150 Cm

150 Cm
Episode 45. Hukuman Shereen...



"Wa, cepat buka pakaian atas mu itu. Jarang-jarang kau jadi model. Model mesum lagi..." ucap seorang perempuan yang bertubuh tegap dan terlihat sedikit berbeda pada perempuan kebanyakan


"Model mesum?! Apa maksud kalian...?!" ucap Arumi penasaran. Suaranya sedikit meninggi.


"Maaf, Nona. Tidak ada maksud buruk. Nona bisa menyaksikannya langsung maksud dari ucapan teman saya tadi"


"Baiklah. Aku akan memperhatikan dari sofa..."


Mata Arumi tak bergeser sedikitpun dari polah keempat bodyguard di hadapannya. Dewa rebah di atas tempat tidur tanpa kemeja yang semula selalu rapi ia kenakan. Kemudian Shereen di dekatkan pada tubuh Dewa, seakan tengah tidur bersama. Dan seorang bodyguard perempuan lainnya mengabadikan setiap pose.


"Sialan....itu adalah pose yang pernah dijadikan jebakan untukku oleh Sarah. Apa kak Mirza ingin menggunakan trik yang sama? Ah, basi. Tidak kreatif..." batin Arumi.


Setelah mendapatkan pose yang diinginkan, mereka pun meninggalkan ruangan tersebut. Arumi menghela nafas dalam. Matanya menatap Shereen yang mulai menggeliat sadarkan diri. Bersamaan dengan itu Mirza dan yang lainnya masuk ruangan.


"Sayang..." ucap Mirza sambil duduk di sebelah Arumi.


"Heemm...mepet terus!" ucap Elvano sambil menjebikkan bibirnya saat melihat Mirza duduk berdekatan dengan Arumi.


"Iya, donk. Sirik tanda tak mampu. Sana gaet Vanya. Jangan sampai disambar orang duluan..."


"Ssttt....Pakai toa sekalan, Bos. Pengumuman gitu"


"Hahaha....enak diledekin?!'


"Ga, Bos. Hehe..."


"Tunggu dulu... Vanya? Ow....jadi...."


"Ssttt......" ucap Mirza sambi menutup mulut Arumi.


"Sudah jangan dibicarakan kehidupan Elvano bin Jabir bin Jabar. Unfaedah...."


"Ish, si Bos. Ar, gini nieh kekasih mu itu. Kalau sudah dapat keinginannya, aku langsung dilupakan. Coba waktu belum, krasak krusuk ga tenang. Sampai mau berkata romantis saja harus kursus kilat dulu dengan ku..."


"Hei...hanya sebagai referensi saja ya. Dan aku tidak mengambil sedikit pun kata-kata gombal yang kau kirimkan. Karena aku tahu Arumi-ku tidak seperti itu. Ya kan, Ar...?'


"Ya. Tapi Arumi baru tahu loh jika kakak kursus dahulu..."


"Nah, loh...."


"Wad..." ucapan Mirza terhenti. Katanya jadi tak bermakna.


"Tuan...."


"Ya, Darius" ucap Mirza sambil mengikuti arahan tangan Darius.


Bersamaan dengan itu Shereen tengah susah payah duduk. Matanya menyapu seisi ruangan karena kesadarannya belum sempurna.


"Shereen..." ucap Elvano sambil menghampiri dan duduk di sebuah kursi.


"Kami harap jangan kau ulangi lagi perbuatan yang unfaedah itu. Perbuatan yang justru akan merugikan diri mu sendiri"


"Ancaman basi...."


"Basi kata mu...? Ternyata otak kecil mu tidak bisa digunakan berfikir ya? Tolong tayangkan..." ucap Elvano dengan geram.


Darius yang mendapat perintah itu langsung menayangkan gambar yang baru saja diambil barusan.


"Cih, kampungan. Itu semua foto rekayasa kalian kan? Karena aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu?'


"Oya...? Next..."


Dan Darius kembali menayangkan gambar dan juga video. Kali ini mata Shereen terbelalak tak berkedip. Wajahnya pun mendadak pasi. Berulangkali terlihat Shereen mengusap wajahnya.


"Bagaimana, Shereen? Permaiannmu dengan banyak laki-laki di atas kasur pasti akan laku keras terlebih karena kedudukan orangtua mu saat ini..."


"Da-dari ma-mana kalian mendapatkan ini?"


"Apa yang tidak mungkin tidak bisa kami lakukan. Semua semudah membalik telapak tangan. Orang-orang kami tersebar dimana-mana. Jadi apa kau masih ingin bermain-main dengan kami?"


"Shereen...kau salah satu mahasiswi yang cukup pandai, tapi sayang sekali otak mu itu digunakan untuk kepicikan. Karena itu, mulai besok kau tidak perlu ke kampus lagi. Aku tidak ingin kampus ku ternoda dengan polah bejat mu..." ucap Mirza memasang mode datar alias dingin.


Deg.


Shereen terhenyak. Matanya langsung menatap Mirza lekat.


"Kenapa?" tanya Mirza memasang kembali mode datar alias dingin.


"Wah, kambuh lagi nieh manusia kulkas..." batin Arumi saat melihat wajah tampan Mirza yang terlihat tanpa ekspresi.


"Maafkan saya, Pak. Mohon jangan keluarkan saya dari kampus. Saya mengaku salah. Beri saja saya kesempatan. Dan mohon juga jangan sebarkan foto dan video itu. Kasihani papa saya. Jangan, Pak..! Saya mohon..."


