
CRANK.....!!!!
Sebuah vas kaca beradu pada dinding. Vas yang sengaja Andrea lemparkan begitu dekat dengan tempat dimana Arumi berada.
"Akh...!!"
Pekik Arumi. Ia menutup wajah sambil beringsut cepat. Arumi khawatir pecahannya mengenai wajah atau bagian tubuh lainnya.
"Kenapa nyonya Mirza Adyatma? Apa kau takut?!" ucap Andrea bernada sinis.
"Tidak...! Aku hanya terkejut saja. Dan lagi mengapa aku harus takut jika berada di rumah teraman seperti ini..."
"Aman...? Kau bilang rumah ini teraman? Haha.....!" ucap Andrea diakhiri tawa yang bernada ledekan.
Arumi mengernyitkan dahi. Dia sedikit heran dengan kata dan polah Andrea.
"Apapun pendapat mu, bagi ku ini rumah teraman bagi ku. Karena di sini suami ku berada dan selalu menjaga ku"
"Menjaga...? Kau yakin? Jika benar ia selalu menjaga, sekarang dimana dia?! Dimana...?!"
"Pertanyaan bodoh...! Tentu saja ia bekerja" ucap Arumi sekenanya.
"Sejak menjadi istri Mirza, lidah mu selalu berhasil membuat merah telinga ku..."
"Cukuplah basi basi mu, Andrea. Apa mau mu sebenarnya?"
"Mau ku? Aku mau kau mati, Ar. Aku tak sudi lagi berbagi udara lagi dengan mu. Aku juga tak sudi lagi berbagi cerita tentang Mirza Adyatma dengan mu. Mirza itu milik ku...!" ucap Andrea diakhiri dengan kegeraman.
"Ternyata kau belum rela jika kak Mirza memilih ku ketimbang diri mu?"
"Ya...! Aku tak rela...! Terlebih perempuan yang mengalahkan ku itu adalah diri mu. Perempuan yang tak jauh lebih baik dari ku...! Perempuan 150 cm. Kau tak layak, Arumi...! Benar-benar tak layak...!"
"Layak atau tidak bukan dinilai berdasar fisik, Andrea. Semua terletak pada kepribadian dan karakter. Untuk apa sempurna rupa jika hati busuk berduri. Untuk apa sempurna rupa jika fikiran dipenuhi taktik picik..."
"Cukup....!!!" teriak histeris Andrea.
CRANK....!!
Sebuah benda dalam kamar kembali hancur. Kali ini meja kaca yang berada di sudut kamar yang menjadi sasarannya. Pecahannya sempat beterbangan saat sebuah benda berat menghantamnya.
Arumi menutup bibirnya sendiri dengan sebelah tangannya. Matanya membulat sempurna menatap Andrea dan meja kaca yang baru saja hancur.
"Andrea...Ryu itu kakak laki-laki ku. Dan apa yang sudah kau lakukan terhadap nya sangat merugikan mu"
"Ryu ada dalam rencana ku untuk menghukum mu atas perbuatan mu terhadapku. Melihatnya berdiri di balik jeruji besi membuat ku tertawa puas. Sebab menyakitinya sama saja dengan menyakiti mu..."
"Apa kau puas setelah mempermainkan cintanya dsn merebut perusahaan nya?!"
"Tentu saja. Namun itu belum sebanding dengan rasa sakit yang aku alami atas perbuatan mu...! Kau tahu kakak laki-lakinya kesayangan mu itu tengah menuju ajalnya?"
"Apa maksud mu...?!" ucap Arumi terkejut.
"Haha...." tawa Andrea.
Arumi gusar. Gerak tubuhnya mulai menandakan jika ia tengah cemas maksimal.
"Apa kau mengkhawatirkan Ryu...?"
"Tentu saja. Ia kakak ku satu-satunya"
"Kalau begitu aku akan memberimu waktu untuk memberitahu orang kepercayaan mu bahwa nyawa Ryu dalam bahaya..."
Jelas Arumi terkejut. Rasa keterkejutan itu tak dapat ia sembunyikan. Dan hal tersebut tentu saja membuat Andrea menyulam senyum penuh kepuasan.
"Apa Andrea bersungguh-sungguh atas ucapannya tersebut atau ia hanya menggertak saja...?" batin Arumi.
"Kenapa...? Kau ragu? Baiklah jika demikian aku akan membuatku meyakini setiap ucapan ku..." ucap Andrea.
Sebelah tangannya mengeluarkan benda pipih berwarna putih dari balik jaket hitamnya. Kemudian jarinya mulai mengotak-atik ponsel tersebut dan menghubungi sebuah nomor.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Beberapa kali ponsel itu memanggil. Dan kemudian sebuah suara terdengar saat ponsel beralih pada mode loadspeaker.
"Kak Ryu..." gumam Arumi.
Degup jantungnya serasa kian berlarian saat Ryu menyebut Andrea dengan panggilan sayang.
"Kemana lagi aku pergi, sayang. Aku sudah berpindah lebih dari tiga tempat hanya untuk menemui mu..."
"Masih ada setidaknya dua tempat lagi yang harus kau datangi, sayangi. Bersabarlah dan ikuti setiap petunjuknya, sayang"
"Baiklah..." ucap Ryu di akhir obrolan itu.
