150 Cm

150 Cm
Episode 6. Cemburu



Perseteruan pun berlanjut. Jurus demi jurus sudah Arumi keluarkan. Peluh sudah membanjiri tubuh terlebih lagi bobot tubuh Arumi yang tidak kecil, tentu ia akan lebih cepat lelah.


Buk....


Arumi meringis saat kepalan tangan Bima mengenai wajahnya. Darah pun menitik di sudut bibirnya yang beberapa saat kemudian berubah lebam.


Sambil menyeka darah dari sudut bibirnya, Arumi pun bersiap kembali dengan jurus-jurusnya. Kali ini ia menghadapi dua laki-laki sekaligus.


Sementara Bima duduk beristirahat. Matanya tajam menatap polah dua temannya yang berusaha membuka pakaian Arumi. Di tangannya tergenggam ponsel dalam posisi on, siap membuat rekaman baik foto maupun video.


Breet...


Lengan baju Arumi robek. Kedua laki-laki itu menyeringai puas. Arumi geram. Tangannya terkepal erat.


"Maju..." ucap Arumi dengan nada datar. Jemarinya bergerak menantang agar kedua laki-laki itu memulai terlebih dahulu menyerangnya.


Breet....


Pakaian atas Arumi koyak sedikit dan membuat dua benda kenyal miliknya terlihat sedikit menyembul. Buru-buru Arumi menutupi area sensitif itu dengan kedua tangannya. Tak pelak Bima dan kedua temannya tertawa.


"Maju...Aku tidak mudah dikalahkan..."


Kemudian tanpa ba-bi-bu lagi kedua laki-laki itu menghambur ke arah Arumi. Keduanya melayangkan jurus-jurus yang terbilang mudah dibaca Arumi. Tengah seru-serunya berolah jurus, suara laki-laki berhasil menghentikannya.


"Cukup.....!


Berdiri Mirza dengan tegap. Matanya menatap tajam ke tempat pertikaian. Tangannya tiba-tiba saja mengepal erat saat matanya menatap pakaian Arumi yang koyak.


Mirza melangkah cepat dengan amarah yang memuncak. Kemudian...


Buk...!


Buk...!


Dhuak...!


Mirza menghadiahi kedua laki-laki itu beberapa pukulan dan diakhiri dengan tendangan hingga keduanya tersungkur. Arumi terkesiap melihat aksi Mirza tersebut. Sementara Bima telah lebih dahulu di amankan Elvano dan dua orang scurity.


"Pak Mirza..." batin Arumi. Wajahnya memerah. Ada desiran aneh saat melihatnya beraksi barusan.


Kemudian Mirza menghampiri Bima dan menghadiahinya sebuah pukulan pada wajah. Mirza pun mengambil sim card dari ponsel Bima dan mematahkannya.


Setelah selesai dengan aksinya, Mirza pun menghampiri Arumi. Ia melepas jas yang di pakainya dan menyelimutkan pada Arumi sehingga menutupi bagian tubuh Arumi yang terbuka.


"Pak Satrio tolong urus tiga bocah tengik ini. Dan El, tolong kau urus galeri. Aku akan membawa Arumi ke rumah sakit"


"Baik, Pak..."


"Ti-tidak perlu, Pak. Sa-saya baik-baik saja"


"Baik-baik saja bagaimana? Tuh darah di ujung bibir, ngapain nongkrong di sana?"


"Ini...? Dia cuma penasaran ingin merasakan bibir saya, Pak..."


"Sembarangan...Asal sekali bicara mu"


KTak...


"Aw....sakit, Pak..." keluh Arumi saat tangan Mirza kembali mampir ke keningnya.


"Pokoknya kau ikut saya ke rumah sakit.." ucap Mirza datar.


"Hadeeuh...bawel juga nih cowok kulkas. Untung ganteng, coba klo ga sudah ku sentil-sentil tuk bibir biar bengkak..." batin Arumi.


"Ayok...tunggu apalagi"


"Sungguh, Pak. Saya baik-baik saja. Jadi tidak perlu ke rumah sakit segala"


"Kau..." ucap Mirza terhenti saat melihat Arumi berlalu begitu saja. Memerah wajah Mirza. Ia merasa tak diindahkan.


"Bagaimana rasanya dicuekin, Bro....?" bisik Elvano.


"Egh...." gumam Mirza sambil menatap punggung Arumi yang pergi menjauh.


"Sakit. Sakitnya tuh di sini..." ledek Elvano sambil berlalu meninggalkan Mirza begitu saja.


