150 Cm

150 Cm
Episode 99. Permintaan Keive



"Apa Mirza tahu perasaan ku terhadap Arumi, istrinya?" batin Keive.


"Apa perlu ku perjelas, Keive...?!" suara Mirza meninggi.


"Bang...!"


CRANG....!!


Gelas berisi air mineral jadi sasaran amuk amarah Mirza. Suaranya beradu gaduh hingga berserak. Keive terkesiap. Kakinya surut bak terdorong hawa panas amarah Mirza.


"Aku tahu batasan ku, Bang. Tak mungkin aku memiliki istri mu. Tapi jika boleh, aku ingin meminta bayaran atas keberhasilan misi ku"


"Bayaran...?! Ogh...baiklah. Katakan berapa aku harus membayar mu?"


"Aku tak perlu uang mu, Bang. Aku hanya ingin kau memberiku kesempatan"


"Kesempatan...?"


"Kesempatan untuk...."


Kata Keive terhenti. Mendadak ia ragu. Matanya menilik wajah Mirza yang sudah merah padam. Keive tengah menerka reaksi apanyang akan ditampilkan Mirza saat ia menyebutkan bayarannya itu.


"Katakan, Keive. Jangan berbelit-belit..."


"Aku ingin diberi kesempatan untuk menyatakan perasaan ku pada istri mu, Arumi..."


"Lancang....!!"


Amarah Mirza telah sampai di ubun-ubun. Di sini perasaan kelaki-lakiannya tengah diuji. Pun demikian, Mirza tetap berusaha mengendalikan amarahnya. Ia tidak ingin menyisakan jejak yang tidak baik terhadap Keive. Terlebih setelah apa yang sudah dilakukan Keive untuk keluarganya, Ryu. Karena itu perlahan kobaran api yang sudah menjilat-jilat itu meredup.


"Baik. Aku akan memberimu kesempatan...." ucap Mirza terhenti karena Keive sudah memotongnya.


"Satu minggu. Aku meminta kesempatan selama satu minggu..."


"Baiklah. Aku mengiyakan karena aku percaya dengan istri ku..."


"Aku juga percaya pada insting ku yang sudah malang melintang di dunia penaklukan gadis..."


"Keive...." ucap Mirza.


Matanya membulat sempurna. Mirza menatap Keive yang baru saja berucap dengan santainya.


"Haha....Bang Mirza khawatir Arumi jatuh hati pada ku?"


"Khawatir...? Aku...? Haha...Sudah ku katakan aku percaya pada Arumi. Kau tidak akan punya kesempatan untuk menitipkan hati mu walau sedetik pun"


"Kita lihat saja nanti..." ucap Keive sambil berlalu meninggalkan Mirza.


Deg.


.


.


.


Mirza hilang kata. Ia menjadi diam. Hanya matanya saja yang terus mengikuti langkah Keive hingga hilang di balik dinding. Sementara itu, jelas dalam hati Mirza mulai ada riak yang memicu badai. Hal tersebut terlihat dari bagaimana cara ia menatap kepergian Keive.


"Keive..." gumam Mirza lirih.


Mirza memutar tubuh. Ia kembali berdiri dekat jendela. Matanya terpejam sejenak untuk kemudian kembali menerobos bingkai jendela, jauh entah kemana. Mirza berusaha mendamaikan suasana hatinya yang sempat bak ada badai yang berkecamuk


"Kaaak...." ucap Arumi.


Kedua tangannya menelusup dan memeluk pinggang Mirza. Dan Mirza sedikit terkesiap atas kehadiran istri cantiknya itu. Kemudian Mirza pun membuka lingkaran lengan Arumi. Bukan untuk dilepaskan semata, tapi justru menarik Arumi ke dalam pelukannya. Mirza menghadiahi perempuan 150 cm itu dengan kecupan lembut di pucuk kepalanya.


"Aku tahu apa yang menjadi gelisah mu, Kak. Semuanya sudah aku dengar tadi. Dan kau tak perlu khawatir, karena cintaku hanya untuk mu. Tapi....saat ini aku sedang marah. Aku marah dan kecewa karena kau telah mengiyakan permintaan gila Keive tanpa bertanya dahulu padaku. Untuk itu aku akan menghukum mu, Kak. Aku akan mengikuti permainan ini. Bersiaplah tuan Mirza Adyatma untuk up and down dengan iirama jantung mu nanti.." batin Arumi.


"Maafkan aku, Ar. Tanpa bertanya terlebih dahulu padamu, aku sudah mengiyakan permintaan Keive. Tapi semua itu karena aku yakin akan dua hal dari mu. Yang pertama bahwa kau akan mengerti bagaimana situasi ku saat ini. Kedua bahwa cinta kita tak tergoyahkan..." batin Mirza.


