BAD???

BAD???
Ngeselin Amat Sihh



Kini Adri, Tessa dan Radit sedang berada di dalam ruangan rawat. Adri juga menyapa ibu dari orang yang sedang ia jenguk, ia bisa melihat kesedihan di wajah wanita parubaya tersebut. Adri hanya mampu tersenyum dan membuat wanita itu terhibur agar ia tidak mengalami kesedihan yang terlalu mendalam.


" Nak, tante akan keluar sebentar, kalian bisa kan jaga dulu anak tante " ucap Ibu nya teman Adri.


" Gak usah sungkan tante, lagian bang Malik udah Adri anggap kaya kakak kandung Adri kok. Jadi tante tenang aja, biar kami disini " jawab Adri, ia memegang tangan ibunya Malik dan memberikan ketegaran kepadanya.


" Iya tante, lagian Malik juga teman Tessa. tante gak usah sungkan seperti itu, tante juga harus kuat, Malik pasti sedih liat tante seperti ini " ucap Tessa sambil memeluk ibu malik dari samping.


" Terima kasih nak, kalo gitu tante keluar dulu sebentar " ibu nya malik pergi keluar ruangan tersebut dan meninggalkan Adri dan teman-temannya.


Adri segera duduk di samping Malik, sedangkan Tessa dan Radit duduk di kursi dekat brangkar. Adri sangat sedih melihat Malik, ia ingat dengan jelas saat Malik di seret oleh preman dalam keadaan mengenaskan.


Saat Adri sedang mengelus tangan Malik, tanpa disadari Adri, kedua mata Malik sudah terbuka dan ia sudah sadar. Malik juga bisa mendengarkan ucapan Adri yang sangat menghawatirkan dirinya.


" Gak usah sok sedih gitu dek, gak cocok tau sama kepribadian loe " ucap Malik dengan suara lemah.


" Siapa yang sedih coba, orang gue lagi nahan emosi kok. Lagian loe kenapa sih sampe gini, terus siapa mereka yang udah bikin loe kayak gini " ucap Adri dengan kesal.


" Kirain loe sedih liat gue terkapar kaya gini, Akhhh... " Malik seketika meringis saat dirinya ingin mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk.


Takkk...Adri menoyor pelan kepala malik, ia sangat kesal saat melihat malik meringis kesakitan karena ingin bangun.


" Fttttt... loe ngapain malah noyor kepalanya si malik " Tessa menahan tawa saat melihat Malik yang sedang kesakitan.


" Entah loe dek, orang sakit loe maen toyor aja " timpal Radit.


" Akhhh.. dek, kok loe jahat sih sama gue, kan gue lagi sakit, malah loe toyor " Malik memegang kepalanya sambil meringis kesakitan.


" Lagian gue kesel liat loe, udah tau tu badan lagi ringsek, masih aja di gerakin. Kalo loe mau cepet sembuh diem gak usah banyak gerak, kalo enggak gue iket loe sekalian sama brangkar nya " ucap Adri ketus.


Tessa yang mendengar perkataan Adri pun langsung ketawa ngakak, ia tidak habis pikir dengan apa yang di ucapkannya. Bahkan Ia sudah membayangkan gimana Malik di ikat dengan ranjang tempat ia berbaring. Sedangkan Radit ia hanya meringis mendengar ucapan Adri yang terkesan menakutkan.


" Loe kira gue apaan dek, terus loe maen iket segala. Loe mah terlalu kejam " ucap Malik sambil mengerucutkan bibirnya.


" Jadi kenapa loe sampe di tenteng sama preman kemaren, lalu siapa mereka yang berani ngusik elo " tanya Adri dengan nada tegas dan penuh kemarahan.


" Dek, loe ini kalo nanya udah kaya FBI lagi ngintrogasi musuh aja. Serem tau gak " ucap Tessa.


" Emangnya gue kresek apa, pake di tenteng segala " jawab Malik ketus.


" Entah dek, harusnya anak cewek tuh lemah lembut kaya princess. Bukan kaya Hulk, yang sekali tampar langsung berubah jadi monster " ucap Radit dengan santai. Namun tak lama kemudian ia mendapatkan tatapan tajam dari Adri.


