150 Cm

150 Cm
Episode 72. Sendu Yang Berubah Merah Jambu



Pagi hari. Kuncup bunga mulai bermekaran di taman. Angin lalu pun menerbangkan aroma wanginya hingga tercium Arumi yangbberdiri di balkon kamar. Arumi tengah memandang sayu hamparan bunga warna-warni sejauh mata memandang buah dari tangan dingin Dania. Pun demikian, segala tampilan indah itu tidaklah berhasil menggaet hati Arumi yang masih pilu. Kepergian Permana sekali waktu masih membuat mata Arumi dikerubuti bulir bening yang selalu siap sedia terjut bebas tanpa di komando.


Sekuat tenaga Arumi menahan segala rasa. Ia tidak ingin dinilai sebagai perempuan lemah yang tidak mampu mengendalikan sisi sensitivitas nya. Namun di sisi manusiawi, adalah sebuah kewajaran jika sedih itu hadir dikala kehilangan seseorang yang disayangi. Siapa pun itu. Terlebih orang terdekat yang selama ini hadir dengan penuh kasih sayang. Walau ditengah penyampaian kasih dan sayang itu terkadang berbeda cara, namun Permana tetaplah ayah bagi Arumi. Kandung atau bukan, tidaklah menjadi suatu permasalahan. Toh selama ini Permana lah yang telah hadir menjadi sosok ayah bagi Arumi baik suka maupun saat tangis melanda.


"Aku yakin ayah dan ibu sudah bahagia kini. Tenang dan damai lah di sana, pada sisi Sang Robbul'izati. Ayah, ibu...Arumi tidak akan pernah bisa melupakan kalian"bucap lirih Arumi.


"Sayang...." ucap Mirza yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Arumi.


Bersamaan dengan itu kedua tangannya langsung mendekap erat tubuh Arumi. Dan sebuah kecupan lembut pun mampir di bahu Arumi.


"Aku kira istri cantik ku ini masih terlelap. Semua aku ingin membangunkan mu. Eh, ternyata sudah bangun dan....sudah cantik pula"


"Em, gombal" ucap Arumi.


"Kakak darimana? Sejak subuh tadi kakak tidak ada" ucap Arumi lagi.


"Aku ketiduran di ruang kerja ku..."


"Ketiduran atau sengaja tidur di sana?"


Mirza menghela nafas. Ia melonggarkan dekapannya. Dan memilih duduk di kursi sudut balkon.


"Aku tidak ingin mengganggu mu. Aku yakin sekali waktu kau sedang ingin sendiri. Maaf jika aku salah mengerti diri mu"


"Aku yang salah, Kak. Maafkan Arumi ya. Semestinya Arumi tidak berlarut-larut dalam meluapkan kesedihan. Maaf ya, Kak..."


Arumi duduk pada sandaran kursi di sebelah Mirza. Tangannya melingkar erat pada bahu Mirza. Dan sesekali mengusap lembut bahu kekar itu. Juga menghadiahinya dengan kecupan lembut di pucuk kepala pemilik MA Group itu.


Ada senyum tipis yang terbit di sudut bibir Mirza sat Arumi melakukan itu. Karena barulah kini ia merasakan bagaimana diperlakukan demikian oleh Arumi, perempuan tambun yang sebenarnya tidak tambun.


"Tidak mengapa, Sayang. Aku yakin segala sedih Mu sejak kemarin adalah sebagai upaya untuk menghadapi rasa kehilangan mu dan juga bersiap merelakan kepergiannya. Kau tengah mengumpulkan keberanian itu. Tapi kau pun harus ingat bahwa di sisi munada aku yang selalu siap untuk menjaga dan meredam segala sedih mu. Karena aku ada hanya untuk membuat mu bahagia. Membuat wanita ku selalu tersenyum" ucap Mirza sambil menatap Arumi.


"Terima kasih, Kak..."


Arumi langsung memeluk erat Mirza. Bulir bening yang sejak tadi sukses ia bendung, kini tanpa komando lagi sudah meluncur deras.


"Eeh, kok malah menangis..." ucap Mirza sambil membalas pelukan erat Arumi.


"Terharu..." ucap Arumi manja.


"Tak perlu berterima kasih. Sesungguhnya akulah yang demikian. Karena kau telah menjadi sumber kekuatan dan dukungan bagiku. Aku senang bahwa kehadiranmu adalah bagian dari hidupku"


"So sweet...Arumi juga bahagia. Karena sekarang memiliki suami seperti kakak. Aku bahagia, Kak. Dan Aku bersyukur Tuhan sudah mengirimkan kakak untuk ku. Mungkin inilah cara Tuhan mewujudkan kasih sayang-Nya. Satu sisi kita kehilangan, namun di sisi lain Tuhan sudah menyiapkan penggantinya..."


"Wah, berpuisi terus nieh. Kapan sarapannya..."


"Mama...." ucap keduanya hampir bersamaan.


"Maaf. Tadi pintunya terbuka, jadi mama masuk. Hehe..."


"Mama keponya..." canda Arumi.


"Haha...." tawa Dania sambil memeluk Mirza dan Arumi.


"Mama bahagia melihat dan mendengar curahan perasaan kalian. Berbahagialah selalu. Mama akan selalu mendoakan kalian..."


"Papa juga bahagia. Bukan mama saja loh..."


"Papa..." ucap Dania sambil menyusut bulir bening yang baru saja meluncur.


"Papa juga bahagia. Kini sumber bahagianya papa bertambah satu, yaitu Arumi. Berbahagialah, Ndok..." ucap William sambil mengusap pucuk kepala Arumi.


"Bilang papa jika Mirza macam-macam dan menyakitimu. Papa tidak segan-segan memberinya pelajaran. Dan bogem mentah papa ini siap meluncur kepadanya..."


"Ini sebenarnya yang anak kandung siapa? Mirza atau Arumi...?"


"Arumi. Haha...." ucap William dan Dania hampir bersamaan diakhiri dengan tawa.


"Astaga...." ucap Mirza sambil menggaet tubuh Arumi dalam dekapannya.


"Eeemm....modus" bisik Dania yang disambut William dengan kekeh.


"Ah, sudahlah. Mari kita sarapan..." ucap Mirza sambil membawa serta Arumi dalam langkahnya.


Jemari tangan Mirza pun masih menggenggam erat di sela jemari Arumi. Mungkin inilah sebab mengapa Tuhan menciptakan sela di antara jari, yaitu agar jemari setiap pasangan dapat saling mengait dan menggenggam erat.