
Mata Arumi tak berpaling sedikit pun. Tatapannya fokus pada layar monitor yang berpendar. Rangkaian adegan dari sang sutradara pada kisah hidup Ryu tengah berlangsung. Di dalam sebuah file yang berhasil di ambil Vanya telah berhasil mengungkap bagaimana cara Andrea menemukan titik kelemahan Ryu sehingga ia bertekuk lutut. Cinta adalah jalan terbaik untuk meluluhkan kekuatan seorang laki-laki seperti Ryu.
Merah padam wajah Arumi. Karena laki-laki yang tengah di permainkan sang sutradara itu adalah saudara laki-lakinya, Ryu.
"Andrea...!!" teriak Arumi dengan geram.
Arumi berdiri. Kakinya hampir melangkah, namun urung. Sebuah lengan berhasil menghentikan niat tersebut. Siapa lagi jika bukan Mirza pelakunya.
"Sabarlah, sayang. Kita sudah punya buktinya. Dan kita bisa segera membebaskan kakak mu, Ryu. Sekaligus menyeret pelakunya"
"Tak bisakah kita menyerer para pelakunya terlebih dahulu? Aku ingin mencakar wajah sialnya itu..." ucap Vanya sambil berdiri.
"Nah, betul itu. Bagaimana tuan Mirza Adyatma? Bisakah...?" ucap Arumi.
"Hadeuh..." ucap Mirza sambil tepok jidat.
Ekor mata Mirza mengarah pada Elvano yang tengah bersikap seakan acuh atas tatapan Mirza.
"Elvano....!" ucap Mirza dengan suara sedikit meninggi.
"Em, ya. Semua bergantung pada tuan Mirza..." ucap Elvano.
Mendengar kata dari asistennya itu, Mirza langsung meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Mirza menghubungi sebuah kontak yang tertera. Ucapan istrinya bak permintaan yang berhukum wajib baginya. Terlebih persoalan yang dihadapi berkenaan dengan satu diantara keluarganya.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
"Assalamu'alaikum..., Tuan" ucap seorang di ujung telepon.
"*P*lan B. Bawa target ke markas. Ada hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu"
"Baik, Tuan. Besok pagi sudah siap di markas..."
"Terima kasih, Dewa. Aku menunggu kabar selanjutnya"
"Ya, Tuan..."
Sambungan telepon pun terputus. Dan mata Mirza langsung menatap wajah cantik Arumi yang tengah bersungut dihiasi amarah. Mirza menyulam senyum. Lengannya menarik Arumi agar perempuan yang telah ia nikahi hampir satu tahun itu duduk di dekatnya kembali.
"Kemarilah, Nyonya Mirza Adyatma..." ucap Mirza.
Arumi pun menuruti kata suami tampannya itu. Dari cara duduknya, jelas jika masih ada api amarah yang menyala.
"Kamu cantik jika sedang marah" bisik Mirza.
"Jangan mulai dech..." balas Arumi merengut.
"Hehe..." kekeh Mirza.
"Sekali lagi terima kasih atas bantuan mu, Vanya. Dan sekarang lebih baik Vanya istirahat di kamar yang telah disiapkan mbok Darmi. Besok kita susun rencana lagi..."
"Ya, Pak...." jawab Vanya tanpa ba-bi-bu lagi.
Dalam hatinya ada banyak rasa yang berbaur seperti marah, sedih, kecewa dan cinta. Dan hal tersebut sungguh tak menghadirkan kenyamanan sedikit pun pada Vanya. Dalam iringan langkahnya, Vanya tampak dipenuhi beban. Hal tersebut tentu saja diketahui Elvano. Karena sejak awal Elvano selalu memperhatikan Vanya.
"Ingin kutemani dahulu. Sebentar saja mungkin...?" tanya Elvano.
"Tidak. Terima kasih, Kak..." jawab Vanya lesu sambil terus melangkah menyusuri deret anak tangga.
Mendengar jawaban Vanya, Elvano jadi diam. Kata selanjutnya yang sudah terasa di ujung lidah pun menguap begitu saja. Elvano kembali duduk terpekur. Matanya masih menatapi gadis cantik yang telah lama ia cintai itu.
"Ah, si bos bisanya meledek saja. Kasih solusi donk..."
