150 Cm

150 Cm
Episode 34. Pertemuan Arumi dan Mirza



"Bersabarlah duhai hati, suatu hari akan hadir tempat terbaik yang dapat menjadi pelabuhan pertama dan terakhirmu."


Arumi menghela nafas berulangkali. Matanya menjadi sendu. Terutama sesaat setelah ia membaca pesan singkat yang Permana kirimkan.


"Mirza sudah tahu, Ndok. Mungkin sekarang ia sudah berada di depan rumah mu. Apa rencana mu?"


"Ya, Ayah...Arumi akan tetap pada rencana awal. Memberi penilaian pada rasa yang ada. Aku ingin menguji cintanya" balas Arumi dengan tatapan sendu.


Bukanlah perkara mudah memberi penilaian atas cinta seseorang. Bukan pula perkara mudah untuk menguji cinta seseorang. karena keduanya membutuhkan kepekaan, mental dan rasa cinta yang kadang tak dapat dimaknai rasanya.


"Apa berat badan mu sudah kembali seperti dahulu?"


"Hehe...Ayah. Berat Arumi sekarang seakan kembali ke angka enam puluh kilogram setelah aku memakainya" balas Arumi.


"Berhati-hatilah, jangan mempermainkan perasaan seperti itu..."


"Yang mempermainkan siapa, Yah. Arumi hanya ingin melihat kesungguhan pak Mirza..."


🌸🌸🌸🌸🌸


Pagi menjelang. Embun pun masih menempel pada daun dedaunan yang asyik bergoyang ditiup angin. Sementara mentari masih malu bergelung di balik awan. Hanya semburatnya saja yang tampak menghiasi kaki langit. Arumi akan berolahraga.. Untuk meyakinkan orang-orang sekitar, Arumi sudah memakai pakaian penambah berat badannya.


"Mbak Din, Arumi lari sebentar ya..."


"Ya, Non..."


KREEEK....!


Derit pintu terbuka terdengar di sela kicau burung yang tengah asyik berloncatan. Namun saat pintu benar-benar terbuka sempurna Arumi terkesiap. Matanya menatap gagu laki-laki tampan yang berdiri tepat di ambang pintu. Laki-laki itu pun menatap Arumi dari ujung kaki hingga kepala. Mungkin ia pun sedikit terkejut dengan penampilan Arumi yang sudah kembali seperti saat pertama ia bertemu dahulu.


"Pak Mirza..." ucap Arumi lirih.


"Kau masih mengenali ku, walau penampilanku seperti ini?"


"Tentu saja aku mengenali, bapak..." ucap Arumi yang berusaha menyembunyikan rasa keterkejutannya.


"Dan bapak sendiri, apakah masih dapat mengenali ku?" ucap Arumi lirih sambil menyimpan tatapan pada pangkuannya.


"Aku masih mengenali mu, Arumi. Kau gadis yang sudah mengisi hati ku"


"Tapi apa bapak tidak malu dengan kondisi Arumi saat ini?" ucap Arumi.


"Tidak sama sekali. Namun yang membuat aku heran adalah mengapa kau terkesan menghindari ku?"


"Egh..."


"Aku tahu kau sudah di culik dan tidak diperlakukan kurang baik. Karena itu aku meminta maaf karena tidak ada saat kau butuhkan. Tapi setelah itu mengapa kau tidak menghubungi ku. Kau anggap apa aku? Bukankah kita sudah sepakat untuk berkirim kabar?"


"Maafkan Arumi, pak. Arumi memang sedikit menjauhi bapak. Karena Arumi ingin yakin akan perasaan Arumi sendiri. Selain itu Arumi malu dengan kondisi Arumi saat ini. Ternyata jauh dari membuat Arumi Frustasi dan melampiaskannya pada makanan. Kini berat Arumi seperti dahulu lagi..."


"Artinya, hati mu sudah menjadi milikku...?" ucap Mirza tersenyum.


Arumi tersenyum. Lagi-lagi ia menyembunyikan tatapannya pada pangkuan. Sementara tangannya memilin ujung kaos Hoodie yang dipakainya.


"Hei, ada apa? Apa kau pun sudah jatuh hati lagi seperti halnya aku yang jatuh hati pada mu berkali-kali?"


"Y-ya, Pak. Tapi Arumi...."


"Tapi kenapa.." ucap Mirza sambil menatap lekat Arumi.


"Tapi Arumi sudah seperti ini lagi. Mungkin dengan tinggi yang hanya 150 cm dan tubuh yang sebesar ini, rasanya Arumi tidak pantas untuk mendampingi bapak..."


Tes.


Tes.


Tes.


Air mata Arumi mulai terjun bebas. Hal tersebut membuat Mirza gamang. Mirza begitu rikuh, apa yang harus ia lakukan pada situasi tersebut. Dan...


GREEP...!


Akhirnya Mirza merengkuh kepala Arumi dan membenamkannya pada dada bidangnya.


"Heemm...aroma maskulin ini begitu menggoda indera ku. Andai aku bisa selalu diperlakukan seperti ini, tentu aku akan bahagia sekali. Tapi akankah pak Mirza menerimaku apa adanya?" batin Arumi.


