ejek Radit sambil tersenyum licik.


Jess yang tak mau kalah dengan apa yang dikatakan ketiga pemuda itu, ia hendak membalas perkataan mereka dan juga ejekan terhadap dirinya. Namun disisi lain Adri sudah tak tahan dengan apa yang di perdebatkan oleh mereka dan ia sudah merasa muak ditambah dengan rasa lapar yang mulai menyerangnya.


Pranggg.... Adri memukul piring di atas meja hingga piring tersebut pecah dan berhambur kesegala arah. Keempat pemuda yang sedang berdebat barusan pun langsung terkejut, begitupun semua orang yang disana. Mereka tidak menyangka jika Adri akan marah besar sampai menghancurkan satu piring itu hingga berantakan.


Adri segera menyuruh orang yang duduk di kursi segera mengingkir dan Adri membersihkan pecahan piring tersebut seadanya.


" Taroh piring kalian semua disini, biar gue habisin sekalian sama daging punya kalian. Biar kalian gak berisik dan gue puas sama kalian " Bentak Adri dengan penuh kekesalan.


Akhirnya Garda, Jess, Max, dan Radit langsung menaruh piring mereka di meja hadapan Adri. Lalu mereka berdiri di hadapan Adri dan akan menonton nya makan, begitupun dengan yang lainnya. Mereka juga melihat tontonan yang sangat menegangkan sekaligus konyol itu tanpa ada yang berbicara sedikitpun, namun ada satu orang yang malah khawatir yang melihat tangan kanan Adri yang terluka dan juga keringat yang mulai membasahi pelipisnya.


Adri hendak memakan punya Jess terlebih dahulu karena emang terlihat lebih menggiurkan dibanding yang lainnya. Namun baru saja Adri hendak menusuk daging tersebut dengan garpu, ia mendengar gumaman yang berasal dari keempat pemuda yang ada dihadapannya.


" Yes, punya gue duluan. Gue emang yakin kalo punya gue yang bakal menang " Cuman Jess dengan bangga.


" Yah, tetep aja gue kalah " Keluh Garda, Max dan Radit secara bersamaan.


Semua orang kembali di buat melongok dengan apa yang dilakukan Adri, mereka tidak menyangka jika Adri bisa melakukan hal tersebut, bahkan makanan itu lebih di katakan mirip dengan peses ketimbang sosis dan daging panggang karena sudah di bejek-bejek oleh Adri. Namun dengan lahap Adri memakan itu dan tidak menghiraukan tatapan jijik dari semua orang. Ia sadar jika mereka tidak akan berhenti mengeluh jika Adri tidak melakukan hal itu.


Sedangkan Garda, Jess, max, dan Radit terlihat sudah pasrah karena mereka tidak bisa menentukan siapa pemenang nya. Karena Adri sudah terlanjur menyatukan semua makanan yang mereka bawa dan memakannya tanpa mengetahui itu berasal dari makanan siapa.


Setelah puas makan, Adri segera minum soda yang ada di hadapannya. Dengan cepat ia meneguk habis satu kaleng itu dan menaruhnya bekasnya di dekat piring. Tanpa banyak bicara, Adri segera pergi dari sana meninggalkan semua orang yang tengah pokus melihat kearahnya.


" Sial, kenapa gue harus mukul itu piring sih... " Gerutu Adri dalam hatinya.


Nampak keempat pemuda itu sangat kecewa karena binggung harus menentukan siapa yang menang, mereka akhirnya duduk di kursi tempat Adri tadi dan meminum minuman yang ada disana.


Sedangkan Adri kini sudah ada di dalam rumah, ia hendak menuju kamar tamu dan berniat membersihkan luka yang ada ditangannya. Setelah masuk kedalam kamar, Adri langsung menutup kembali pintu kamarnya dan segera mencari kotak P3K. Namun belum sempat ia menemukan apa yang ia cari, pintu kamar itu terlanjur di buka dan seseorang sudah masuk kedalam sana.


" Dek, loe gak papa kan. Tadi gue sempet liat ekspresi loe gak baik-baik aja, apa luka ditangan loe cukup serius " Kata Rido sambil berjalan mendekati Adri.


Rido dari tadi memang sudah memperhatikan Adri, terlebih saat Adri lepas kendali dan malah memukul piring yang ada diatas meja di halaman belakang.


" Bang Rido, tangan gue sakit bang... " Ucap Adri dengan wajah memelas dan menahan rasa perih dan berdenyut di tulang pangkal jarinya.


" Fttt... Gue kira loe gak papa dek, kenapa ekspresi loe jadi lebay kaya gini " Kata Rido sambil menahan ketawanya setelah Adri berbalik dan memperlihatkan ekspresi kesakitan dengan wajah yang sudah pucat dan di penuhi keringat. " Gue kira julukan jendral iblis kaya loe gak bakalan ngerasa kesakitan kaya gitu dek, apalagi wajah kocak loe itu yang membuat gue gak tahan pengen ketawa ngakak. Hahahaha.... " Tawa Rido dengan keras sambil mencibir Adri.


" Sialan loe Bang, lagian gue juga manusia bang, jadi bisa ngerasain bagaimana rasanya sakit. Lagian luka pas tawuran sama yang tadi itu beda tau, kalo pas tawuran itu gak kerasa sakit karena emang sudah di kendalikan emosi yang sudah memuncak " Elak Adri dengan wajah serius.


" Sedangkan yang tadi, itu gak sengaja dan gerakan refleks karena kesal sama tingkah kekanak-kanakan mereka. Tapi sialnya piring yang tadi ada bekas saus cabe nya dan ke empat tulang pangkal jari gue lecet semua sama luka sobek dari serpihan pecahan piring itu " Adu Adri dengan tatapan sedih sambil memperlihatkan bekas luka yang masih mengeluarkan darah yang bercampur saus cabe.


" Hahaha... Makanya, kalo mau emosi itu liat tempat dulu dek. Jangan asal pukul kaya gitu, kena imbasnya kan " Tawa Rido dengan puas meledek Adri yang terlihat semakin kesakitan.


Rido kemudian mengambil segera mencari dan mengambil koyak P3K untuk mengobati luka Adri. Tak lupa ia membantu Adri mencuci luka di lengannya itu di wastafel dengan air mengalir, setelah itu ia membersihkan kembali dengan alkohol dan memberikan obat merah lalu di tutup dengan perban elastis.


" Tuh udah selesai, lain kali liat kondisi dulu oke bos " Cibir Rido sambil tersenyum penuh kemenangan. Karena ia berhasil melihat ekspresi aneh Adri.


" Thanks ya Bang " Ucap Adri.


" Iya, tuh cuci muka loe dulu gih, sebelum kembali keluar dan gabung sama yang lain. Loe keliatan semakin jelek dengan wajah seperti itu " Ledeknya kembali sambil tertawa puas.