
" Hosh.. hosh, sialan tu Tatib laknat. Orang tuh gak usah ngasih hukuman berat kayak gini kek, ini juga Gara-gara si cowok GTA itu. Awas aja kalo pulang nanti gue bakal bikin dia rasain, apa yang sedang gue alami sekarang " Adri terus saja menggerutu sepanjang lintasan ia berlari.
Adri sedang melaksanakan hukumannya karena dia telat lagi masuk sekolah. Sebenarnya Adri tidak masalah kalau ia telat, cuman karena kejadian saat malam yang membuat dia baru tertidur saat jam 04 : 25.
Flashback
" Eh ngapain loe malah duduk di sini, bukannya lu itu harus beristirahat. Sia-sia gue ngobatin lu kalo orang nya sehat wal afiat kaya gini " cerocos Adri pada pemuda yang ia tolong itu.
" Gak tau gue juga heran kenapa gue susah banget buat tidur, padahal badan gue rasanya kaya udah mau hancur. Oh ya gue sampe kelupaan, makasih ya loe udah nolongin gue tadi. Kenalin Nama gue Radit Sanjaya, loe bisa panggil gue Adit atau apalah terserah loe, yang penting loe suka " jawab Radit sambil mengenalkan dirinya.
" Oh, gue mau panggil loe dengan sebutan bang encek. Mungkin obat tidur yang di suntikin Pak Dokter itu udah kadaluarsa, jadi gak berpengaruh sama tubuh loe " Adri berniat menjahili Radit.
" Serius yang lu bilang, gue di kasih suntikan obat kadaluarsa. Tolong gue woy, kepala gue jadi pusing. Bawa gue ke RS sekarang, gue gak mau mati muda. Mommy aku gak mau mati pas masih perjaka, kan aku belum men... " Radit berteriak dengan sangat panik dan bergaya alay setelah mendengar perkataan Adri, bahwa dirinya telah diberi obat kadaluarsa. Namun sebelum ia melanjutkan kata-katanya, Adri segera membungkam mulut Radit dengan tangannya.
" Loe ini laki apa cewek sih, suara udah kaya pake toa aja. Berisik tau gak, loe bisa ganggu si Bibi yang sedang istirahat. Lagian gue cuman bercanda tadi, ya kali gue mau ngebunuh loe " omel Adri pada Radit.
" Sorry gue gak sengaja, lagian loe bercandanya kelewat final, gue kan panik jadinya. Btw, nama loe siapa? " Radit kembali menormalkan suaranya agar tidak mengganggu orang lain.
" Loe kata balapan pake final segala, Nama gue Adriani, panggil gue Dri atau Adri " jawab Adri yang sedang meneruskan main game nya.
" Makasih ya Adek imut loe udah nolongin Abang terganteng sedunia, entar kalo loe butuh sesuatu atau bantuan apapun tinggal panggil gue aja, oke. Eh loe ternyata suka maen PS4 juga ya, gimana kalo gue juga ikut main. Tapi gue gak suka game Taken, gue lebih jago mainin GTA " ucap Radit.
" Terserah loe aja, jijik gue lihat cowok kaya loe, nih kalo lu bisa sekalian tanding aja ama gue gimana? " ajak Adri.
" It's oke baby, siapa takut " jawab Radit dengan semangat, ia langsung mengambil stik ps4 tersebut dan bersiap memainkan game nya.
Setalah berjam-jam memainkan game GTA, Radit dia sudah unggul beberapa poin dari Adri. Melihat hal tersebut, Adri merasa kesal karena dirinya tertinggal poin dari Radit.
Tak terasa waktu bermain sudah berjalan cukup lama, Jam menunjukan hampir setengah lima pagi. Radit dan Adri terlihat sudah tertidur di sofa. Adri, Ia tidur di sofa samping kursi sofa tempat Radit tidur. Mereka tertidur setelah saling berlomba mencetak poin paling tinggi, dan tentu saja Adri yang menang.
