
"Selamat siang teman-teman media semua. Saya Mirza Adyatma. Saya ingin mengklarifikasi pemberitaan yang ada di media online, elektronik maupun media lainnya. Pertama, saya ingin menyampaikan bahwa saya tidak segan-segan untuk mengusut tuntas pembuat berita sampah tentang saya atau pun orang-orang terdekat saya ataupun penerbitnya. Kedua, perlu diketahui bahwa gadis yang bersama saya adalah calon istri saya..."
Kasak-kusuk terjadi diantara media yang hadir. Dan hal itu membuat senyum tipis Mirza terbit Aldi sudut bibirnya.
"Memang benar dia adalah putri dari tuan Permana Wicaksono, satu diantara pengusaha di Indonesia. Namun keberadaan putri nya di lingkungan keluarga saya tidak ada kaitannya dengan usaha beliau. Kedekatan saya dan putri semata wayangnya itu karena memang murni saling cinta.."
Kembali pernyataan Mirza tersebut membuat sedikit gaduh suasana dalam ruangan.
"Mungkin ada beberapa orang yang tidak menyukai calon istri saya itu karena menurut beberapa orang tersebut calon istri saya memiliki kekurangan. Namun bagi saya tidak ada kekurangan pada dirinya. Karena yang saya lihat semua adalah kelebihannya, tiada kekurangan sedikit pun..."
"Ketiga bahwa saya tidak segan-segan untuk mensomasi siapa saja yang menulis dan menerbitkan berita palsu tentang saya ataupun keluarga saya. Untuk berita yang sudah tayang saya tunggu permintaan maafnya 1x24 jam secara tertulis Jika tidak maka saya akan menyebut itu sebagai tindakan pencemaran nama baik...."
"Waah...!" ucap lesu beberapa media online yang sudah menayangkan berita seputar kehidupan pribadi sang pengusaha muda nan tampan itu. Mereka tahu betul bagaimana tabiat pengusaha tampan itu. Walau ia adalah pengusaha jujur, dan bertanggung jawab namun tak jarang menunjukkan perilaku sedikit arogan jika berkaitan dengan nama baiknya, keluarga dan perusahaannya. Selain itu Mirza pun sangat identik dengan sifat penentang ketidakadilan terhadap siapa pun. Jadi wajar jika semua hal pada dirinya membuat orang-orang memilih berdamai ketimbang membuat marah sang pengusaha sukses nomor satu di Indonesia itu.
"Baik disilahkan kepada teman-teman yang ingin bertanya. Tiga penanta, masing-masing satu pertanyaan saja..." ucap Elvano.
"Apa yang membuat Tuan Mirza jatuh hati kepada Nona Arumi?"
"Akhlak. Arumi gadis yang baik, sopan dan bertanggung jawab. Cinta saya jelas bukan pada fisik. Camkan itu...!"
"Jika akhlak yang membuat Tuan jatuh hati kepada Nona Arumi, bukankah masih banyak gadis yang berakhlak sepeti itu di luaran sana?
"Ya betul. Tapi yang Allah kirimkan untuk saya adalah Arumi bukan yang lain. Seandainya Allah kirimkan gadis yang lain selain Arumi mungkin saya tidak akan bersama Arumi saat ini..."
"Jadi maksud tuan ini adalah takdir?"
"Sudah gaharu, cendana pula..."
GRRRRR....
Tawa pun mengisi ruangan tersebut. Sementara Mirza mengulas senyum khasnya yang otomatis menambah ketampanannya.
"Next...." ucap Elvano.
"Apa aktifitas Nona Arumi? Apakah ia seorang pengusaha, sama seperti Tuan?"
"Itu bukan urusan mu.." ucap Mirza datar.
"Maaf tuan. Pertanyaan ini mewakili keingintahuan dari banyak pembaca kami. Jadi kami minta Tuan berkenan menjawabnya..."
.
.
.
"Hmm...Baiklah. Calon istri ku itu seorang mahasiswa..."
"Mahasiswa...?'
"Ya. Mahasiswa..."
Sedikit gaduh suasana ruangan yang digunakan pers conference saat itu. Dan itu membuat Mirza segera beranjak dari tempat tersebut.
"Maaf, Tuan. Satu lagi. Kampus manakah itu?'
"Kapankah tuan akan meresmikan hubungan dengan nona Arumi?"
"Kapankah tuan akan menikah?"
Pertanyaan itu benar-benar tak digubris Mirza lagi. Nyatanya kaki Mirza tetap melangkah dan meninggalkan tempat tersebut. Ada beberapa media yang mengikutinya, namun keamanan berhasil menahannya. Sehingga sang pengusaha tampan sukses melenggang ke ruang kantornya.
Tuk.
Tuk.
Tuk.
Elvano mengetuk microphone, meminta perhatian.
"Untuk pertanyaan selanjutnya, itu adalah berita besar. Dan nanti akan kami kabarkan secepatnya. Baik untuk sementara dicukupkan dahulu. Sekali lagi terima kasih atas kehadiran teman-teman semua. Selamat siang...!" tutup Elvano.
