150 Cm

150 Cm
Episode 96. Rencana Keive dan Vanya



Berdiri Vanya di antara kerumunan tamu undangan pada perhelatan yang digawangi MA Group. Sesekali matanya menyapu segenap tamu undangan.


"Laki-laki di sudut kanan ruangan adalah Pak Sakti. Dulu ia tangan Ryu. Namun sejak perusahaan beralih mendukung Andrea..." ucap Elvano.


"Apa mungkin ia bersekongkol dengan Andrea..."


"Menurut informan kita, Ya. Tapi sejauh ini bukti-bukti belum terkuak. Semua tersimpan rapi. Selain pak Sakti juga ada pak Wahyu dan ibu Ratna. Mereka bertiga yang begitu ngotot membuktikan bahwa Ryu bersalah. Hingga di pengadilan beberapa waktu lalu..."


Dasar manusia-manusia berhati kerdil...!" ucap Vanya geram.


"Em, Nya...kamu jadi menyusup ke perusahaan mereka?"


"Ya, tentu saja..."


"Tapi tidak dengan penampilan ini kan..?"


"Tentu saja tidak. Mungkin jika aku sudah merubah penampilan, kak El juga tidak akan menyadarinya. Hehe...."


"Ow....ya? Jadi penasaran. Hehe..." ucap sambil mencubit hidung Vanya.


"Aku pasti akan mengenali mu, Nya. Bagaimana penampilan mu, aku akan tahu jika itu kamu. Karena kau adalah gadis yang sudah menggetarkan hati ku selama ini..." batin Elvano.


"Kak Ryu, bertahanlah. Aku akan mendapatkan bukti-bukti itu. Kau akan bebas, Kak. Aku yakin itu...." batin Vanya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Keive berada dalam sebuah kamar VVIP. Sebuah ruangan yang di dominasi warna brown dan white bone. Dan seulas pemandangan gemerlap kota terpampang jelas dari kaca jendela. Sungguh keindahannya mampu membius siapa saja yang menatapnya.


Keive duduk pada sofa. Matanya menyapu segala persiapan penjebakan yang ia dan team sudah persiapkan. Kamera tersembunyi di beberapa titik. Beberapa bbotol minuman beralkohol dari satu diantara merk ternama tersaji di meja. Begitu pun dengan kudapan ringannya. Malam ini, Keive ingin melancarkan rencananya terhadap Andrea.


Tepat pukul sepuluh malam. Pintu kamar di ketuk. Sebuah senyuman menghiasi wajah tampan Keive. Ia yakin jika Andrea yang berada di balik pintu itu.


Tak lama, pintu pun terbuka karena sesungguhnya Andrea memiliki Key card. Berdiri Andrea di ambang pintu yang langsung di sambut Keive dengan senyuman khasnya. Mata Andrea berbinar saat melihat botol minuman dan beberapa kudapan tersaji.


"Kemarilah..." ucap Keive.


Sebelah tangannya berisyarat agar Andrea duduk di sebelahnya. Dan hal tersebut langsung disambut Andrea dengan sumringah.


Keive menuang minuman. Ia menyuguhkannya untuk Andrea. Pun sebaliknya, Andrea menuangkan minuman beralkohol itu untuk Keive.


"Malam ini milik kita..." ucap Keive sambil menenggak segelas minuman.


"Apa kau mencintaiku, seperti halnya aku mencintai mu...?"


"Entahlah...Sepekan berlalu rasanya mustahil aku langsung jatuh hati padamu. Namun ada nyaman saat berada di dekat mu. Dan ada rasa kangen jika kita berjauhan. Apakah itu artinya aku sudah jatuh hati pada mu..." ucap Keive.


Sebuah paparan yang sesungguhnya ia ingin sampaikan pada sosok perempuan lainnya, bukan pada Andre.


"Bisa jadi, Ans. Jika demikian terjadi, maka akan sangat bahagia..."


"Bagaimana jika tidak demikian...?"


"Aku akan mencari mu dan membuatmu jatuh hati pada ku...?"


"Bagaimana caranya?"


"Begini..."


Tiba-tiba saja Andrea sudah berada di pangkuan Keive. Keive terkesiap atas perlakuan Andrea tersebut.


"Jangan seperti ini, An. Aku khawatir menjadi khilaf..."


"Ku nanti khilaf mu. Haha..."


"Sial...kau fikir aku mau dengan mu! Perempuan murahan..." batin Keive.


