150 Cm

150 Cm
Episode 49. Bertemu "Nyai" (1)



Hari itu mentari sedikit malu menampakkan wujudnya. Ternyata mentari lebih nyaman bersembunyi di balik gelapnya awan yang sudah jenuh dan siap menurunkan hujan.


Mirza yang tengah memacu mobil sport silver menuju MA Hospital sesekali matanya menatap langit. Ia khawatir hujan turun dan akan membatalkan rencananya.


"Mendung tak berarti hujan..." ucapnya penuh harap.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


"Assalamu'alaikum...sayang"


"Wa'alaikumussalam...Sudah dimana, Kak"


"Di pelataran parkir. Ini sedang menuju gedung IGD..."


"Kami sudah di ruang tunggu IGD"


"Nah, aku sudah sampai sayang..." ucap Mirza saat membelokkan mobil dan berhenti tepat di dekat Arumi.


Mirza pun turun dari mobil. Para dokter dan perawat yang menyadari kehadiran orang nomor satu di MA Group itu langsung menjura takzim dan menyapanya. Dan Mirza pun memberikan senyum khasnya sebagai balasan perlakuan pegawainya itu.


"Waaaah..." ucap beberapa dokter dan perawat perempuan yang menyaksikan senyum yang begitu menawan hati itu.


"Meleleh hati ku, Rin..." ucap seorang perawat kepada perawat lainnya.


"Ya, aku juga. Sayangnya sudah memiliki calon pendamping..."


"Calon pendamping? Siapa...?"


"Gadis bertubuh gembul dan pendek itu..."


"What...! Apa Tuan Mirza tidak salah pilih?"


"Saya rasa tidak..." ucap Faaz yang tiba-tiba saja telah berdiri di belakang perawat-perawat tersebut.


"dok-ter...." ucap ketiga perawat itu hampir bersamaan dengan gagu.


"Jangan pernah bergosip dan mengurusi masalah orang lain. Apalagi dia pemilik rumah sakit ini. Kalian tahu konsekuensi nya kan?"


"Ya, Dok. Maaf..."


"Pergi sana..."


"Baik, Dok. Permisi..."


"Calon-calon nenek lampir. Kerjaannya cuma mengurusi hidup orang lain. Sementara hidupnya sendiri bum tentu aman, nyaman apalagi sejahtera..." batin Faaz saat ketiga perawat itu berlalu.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Em, Yah...Mirza minta izin mengajak Arumi melihat salah satu perumahan milik kita. Sekalian mengajari Arumi dunia usaha. Kalau di bangku kuliah lebih pada teori saja. Maka lebih baik terjun langsung..." ucap Mirza saat telah duduk sempurna pada sebuah sofa di kediaman Permana.


"Ayah tidak masalah. Berangkatlah..."


"Terima kasih, Yah..."


"Sama-sama. Jaga Arumi ya..."


"Siap, Ndan..."


"Hehe...Mirza-Mirza" ucap Permana sambil menepuk bahu Mirza berulangkali.


"Oya, Yah. Sepertinya waktu operasi ayah setelah acara pagelaran seni Arumi terlaksana"


"Oya...? Ayah senang mendengarnya. Lalu bagaimana rencana pernikahan kalian"


"Mirza masih mengusahakan agar Arumi bersedia dalam waktu dekat ini"


"Ayah percaya, Mirza mampu melemahkan pendirian Arumi..."


"Ya, Yah. Doakan ya, Yah..."


"Selalu..." ucap Permana sambil tersenyum.


Hal tersebut terlebih saat melihat kedatangan Arumi setelah bersiap beberapa waktu di kamarnya.


"Sudah siap, Ndok...?"


"Sudah, Yah..."


"Ya, Robby. Ternyata Arumi ini benar-benar cantik. Walau tingginya hanya 150 Cm dan berat tubuhnya hampir setengah tinggi tubuhnya, namun aura kecantikannya terpancar alami. Mungkin inilah yang biasa kebanyakan sebut sebagai inner beauty" batin Mirza.


Matanya tak henti menatap Arumi. Ia membayangkan bagaimana tubuh di balik pakaian yang membalutnya itu.


"Astaghfirullah....." ucap Mirza sambil melempar tatapannya ke tempat lain.


"Makanya cepat-cepat lah taklukkan anak gadis ku itu sehingga kau bisa langsung menerkamnya..."