Sementara itu Mirza tertegun. Ia tengah berusaha mendamaikan gemuruh dalam dadanya. Seumur-umur baru kali ini saja, Mirza mengalaminya. Mirza tidak diindahkan oleh seorang gadis. Dan itu hanya oleh seorang gadis semampai dan gembul yang tidak ada dalam perhitungan dan atau kriterianya sama sekali.


"Berani sekali kau kepada ku. Dasar semampai, gembul..." batin Mirza.


"Hehe...rasakan itu, Mirza. Sesekali kau pun harus merasakan bagaimana tidak diindahkan oleh seorang gadis. Selamat tidak bisa tidur, Tuan Mirza" batin Elvano.


🌸🌸🌸🌸🌸


Malam harinya, Mirza benar-benar gelisah. Ia masih teringat peristiwa siang tadi di kampus. Menu makan malam yang nyata sudah di depan mata, tak ia sentuh sedikit pun. Ia hanya mengaduk-aduk tanpa menyuapkannya ke dalam mulut.


"Arumi...Ada apa dengan ku? Ah, sikap acuhnya benar-benar membuatku berfikir. Apakah ia mengolok ku? Mestinya ia melakukan hal-hal yang bisa menarik perhatianku. Hal-hal yang membuatku jatuh cinta kepadanya. Bukan sikap acuh seperti ini...Apa sesungguhnya yang kau inginkan, Arumi...?" batin Mirza.


William dan Dania yang melihat kegelisahan anak semata wayangnya itu merasa heran. Keduanya saling memberi isyarat agar memulai percakapan sehingga suasana mencair.


"Em, Za...lukisan mama mana?"


"Nanti Mirza tanya Elvano ya, Ma..."


"Kok Elvano? Kan tadi mama minta kamu yang bawa"


"Iya. Maaf. Tadi ada insiden sedikit"


"Apa...?"


"Ada yang ingin mencelakai Arumi"


Mendengar itu William dan Dania terhenyak sampai-sampai menghentikan aktifitas makannya.


"Lalu Arumi bagaimana. Tidak apa-apa? Apa ada yang luka? Sudah kamu bawa ke rumah sakit?"


"Aduh, Ma. Pertanyaannya kok seperti kereta Babaranjang. Panjang betul..."


"Mama khawatir, Za..."


"Dia baik-baik saja. Dia menolak dibawa ke rumah sakit. Dan lagi ternyata dia bisa beladiri?"


"Maksud kamu silat? taekwondo? Karate?"


"Ya, semacam itulah. Walau belum sempurna. Namun lumayanlah..."


"Belum sempurna? Ah, itu nanti tugas kamu sebagai suaminya yang menyempurnakan"


"Mama, papa serius ingin Mirza menikah dengan dia?"


"Mama dan papa menyukainya,Za. Dia sederhana, baik, sopan. Kalau masalah cantik relatif, Za. Zaman sekarang apa yang tidak bisa diperbaiki. Jangan kan hidung selaput dara saja bisa diperbaiki sekarang"


"Bagaimana dengan tinggi badannya yang 150 cm itu? Apa Mama dan papa juga ingin mengoperasinya agar setinggi aku?"


"Kalau perlu akan papa lakukan. Yang penting kamu menikah dengan Arumi.


"Pa, Ma. Mirza tidak mencintai Arumi. Mirza hanya mencintai Andrea..."


"Aihs...anak ini"


William mendengus kesal. Ingin rasanya ia melayangkan tangannya, namun beruntung Dania berhasil mencegahnya.


"Kemana, Za?!"


"Keluar sebentar..."


🌸🌸🌸🌸🌸


Pukul delapan lewat lima menit. Arumi tengah rebah di atas kasur. Matanya menerawang jauh. Sementara tubuhnya terasa nyeri luar biasa dibeberapa bagian. Peristiwa yang siang tadi ia alami, benar-benar membuatnya tak mampu memejamkan mata sedikit pun padahal tubuhnya sudah terasa sangat lelah.


Arumi menghela nafas sambil membetulkan posisi tubuhnya. Ia menutup wajahnya dengan bantal karena ada hawa panas yang menjalarinya saat mengingat ekspresi wajah Mirza dan kepiawaiannya berolah jurus.


"Astaga, mengapa ia semarah itu? Apakah ia mulai memperhatikanku? Hus...jangan halu donk. Please...please" batin Arumi.


Serasa melambung fikiran Arumi. Tak habis-habisnya ia tersenyum ataupun menutup wajahnya dengan tangan saat mengingat Mirza. Dan sepertinya lambungan fikirannya enggan kembali ke bumi walau hanya sekedar untuk ber-say hello pada kuncup bunga yang selalu bergoyang karena ditiup angin.


