150 Cm

150 Cm
Episode 51. Terbongkar



"Vanya....!!!" tiba-tiba suara Arumi terdengar.


Sontak Mirza dan Elvano mengalihkan perhatiannya pada sumber suara.


"Vanya...!" teriak Elvano dan Mirza hampir bersamaan.


Keduanya begitu panik saat melihat Vanya bergelantungan pada bibit pembatas balkon. Tangannya berusaha keras memegang dan menggapai tangan Arumi.


Kemudian Mirza dan Elvano memasang langkah seribunya menaiki tangga menuju balkon. Baru separuh jalan, keduanya di kejutkan dengan kedatangan laki-laki "Si Nyai Kunti" palsu. Baku hantam pun kembali terjadi.


BUK.....!


Elvano melancarkan pukulannya yang telak mengenai wajah laki-laki itu. Sontak laki-laki itu terhuyung. Dan kesempatan itu tak disia-siakan Elvano. Ia kembali menyarangkan tendangannya ke perut laki-laki itu.


BRUKK....!


Laki-laki itu ambruk tak berdaya akibat kerasnya tendangan tanpa bayangan milik Elvano 😜. Melihat itu segera saja Elvano mengikat tangan dan kaki laki-laki itu. Setelahnya barulah Elvano dan Mirza melanjutkan langkahnya.


"Vanya...raih tangan ku. Cepatlah....!'


"Aku tidak bisa, Ar. Huhuhu..." ucap Vanya dengan suara bergetar dan air mata yang sejak tadi sudah terjun bebas.


"Tolong aku, Ar...." ucap Vanya lagi.


"Vanya....!" teriak Elvano dengan langkah cepatnya.


"Kak El...!"


"Pegang tangan ku. Ayo..." ucap Elvano sambil men-jurakan tubuhnya melewati pembatas balkon.


Di tengah tangisnya, Vanya masih tetap berusaha meraih tangan Elvano.


"Vanya, ayo sayang...pegang tangan ku" ucap Elvano.


"Tolong Vanya..."


"Iya, sayang..."


Mendengar percakapan keduanya Arumi dan Mirza saling melempar tatapan dan mengurai senyum penuh makna.


BRUKK....!


Vanya berhasil di tarik ke dalam balkon kembali. Tubuhnya langsung ambruk tepat di atas tubuh Elvano. Bukannya berdiri, keduanya justru terdiam. Tatapan mata keduanya terkunci satu sama lain. Saling berbicara dalam sorot mata penuh makna, walau tanpa kata dari bibir keduanya.


"Kacang... kacang. Kacang goreng. Di kacangin...!" ucap Arumi yang membuat Mirza tersenyum.


"Berapa kacangnya? Eh, berapa..." jawab Elvano tanpa melepaskan tatapan matanya.


"Pandang-pandangannya nanti dilanjutkan ya kalau sudah ke KUA..." ucap Arumi sambil menarik Vanya.


"Kak El..."


"Vanya..."


Keduanya kompak menirukan gaya bicara khas artis kenamaan di salah satu filmnya, yaitu Berkelana.


"Cukup Roma...!" ucap Arumi sambil tersenyum lebar.


"Huu...dasar semprul, penuh derama" ucap Vanya sambil menyikut lengan Arumi.


"Eh, yang penuh drama tuh siapa? Kalian kali..." ucap Arumi sambil membalas sikutan Vanya.


"Kamu..."


"Kamu..."


"Kamu..."


"Cukup cukup...Kalau masih terus aku cium nieh"


"Huu...!itu sih maunya kak El" jawab Arumi dan Vanya kompak.


"Hehehe...." tawa keempatnya kembali mewarnai udara malam itu.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pukul sembilan lewat lima menit. Mirza duduk pada sebuah kursi. Ia sedikit menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang baru ia duduki. Tangannya dilipat ke depan dada. Sementara matanya menatap tajam kedua orang yang terikat dan duduk di hadapan Mirza.


"Siapa yang mengirim kalian untuk melakukan semua ini?" ucap Mirza datar namun tatapannya beraura tak bersahabat. Begitu kelam dan dingin.


"Ampun, Tuan. Semua ini atas perintah Tuan Baron" jawab Kunto.


"Baron...?" gumam Mirza.


"Baron Dewantara. Pesaing bisnis Tuan sejak dahulu"


"Baron Dewantara. Ya, aku ingat. Yang putranya kita paksa menikah karena bermain cinta dengan Andrea..."


"Ya, Bos..."ucap Elvano meyakinkan.


"Belum kapok juga tuh orang...." ucap Mirza datar, namun kilat matanya semakin tajam. Setajam silet.


"Sebaiknya kita apakan si botak itu?" ucap Elvano menyebut ciri fisik Baron Dewantara.


"Kita urus nanti saja. Terpenting kita sudah tahu dalangnya. Nah, Kunto terima kasih atas kejujuran mu. Seperti janji ku maka semua pengobatan anak mu, aku yang menanggungnya"


"Terima kasih, Tuan. Kami akan selalu membantu, Tuan sejak saat ini..."


"El, tolong urus Kunto dan temannya ini"


"Anak mu di rumah sakit mana, Kunto..?"


"Rumah sakit BAU...."


"Jika demikian, kita pindahkan ke MA Hospital agar menerima pengobatan terbaik..."


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih..."


"Baron Dewantara....kau sudah bermain api dengan ku. Kita lihat seberapa lihai kau bermain" gumam Mirza. Matanya berkilat begitu tajam.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Mirza duduk di kursi kebesarannya. Fikirannya tengah mengembara entah kemana. Sementara satu jarinya tampak mengetuk-ngetuk meja di hadapannya.


