BAD???

BAD???
Malu



Adri terbangun dari tidurnya, semalam Adri tertidur setelah menghabiskan satu botol Wine dan beberapa bungkus rokok. Ia Bener-bener di buat kacau oleh Garda, kalau saja dia bukan seseorang yang berarti bagi Adri. Mungkin Adri akan masa bodo atau bahkan tidak melihatnya sekali pun.


Adri bangun dari sofa dan meregangkan tubuhnya, bahkan tirai kamar itu masih terbuka dan hanya sedikit cahaya yang menerangi ruangan itu. Adri kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut, ia bergegas memasuki kamarnya dan segera membersihkan diri di kamar mandi. Setelah selesai, Adri memakai seragamnya seperti biasa dan membawa perlengkapan sekolahnya.


Sebelum Adri berangkat, ia membuat minuman dari air perasan air lemon dan di campur dengan sedikit air hangat. Hal itu sering ia lakukan setelah selesai minum minuman beralkohol. Adri langsung berangkat dari rumahnya menggunakan motor ninja nya, ia sedikit bosan dengan motor trail nya. Setelah mengunci pagar rumahnya, Adri langsung menancap gas karena jam sudah menunjukan pukul 08:10.


Seperti biasa Adri memarkirkan motornya di tempat bi Sumi, ia kemudian melakukan kebiasaan nya menanjat pagar lalu naik ketembok benteng sekolah nya. Adri mengedarkan pandangannya kesegala arah, ia tidak melihat perwujudan "Algojo" yang selalu setia menunggu nya.


Saat Adri akan bersiap meloncat, sebuah taksi berhenti tepat di depan gerbang, sontak Adri berhenti dan menoleh kearah mobil tersebut. Tak lama kemudian seorang siswa muncul dari mobil tersebut dan menatap Adri yang sedang berdiri menjulang di atas tembok depannya.


" Ngapain loe Dri lewat tembok, bukannya gerbang nya gak di kunci ya? " tanya siswa tersebut. Ia kemudian berjalan kearah gerbang lalu membukanya dengan sedikit di dorong.


" Ck sialan, kalo tau gak usah ribet pake manjat segala " decak adri kesal.


" Loe ngapain malah bengong disitu, loe mau jadi kembaran patung bunderan HI " Ledek nya pada Adri.


Brukkk.. Adri langsung melompat kebawah dan berhasil mendarat dengan sempurna, ia kemudian jalan kearah siswa tadi dan merangkul pundaknya. Tak lupa Adri memberikan hadiah jitakan di kepala siswa tersebut.


" Apa sih Dri, loe masih pagi maen jitak kepala orang " Gerutu siswa tersebut sambil mengelus kepalanya.


" Tumben loe telat Git, biasanya loe udah stay di kelas " Tanya Adri penasaran.


" Gara-gara elo gue jadi kesiangan, kalo aja gue kemaren gak nurutin elo Mungkin gue gak bakal kaya gini " Siswa tersebut memasang wajah kesalnya. Dia tak lain Sigit, biasanya memang dia gak pernah telat kalo dateng kesekolah.


" Lah emang salah gue nya dimana Git, serumah aja kagak gue " kata Adri kesal.


" Mama gue nyita mobil gue gara-gara ketahuan ngerokok, dia sampe marah dan bakal tahan mobil gue selama dua minggu. Puas loe! " teriak Sigit.


" Gak usah ngegas juga kali, lagian loe anak cowok lembek amat sih, sok-sok an pengen jadi kawan gue lagi " kata Adri sambil memasang wajah datar kebanggaan nya.


" Ya Tuhan kenapa kasih ujian aku kaya gini sih " keluh Sigit dalam hatinya.


Flashback of Sigit....


Mobil Honda Civic itu sudah berhenti tepat di depan rumah mewah berlantai dua. Sang empunya keluar dari mobil tersebut dengan tampilan yang kusut dan tas yang di selempangkan di sebelah kanan bahunya. Ia kemudian memasuki rumah tersebut, ia melihat kearah meja makan sambil menghampiri anggota keluarganya.


" Sore Mah, Dad, Dek maaf ya aku agak telat hari ini " Sapa pemuda itu sambil mencium tangan dan pipi mereka secara bergantian.


" Tumben kamu pulang telat Kak, biasanya juga kamu suka pulang tepat waktu " Tanya sang ayah.


" Main dulu pah sama temen Igit " Jawabnya santai. Ia kemudian memposisikan tubuhnya dan duduk di samping sang adek.


" Kakak habis ngerokok ya, tubuh kakak bau asap rokok, sana jauh-jauh sama aku " Adiknya menutup hidung dan sedikit menggeser kursi nya menjauh dari sang kakak.


" Sigit kamu sekarang sudah berani merokok, sejak kapan kamu berani nyentuh barang beracun kaya gitu " Sang ibu menatap tajam anak lelakinya itu.


" Emm.. Anu Mah, Sigit penasaran jadi Sigit nyobain deh. Tapi baru kali ini kok mah " Jawab Sigit sambil tersenyum bangga.


" Pah, tuh lihat anak kamu sudah terjerumus sama pergaulan bebas. Bagaimana jika dirinya nanti semakin terbawa sama pergaulan bebas pah " Rengek sang ibu pada ayahnya Sigit.


