
Pukul sembilan lewat lima menit. Berdasar diagnosa dokter saat ini, Arumi sudah dipastikan dan diperbolehkan pulang. Senyum Arumi terbit di ujung bibirnya manakala team dokter yang menanganinya mengutarakan hal tersebut. Walaupun belum seratus persen sembuh, namun paling tidak pengobatan dapat dilakukan di rumah nantinya. Dan hal tersebut cukup membuat bahagia Arumi dan Mirza.
Arumi bangkit dari kursinya. Ia berdiri dekat jendela bergorden putih itu. Matanya menatap menerobos jendela. Rasanya tengah dimanjakan oleh kuncup bunga yang tumbuh subur pada pot di balkon kamar Kuncup itu pun meliuk bergoyang ditiup angin lalu. Entah tarian apa yang sedang ditarikan. Dan saat mata Arumi menatap langit, kembali decak kagum pun keluar dari bibir tipisnya. Ada goresan warna-warni pelangi membentang di sana, buah karya sang pencipta.
"Sudah siap, sayang...?" ucap Mirza.
Kedua tangannya mendekap Arumi dari belakang. Sadar dengan kehadiran dan perlakuan Mirza, Arumi pun membalas dekapan itu. Kedua tangan Arumi menggenggam erat lengan Mirza yang melingkar itu.
"Kita pulang sekarang?" tanya Arumi.
"Ya, sayang..." ucap Mirza.
Laki-laki tampan itu kembali menghadiahi kecupan lembut pada pucuk kepala Arumi.
"Mama dan papa?"
"Mereka menanti mu di rumah. Bahkan papa Edward dan Ryu pun sudah di rumah kita..."
"Oya...?"
"Kenapa seakan kau tak percaya, sayang?"
"Ah, tidak juga. Ku kira kak Ryu tengah di Jepang bersama papa. Terakhir keduanya berpamitan demikian"
"Mereka pulang karena mengkhawatirkan mu, sayang..."
"Mami dan kak Arya?"
"Apa mereka harus hadir? Jika ya, aku akan menghubungi mereka untuk datang ke rumah"
"Tidak, kak. Aku tidak ingin merepotkan semua orang. Hehe..."
"Hehe...Kalau begitu kita pulang sekarang. Semua perlengkapan mu pun sudah dikemas. Bahkan sudah di bawa Dewa dan mbok Min"
Arumi mengangguk. Senyumnya mengembang. Wajahnya pun menjadi sumringah. Ada sedikit rona merah di sana saat Mirza kembali menghadiahinya dengan kecupan lembut di bibir tipisnya. Terakhir Arumi kembali membenamkan kepalanya dalam dada Mirza. Hati perempuan 150 cm itu tengah menjadi merah jambu. Kenyamanan dan kasih sayang tiada banding tengah dirasanya.
Kemudian langkah keduanya begitu gontai meninggalkan ruang VVIP yang hampir dua pekan Arumi tinggali itu. Tangan keduanya ya pun saling berpautan. Sesekali keduanya saling melempar senyum saat mata keduanya berpadu.
"Lelah, Sayang?"
"Sedikit..."
"Mestinya kau mau saat ditawari kursi roda tadi..."
"Kalau pakai kursi roda, Arumi tidak bisa di gendong kakak saat lelah. Hehe..." ucap Arumi sambil tertawa.
Sebelah tangannya menutup wajahnya sambil memalingkannya. Melihat itu Mirza tersenyum sumringah. Hatinya benar-benar merah jambu.
"Gemezz..." batin Mirza.
Tangannya seketika merengkuh Arumi ke dalam dekapannya. Setelah beberapa saat mendekap perempuan 150 cm yang amat ia cintai itu, Mirza tiba-tiba saja berjongkok memunggungi Arumi.
"Naiklah..." ucap Mirza.
"Apaan sih, Kak. Malu jika nanti berpapasan dengan pegawai atau lainnya..."
"Kenapa harus malu. Kita pasangan sah. Cepatlah..! Atau aku akan berlari cepat dan meninggalkan mu" ucap Mirza berakhir dengan nada setengah mengancam.
Mendengar itu Arumi langsung meluluskan maksud laki-laki tampannya itu. Karena Arumi tahu, bagaimana tabiat suaminya itu. Sedikit ragu Arumi pun mulai merapatkan tubuh di punggung Mirza. Dan....
"Good...." ucap Mirza saat Arumi sudah berada di gendongan.
Tangan Arumi melingkari leher kekar Mirza. Dagunya pun menempel pada bahu Mirza. Sementara itu, Mirza mulai melangkahkan kaki. Tiada kepayahan sedikit pun saat ia menggendong Arumi. Selain karena tinggi Arumi yang hanya 150 cm, juga karena berat badan Arumi cukup ideal.
"Em, kak. Mengapa sejak tadi tidak ada satu pun pegawai yang kita jumpai di lorong ini?"
"Hahaha..."