KREEEK.....!


Pintu ruangan terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Mirza pun langsung mengalihkan perhatiannya pada sosok yang berdiri di ambang pintu.


"Tuan Baron....Silahkan masuk" sapa Mirza sambil berdiri dan berisyarat dengan tangannya untuk Baron Dewantara.


"Aku sudah berbaik hati padamu. Jangan terlalu senang dengan api yang kau nyalakan, karena bisa saja itu yang akan membakar diri mu sendiri. Aku memanggilmu, untuk memperingatkan mu. Sekali lagi kau mengusik MA Group, bukan hanya daun mu yang berguguran namun tunas dan akar mu akan hangus bersama api yang kau nyalakan sendiri"


"Aku tidak takut ancaman mu, Tuan Mirza...?"


"Terlebih aku. Baru secuil video pengakuan pesuruh mu kau sudah kebakaran jenggot. Bagaimana jika video mu saat merencanakan hal busuk tersebar? Apa kau tidak khawatir akan reputasi mu dan perusahaan mu. Aku tidak mengancam, ini hanya peringatan untuk mu..."


"Hah...! Aku tidak takut pada mu. Kita lihat siapa yang akan terbakar..."


"Ya kita lihat saja. Aku atau kau yang akan berlutut meminta pengampunan..."


"Ya, kita akan sama-sama lihat..." ucap Baron Dewantara.


Kakinya melangkah begitu panjang meninggalkan ruangan mewah tempat pengusaha muda sukses nomor satu bersarang.


BRAKK...!


Baron menutup pintu dengan keras hingga menimbulkan suara yang membuat Mirza memejamkan matanya.


"Fiuh...." dengus Mirza lega saat Baron benar-benar sudah meninggalkannya.


Mirza kembali duduk pada kursi kebesarannya. Tangannya tampak memijat kepalanya. Sementara matanya terpejam,.fikirannya kembali mengembara.


"Baron... kedatangan mu telah membuktikan siapa dalang kerusuhan dan sabotase di beberapa tempat bisnis ku. Sedikit lagi bukti, maka tamat hidup mu Baron. Teruslah bermain api dengan ku, Baron...." batin Mirza.


Tok.


Tok.


Tok.


"Masuk..."


KREEEK....!


"Ku lihat Baron datang..."


"Ya...Dengan segala arogansinya"


"Berani sekali dia..."


"Sedikit lagi bukti, maka kita akan memberinya pelajaran..."


"Pelajaran apa nieh, Bos? Matematika? IPA? IPS? atau bahasa daerah?"


"Dasar semprul....!"


Lembar file pun terbang menuju Elvano dengan Mirza sebagai pengemudinya.


"Yaelah...Bos" ucap Elvano sambil mengelak hantaman file tak bersayap itu.


"Oya, El. Bagaimana persiapan pagelaran seni Arumi?"


"Sembilan puluh persen, Bos. Dengan tekad Arumi yang sekuat baja itu, aku yakin pagelarannya sukses"


"Bagaimana antusiasme pesertanya..."


"Super sekali...." ucap Elvano menirukan gaya seorang motivator kenamaan.


Sementara itu Mirza memutar bola matanya menyaksikan gaya Elvano barusan. Terlebih saat Elvano terkekeh.


"Arumi aku rindu sekali....Berkunjunglah atau berkirim pesanlah. Ayolah, tunjukkan jika kau pun menanggung rindu seperti ku" batin Mirza.


Tangannya menimang-nimang ponsel yang sesekali ia lirik penuh harap.


"Telepon saja, Bos..." ucap Elvano saat melihat kegundahan yang menyelimuti Mirza.


Elvano yakin betul apa yang tengah di rasakan sahabatnya itu.


"Em, khawatir mengganggu. Dan lagi aku ingin tahu apakah ia sama seperti ku. Rindu berat...."


"Ah, suka didramatisir sih Bos. Kalau kangen ya temui saja. Atau telepon saja. Nanti kadar cintanya berkurang loh..."


"Suka asal ngomongnya. Ga pake di saring. Atau saringan mu rusak? Ingin ku potong gaji mu, El..."


"Hehe...ampun, Bos. Kalau soal penghidupan, aku nyerah"


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Senyum Mirza seketika terbit saat melihat ponselnya berpendar. Roman wajahnya pun berubah drastis. Dari mode puncak himalaya menjadi mode telaga biru penuh bunga-bunga warna warni.


"Assalamu'alaikum, sayang..." ucap Mirza mengawali percakapannya dengan mata menatap Elvano yang tengah menjebikkan bibirnya, meledek Mirza.


Hiks.


Hiks.


Hiks.


Terdengar suara Isak tangis di ujung telepon. Hal tersebut tentu saja membuat Mirza terkesiap hingga berdiri dari kursi kebesarannya. Seketika wajahnya berubah drastis dari mode telaga biru penuh bunga-bunga warna warni menjadi mode mendung tak berarti hujan.


Mirza begitu khwatir terjadi sesuatu terhadap kekasih pujaannya itu.


"Ada apa, sayang...?" tanya Mirza.


Dari nada suara Mirza, jelas jika ia.begiru khawatir. Dan Mirza pun semakin khawatir saat tak kunjung mendapat jawaban, hanya Isak tangis Arumi saja yang masih ia dengar.


Hiks.


Hiks.


Hiks.


"Sayang, ada apa? Katakan...?! Kau dimana?" tanya Mirza sambil merapikan file yang masih berserakan di atas mejanya.


"Sayang....jawablah. Kau dimana?"


Tut.


Tut.


Tut.


"Halo...halo...halo. Sayang...Arumi?!" ucap Mirza gusar.