BAD???

BAD???
Menginap



Adri kemudian pergi keluar dari kamar tamu, karena Hendro akan membersihkan luka di wajah beserta badannya. Setelah Adri berada di ruang tamu rumahnya, ia segera menghubungi dokter keluarganya. Ia juga menceritakan kondisi pemuda tersebut, agar sang dokter bisa menyiapkan segala keperluannya dengan lengkap.


Setelah menelpon sang dokter, Adri hanya menunggu Hendro selesai mengurus pemuda itu dan keluar dari kamar tamu tersebut. Sementara bi Supiyem sedang menyiapkan minuman dan cemilan untuk menjamu Hendro. Tak lama kemudian Hendro keluar dari kamar tamu dan segera menghampiri Adri yang sedang duduk di sofa. Adri tidak menyadari akan kedatangan Hendro yang berjalan kearahnya, ia malah sibuk dengan chatan di grup Whatsapp nya. Hingga Hendro menyadarkan Adri tentang keberadaannya dengan berdehem. Dan benar saja Adri langsung menegok kearah suara yang mengejutkannya dan segera meletakan ponselnya di meja kaca yang ada di hadapannya.


" Eh Om, maaf ya Adri malah sibuk sama hape dan Om malah di cuekin. Silahkan Om duduk dulu, sebentar lagi Pak Dokter nya akan datang " Adri mempersilahkan Hendro untuk duduk di sofa.


" Memang nak Adri kapan manggil dokternya, apa nak Adri punya dokter keluarga atau hanya kenalan nak Adri saja " tanya Hendro dengan penasaran. Karena ia kaget jika Adri sudah memanggil dokter ke rumahnya dan itu hanya untuk mengobati orang yang baru ia kenal.


Adri merasa terkejut mendengar ucapan dari Hendro, namun ia dengan tenang menjawab semua pertanyaan nya.


" Oh, Adri memang punya dokter langganan Om. Lagian dokter yang Adri panggil juga masih sodaraan sama Adri " jawab Adri dengan santai.


Bi Supiyem pun datang membawa minuman serta cemilan, lalu menaruhnya di meja.


" Silahkan tuan di minum dulu jamuannya " Tawar bi Supiyem.


" Terima kasih bi, aku malah ngerepotin orang rumah saja " Hendro menjawabnya dengan sungkan.


" Tak apa Om, lagian Adri yang harusnya bilang begitu. Adri sudah ngerepotin Om dan mengganggu kegiatan Om. Sekali lagi Adri ucapkan terimakasih sama Om, karena udah sering membantu Adri " ucap Adri dengan sopan.


" Oh iya neng Adri mau bibi masakin apa buat makan malam " bi Supiyem berkata sebelum ia pergi dari sana.


" Gak usah Repot-repot bi, lagian bibi juga harus istirahat. Adri makan di luar aja nanti, sekalian mau cari keperluan buat kegiatan MOS di sekolah. Bibi siapin aja makanan buat pemuda itu, setelah itu bibi langsung istirahat aja, kasian bibi udah bekerja sepanjang hari ini " Adri berkata dengan ramah kepada bi Supiyem.


Mendengar perkataan Adri, Hendro sangat senang sekaligus bangga dengan nya. karena sangat jarang ia melihat majikan yang sangat sopan serta menghargai seperti Adri. Kebanyakan dari orang kaya mereka sering memerintah para pekerja atau pun pelayan dengan sesuka hati mereka. Bi Supiyem yang mendengar ucapan Adri pun hanya tersenyum. Ia sudah sangat mengenal watak adri dari ia kecil, karena dirinya sudah bekerja di keluarga Bhagawanta sejak kelahiran putra pertama mereka. Bi Supiyem juga yang sudah merawat serta menjaga Adri dan sang kakak yang hilang dalam tragedi penculikan sejak mereka masih bayi. Jadi secara tidak langsung bi Supiyem sangat mengerti dengan Adri dan juga sudah paham dengan kondisi keadaan Adri baik luar dalamnya.


" Baiklah Neng, bibi permisi dulu. Kalo neng Adri membutuhkan sesuatu panggil aja bibi, bibi mau masak dulu bubur buat temen neng Adri " bi Supiyem pamit untuk kembali lagi ke dapur.