Tessa dan Malik pun tertawa puas saat mendengar perkataan Radit yang menyebutnya Hulk. Namun tawa mereka terhenti saat tangan Adri mendarat dengan mulus di kepala mereka.


" Mereka anak buah bang tejo Gang tengkroak, loe tau kan kita dulu pernah ngalahin mereka pas ngadain tawuran. Dan sekarang mereka balik buat balas dendam, apalagi dia udah tau kalo loe masih sekolah SMA. Gue cuman mau ngingetin loe buat Hati-hati, jangan sampe loe bermasalah sama mereka. Gue yakin jika Gang mereka udah bertambah banyak, apalagi mereka juga merekrut anak sekolahan kaya loe " Malik berkata dengan serius kepada Adri dan yang lain.


Malik dan Tessa pun hanya pasrah, karena mereka tahu jika Adri akan berbicara seperti itu. Namun mereka juga gak bakalan ngebiarin Adri beraksi sendirian. Radit yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka.


" Ya udah, gue mau balik dulu, kasian si bang Ncek kalo dia diam disini. Besok gue balik lagi kesini, cepet sembuh ya bang. Biar kita bisa latihan adu jotos bareng lagi, hahaha " Adri tertawa dan segera bangkit dari duduknya.


" Loe mah, giliran adu jotos nya aja semangat " Jawab Malik kesal.


" Harus dong, ya udah kita balik duluan ya Abang-abang tampan " Pamit Adri, ia pun langsung pergi keluar ruangan dan disusul oleh Radit.


" Hati-hati ya adek Hulk " ucap Tessa dan Malik secara bersamaan, dan tertawa puas.


Kini Adri dan Radit sudah berada tepat di parkiran, ia kemudian melakukan mobilnya keluar dari rumah sakit. Di sepanjang jalan Adri tidak berbicara, ia lebih pokus ke jalan. Hingga Radit memberanikan diri untuk memulai percakapan dengan Adri.


" Dek kita main dulu yuk, lagian ini belum malam juga kan " Ajak Radit.


" Loe mau main kemana emang " tanya Adri dengan wajah datarnya.


" Gimana kalo kita ke Mall aja, sekalian maen ke Timezone "


" Terserah loe aja lah, lagian gue mah ngikutin loe aja " jawab Adri.


Adri mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah Mall yang sangat terkenal di Jakarta. Setelah sampai tepat di parkiran basement Mall tersebut. Setelah itu mereka Berjalan-jalan di sepanjang Mall tersebut.


" Tunggu sebentar, gue mau beli sosis dulu. loe mau gak, biar gue sekalian beli " tawar Adri pada Radit.


" Terserah loe aja dek, lagian gue kan cuman ngikutin elo aja. Gue mah mana punya duit, jadi apa yang loe tawarin gue pasti mau kok " ucap Radit pada Adri.


" Nah gitu dong, sadar diri sebelum di sadarin malaikat " ucap Adri dengan wajah datar khasnya.


" Nih anak ngeselin nya minta ampun, apalagi ekspresi datarnya. Untung aja dia cakep terus baik karena udah nolongin gue. kalo enggak gue ceburin dia ke empang " batin Radit.


Kini Adri sedang berada di gerai penjual makanan ringan, ia memesan sosis panggang, eskrim dan juga kentang goreng. Setelah menerima pesanannya dan membayar belanjaan miliknya, Adri segera menghampiri Radit dan mencari tempat untuk duduk.


Adri memilih kursi yang banyak di tempati anak muda untuk nongkrong, mereka pun langsung duduk di meja yang hanya terdapat dua kursi. Banyak yang melirik kearah Adri dan Radit, karena penampilan mereka yang terlihat seperti orang biasa.


Adri hanya memakai sweater polos dengan rambut yang di ikat seadanya dan ia cuma memakai celana training, ia juga hanya memakai sandal swallow. sedangkan Radit sama seperti Adri hanya bedanya ia memakai celana kolor diatas lutut dengan rambut yang terlihat Acak-acakan.


Adri tidak memperdulikan tatapan mereka, tapi Radit ia sangat risih dengan ucapan serta tatapan yang ditujukan padanya dan juga Adri.


_________________________________________________


See next chapter πŸ˜˜πŸ‘‹


Tinggalin komen dan like nya ya πŸ˜„πŸ‘