Sementara itu, mendapat penolakan halus Keive, Andrea kembali duduk pada sofa di sebelah Keive. Tangannya tak henti menuang minuman. Kali ini ia melakukannya untuk dirinya sendiri.


"Kau tahu, An. Salah satu perusahaan ku tengah bermasalah. Ada orang yang tengah berusaha menghancurkan hasil kerja keras ku itu..."


"Salah satu? Memangnya ada berapa perusahaan mu?


"Satu. Tapi anak perusahaan ku sudah mulai hampir di seluruh negeri"


"Ow, berarti saingan MA Group donk..."


"Ow, Bagaimana bisa...?"


"Namanya juga dunia bisnis, nona cantik..." ucap Keive sambil mencomot hidung Andrea.


Andrea tersenyum manja.


"Tapi aku yakin sebentar lagi kau akan menyaingi MA Group"


"Entahlah. Satu perusahaan ku saja masih bermasalah, bagaimana mungkin hal itu terjadi..."


"Ada aku. Aku akan membantu mu..."


"Membantu ku?"


"Ya, aku akan membantu mu.."


"Bagaimana cara mu membantuku?'


"Nantikan saja. Akan ku Fikirkan. Sekarang kita nikmati saja malam ini..." ucap Andrea.


Tangannya mencencang botol minuman beralkohol. Ya...bukan lagi melalui gelas ia menenggaknya, namun pada botolnya langsung. Dan Andrea pun mulai meracau. Ia menari dan menyanyi dengan kacau. Langkahnya pun sudah mulai tak sempurna. Andrea terhuyung.


Sementara Keive tak merasakan efek apa pun. Karena sejatinya hanya sedikit minuman beralkohol yang ia minum. Pun demikian demi keberhasilan misi, ia berpura-pura mabuk.


Tangan Keive mencencang lengan Andrea dan larut dalam tarian gila Andrea. Andrea tertawa lepas. Hingga akhirnya ia terjerembab. Beruntung tangan Keive cekatan menyangga tubuh sintal itu. Keive membaringkan tubuh Andrea pada kasur bersprei putih itu.


"Kau ingin menikmati malam ini bersamaku, Ans..." ucap Andrea.


Tangannya dengan gesit membuka balero yang sejak tadi ia pakai hingga tinggallah dress tanpa lengan nan pendek yang membalut tubuhnya. Melihat itu Keive bergeming. Karena bukan hal tersebut yang ia inginkan.


"Dasar perempuan murahan...!" umpat Keive dalam hati.


"Bagaimana jika kau membantu menyelesaikan masalah di perusahaan ku" ucap sambil mendekap tubuh Andrea.


"Tentu saja, aku akan membantu mu..." ucap Andrea di tengah dirinya yang mabuk. Jari telunjuknya menunjuk dada Keive berulangkali.


"Apa yang harus aku lakukan, Ans...?"


"Aku ingin perusahaan kau mengakuisisi perusahaan ku, An. Dengan begitu perusahaan ku terselamatkan. Aku rela jika kau yang memilikinya..." aku Keive.


"Semoga kau tidak menyadarinya, An..." batin Keive.


"Baiklah. Aku setuju. Besok pak Sakti akan menyiapkan berkas-berkas nya..."


"Mengapa harus menunggu besok...?"


"Owh....kau sudah menyiapkannya ya. Dasar nakal..."


"Haha...bukan nakal, tapi kreatif"


"Oke. Mana..." ucap Andrea dalam keadaan mabuk.


Keive langsung mengambil berkas yang sejak tadi tergeletak di nakas. Berkas yang berisi pengalihan perusahaan.


"Semoga kau tidak menyadarinya, An...". batin Keive.


Andrea yang dalam kondisi mabuk, tidak menyadari situasi yang tengah diciptakan Keive. Begitu melihat berkas, Andrea langsung meraih sebuah pena.


"Dimana aku harus tanda tangan, sayang...?" ucap Andrea.


"Di sini....Di sini dan di sini" ucap Keive sambil menunjukkan tempat agar Andrea mudah membubuhkan tanda tangan pada tiap lembar berkas.


"Good, Andrea...sedikit lagi' batin Keive.


"Apa kau senang, sayang...?"


"Tentu saja.." ucap Keive.


Tangannya mendekap tubuh Andrea. Bersamaan dengan itu, Andrea tidak sadarkan diri. Tubuhnya lunglai dalam dekapan Keive yang terus menyimpan kesal.


"Misi selesai..." begitu sebuah pesan ia kirimkan.


"Good..." balas singkat seseorang yang tak lain adalah Mirza Adyatma.