"Aku sudah tidak peduli kau seperti apa. Tinggi atau pendek, gemuk atau kurus kah. Yang ku tahu, aku sudah jatuh cinta padamu. Aku mohon jangan pergi lagi dari sisi ku.."


Di luar dugaan, Mirza menerima situasi Arumi sekarang.


"Bapak yakin...?" ucap Arumi yang mendongakkan wajahnya menatap Mirza.


"Sayang...Aku yakin karena aku sadar bahwa cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tetapi menerima pasangan kita dengan sempurna."


"Eh, sudah berani cubit-cubit ya...Jangan cubit-cubit nanti ku hukum loh"


"Huk-hukum...?"


"Ya, ku hukum dengan bibir..."


"Ish, bapak...." ucap Arumi sambil melepaskan dekapan Mirza dan menjauhinya.


"Hahaha...."


Mirza tertawa. Terlebih saat melihat ekspresi wajah Arumi setelah mengetahui bentuk hukumannya.


"Kita pulang sekarang ya..."


Arumi menggeleng lemah. Mirza makin lekat menatap mata Arumi.


"Ada apa?" tanya Mirza heran.


"Aku masih ingin di sini..."


"Kenapa? Jika Arumi di sini berarti kita akan berjauhan. Apa kau sanggup? Ah, mungkin kau sanggup, sayang. Tapi aku tidak akan sanggup lagi. Dan lagi lusa ada acara di rumah. Mama membuatkannya untuk papa yang baru saja sembuh setelah menjalani operasi..."


"Operasi...?!"


"Oya, kau tentu tidak mengetahuinya. Papa terjatuh dari tangga rumah. Ada pembuluh darah yang pecah. Dan itu membuatnya harus menjalani operasi..."


Arumi terdiam. Matanya menerawang jauh. Ingatannya kembali mengumpulkan keping kenangan tentang William. Arumi tampak menghela nafas panjang dan kemudian menatap Mirza sesaat.


"Aku akan datang menemui Om William..."


"Ish... kenapa hanya papa yang akan kau temui. Apa aku tidak ingin kau temui?"


KRUUEEK.....


"Itu bunyi perut mu, Pak...?" ucap Arumi sambil tersenyum dan menatap Mirza yang tengah sibuk menyembunyikan rasa malunya.


"Itu...itu... itu karena aku belum makan apa pun dari semalam..." ucap Mirza rikuh.


"Hehehe...kacian" ledek Arumi.


"Hei, berani kau mengejek ku...?!" ucap Mirza ditengah rasa malu nya.


"Aish...tak perlu sungkan begitu. Aku akan membuatkan makanan untuk bapak. Em, bapak sudah mandi?"


"Mandi? Apa aku bau? Em, aku memang belum mandi..."


"Wah, bum mandi saja masih seharum itu. Apalagi sesudah mandi. Hihihi...." batin Arumi.


"Sementara aku masak, bapak mandi ya..."


"Ok, istri ku..." ucap Mirza sambil mencubit pipi Arumi.


Arumi tersenyum mendapat perlakuan manis tersebut.


"Eh, sejak kapan aku menjadi istri bapak?" ucap Arumi mengernyitkan dahi.


"Sejak aku memeluk mu di Villa..."


"Egh...."


"Sudah...sudah. Masak sana. Yang enak ya. Aku tidak mau perut ku sakit karena masakan mu"


"Ish...." ucap Arumi sambil berlalu. Sementara Mirza diarahkan mbak Diah menuju kamar tamu.


"Aku memang mencintai mu. Aku akui itu. Tapi tak akan mudah bagi mu untuk menerima keadaan ku saat ini, jika cinta mu lemah. Namun aku berharap kau akan berani mencintaiku bagaimana pun kondisi ku. Semoga..." batin Arumi.


Arumi menyiapkan beberapa bahan sayuran, telur puyuh dan irisan daging ayam untuk menjadi menu dadakan pagi itu. Dan pilihan Arumi jatuh pada capcay dan dua lauk sederhana lainnya. Bukan perkara mudah melakukan pekerjaan dengan situasi Arumi saat ini. Dimana ada penambahan bahan yang menempel pada tubuh Arumi sehingga terlihat gemuk dan gempal seperti dahulu.


"Ehem..."


"Eh, sudah selesai Pak...?" ucap Arumi yang dibalas dengan anggukan kecil.


"Silahkan..." ucap Arumi sambil menata menu di meja.


"Terima kasih ya..." ucap Mirza sambil tersenyum.


Tangannya menerima piring berisi nasi sesuai takaran yang dimintanya. Sementara itu mata Mirza selalu menilik raut wajah Arumi yang hanya sekali-kali melirik Mirza.


Pagi itu desiran aneh yang selama ini mendiami hati keduanya telah berpadu menjadi sebuah keyakinan bahwa keduanya saling jatuh cinta. Ada pun rencana Arumi, semata-mata hanya untuk menguji kesungguhan Mirza atas cintanya terhadap Arumi.