Sementara itu di ruang kerja Mirza Adyatma. Mirza tengah duduk termenung. Tumpukan beberapa berkas di hadapannya belum diperhatikannya. Ia masih menimbang rasa atas apa yang baru saja ia utarakan pada pers conference barusan.
"*Semoga semua jelas. Dan tidak ada pernyataan ku yang bersifat ambigu dan memunculkan masalah baru. Arumi aku mencintaimu. Sangat mencintaimu...Bahkan setelah riak ujian barusan aku makin mencintaimu..."
Drrt .
Drrt .
Drrt*.
Ponsel Mirza berpendar. Dan suaranya sukses mengembalikan kesadarannya.
"*Assalamu'alaikum...Pa?"
"Wa'alaikumussalam*... Papa senang dengan penjelasan mu. Semoga tidak menimbulkan masalah baru"
"Ya, Pa. Semoga saja..."
"Kau tidak pulang makan siang?'
"Pulang, Pa. Lima belas menit lagi Mirza meluncur..."
"Baiklah. Arumi sudah memasak Special untuk kita semua'
"Karena itu sempatkan pulang walau sejenak..."
"Baik, Pa..."
🌸🌸🌸🌸🌸
"Bagaimana masakannya, Ma? Sudah siap?"
"Sebentar lagi, Pa. Ternyata Arumi pandai memasak, Pa. Mama saja kalah..."
"Ah, Tante memuji terus. Bisa terbang Arumi. Hehe..."
"Kenapa masih memanggil Tante? Panggil mama, Ndok seperti halnya Mirza.."
"Ya, Om. Eh, Pa..."
"Hehehe....." Kekeh William dan Dania terdengar mengisi udara di ruangan atas kegaguan Arumi barusan.
"Bagaimana aktifitas melukis mu, Ndok?"
"Masih, Pa. Tapi beberapa waktu ini jadi jarang..."
"Papa dan mama ingin membuat acara pameran kecil-kecilan untuk mu. Bagaimana?"
"Sungguh, Pa, Ma...?"
"Itu tidak perlu. Karena Mirza sudah merencanakannya. Bahkan sudah pada tahap lima puluh persen..." ucap Mirza yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang ketiganya.
Mirza dengan langkah panjangnya berhasil duduk di antara William dan Dania.
"Emm...dasar anak nakal. Buat rencana tidak bilang-bilang"
"Begini saja, Arumi boleh memilih. Rencana mana yang akan ia pilih, papa dan mama atau Mirza?"
"Dasar anak nakal. Seenaknya saja membuat pilihan seperti itu"
KTAK....
"Aw...! Papa..." keluh Mirza saat jari
Arumi menutup mulutnya karena tawanya terlanjur terdengar. Terlebih saat melihat mata Mirza yang membulat sempurna ke arahnya.
"Mirza...!"
"Ya, Ma..."
"Orang kok senang sekali mengintimidasi..."
"Arumi tidak apa-apa, Ma. Lain kali jika pak Mirza begitu lagi, Arumi akan langsung membalasnya..." ucap Arumi dengan bersemangat.
"Waduh... alamat ini jika begitu. Hati-hati, Za. Hahaha...." ucap William.
"Ah, sudahlah. Mari kita makan..." ucap Dania menengahi obrolan absurd itu.
Meja makan pun jadi riuh dengan decak lidah dan obrolan pujian seputar makanan yang membuat Arumi harus menyimpan wajahnya pada ujung sendok-nya sambil mengulum senyum.
"Wajah Arumi semakin cantik jika merona begitu. Hehe...Aku suka melihatnya begitu..Dan harus ku akui jika masakannya pun enak sesuai selera ku. Wah, aku makin jatuh cinta..."
"Ini enak banget, Ar. Apa kau yang memasak semua ini?"
"Ya, Pak. Mama juga membantu Arumi..."
"Pak...? Apa tidak ada panggilan lain, Ar...?"
"Tidak apa-apa, Ma. Itu panggilan sayang Arumi kepada ku. Ya kan, Ar?" ucap Mirza sambil membersihkan sisa makanan pada bibirnya.
Sementara Arumi hanya tersenyum dengan ucapan Mirza barusan.
"Ah, sialan. Mengapa saat di depan pak Mirza, aku seperti tak berkutik? Hadeeuhh...hilang semua kata ku. Terlebih saat kedua mata itu menatapku lekat" batin Arumi.
"Baiklah, aku harus kembali ke kantor. Ma, titip Arumi ya. Sore nanti barulah Mirza antar Arumi pulang..."
"Ya, Baiklah. Mama juga masih ingin berbincang dengan Arumi. Mau kan Arumi?"
"Tentu saja, Ma..."
Mirza berdiri dari kursinya dan bersiap berlalu. Baru satu langkah, kakinya berhenti tepat di belakang kursi Arumi. Dan...
"Terima kasih makanannya. Aku suka sekali..."
CUP....
Mirza menghadiahi kecupan pada pipi Arumi dan membuat gadis itu terkejut. Wajahnya saja sampai berwarna kemerahan.
"Egh..."
"Mirza..." ucap Dania.
"Ya, Ma. Hahaha...."
Mirza berlalu tanpa menghentikan langkah sambil mengangkat tangan sebagai balasan atas teguran Dania.