"Sekarang otak kecil mu itu mulai berfungsi rupanya. Memang tipe seperti dirimu ternyata harus dipecut dahulu baru sadar..." ucap Mirza tanpa menatap Shereen. Mata Mirza lebih tertarik menatap pepohonan dari jendela .


"Berikan saja saya hukuman yang lain, jangan sebarkan foto dan video itu..." pinta Shereen dengan mengiba. Isaknya pun kembali mewarnai udara ruangan tersebut.


"Kak, ayolah...beri dia kesempatan"


.


.


.


Suasana jadi hening. Benar-benar hening. Bahkan isak Sherren pun mendadak tak terdengar. Sementara itu, Arumi menatap wajah datar Mirza yang sejak tadi masih menatap keluar jendela. Dan Mirza pun menghel nafas sambil membetulkan posisi duduknya.


"Baik aku akan memberimu kesempatan..."


"Fiuh...." helaan lega nafas Arumi dan Shereen terdengar halus.


"Tapi kau tetap harus dihukum..."


"Egh...."


"Ayolah, Kak. Jangan beri dia hukuman..."


"Baiklah. Tapi jangan terlalu berat ya. Dan ingat hukumannya harus wajar tidak mengada-ada"


"Ok, sayang..." ucap Mirza. Tangannya mencubit kecil dagu lancip Arumi.


"Jiiaaah....uwek..!" ucap Elvano sambil berekspresi muntah.


"El, mau gaji mu di potong?"


"Tidak, Tuan. Ampun..."


"Hehehe...." kekeh Darius dan Dewa terdengar lirih karena ditahan.


"Aku, Arumi dan Elvano yang akan memberikan hukuman"


"Egh..."


Arumi mendongakkan kepalanya. Matanya menatap Mirza. Tatapannya seakan tidak ingin dilibatkan pada pemberian hukuman terhadap Shereen.


"El...?"


"Aku siap dengan hukumanku. Jadi Shereen hukuman mu dari ku adalah kau harus menjadi cleaning service d seluruh gedung rektorat selama satu pekan di setiap paginya. Em, satu lagi harus memakai pakaian cleaning service di kampus"


"Cleaning service...?"


"Ya. Kau tahu kan tugas cleaning service?"


Shereen mengangguk lesu. Fikirannya mulai mengembara saat ia harus merasakan memakai pakaian cleaning service dan berjibaku menggunakan sapu dan kain pel.


"Iyyuuuh...." ucap Shereen jijik.


"Kenapa Shereen? Jijik ya..."


"Em...Ya, Pak. Apa tidak ada yang lain?"


"Ada. Selain di kampus, kau pun harus mengabdikan seluruh tenaga, fikiran dan mungkin materi untuk sebuah panti asuhan. Panti Asuhan Sekar namanya"


"Egh..."


Lagi-lagi Arumi mendongakkan kepalanya. Ia menatap wajah tampan milik laki-laki yang kini amat ia cintai itu.


"Ini kegiatan sosial kemanusiaan yang harus kau jalani selama satu bulan..."


Shereen tertunduk lesu. Sepertinya ia menerima segala konsekuensi atas segala perbuatannya.


"Ar..." ucap Shereen memasang mode menunggu. Yuph, menunggu hukuman pastinya.


Arumi menghela nafas. Matanya menatapi satu persatu setiap yang ada dalam ruangan.


"Aku tidak akan menghukum mu..."


Wajah Shereen sedikit merona, piasnya berkurang. Ia lega karena hukumannya tidak bertambah lagi.


"Tapi...aku harap kau tidak mengulangi lagi melakukan hal-hal bodoh baik kepada ku atau siapapun itu.."


Ucapan Arumi pun mendapat anggukan pasti Shereen.


"Baik. Aku janji. Terima kasih, Ar. Dan maafkan aku..."


Sampai sini Shereen berhenti. Katanya menjadi gagu. Lidahnya menjadi kelu.


"Hukuman mu berlaku mulai esok hari. Saranku kau selesaikan yang di panti asuhan"


"Baik, Pak..."


"Hari ini kau akan pulang. Kemudian seusai kuliah esok kau akan dihubungi untuk teknis ke panti asuhan"


"Ya, Pak. Terima kasih. Dan sekali lagi maaf..."


Seperti halnya saat dibawa ke markas, saat pulang pun dibuat tak sadarkan diri.


"Semoga ia benar-benar jera. Dan yang pasti akan berubah lebih baik..." ucap Arumi sambil menatap kepergian mobil yang membawa Shereen.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Arumi berpendar. Hal tersebut sukses membawa kembali kesadaran Arumi setelah beberapa saat fikirannya tengah mengembara.


"*Assalamu'alaikum, Kak..."


"Ar...Ayah. Ayah*..." terdengar suara di ujung telepon. Suaranya sedikit bergetar parau.


"Ada apa dengan Ayah, Kak?" ucap Arumi mulai panik.


"Ayah...Ayah..."


"Kak Arya...! Cepat katakan...!"


Tut.


Tut.


Tut.


Sambungan telepon pun terputus. Arumi makin panik. Berulangkali kali ia mencoba menghubungi Arya ataupun Sonia. Namun nihil.


"Kak..." ucap Arumi.


Matanya menatap Mirza dengan berkaca-kaca.


"Kita pulang...." ajak Mirza.