"Ah, ayah. Ada-ada saja. Tapi betul juga, Yah. Singa-nya sudah pengen bersarang nieh..."


"Hahaha...." tawa Permana.


"Ngobrolin apaan sih...?"


"Ah, tidak. Tidak...." ucap keduanya hampir bersamaan.


Arumi tersenyum kecut sambil memutar bola matanya. Karena ia yakin jika ayahny dan salon suaminya itu tengah berbincang sesuatu sebelum ia datang.


"Kita berangkat ya, sayang..."


Tangan Mirza langsung menarik lengan Arumi yang sebelumnya berpamitan pada Permana. Ia tak ingin ada banyak pertanyaan yang muncul dari bibir Arumi untuknya atau pun ayah mertuanya itu.


Tak lama kemudian, mobil sport silver pun kembali melaju menyusuri jalanan. Suara raungannya terdengar begitu gahar mengisi relung udara saat itu. Suaranya semakin membumbung tinggi ke angkasa, mengusir awan mendung yang sempat menggelayuti langit.


Arumi duduk santai dengan menyandarkan kepalanya. Belum ada perbincangan yang terjadi saat itu. Keduanya masih diam dalam fikiran masing-masing. Ketika tujuan hampir sampai barulah Mirza menghentikan laju mobilnya di tepian jalan.


"Em, sayang. Kita akan menyamar menjadi pasangan suami istri. Kita tengah mencari rumah hunian. Aku sudah melakukan negosiasi lewat telepon. Dan hari ini kita akan melakukan akad pembelian. Nama ku Adi dan kau Hirata. Bagaimana...?"


"Mungkin agar tidak salah sebut, aku akan memanggil kakak saja tanpa nama. Mungkin kakak juga bisa memanggilku tanpa nama seperti biasanya"


"Betul juga. Aku akan memanggil mu Sayang. Dan kau memanggilku kakak"


"Kau pakai kacamata dan tahi lalat ini ya. Aku pakai kumis, brewok dan kacamata ini"


"Ini seriusan menyamar..."


"Ya, sayang. Maaf melibatkanmu. Aku ingin menyelidiki tentang rumor yang beredar..."


"Ya tidak apa-apa. Aku senang bisa membantu"


"Jangan sungkan seperti itu, Kak. Aku jadi tidak enak. Hehehe...."


"Hehehe...."


Mirza turut tertawa. Tangannya lagi-lagi mengusek pucuk kepala Arumi dengan gemas.


"Oya, Kak. Em, Arumi merasa rumor yang dihembuskan itu hanya perbuatan seseorang atau kelompok yang ingin menjatuhkan bisnis kakak saja. Arumi merasa heran saja. Kok penampakannya hadir saat ada pembeli..."


"Cerdas...Tidak salah aku memilihmu menjadi ibu dari anak-anakku" ucap Mirza sambil merapikan kumis dan brewok yang ditempel ke wajahnya.


"Sepertinya akan seru nih, Kak. Haha..."


"Hok Oh... Sepertinya begitu. Semoga kita berhasil mengurai teka teki rumor penampakan hantu..."


"Aamiin... semoga saja"


Mirza pun kembali melajukan mobil sport silver dengan cepat. Bak anak panah terlepas dari busurnya, Mirza benar-benar tak melambatkan sedikitpun laju mobilnya yang seiring dengan kilat mata elangnya mencari sasaran.


Tak menghabiskan satu dupa, akhirnya mobil sport silver itu pun parkir sebuah halaman gedung perkantoran berlantai dua. Sejenak keduanya mengedarkan pandangan hingga ke tiap sudut bangunan yang berdiri kokoh itu.


Langkah keduanya pun beriringan sangat memasuki bangunan kantor pemasaran itu. Kedua melenggang bak pasangan suami istri yang tengah di mabuk cinta. Dan tak dipungkiri, memanglah candu cinta tengah di reguk keduanya. Rasa manisnya telah membuatnya ketagihan dan enggan melepaskan cawan dari genggaman di jiwa.


"Silahkan...Silahkan Tuan dan Nyonya" ucap seorang laki-laki yang tak lain adalah Maria, asisten dari Robert.