" Sip, papa memang ter the best deh " Sigit memberikan dua jempol pada sang ayah sambil tersenyum puas.


" Mama gak setuju, kamu gak boleh ngerokok lagi, dan untuk hukuman kali ini. Mama akan sita mobil kamu selama dua minggu, dan kamu harus naik bus atau taksi buat berangkat kesekolah " Ibunya marah karena ternyata ayahnya malah mendukung keputusan Sang anak.


" Mah lagian kan aku tuh udah gede mah, masa aku harus culun mulu sih. Yang ada aku tuh di ejek sama di bully oleh mereka " Bela Sigit.


" Kamu ini udah berani ya melawan Mama, minggu kemarin kamu juga pulang dengan wajah babak belur dan sekarang penampilan kamu udah kayak gini. Ditambah lagi kamu juga merokok, Mama pokok nya gak mau kamu seperti ini. Titik " Ibunya bangkit meninggalkan meja makan dan pergi kearah kamarnya.


Sigit langsung berubah murung, ia kemudian ikut bangkit dari meja makan dan pergi menuju kamarnya dengan lesu. Sedangkan adik dan ayahnya hanya pasrah dan melanjutkan makan mereka yang tertunda.


Selang beberapa waktu, kamar Sigit di ketuk dari luar, kini Sigit sudah memakai piyama untuk tidur dan sedang berbaring di atas kasurnya. Ia dengan malas berjalan kearah pintu dan membuka nya.


" Kenapa dek? " Tanya Sigit dengan lesu.


" Ditunggu sama Papa di ruang kerjanya " Jawab sang adek.


" Emang ada apa dek, tumben Papa manggil keruang kerjanya " Tanya nya lagi.


" Gak tau, pokoknya Adek cuman di suruh buat manggil kakak aja " kata sang adek. " Yaudah aku pergi dulu ya kak, jangan bikin Papa marah juga kak " Ucap sang adek sambil melenggang pergi.


Sigit pun akhirnya keluar dari kamar dan berjalan ke lantai bawah untuk menemui ayahnya yang ada di ruang kerja. Sesampai disana Sigit langsung duduk di kursi depan meja sang ayah, ia menundukan kepalanya dan enggan menatap sang ayah.


" Habis berapa batang Git kamu merokok, apa ini ada hubungannya sama teman yang menolong kamu itu " Tanya dang ayah.


" Iya pah Sigit juga baru habis dua batang Pah, itu juga belum lancar dan malah Batuk-batuk " Jawab Sigit.


" Papa bangga sama kamu nak, setidaknya kamu bicara pada kami dan memberitahukan apa yang kamu lakukan selagi tidak dalam pengawasan kami " Kata sang ayah sambil menepuk bahu Sigit.


" Tapi Pah, Mama sangat marah sama Sigit. Tapi Sigit gak bisa ninggalin Adri Pah, dia sangat berarti bagi Sigit. Dia yang udah buat Sigit berubah dan gak culun kaya dulu, dia juga yang sudah menolong Sigit dari bully an kakak kelas Pah. " Sigit menunduk dengan wajah sedihnya.


" Papa gak melarang kamu buat menjauhi teman mu itu, justru papa sangat bangga ketika kamu sudah berubah lebih tegas seperti ini. Tapi Papa titip kepercayaan Papa sama kamu, jangan pernah berbuat di luar batas oke. Oh ya namanya Adri, apa dia cowok, bagaimana cara dia ngajarin anak Papa ini merokok " Ayahnya tersenyum kearah sigit yang sedang menatap kearahnya dengan wajah memerah dan langsung menundukan kepalanya lagi.


" Anu Pah, sebenarnya temen Sigit cewek, dia yang udah ngajarin Sigit buat ngerokok dan menasehati Sigit buat berubah dan gak culun kayak dulu lagi " Cicit Sigit dengan pelan. Ia sangat malu mengingat kejadian yang membuat nya gugup dan gemetar oleh perlakuan Adri. .


" Benarkah teman mu seorang gadis, gimana cara dia ngajarin kamu merokok, lalu kenapa sama wajah kamu yang malah merah gitu " Goda Sang ayah.


" Emm...anu Pah, dia sebenarnya juga pecandu rokok Pah. Dia ngajarin Sigit langsung dengan menaruh rokok di bibir dan kami menempelkan ujung rokok kami, lalu dia menyuruh Sigit buat ngisap rokoknya sampe rokok itu nyala " Jawab Sigit dengan jujur.


Sang ayah tersenyum sangat lebar, bahkan dalam hatinya ia ingin sekali tertawa keras setelah mendengar anaknya menjawab dengan jujur.


" Jadi posisi wajah kalian sangat dekat, atau seperti pasangan kekasih sedang berciuman " goda Sang ayah.


Mendengar hal itu sukses membuat wajah Sigit semakin memerah menahan malu atas ucapan Sang ayah. Ia tidak berkata lagi dan memilih bungkam.


Sedangkan di luar ruangan tersebut, Sang ibu yang menguping pembicaraan itu terlihat sedang menahan tawanya. Ia tidak menyangka jiwa putra nya yang sangat culun sudah berani melakukan hal seperti itu.


Back Again....