" Baiklah, oh ya bibi nanti bibi catat kebutuhan apa saja yang tinggal sedikit. Biar Adri yang belanjain sekalian nanti, jadi bibi gak perlu Cape-cape buat belanja ke supermarket "


Adri dan Hendro pun melanjutkan Berbincang-bincang, bahkan Hendro sekarang memberanikan diri untuk menanyakan tentang keberadaan keluarganya Adri. Karena Hendro sangat penasaran dengan latar belakang keluarganya Adri, sejak beberapa bulan yang lalu Adri menjadi tetangga nya. Ia belum pernah melihat kedua orang tua Adri datang ke sana, bahkan ia hanya melihat Adri dan bi Supiyem yang selalu keluar masuk rumah tersebut.


" Silahkan Om di minum dulu, gak enak loh bibi Adri sudah bikinin dan Om malah ngeliatin minuman itu. Om juga jangan sungkan buat main kesini, sekalian ajak juga Radit main kesini " Adri bercakap sekedar melepas keheningan diantara mereka.


" Baiklah nak, Besok-besok Om bakal nyuruh tante sama Radit buat main kesini " Jawab Hendro, lalu ia pun meminum air yang sudah di siapkan oleh bi Supiyem.


" Oh iya Nak kalo boleh Om tau, kedua orang tua Nak Adri kemana ya. Soalnya sejak Nak Adri tinggal disini, Om belum pernah lihat kedua orang tua nya " Tanya Hendro dengan penasaran.


" Oh, mereka memang selalu sibuk kerja Om, paling ketemu sama Adri cuman beberapa bulan sekali. Adri juga sudah paham sama mereka, lagian Adri juga tidak kekurangan apapun " Adri merasa sedih karena ucapan Hendro yang mengingatkan dirinya kepada kedua orang tua Adri yang berada di Eropa.


Tak lama kemudian, bel rumah Adri berbunyi. Adri langsung pergi untuk membukakan pintunya. Setelah itu Adri melihat dokter yang ia panggil sudah ada tepat di depannya. Adri langsung mempersilahkan dokter tersebut buat masuk.


" Dek lu kenapa lagi sampe panggil gue kesini, apa lu terlibat tawuran lagi. Baru juga beberapa bulan ini lu gak panggil gue, gue kira lu udah tobat " cerocos laki-laki yang berstatus sebagai dokter tersebut.


" Loe kalo ngomong gak usah ngegas dulu dong, gue kan belum ngasih tau elu. Udah men cerocos aja tu mulut, heran gue sama loe " Adri merasa kesal saat mendengar omongan dokter yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.


Hendro pun hanya terdiam dengan obrolan antara Adri dan laki-laki yang memakai jas putih layaknya dokter. Ia bahkan sangat kaget dengan gaya bicara Adri yang berbeda, padahal barusan ia berbicara dengan gaya santun. Namun sekarang Adri berbicara layaknya anak muda gaul jaman sekarang.


" Kenalin dulu ini Om Hendro, dia tetangga yang tinggal di rumah sebelah. Om kenalin ini dokter Michelle, dia kakak Adri Om " Adri saling memperkenalkan kedua laki-laki yang umurnya berbeda sangat jauh.


" Saya Michelle, Om bisa panggil saya Max " Michelle menjulurkan tangannya dan memberikan sapaan untuk Hendro.


" Saya Hendro, tetangga nya Nak Adri. Salam kenal ya Nak Max " Sapa balik Hendro, ia langsung berdiri saat melihat Max dan membalas uluran tanganya dengan saling berjabat tangan.


Setelah berbincang akhirnya Hendro pamit untuk pulang karena anak dan istrinya takut mencari keberadaan nya. Adri pun mengantar Hendro sampai ke depan rumahnya, ia juga mengucapkan banyak terimaksih kepada Hendro karena sudah membantunya.


Setelah kepergian Hendro, Adri segera masuk dan membawa Max ke kamar tamu. Saat disana Max tidak banyak tanya dan langsung memeriksa pemuda tersebut. Setelah itu Max langsung memasang selang infus dan memberikan resep obat kepada Adri.