150 Cm

150 Cm
Episode 85. Keive...(1)



Seorang laki-laki tengah merebahkan tubuhnya pada rumput hijau dekat kolam. Sebelah kakinya menopang pada kaki lainnya. Dan kedua tangannya terlipat di dadanya. Semenyara itu separuh wajahnya tertutup topi yang sejak tadi ia kenakan. Dari gurat di sebagian wajahnya itu, maka dapat dipastikan ia memiliki wajah yang tampan bak artis Korea yang sering berseliweran di layar kaca.


Bibir laki-laki itu komat-kamit bak merapal mantra. Berulangkali ia melakukan hal itu, sejak ia berada di tempat tersebut. Beberapa kali ujung jarinya mengangkat sedikit ujung topinya. Bersamaan dengan itu matanya bergerak lincah ke sana kemari. Sepertinya ada yang tengah ia cari atau mungkin tengah ia nanti. Sadar apa yang ia cari tak nampak, maka ia kembali membiarkan sebagian wajahnya tertutup topi. Dan kedua tangannya pun kembali terlipat pada dadanya.


"Aku ingin kau mendekati seseorang hingga ia tergila-gila pada mu. Setelah aku mendapatkan yang ku inginkan, ku harap kau segera meninggalkannya" ucap suara berkharisma.


Suara itu berasal dari seseorang laki-laki yang duduk di sebuah kursi tak jauh dari laki-laki bertopi itu berada. Seorang laki-laki yang berwajah tampan jauh melampaui ketampanan laki-laki bertopi. Siapa lagi jika bukan Mirza Adyatma.


"Jadi tugas ku hanya membuat Andrea tergila-gila pada ku?"


"Ya..."


"Setelah itu aku meninggalkannya?'


"Ya..."


"Aku yakin tidak semudah itu..." ucap laki-laki itu sambil duduk dan membetulkan letak topinya.


"Haha...Sesaat setelah dia tergila-gila padamu, maka ada hal yang menjadi tugas utama mu. Tapi itu nanti...Kita akan melihat dahulu mampukah pesonamu memikatnya?"


"Haha...berapa lama waktu ku"


"empat hari..."


"What...! Seorang Casanova saja membutuhkan waktu setidaknya satu pekan untuk menggaet mangsa kelas kakap"


"Bukankah kau super Casanova? Jadi tak jadi masalah bukan dengan waktu empat hari?"


"Waw...Anda luar biasa Tuan Mirza Adyatma. Tugas dari mu selalu saja membuat jantung ini ingin berloncatan"


"Haha....Jangan khawatir, anak buah ku sudah menyelidiki kemana, apa dan dengan siapa saja ia sering berkumpul. Kau tinggal mempelajarinya. Oya, aku akan menghubungkan mu dengan Dewa. Ia salah satu kepercayaan ku. Dan ia jawara dalam hal menaklukkan hati wanita..."


"Ah, kemampuanku tidaklah berkurang sedikit pun Tuan. Jadi tuan tidak perlu khawatir. Anggap saja tugas ini telah selesai ketika berada di tangan ku..."


"Good. Aku suka semangat dan rasa percaya diri mu, Keive. Tapi janganlah sampai kau menjilat ludah mu sendiri. Kau tahu, aku tidak suka kegagalan..."


"Siap, Tuan...." ucap Keive.


Ia pun langsung berdiri dan menjura takzim ketika Mirza berdiri dan berlalu meninggalkannya.


Keive tersenyum. Matanya menatap punggung laki-laki tampan itu. Laki-laki yang pernah menyelamatkan ia dan keluarganya dari maut. Dan karena hal itulah ejak saat itu hidupnya bagaikan sebuah bayangan bagi Mirza. Ia akan selalu siap sedia membantu menyelesaikan segala persoalan yang menjerat Mirza. Fikiran Keive kembali mengembara jauh. Ingatannya tentang peristiwa beberapa tahun lalu kembali tersulam.


Keive Flashback On


Keive tersungkur. Banyak lebam yang sudah dideritanya. Apalagi ada beberapa dari lebam itu yang meneteskan darah segar. Keive sungguh tak berdaya. Segala energinya telah terkuras setelah menghadapi lima orang bodyguard dari seorang laki-laki yang tengah duduk santai dalam mobil. Siapa itu, Keive sendiri tidak tahu pasti.


Keive menyeringai saat sebuah kepalan tangan kembali mendarat di wajahnya. Bersamaan dengan itu tubuhnya kembali tersungkur setelah beberapa saat lalu berhasil duduk dengan susah payah. Pandangan Keive menjadi samar. Ia benar-benar tak berdaya. Dan ditengah kepayahannya, sebuah percekcokan mengusik pendengarannya.


"Jangan kau ganggu anak ku...!" ucap seorang perempuan yang bersamaan dengan itu ada suara penolakan lainnya.


"Lepaskan...!! Aku tak Sudi ikut dengan mu...!!"


"Mama, Lidya..." gumam Keive lirih.


Mendengar itu, Keive mencoba berdiri. Susah payah ia membuat tubuhnya kembali berdiri. Dan akhirnya walau tak sempurna, kini Keive telah berdiri. Matanya menatap tajam dimana Lidya yang tengah meronta dan berusaha melepaskan diri. Sementara Maria, mamanya terlihat begitu kalap memukuli laki-laki yang tengah tertawa dan membiarkan pukulan bertubi Maria mengenai tubuh mereka. Rupanya tiada banyak pengaruh dari setiap pukulan yang Maria terhadapnya.


