150 Cm

150 Cm
Episode 88. Jaring-jaring Kepalsuan



Keive kembali mengedarkan mata. Maniknya menyapu setiap sudut ruang cafe B. Sebuah cafe mewah yang biasa ia kunjungi bersama rekan atau pun kolega bisnisnya. Namun kali ini kedatangannya bukanlah urusan bisnis atau sekedar kongkow-kongkow. Ia tengah menjalankan sebuah misi yang diberikan Mirza.


Keive menyulam senyum saat matanya langsung terkunci pada sosok perempuan cantik nan **** di sudut ruangan. Perempuan yang menjadi targetnya. Perempuan itu tiada lain adalah Andrea.


"Selamat datang, tuan Keive...Apakah Tuan di tempat private seperti biasanya?" ucap seorang pelayan yang menyambut kedatangan Keive dengan ramah.


"Tidak. Saya ingin di sini saja..."


"Perlu saya Carikan tempatnya, Tuan?"


"Tidak..." ucap Keive sembari mengangkat tangannya.


"Baik, Tuan" ucap pelayan tersebut sambil tersenyum dan sedikit menjura takzim.


Keive melangkah dengan gagah penuh pesona. Tak sedikitpun matanya mencoba bermain ke kanan atau ke kiri. Pandangannya hanya tertuju pada sebuah tempat yaitu sudut ruangan dekat Andrea berada. Hingga duduk sempurna, barulah ekor matanya mulai memperhatikan situasi sekitar. Dan sambil lalu saja ekor matanya menilik keberadaan Andrea.


Keive sempat terkesiap saat menyadari bahwa sepasang mata Andrea tengah menatapnya lekat. Senyum pun tersulam pada bibirnya. Keive membalas seperlunya saja senyum Andrea. Ia berpura-pura acuh.


Namun di luar dugaan, Andrea berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah Keive yang saat itu terlihat asyik mengotak-atik ponselnya.


"Hai...." sapa Andrea sambil menyarangkan tubuhnya pada kursi.


"Hai...ada yang bisa dibantu? Apa kita pernah bertemu?"


"Justru saya yang ingin bertanya. Apakah anda penguntit? Beberapa waktu ini anda sering berada di sekitar saya?"


"Maaf, anda salah faham. Saya adalah member di cafe ini. Jika anda tidak percaya, anda boleh menanyakannya kepada pemilik cafe ini" kilah Keive dingin tanpa menatap Andrea.


"Ow, jadi anda member di cafe B ini. Lalu di cafe X?"


"Saya pun demikian..."


"Ow.. begitu. Oya, nama ku Andrea...."


Tangannya menjulur cepat dengan senyum yang seketika tersulam. Ia sabar menunggu balasan jabat tangan Keive yang tampak dingin.


"Sial...dingin sekali laki-laki ini. Tapi laki-laki seperti ini biasanya adalah laki-laki berkelas. Hemm...aku harus mendapatkannya. Wait...aku harus cari tahu siapa dia. Jangan sampai wajah tampan dan sikap dinginnya tak sebanding dengan harta kekayaannya..." batin Andrea.


"Ansel...." ucap Keive kemudian mengakhiri diamnya.


Tangannya pun akhirnya menyambut uluran tangan Andrea.


"Maaf jika aku salah faham..." ucap Andrea yang masih saja menjabat tangan Keive.


"It's oke..." jawab Keive singkat.


"Ans, kau kerja dimana?"


"Apa aku terlihat seperti seorang pegawai?" ucap Keive datar.


"Oh, tentu saja tidak..." ucap Andrea sambil mengibaskan sebelah tangannya dan memasang wajah bersalah.


Keive menyimpan senyum saat mendapati reaksi wajah Andrea barusan.


"Apa nona member di cafe ini juga?'


"Ya, tentu saja..." ucap Andrea.


Wajahnya kembali sumringah mendapat pertanyaan yang baginya menyiratkan perhatian.


"Well... Nona ingin pesan apa?"


"Panggil saya Andrea..."


"Ow...begitu'


"Ya, tentu saja. Agar lebih akrab"


"Baiklah. Andrea ingin pesan apa?"


Andrea tersenyum. Hatinya berdenyut akut. Selain niat busuknya, ternyata hatinya benar-benar mulai tergoda.


"Andrea ikut pesanan Ans saja..."


"Baiklah. Kebetulan aku belum makan, jadi bagaimana jika kau menemani ku makan..." ucap Keive.