Tawa Mirza mengisi ruang lorong yang lengang itu.
"Ditanya malah tertawa...." ucap Arumi.
"Aduh...sakit, sayang"
"Bairin...Rasakan tuh cubitan" ucap Arumi ketus.
Langkah Mirza terhenti. Ia menurunkan Arumi begitu saja. Dan hal itu membuat Arumi sedikit bingung.
Mirza menatap Arumi lekat. Tatapannya begitu tajam membuat Arumi bergidik. Walau Mirza sudah menjadi suaminya, namun tetap saja ada sisi lain Mirza yang selalu membuatnya bergidik. Mirza melangkah mendekati Arumi. Arumi beringsut beberapa langkah ke belakang. Terus dan terus...seiring Mirza yang terus melangkah.
"Egh...." gumam Arumi saat tubuhnya menyentuh dinding lorong.
Arumi benar-benar tak berkutik saat tubuhnya di kurung lengan Mirza dengan jemari yang melekat pada dinding.
"Sakit karena mu sudah cukup kurasakan. Aku tidak ingin merasakan sakit karena mu lagi..." ucap Mirza dengan tatapan tajam.
"Sakit karena ku? Apa tidak salah? Bukankah dia yang menyakiti ku..." batin Arumi.
"Kau milik ku. Hanya milik ku. Tidak Faaz, Tidak Raihan atau siapapun. Kau mengerti...?" ucap Mirza dengan suara penuh penekanan.
Mendapat kata bernada ancaman itu, Arumi menjadi ciut. Arumi menggigit bibir tipisnya. Sementara tangannya memegang dada Mirza. Hal tersebut agar Mirza dan dirinya tetap berjarak.
"Apa hanya gara-gara cubitan kecil seperti tadi, aku mendapat ancaman seperti ini. Dan sejak kapan si manusia kutub ini banyak bicara? Biasanya juga pelit. Ah, terserahlah...yang terpenting dia mencintai ku dengan tulus" batin Arumi.
"Kau mengerti Ar...?!' ucap Mirza sekali lagi sedikit keras.
"Iy-iya, Kak..."
"Cubitan mu tidak masalah bagi ku. Tapi aku hanya memperingatkan mu tentang kemungkinan kehadiran laki-laki lain...."
"Kehadiran laki-laki lain? Apa ia cemburu? Astaga...bisa juga manusia kutub ini cemburu. Wait...mengapa kak Faaz dan Dokter Raihan disebut? Apa kak Mirza tahu percakapan ku dengan kak Faaz saat itu" batin Arumi.
"Aku...Aku...tidak mungkin menduakan kakak. Hanya kakak laki-laki ku" ucap Arumi sambil menyimpan tatapannya di ujung kakinya.
"Lihat aku..." ucap Mirza bernada perintah.
"Em..." gumam Arumi sambil mendongak. Dan bersaman dengan itu....
CUP...
Mirza kembali menghadiahi kecupan pada bibir tipis Arumi. Kecupan yang sangat singkat, tapi cukup membuat rona merah di wajah Arumi kembali menghiasinya.
Mata Mirza masih menatap lekat Arumi. Seakan tak ingin menjauhkan tatapan itu dari perempuan 150 cm yang sudah tidak tambun lagi itu.
Kemudian perlahan namun pasti, Mirza mulai bermain pada bibir tipis Arumi. Cukup lama Mirza bermain di sana karena Arumi sendiri mulai beradu peran dengan Mirza. Hingga hasrat berubah menjadi titik "nagih" Arumi menghentikan perannya. Ia mendorong tubuh Mirza hingga laki-laki tampan itu surut dua langkah. Kesempatan ini tidak di sia-siakan Arumi. Ia langsung keluar dari lingkungan lengan Mirza dan berlari menjauh.
Melihat itu Mirza tersenyum lebar. Sebslah tangannya membersihkan sisa pergulatan di bibirnya.
"Arumi....!" ucap Mirza.
Langkahnya berusaha mensejajari langkah cepat Arumi. Mirza tertawa saat berhasil melewati langkah Arumi beberapa langkah.
"Naiklah..." ucap Mirza.
Arumi diam. Langkahnya pun melambat hingga berhenti tepat di dekat Mirza yang sudah menyediakan punggung untuk menggendongnya. Tiada kata penolakan, Arumi langsung mengikutinya permintaan Mirza.
"Em, mengapa tidak ada satu pun pegawai di...."
Belum selesai kata Arumi, Mirza sudah memotongnya dengan katanya.
"Aku pemilik MA Hospital. Jadi aku bisa membuat lengang lorong ini..."
"Astaga...."
"Jika tidak ku buat lengang, mana mungkin aku bisa merasakan manisnya bibir tipis mu itu..."
"Hei, sejak kapan tuan manusia kutub mesum..?"
"Ma-manusia kutub katamu...?!' nada Mirza meninggi.
Eng...ing....eng....Tahu kan kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya. Hahah....