"Solusi ya...Em, lupakan Vanya. Cari yang lain"
"Ah, itu bukan solusi..."
"Cinta memang luar biasa. Asisten ku saja sudah tidak sungkan lagi membantah pendapat ku..."
"Egh...Bukan begitu, Bos"
"Sudahlah. Kau pulang. Besok pagi-pagi sekali kau datang lagi..."
"Apa tidak bisa menginap di sini saja, Bos?"
"Terserah. Apa yang menurut mu akan menjadikan mu lebih tenang. Mungkin dengan dekat dengan Vanya kau akan jauh lebih merasa demikian. Dan otak kecil mu itu lebih encer lagi..."
"Bos...!"
"Apa...?!"
"Tidak, Bos..."
"Cinta oh cinta...." ucap Mirza sambil berlalu meninggalkan Elvano yang masih duduk terdiam.
"Dasar bos tak berperasaan..." gumam Elvano.
"Aku dengar....!" ucap Mirza di sela langkahnya bersama Arumi yang sudah berada pada tengah-tengah deretan anak tangga.
"Maaf, Bos...!" ucap Elvano.
"Dasar singa. Telinganya juga tajam, setajam pendengaran singa..."
"Baru tahu jika aku singa..."
"Tahulah, Bos..." ucap Elvano sambil berlalu meninggalkan ruang tengah yang luas itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Vanya berdiri di dekat jendela. Matanya menatap jauh. Tapi entah kemana. Pun demikian, fikirannya tertuju pada sosok Ryu. Laki-laki bermata sipit yang sudah lama ia cintai. Laki-laki yang sudah menolak cintanya beberapa waktu lalu demi seorang perempuan selainnya. Perempuan itu tak lain tak bukan adalah Andrea.
Bulir bening yang sudah mengerubuti matanya kini mulai bergerilya dan terjun bebas. Vanya terisak. Hatinya beriak. Kacau. Vanya tidak tahu harus bagaimana menghadapi kenyataan dalam hidupnya.
"Aku harus apa? Walau Andrea akan jauh dari kak Ryu, tapi aku yakin hati kak Ryu tetap saja bukan untuk ku. Aku harus apa? Haruskah aku pergi menjauh lagi...?"
Vanya berusaha menghapus bulir bening yang kian mengular. Namun usahanya itu menjadi sia-sia. Hal tersebut karena bulir bening itu kian ramai mengerubuti matanya dan untuk kesekian kalinya bersuka cita terjun bebas seiring sesak di hati.
Vanya terduduk lesu. Tangannya memegang lesu tirai jendela berwarna putih. Tirai yang sebelumnya selalu melayang sesaat ditiup angin lalu. Vanya kian berkeluh kesah mengingat kecewa akan penolakan cintanya oleh Ryu. Pun demikian, walau penolakan itu sudah berulangkali, namun cintanya tak pernah pudar. Justru kini saat Ryu ditimpa masalah, Vanya kian bersimpati dan cinta itu pun kembali bersemi.
"Kak Ryu....!" teriak Vanya dengan suara tertahan.
Terbayang kembali dalam ingatan bagaimana saat-saat penolakan itu. Penolakan yang membuat Vanya kecewa dan membuatnya harus memilih ke luar negeri untuk menenangkan diri, alih-alih bekerja di sana. Selain itu juga, ada kelebat wajah Andrea. Tentu saja amarah yang timbul saat wajah perempuan yang sudah menyakiti laki-lakinya itu menari-nari dalam ingatannya.
"Perempuan murahan...!" ucap Vanya geram.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di lain kamar, Elvano tengah duduk pada sebuah kursi santai di dekat jendela. Matanya menilik sebuah foto pada ponselnya yang tengah berpendar. Siapa lagi jika bukan Vanya si pemilik wajah di dalamnya.
"Kau cantik, Nya. Walau tak secantik Arumi, namun tetap saja hanya kau yang mampu meluluhkan hati ku. Tapi sayangnya, hati mu hingga kini masih belum terbuka untuk ku. Walau sesungguhnya cinta mu telah diacuhkan Ryu, laki-laki yang amat kau cintai itu. Aku harus apa...? Haruskah aku menyerah saja? Ah.... Aku harus apa?" ucap Elvano.