Tapi hingga renungan kata tak tergoyahkan, Mirza kian tertegun. Hatinya gamang. Terlebih saat melihat keyakinan Keive yang terlukis pada tiap kata yang terucap ataupun pada tatapan matanya. Terlebih ia tahu sepak terjang Keive sebagai penakluk wanita sudah tak di ragukan lagi. Semua karena hampir semua tipe laki-laki ideal ada pada Keive. Ah, Mirza hampir frustasi karena bermacam spekulasi nya sendiri.


"Kak...makanan sudah siap. Ingin makan sekarang atau bagaimana?" ucap Arumi.


Sederet kata Arumi sukses membawa kembali Mirza dari dalamnya lamunan. Mirza tersenyum. Lagi-lagi matanya menatap lekat Arumi. Kali ini tatapan itu jauh ke dalam mata indah Arumi. Sepertinya Mirza tengah mencari sesuatu di sana.


"Mata ini yang selalu membuat keyakinan di hati ini menguat dan tak tergoyahkan. Tapi mengapa kali ini berbeda. Astaga...sial...!! Mengapa aku mengiyakan. Kalau begitu aku pun akan berusaha menggagalkan rencana Keive. Karena Arumi hanya milik Mirza Adyatma. Hanya Mirza...!" kecamuk batin Mirza.


"Kak...!" ucap Arumi setengah teriak.


"Ya,Sayang... Sebentar lagi. Aku sedang menikmati keindahan mata mu"


Arumi pun berlalu. Ia meninggalkan Mirza yang termangu menatapnya berlalu.


"Tung-gu suami tampan mu ini, sayang...." ucap Mirza kemudian.


Mirza melangkah panjang demi mensejajari langkah Arumi.


"Sejak kapan suami ku ini gagap situasi? Unconditional..."


Deg.


.


.


.


"Benarkah....? Kalau begini..?" ucap Mirza.


Bersamaan dengan itu, Mirza mengangkat tubuh mungil Arumi dengan cara membopongnya seperti menggendong pengantin.


"Kak...turunkan"


"Tidak. Sebelum kau mencium ku"


"Dasar mesum..."


"Mesum kata mu...?" ucap Mirza.


Lagi-lagi bersama dengan itu, Mirza kembali mengangkat tubuh Arumi. Kali ini bergaya fireman's carry, yaitu meletakkan tubuh Arumi di bahunya. Perlakuan tersebut membuat Arumi setengah tak terima. Arumi hingga berteriak dan memukul-mukul punggung dan lengan Mirza walau tak kuat.


"Turunkan, Kak...Turunkan...!" ucap Arumi terus.


"Meronta dan berteriak lah. Kalau perlu sekota mendengarkan. Satu yang harus kau tahu. Aku tidak akan menurunkan mu apalagi melepaskan mu..."


"Ku mohon, Kak. Malu...ada banyak asisten rumah tangga yang melihat"


"Biarkan saja. Aku tak peduli. Kau istri ku..."


"Huh..." dengus Arumi.


Hingga di anak tangga terakhir, Arumi masih meminta untuk di turunkan. Dan Mirza tetap menolaknya. Mirza tak peduli dengan banyak tatapan dari para asisten rumah tangga yang menatapnya. Bahkan Beberapa diantaranya menyimpan senyum saat mendapati tingkah absurd tuan besarnya itu.


"Kak....ada tamu" bisik Arumi.


"Modus...Aku tak akan melepaskan mu"


"Aku sungguh-sungguh, Kak..."


"No..."


Mirza tetap tak peduli. Ia terus melangkah hingga ke dekat meja makan. Sesampainya di sana, wajah Mirza memerah. Bukan karena malu, tapi lebih pada kesal.


Duduk di kursi, Keive. Matanya menatapi acara gendong-gendongan itu. Hatinya sempat beriak. Cemburu. Namun sebelah hatinya menghiburnya, hingga cemburu itu tak mengusiknya.


"Ahai....sejoli. Sedang mencoba memanasi?" ucap Keive.


"Memanasi? Memanasi, siapa?"


Belum Keive menjawab, sebuah suara tenor mengusik telinga.


"Mirza bin William Diningrat...!!!"


Sontak Mirza memutar tubuhnya. Matanya kini yang membulat sempurna saat mendapati dua orang berdiri. Mereka adalah Dania dan William.


"Mama...Papa?!" ucap Mirza terkejut.


"Apa yang kamu lakukan kepada anak perempuan mama, Hah...!!!"


"Arumi....."


Mirza terkesiap. Ia segera menurunkan Arumi. Bukan dengan kasar, tapi pelan-pelan. Mirza mendudukkan Arumi pada kursi berwarna hitam maroon.


"Dasar anak nakal...!" ucap Dania sambil memeluk Arumi yang wajahnya tampak memerah.


"Anak mama..." ucap Dania.


"Apa kabar, Ma...?" ucap Arumi.


"Baik, sayang. Mama kangen...."