"Em, pak Mirza...aku memang jauh dari kata sempurna. Tapi aku yakin cinta ku tulus adanya. Maaf jika aku terkesan acuh dan tak mengindahkan mu, Karena jujur saja aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku" batin Arumi.


Alih-alih mengingat kepiawaian Mirza, Arumi pun mengingat tindakan Bima dan dua temannya. Arumi menjadi tak habis fikir mengapa bima bisa senekat itu melakukan hal yang akan memalukannya dan juga membahayakan dirinya. Karena apa yang dilakukan Bima adalah tindak kriminal. Hadeeuh...


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Arumi berpendar. Sebuah pesan menghiasi layar ponselnya. Arumi mengernyitkan dahi saat membaca pesan tersebut.


"Ok..."


Setelah membalas pesan Vanya, Arumi pun bersiap dan langsung menyambar tas kecil berisi ponsel dan uang seadanya saja. Langkahnya sedikit cepat saat menuruni anak tangga. Saat di ujung tangga, Arumi mencium punggung tangan Permana dengan takzim.


"Yah, Arumi keluar sebentar ya. Mau makan bakso dengan Vanya di ujung jalan ABCD"


"Hati-hati, Nak. Eh, tapi kamu sudah tidak apa-apa kan? Lebam mu saja belum sembuh"


"Arumi baik-baik saja, Yah..."


Tin.


Tin.


Tin.


Klakson mobil menyambar gendang telinga saat Arumi melangkah ke luar rumah. Sumringah Vanya melihat sahabatnya itu keluar rumah dalam keadaan baik-baik saja.


"Jadi makan bakso nya?"


"Em, mampir ke cafe X dulu ya. Mengambil pesanan mama"


"Ok beibeh..."


Mobil melaju menyusuri jalanan yang masih tampak ramai. Di akhir pekan ini, biasanya orang akan lebih memilih ke luar rumah bersama orang Special baik itu keluarga atau kekasih ketimbang hanya berdiam diri saja di rumah.


"Ces (\= princess)...iri ya lihat orang pasang-pasangan?"


"Aku mah asyik aza..."


"Ya karena Lo sudah punya pak Mirza..."


"Kata siapa? Buktinya aku masih dengan kamu beb.."


"Iya juga ya..."


"Hehehe...."


Tawa keduanya pecah sepanjang perjalanan. Hingga di sebuah persimpangan mata Vanya menangkap sosok yang amat ia kenal.


"Ces, pak Mirza. Ces..."


"Ya, biarkan saja..."


"Bersama cewek, Ces..."


Deg.


Arumi terdiam. Ada desir aneh kembali mengisi relung hatinya. Desiran yang masih belum dapat ia maknai.


"Ces, kita ikuti ya..."


"Sudah tidak usah..."


"Sebentar saja. Aku penasaran bagaimana gaya pacaran manusia kulkas itu. Maaf ya, Ces..."


"Oh, tidak apa-apa..."


Vanya melihat Arumi denagn ekor matanya . Ia merasa tak enak hati atas ucapannya barusan. Benar saja, saat mendapati Arumi terdiam dengan wajah lesu hatinya berkata bahwa Arumi tidak baik-baik saja.


Pengejaran terhadap Mirza pun usai saat mobilnya memasuki sebuah cafe. Vanya pun turut parkir tak jauh dari mobil Mirza berada.


Deg.


Darah Arumi bergejolak seirama dengan degup jantung yang kian bertalu. Hal tersebut terjadi saat Arumi melihat sosok gadis yang bersama Mirza.


"Ow, jadi ini gadis yang di cintai Mirza. Andrea. Cantik sekali. Bertubuh tinggi, langsing, dan berkulit putih. Wajar saja pak Mirza cinta akut kepadanya" batin Arumi.


"Ayok..." ucap Vanya sambil turun dari mobil.


"Kita pulang saja ya..."


"Kamu tidak penasaran dengan keduanya...?"


"Ayolah, mereka itu sepasang kekasih. Untuk apa kita mengikutinya?"


"Untuk mengetahui bagaimana perasaan mu sebenarnya terhadap pak Mirza..."


"Ayolah... Jangan seperti ini"


"Sebentar saja. Oke..."


Arumi pun mengangguk perlahan. Ia malas berlama-lama berdebat dengan sahabatnya itu. Karena mau tidak mau akhirnya Arumi yang akanmengikuti keinginan sahabatnya itu. Kemudian keduanya pun mencari tempat duduk yang sedikit tersembunyi, namun masih dapat mengamati kedua insan yang sedang kasmaran itu.