Back again
" Sialan, kenapa mataharinya cerah amat sih. Andai gue punya awan kinton, mungkin sekarang gak bakalan kepanasan. Kayak nya gue harus berguru sama si Goku, siapa tau jurus pemanggil awannya bisa di turunin sama gue " Adri semakin meracau tak jelas di putaran ke 48 nya.
Akhirnya Adri sudah menyelesaikan putaran terakhirnya, keringat sudah membasahi pakaiannya. Bahkan kedua kelopak matanya sudah tak kuat lagi untuk tetap terbuka.
Adri memaksakan berjalan dengan tenaga yang tersisa untuk berjalan kearah pohon yang tak jauh dari lapangan tersebut.Setelah sampai disana, Adri tak dapat lagi menahan tubuhnya dan ia pun menjatuhkan badannya di atas rumput tersebut.
Tak jauh dari sekitar lapang, ada seorang siswi kelas 11 yang kebetulan lewat di area itu. Ia hendak pergi ke kelas, namun tak sengaja pandangannya melihat Rani yang jatuh dan tergeletak di tanah. Ia pun Buru-buru pergi ke arah Aula tempat acara MOS tengah berlangsung. Ia bahkan tak mengecek kondisi Adri dan pergi meninggalkannya begitu saja setelah melihat Adri jatuh.
Sementara di dalam Aula, para pembina kini tengah melangsungkan sebuah game dengan tema puisi cinta untuk kakak pembina. Suara riuh memenuhi seisi Aula tersebut, hingga suara riuh tersebut terhenti saat ada seorang siswi yang datang dengan wajah yang sangat panik.
" Ka Samudra, ada siswi yang jatuh pingsan di lapangan " Ucap siswi tersebut dengan panik.
Semua orang yang berada di dalam Aula tersebut Bertanya-tanya tentang sosok siswi yang jatuh pingsan di lapangan tersebut.
Reza yang mendengar perkataan siswi kelas 11 itu pun langsung panik, ia segera berlari keluar dari dalam Aula tersebut. Disusul juga dengan samudra dan kedua temannya yang tak lain Tirta dan Wirya.
Reza sangat panik karena dirinya telah menghukum seorang siswi bernama Adri karena dia selalu telat datang ke sekolah. Dan benar saja dugaan nya, kini ia telah melihat sosok wanita yang telah ia beri hukuman tadi.
" Sial, kenapa harus pingsan sih. Hey, dek bangun dong. Loe jangan bercanda kaya gini, gue minta maaf kalo gue terlalu keras sama loe dek " ucap Reza dengan wajah panik dan bersalahnya. Ia terus mengguncangkan tubuh Adri dan beberapa kali Menepuk-nepuk pipi Adri supaya ia bangun. Namun seberapa kerasnya Reza mencoba, ia tetep tak bisa menyadarkan Adri.
" Loe bisa gak, gak usah lari Kencang-kencang, gue kan gak bisa ngejar loe " cerocos Samudra saat sampai di belakang Reza. Saat ia berjalan lebih mendekatinya, ia sangat terkejut melihat sosok wanita yang kemarin pidato di depannya.
" Eh loe apain nih bocah, Sampe-sampe dia teler kaya gini. Minggir biar gue yang bawa dia ke UKS " ucap Samudra dengan raut wajah tak kalah panik dari Reza. Sebelum ia mengangkat tubuh Adri, ia terlebih dahulu mencoba menyadarkan dengan cara menepuk pipinya Adri.
" Gue udah mencoba cara itu barusan, tapi ia tetep gak mau bangun juga " Reza mencoba memberi tahu jika yang Samudra lakukan hanya Sia-sia saja.
Saat Samudra mendengar perkataan Reza, ia semakin panik dan bingung harus melakukan apa lagi. Ia kemudian mengangkat tubuh Adri dan segera berlari menuju ke UKS. Saat melewati tengah lapangan, Samudra kembali berpapasan dengan kedua teman yang hendak menyusulnya. Ia bahkan tak menghiraukan pertanyaan mereka dan terus memfokuskan langkah nya menuju ruangan UKS.