"Sudah ku katakan, jangan ganggu anak ku..." ucap Maria yang kembali menyerang.


Bersamaan dengan itu seorang laki-laki bertubuh besar melayangkan beberapa pukulan ke tubuh Maria. Wal hasil, tubuh sintal dari perempuan paruh baya itu pun langsung tersungkur. Maria tak sadarkan diri. Darah segar pun menetes dari sudut bibirnya. Pun dari luka pada lengannya yang baru saja tersayat.


"Mama....!!" teriak Keive dan Lidya.


"Bangsat....!! Berani-beraninya kalian menyentuh keluarga ku!! Siapa sesungguhnya kalian...!! Mengapa menyakiti keluarga ku!" ucap Keive di sisa tenaganya.


PROK...!


PROK...!


PROK...!


Terdengar suara tepuk tangan. Pemiliknya adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi. Ia berdiri tak jauh dari mobil mewahnya.


"Om Salim...?" ucap Keive mengenali siapa laki-laki itu.


"Benar, Keive. Apa kabar mu..?"


"Tidak perlu berbasa-basi, Om. Mengapa om Salim melakukan ini semua...? Apa salah kami?"


"Kalian tidak salah. Papa mu lah yang salah..."


"Papa...?"


"Ya. Papa mu salah. Mengapa ia tidak mewariskan perusahaan dan segala aset kekayaan yang ada kepada ku? Bukankah itu hasil kerja keras bersama...?! Papa mu licik, Keive. Ia ingin menguasai semuanya sendiri..."


"Aku yakin papa memiliki alasan untuk itu. Terlebih saat melihat perilaku om Salim hari ini. Keive yakin papa sudah memprediksi akan seperti apa perilaku om Salim di kemudian hari..."


"Lancang kau, Keive...!!"


"Jik om menginginkan segala yang sudah diwariskan papa, maka om bisa memilikinya.."


"Sungguhlah itu keponakan ku...?" senyum seringai Salim terlihat.


"Ya, tentu saja. Tapi itu sebelum apa yang om Salim lakukan hari ini kepada kami!" ucap Keive dengan geram.


"Lancang...! Jika kau tidak menyerahkannya, maka adikmu yang akan menanggung akibatnya"


"Apa maksud, om Salim...?!"


"Haha....Bawa dia!" ucap Salim.


Tangannya berisyarat kepada laki-laki yang sejak tadi memegangi Lidya. Sebuah isyarat yang langsung diamini dua laki-laki bertubuh besar itu. Dan....


BREET....!


Tangan laki-laki itu merobek bagian atas pakaian yang dikenakan Lidya. Gadis cantik berkulit putih itu pun begitu histeris. Ia berontak dan berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka. Bagian tubuh yang merupakan aset berharga dari setiap perempuan itu.


Sontak mata para laki-laki itu pun bak ingin meloncat saat menyaksikan pemandangan yang menggugah selera itu.


"Kak Keive....!!" teriak Lidya.


Tawa pun langsung membahana mengisi udara tepian hutan yang tampak sepi itu.


"Hemmmm...." ucap mereka hampir bersamaan.


Bibir mereka pun berdecak melihat dua benda kenyal yang menyembul indah itu. Decakan yang mengisyaratkan bahwa mereka siap melahap hidangan yang sudah tersedia di depan mata itu.


"Bangsat...!! Jauhkan tatapan jahat kalian dari tubuh adik ku...!!" ucap Keive.


Keive diamuk amarah. Tangannya terkepal hebat. Bersamaan dengan itu, Keive berusaha melangkah. Namun baru dua langkah, Keive kembali tersungkur. Tubuhnya kembali didera beberapa pukulan yang telak mengenai beberapa titik pada tubuhnya.


Keive benar-benar tak berdaya. Hanya dengus amarahny saja yang terdengar di sela hujatan dan caci maki terhadap Salim.


"Bagaimana Keive? Perlukah dilanjutkan pertunjukan terhadap adik mu?"


"Bangsat kau, Salim..." ucap lirih Keive sambil membuang ludah yang bercampur darah ke tanah.


Keive kembali menggeliat. Kedua tangannya bertumpu pada tanah. Dengus nafasnya membuat debu di sekitarnya sedikit terangkat ke udara. Sudah payah Keive berusaha kembali bangkit. Dan benar saja, usahanya menjadi sia-sia. Sebuah kaki berukuran besar membenamkan kepalanya hingga kembali rebah pada tanah yang berdebu itu. Sekuat tenaga Keive menahan jejakan kaki tersebut, namun usahanya kembali tak membuahkan hasil. Tubuhnya pun kembali rebah di tanah. Hanya matanya saja yang menatap pilu kondisi Lidya yang dikepung mata jahat.


"Kieve, waktu mu sepuluh detik. Cepat putuskan...! Jika ingin melihat adikmu tetap tersenyum dengan kesuciannya, maka cepat tanda tangani" ucap Salim sambil menyodorkan selembar kertas.


Mata Keive nanar menatap Salim yang tengah tersenyum sinis penuh kemenangan.


"Cepatlah, Kieve...! Waktu berjalan terus. Lima, empat, tiga, dua, satu..."


Mendengar hitungan waktu habis para laki-laki itu pun bergegas merangsek ke tubuh Lidya.


"Aku mohon...Jangan sakiti aku" pinta Lidya di sela isaknya.


To be continued....