
Pukul sembilan lewat lima belas menit. Kelas sudah bubar. Hanya ada Arumi, Arya, Vanya, Mirza dan Elvano yang masih bertahan.
"Arumi..." panggil Mirza saat Arumi berlalu melewatinya.
"Ya, Pak..."
"Bisa bicara sebentar...?"
"Di sini...?"
"Em, tidak. Nanti saya kirimkan alamatnya. Setelah ini masih ada jam kuliah lagi kah?"
"Hanya mengumpulkan tugas saja. Dan itu sudah saya serahkan tadi langsung kepada Bu Mala..."
"Good... sampai ketemu nanti ya..." ucap Mirza diiringi senyum khasnya nan menawan.
"Ngomong apaan si manusia kulkas?"
"Biasa...kata mutiara"
"Cieeee....yang baru dikasih kata mutiara"
"Dasar somplak..."
"Kemana kita..."
"Kantin...!!"
Langkah ketiganya menyasar menuju kantin di sudut kampus. Tawa ketiganya pecah mengisi udara.
"Pesen apa?"
"Aku *juice sirsak aja..."
"Aku juga..."
"Kalo gitu aku yang pesan*..."
Drrt.
Drrt.
Drrt.
"Kita bertemu di cafe S. Saya sedang OTW. Bawa serta Vanya..." begitu pesan Mirza yang ditanggapi sedikit malas oleh Arumi.
"Ar, kita ditunggu pak Mirza dan pak El di cafe S..." bisik Vanya.
"Ah, ogah gw..."
"Ar, mungkin penting banget. Ayolah..."
Arumi tampak termangu. Matanya menatap Vanya yang masih menatapnya lekat.
"Kau ada apa sih, Ar. Kenapa sekarang acuh terhadap pak Mirza? Bukankah kau mencintainya...?"
"Ok...ok. kita akan menemuinya..." ucap Arumi mengakhiri diamnya. Ada kesal di nada bicaranya.
"Kalau begitu kita langsung saja mumpung Arya sedang tak ada. Hihihi..."
"Let's go..."
"Hei...mau kemana..!!"
"Pamit dulu ya. Ada keperluan..."
"Pesangannya...?!"
"Untuk mu saja..."
"Aish...dasar perempuan.."
Arumi dan Vanya meninggalkan kampus dengan mengendari mobil Vanya menuju cafe S. Entah mengapa ada desiran aneh yang kembali menyergap hati Arumi. Desiran yang menolak atas apa yang sedang di lakukan Arumi, yaitu menemui Mirza. Sebagian hatinya itu menolak apa yang telah di ungkapkan Mirza. Menurut Arumi bahwa cinta Mirza yang begitu menggebu saat ini dipicu atas dasar ketertarikan pada fisik saja yang bisa berubah kapan saja.
Yuph...wajar jika Arumi beranggapan demikian. Karena pernyataan Mirza ada setelah perubahan yang terjadi pada dirinya.
Hampir lima belas menit perjalanan, akhirnya kedua gadis itu sampai di tujuan yaitu cafe S. Arumi dan Vanya langsung memasuki cafe dan langsung disambut Elvano.
Mata Arumi benar-benar menunjukkan kegamangan saat tiba di tempat dimana Mirza tengah duduk sambil menatapnya.
"Apa kabar, Ar..."
Mendengar sapaan Mirza, Elvano jadi tertawa.
"Seperti sudah belasan tahun tak bertemu, Za . Kok sapaannya begitu..."
"Benar-benar asisten ga da akhlak ya.. Mau ku potong bonus mu?!"
"Kalau sampai di potong berarti kau juga benar-benar atasan yang ga punya akhlak. Hehehe..."
"Aish...menyikirlah" ucap Mirza sambil mengangkat tangan seakan ingin memberikan pukulan.
"Ok tuan Mirza yang terhormat. Ayo, Nya...kita nyingkir. Ntar singa nya nyakar..."
"Bukan nyakar..."
"Tapi..."
"Nyubit..." ucap Mirza meniru Abang-abang bergaya melambai yang sering mangkal dipengkolan.
"Bhuahaha......"
Mata Mirza menatap Arumi yang tengah tertawa terbahak saat melihat nya bergaya konyol barusan.
"Seneng...seneng lihat orang dipermalukan??"
"Eh, kok marah. Kan bapak yang mulai..." ucap Arumi yang masih terkekeh.
"Bisa juga si bapak ngelawak. Hihihiii...." batin Arumi.
Sambil menatap Arumi, Mirza memberi isyarat dengan tangan agar Elvano dan Vanya menjauh.
"Kok bapak melihatnya gitu...?"
"Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya senang saja melihat kau tertawa. Cantik..."
"Cantik...? Tidak salah, Pak...?"
"Tidak. Yang salah itu aku..."
"Bapak? Kenapa?"
"Karena aku terlalu sibuk mencintai fisik seseorang. Sehingga aku tidak melihat jika ada mutiara yang dengan hatinya tulus mencintai ku..."
"Yang bapak maksud tulus mencintai itu saya? Darimana bapak tahu kalau saya tulus..."
"Dari semua peristiwa yang terjadi. Aku seperti apa? Bagaimana aku pun, kau tetap mencintaiku..."
"Itu bukan ketulusan saya rasa. Tapi itu sebuah kegilaan..."
"Tapi karena kegilaan mu, itu saya jadi tersadar. Sadar cinta seperti apa sebenarnya yang saya cari selama ini. Saya tak butuh cantik fisik. Yang saya butuh hanya kesetiaan"
"Apakah kata-kata mutiara yang baru saja saya dengar bapak dapatkan setelah bapak dikhianati...?"