"Aku tak percaya jika semudah itu kak Ryu memaafkan Andrea. Apakah kak Ryu mempunyai rencana? Ah, semoga saja tidak berujung bencana..." batin Arumi.
"Bagaimana nyonya Mirza Adyatma? Sekarang kau sudah yakin akan setiap ucapan ku..."
"E-em...aku masih tidak yakin"
"Haha....lalu apa mau mu yang sebenarnya?!"
"Membalas mu melalui Ryu. Dan membalas Mirza melalui diri mu. Artinya aku akan melenyapkan kalian berdua untuk membalas Mirza Adyatma. Laki-laki yang telah mencampakkan ku...! Dan sekarang aku akan memulai dengan menyakiti mu"
Langkah Andrea begitu cepat dan panjang. Ia mengarah pada Arumi yang sudah sedari tadi bersikap siaga.
Andrea mulai melempari Arumi dengan beberapa benda dalam kamar yang ia lewati. Beruntung Arumi mampu menghindar ataupun menahan setiap perlakuan Andrea tersebut. Rupanya menjadi tak sia-sia apa yang pernah ia pelajari beberapa tahun lalu. Ya, tentu saja. Kurang lebih tiga tahun Arumi aktif sebagai pesilat dan memenangi beberapa turnamen yang ada.
"Ah....!" pekik Arumi.
Kali ini Arumi gagal menghindar. Sebuah pecahan kaca vas bunga berhasil mengenai dahinya. Darah pun mulai menitik. Dan sebelah tangannya sempat mengusapnya, namun darah itu kembali menitik. Akhirnya Arumi membiarkannya saja. Ia lebih memilih kembali fokus pada Andrea yang sudah berdiri di hadapannya dengan berjarak beberapa langkah saja.
"Menghilang dari pengejaran polisi dan bodyguard mu, bukan serta merta membuatku terlena. Aku telah belajar banyak hal sehingga aku mahir bermain belati atau senjata api. Kau pasti tidak peduli kan, Arumi...?"
Arumi diam saja.
"Bisa saja aku menembak mu, tapi itu cara kematian yang teramat mudah bagi mu mengingat apa yang telah kau lakukan kepada ku. Karena nya aku akan membunuhmu dengan senjata kedua ku yaitu belati ini..." ucap Andrea penuh amarah dan dendam.
"Aku bukan perempuan lemah, Andrea. Aku bukan Arumi yang dulu saat kau diam saja. Aku Arumi Hirata, istri Mirza Adyatma..."
PROK...!
PROK...!
PROK...!
Andrea bertepuk tangan. Bibir merahnya menebar senyum. Begitu terasa aneh.
DOR...!
DOR...!
DOR...!
Suara pintu digedor dengan kuat.
"Nyonya...! Apa Nyonya baik-baik saja...!" suara mbok Min dan beberapa bodyguard terdengar khawatir.
"Jawablah..." ucap Andrea sinis.
Arumi diam saja. Ia hanya menatap Andrea bergantian dengan daun pintu yang terkunci rapat itu.
"Apa kau tidak ingin memberitahu kondisi mu saat ini? Bisa saja apa yang mereka lakukan atas permintaan Mirza suami mu"
Arumi bereaksi. Ada keterkejutan di wajahnya. Ia jadi teringat akan laki-laki tampannya itu.
"Kenapa...?.Baru tersadar?!"
"Mbok Jum...! Katakan pada tuan Mirza bom saja rumah ini agar perempuan tak tahu diri ini ikut jadi puing..."
"Nyonya....!!" Teriak histeris mbok Min dan beberapa lagi.
"Haha.....!" tawa Andrea mengisi udara saat itu.
"Itukah tanda keputusasaan mu, Arumi...?!" ucap Andrea di sela tawanya.
"Haha.....!"
Kini tawa Arumi yang bergantian mengisi udara saat itu. Tawa yang begitu tak dimengerti Andrea.
"Dasar perempuan perebut pacar orang...!!" ucap Andrea.
Kali ini Andrea melayangkan pukulan dibarengi dengan tusukan belati yang sejak tadi ia pegang. Begitu cepat hingga hampir saja Arumi gagal menghindarinya. Bukan hanya sekali, namun berulangkali Andrea mempertontonkan kemahirannya berolah belati. Entah sejak kapan ia menguasainya.
Sedikit kerepotan, Arumi berusaha menghindari setiap terjangan belati Andrea. Terlebih di situasi kesehatannya yang belum pulih sempurna.
Andrea menyeringai saat mengetahui gerakan Arumi tak segesit sebelumnya. Terlebih saat Arumi mulai terhuyung.
"Ya, Robb...Kuatkan hamba. Astaghfirullah....mengapa kepala ku mendadak pusing begini? Tatapan ku menjadi samar. Tolong hamba, ya Robb...." batin Arumi.
"Akh....!!" teriak Arumi.
Ia jatuh. Tubuhnya lunglai seakan tak berenergi. Melihat itu, Andrea kian bersemangat. Dendam telah membawanya pada sebuah keputusan yang picik. Andrea ingin menghabisi nyawa Arumi.
"Mati kau, Arumi....!!" teriak Andrea sembari mengayunkan belati.
.
.
.
BRAKK....!!
"Hentikan Andrea....!!!!"
.
.
.