"Hei...itu menu favorit ku di sini'


"Oya? Jika begitu kita mempunyai kesukaan yang sama..." ucap Keive sedikit tersenyum.


"Wah...senyumnya semakin membuat wajahnya semakin tampan. Duh, hati... kuat-kuat ya..." batin Andrea.


"Apa yang tidak ku ketahui tentang kebiasaan mu, Andrea. Semua tergambar jelas pada daftar yang diberikan tuan Mirza. Tunggulah sebentar lagi kau akan bertekuk lutut pada pesona ku. Dan saat itulah rencana akan dijalankan..." batin Keive.


Tangan Keive terangkat ke atas. Itu adalah sebuah isyarat. Seorang pelayan yang melihat itu, segera memenuhi isyarat yang dimaksud Keive.


"Ingin pesan, Tuan...?"


"Kami ingin memesan ini dan ini..." ucap Keive tanpa menyebutkan menu.


Tangannya hanya menunjuk pada daftar menu. Dan pelayan itu pun menilik me u yang dimaksud, Keive.


"Baik, Tuan. Segera disiapkan"


"Good. Saya tidak suka menunggu lama"


"Baik, Tuan. Tidak akan lama..." ucap pelayan itu sesaat sebelum berlalu.


Sementara itu, melihat cara interaksi Keive dengan pelayan barusan hati Andrea semakin bergetar. Hatinya benar-benar beriak bahkan hampir berontak ingin segera berada dalam pelukan cinta Keive yang dikenalnya sebagai Ansel itu.


Mata Andrea menatap Keive. Ujung tatapannya dipenuhi ketertarikan.


"Hah...! mudah sekali aku menaklukan mu, Andrea. Lihat saja tatapan mu itu, Andrea...Cih, dasar perempuan murahan. Jika saja bukan karena sebuah misi, sudah sejak tadi aku meninggalkan mu, Andrea..." batin Keive.


"Wah... ditatapi seperti ini, mengapa wajah Ansal tak menunjukkan reaksi apapun? Apakah ia tidak tertarik sedikit pun kepadaku? Jika demikian, apa yang harus aku lakukan agar kau tertarik padaku, Ans...?" batin Andrea.


"Apa kau tertarik pada ku sehingga kau menatapi seperti itu?" ucap Keive.


"Astaga... blak-blakan sekali katanya? Aku harus apa?" batin Andrea.


"Jika begitu, temui aku di hotel H jam 7 malam ini..." ucap Keive sambil bangkit dari duduknya.


"Mau kemana, Ans?"


"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan..."


"Pesanannya bagaimana?"


"Ajak teman-teman mu untuk menghabiskannya. Ok, nona cantik..." ucap Keive sambil tersenyum tipis dan berlalu.


Keive meninggalkan Andrea dengan semu wajah yang menghiasi wajahnya karena baru saja di sebut, cantik.


"Astaga....ada banyak pujian diberikan kepadaku, tapi rasanya jauh berbeda saat Ansal yang mengatakannya. Dia memang laki-laki yang berbeda" batin Andrea.


Sementara itu, Keive yang melenggang jauh ke luar dari cafe kini telah duduk sempurna dalam mobil mewahnya. Di sebelahnya duduk Dewa yang sejak tadi tengah memperhatikan segala gerak-gerik Keive dalam cafe melalui tampilan CCTV dalam ponselnya.


"Gila ya, tuh perempuan. Murahan sekali..."


"Haha....Oya? Biar murahan, tapi cantik n **** kan?"


"Untuk apa cantik dan **** jika murahan. Kita tidak tahu sudah berapa laki-laki yang menjamahnya...."


"Hush....! Dulu tuan Mirza pun pernah berada dalam perangkapnya"


"Apa...!"


"Biasa saja donk reaksinya. Tuh mata simpen, jangan sampe lompat keluar..."


"Wait...Jadi Andrea itu mantan kekasih tuan Mirza?"


"Dahulu kala, sebelum tuan bertemu cinta sejatinya, Nyonya Arumi"


"Ow...Apakah ini ajang balas dendam?"


"Bukan. Ini berkaitan dengan kakak kandung dari nyonya Arumi, Ryu. Kakak nyonya tersebut kini tengah mendekam di balik jeruji. Semua ulah Andrea"


"Ow, selain cantik, ****, murahan juga berhati busuk. Lengkap sudah label yang melekat padanya"


"Ya, begitulah. Beruntungnya tuan Mirza dapat terlepas dari jerat niat busuk Andrea..."