Berdesir hati Arumi saat kemesraan itu terpampang jelas di depan matanya.


"Sayang...kamu mau pesan apa?" ucap Andrea sambil mendekatkan wajahnya hingga beberapa senti saja dari wajah Mirza.


"Apa pun yang kau pilihkan, aku akan memakannya" ucap Mirza. Tangannya mengusap pipi Andrea dan diakhiri dengan menjepitkan rambut Andrea ke belakang telinganya.


"Baiklah..." ucap Andrea. Tangannya berisyarat memanggil seorang pramusaji dan memesan beberapa menu.


"So sweet sekali..." bisik Vanya sambil mencubit paha Arumi yang sejak tadi hanya terdiam.


"Oh, ada apa ini? Belum lagi lima menit melihat kemesraan keduanya, perasaan ku menjadi tak menentu begini. Apa aku cemburu? Ah, entahlah. Aku memang mencintainya tapi barulah sekarang aku merasakan perasaan seperti ini. Perasaan yang aneh ku rasa. Ada marah, benci dan cinta menjadi satu rasanya hingga aku sulit memaknainya" batin Arumi.


Cup....


"Akh...!" pekik tertahan Arumi dan Vanya saat melihat Andrea mengecup singkat bibir Mirza tanpa sungkan. Arumi menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia ogah menyaksikan hal yang membuatnya tak enak rasa itu.


"Cih... menjijikkan" batin Arumi.


Pun demikian, rasa penasarannya ternyata lebih besar sehingga Arumi tetap melihat keduanya dari sela jarinya.


Dan kini Arumi kian terhenyak. Katanya serasa tercekat. Saat ia melihat balasan Mirza kepada Andrea. Mirza mendekap mesra tubuh Andrea. Sesekali Mirza pun melayangkan kecupan pada gadis yang dengan manjanya mengalungkan tangannya ke leher Mirza. Darah Arumi Berdesir. Tanganny terkepal.


"Ku kira kau benar-benar manusia kulkas. Tapi nyatanya kau tak ubahnya hanya seorang perayu gadis-gadis. Cih...rugi aku mencintai mu. Kau tak pantas mendapat cintaku, tuan Mirza..." batin Arumi.


"Kau baik-baik saja, Ces...?"


"Ya. Ayo kita pulang..."


Vanya tersenyum melihat reaksi Arumi.


"Bagaimana rasanya melihat pak Mirza seperti itu...?"


"Sakit, Nya. Sakitnya tuh di sini. Tapi bagaimana pun juga, sebuah kewajaran jika pak Mirza memilih Andrea. Karena jika dibandingkan dengan ku, apalah aku ini"


"Jangan berputus asa, Arumi..."


"Lalu aku harus apa? Belum berperang pun aku sudah kalah?"


"Bagaimana kalah, kau saja belum memulainya. Arumi kau baik, pintar, sekarang di kampus siapa yang tidak kenal dengan Arumi si jago melukis. Satu yang belum kau lakukan..."


"Apa...?


"Berubah seperti yang ia inginkan..."


"Aku tidak bisa, Nya...Duduk bergelayut dan bermanja seperti itu. Aku tak bisa"


"Bukan itu yang kumaksud, Arumi. Em, aku minta maaf sebelumnya..."


"Ya, sudah ku maafkan..." ucap Arumi bernada seloroh.


"Berdietlah..."


Arumi menghela nafas. Ia faham maksud sahabatnya itu.


"Aku tahu kau sudah berubah. Yang pertama kau sudah menerima keadaan mu. Inilah Arumi, apa adanya. Dengan begitu kau menjadi lebih bahagia. Kedua kau mulai fokus pada kelebihan, bukan kekurangan. Kau mendekati sebagai gadis idaman. Tapi apa salahnya kau berjuang sekali lagi. Jika bukan karena dia, paling tidak demi dirimu..."


"Bawel amat sih. Seperti nenek-nenek saja..."


"Sialan loh, guwe disamakan dengan nenek-nenek..."


Tawa kecil keduanya terdengar lagi.


"Kalau begitu bantu aku, Beb. Aku ingin jauh lebih baik lagi. Dalam segala hal. Jika kita bisa, mengapa tidak"


"Sayang...." ucap Vanya sambil memeluk Arumi.


"Aku akan membantu mu, Arumi. Tak kan ku biarkan orang lain menyakiti mu lagi juga tak kan ku biarkan kau menangis kalah sebelum berperang..." batin Vanya.


"Kau memang sahabatku, Vanya. Aku janji tak kan mengecewakan mu. Aku akan bersemangat untuk mu...."