"Dikhianati...? Oleh siapa?"
"Andrea..."
"Bukan. Bahkan jauh sebelum Andrea melakukan pengkhianatan, saya yang terlebih dahulu mengkhianatinya. Saya sudah jatuh hati pada mu. Em, tapi...darimana kau tahu tentang Andrea?"
"Saya tidak tahu bagaimana cerita sebenarnya, tapi yang saya tahu Andrea telah menikah..?"
"Ya betul. Andrea sudah menikah. Saya yang memintanya untuk menikah. Tapi sekali lagi saya ingin tahu, darimana kamu tahu Andrea sudah menikah? Apakah Elvano yang sudah menceritakan ya?"
"Bukan. Bukan pak Elvano. Saya tahu sendiri.."
"Maksudnya...?"
"Andrea adalah anak dari perempuan yang dinikahi ayah. Jadi sekarang Andrea adalah saudara saya..."
"Astaga....!" ucap Mirza. Tubuh yang semula duduk tegak kini bersandar pada kursi berwarna coklat muda itu. Tangannya tampak memijat kepala kemudian mengusap kasar wajahnya.
"Jadi Ayah mu menikahi Tante Sonia, mami dari Andrea. Hu Robby..."
"Ya. Dan Arya itu adalah adik dari Andrea..."
"Arya? Maksud mu mahasiswa yang sering bersama mu dan tadi pagi membonceng mu?"
"Ya. Tapi Arya berbeda dengan Andrea. Jika Andrea terlalu materialistis dan ambisius, maka Arya kebalikannya. Dia konyol, asyik dan bisa berteman dengan siapa saja. Bahkan dengan saya..."
"Astaga...." ucap Mirza lagi sambil tepok jidat.
"Tapi begini, sekali lagi aku perjelas. Perasaan ku tidak ada hubungannya dengan pengkhianatan Andrea. Seperti yang sudah aku katakan bahwa aku sudah mencintaimu jauh sebelum Andrea melakukan pengkhianatannya bahkan sebelum ia melakukan tindak kejahatan terhadap mu.."
"Tunggu dulu...Barusan bapak mengatakan tindak kejahatan. Tindak kejahatan yang mana nieh..."
"Andrea cemburu saat melihat kebersamaan kita. Dan ia merencanakan hal gila diantaranya saat kau bersama Elvano. Ada sebuah mobil yang berusaha mencelakai mu. Betul..?"
"Ya, betul.."
"Itu adalah rencananya. Kemudian saat sepulang dari Villa. Saat di jalan, ada yang ingin menculik mu. Itu pun ia yang merencanakannya. Aku bersyukur saat itu kau ditemani Darius. Entah jika tidak. Akubtidsk tahu apa yang akan terjadi dengan mu"
"Astaga..."
Arumi terbelalak. Ia tak menyangk atas perlakuan Andrea tersebut.
"Dan satu lagi saat di Villa, dia memaksaku melayani ciumannya karena dia melihat mu saat melalui jalan taman itu..."
"Wow...Amazing sekali. Cantik-cantik hatinya penuh duri"
"Mungkin sudah menjadi takdir saya. Tapi yang jelas, aku minta maaf kepada mu..."
"Untuk apa..?"
"Karena aku tidak peka terhadap perasaan mu. Karena aku sudah melukai perasaan mu. Karena aku tidak ada saat kau menangis baik karen ulahku atau orang lain. Karena aku menolak perjodohan kita. Karena aku salah menilai mu. Karena aku meremehkan mu..."
"Mendengar semua penuturan bapak, saya jadi sadar. Ternyata begitu banyak rasa bersalah bapak. Setelah mengetahui semua itu, apa bapak masih berani menyatakan perasaan cinta bapak kepada saya?"
"Egh...."
Mirza terhenyak. Kata terakhir Arumi sukses membuat Mirza hilang kata. Mirza hanya mampu menatap sendu Arumi sambil sesekali menghela nafas.
"Jujur saya marah kepada bapak. Marah semarah-marahnya. Namun kembali saya sadar bahwa saya hanya manusia biasa. Tiada memiliki daya upaya apa pun selainwnjalankan ketetapan-Nya. Saya juga meminta maaf kepada bapak jika saya sempat egois ingin memiliki bapak tanpa mengetahui perasaan bapak terhadap saya..."
"Kamu tidak salah..."
"Apakah bapak benar-benar mencintai saya?"
"Benar. Saya benar-benar mencintai kamu apa adanya. Dengan semua kekurangan dan kelebihan mu.."
"Artinya saya sudah berhasil memenangkan tantangan bapak. Karena sudah berhasil membuat bapak jatuh hati kepada saya..."
"Bahkan dalam waktu kurang dari lima bulan..."
"Kalau begitu saya minta bapak menyatakan perasaan dan cinta bapak di depan kedua orang tua kita..."
"Egh..."
Mirza makin dalam menatap Arumi. Hatinya berdesir saat gelisah mendiami jiwa. Saat sedikit tanya bergelung di hati tentang maksud dari Arumi sebenarnya.
"Arumi ingin melihat kesungguhan, bapak..." ucap Arumi sambil menyimpan wajah pada pangkuannya.
"Baik, saya setuju. Kapan?"
"Sesiapnya, bapak..."
"Baik..."
Senyum Arumi mengembang saat mendengar kata yang begitu mantap menggelitik telinganya.
🌸🌸🌸🌸🌸