Mirza dan Arumi yang tengah dalam penyamaran itu pun mengikuti arahan Maria dan duduk di hadapannya. Kemudian ketiganya pun terlibat dalam perbincangan dan diakhiri dengan proses akad pembelian.


"Bisakah kami langsung ke rumah yang telah kami beli? Karena kami melihatnya hanya melalui video dan foto-foto yang anda kirimkan selama ini?"


"Silahkan, tentu saja boleh. Bahkan anda pun boleh menempatinya saat ini juga. Hehe..." ucap Maria disertai tawa yang sedikit menggoda.


"Mari saya antar...." ucap Maria lagi.


Kemudian ketiganya pun menuju rumah yang dimaksud dengan mobil masing-masing. Tak sampai habis sepuluh menit, kedua mobil itu pun telah parkir pada sebuah rumah mewah berlantai dua. Langkah Mirza dan Arumi begitu ringan saat memasuki rumah tersebut. Ternyata keduanya terhanyut dalam peran yang tengah dilakoni saat ini.


Mata Arumi mengitari seisi ruangan saat memasuki rumah mewah tersebut. Dan decak kagum pun terbit dari bibir tipisnya terutama saat melihat pemandangan dari ujung balkon. Benar-benar sebuah pemandangan yang memanjangkan mata. Hamparan pepohonan yang menghijau sejauh mata memandang. Tak lupa kelok sungai yang terlihat di antara suburnya pepohonan atau pun bunga warna warni yang tak diketahui siapa tuannya. Semua begitu indah dan menyejukkan jiwa.


"MasyaAllah...." ucap Arumi masih dengan mata terbelalak takjub.


"Bagaimana...?" tanya Mirza yang berdiri di sebelah Arumi.


"Bagus, Kak. Terima kas..." ucap Arumi terhenti.


Wajah yang semula sumringah kini berubah merona karena malu sudah terhanyut dengan peran yang tengah dilakoni saat ini. Dan kemudian, tatapan Arumi langsung disimpan pada ujung kakinya. Terlebih saat mata elang Mirza menatapnya dengan lekat. Mungkin laki-laki tampan itu tengah menyelami kedalaman perasaan gadis yang kini berdiri di hadapannya.


Kemudian Mirza merengkuh kepala Arumi dan membawanya dalam dekapannya. Membiarkan Arumi mendengar degup jantungnya yang begitu bertalu ataupun helaan nafasnya yang sedikit memburu karena sesaknya rasa yang kian membuncah. Dan hal tersebut disambut Arumi dengan melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Mirza.


"Terima kasih juga karena sudah merasakan seperti hal yang juga aku rasakan. Kita sama, sayang. Sama-sama terhanyut..." ucap Mirza yang diakhiri dengan mengecup lembut pucuk kepala Arumi dan mengurai dekapannya.


Mata elang Mirza menjadi sendu saat tatapannya bertemu mata indah milik Arumi. Dan senyum pun tak hentinya menghiasi wajahnya. Dan sekali lagi Mirza merengkuh kepala Arumi dan membawanya dalam dekapannya. Tak dipungkiri keduanya tengah merasakan perasaan yang luar biasa. Perasaan yang menjadi candu dan membuat keduanya enggan merusak suasana yang tercipta di senja itu.


Sementara itu, di sudut ruangan terlihat Maria yang sedikit jealous menyaksikan kemesraan keduanya. Ia hanya memainkan kakinya atau pun membetulkan gerai rambut hitamnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin lalu.


"Em...maaf Tuan dan Nyonya..." ucap Maria mengakhiri kesalnya.


"Ya, mbak Maria. Ada apa?"


"Em, ada calon pembeli yang ingin melihat-lihat. Bolehkah rumah Tuan dan Nyonya saya jadikan role model-nya? Hal ini untuk menghemat waktu...?"


"Ow, silahkan..." ucap Mirza dengan senyuman.


Mirza yakin betul jika pembeli yang dimaksud adalah Elvano dan Vanya.


"Terima kasih, Tuan..." ucap Maria sesaat sebelum berlalu.


Tak lama kemudian, terdengar percakapan yang didominasi Maria. Ia begitu lihai menjelaskan tentang kelayakan rumah mewah tersebut. Dan sesekali terdengar timpalan Elvano ataupun Vanya.


Tap.


Tap.


Tap.


Terdengar langkah menapaki anak tangga. Dan tak lama kemudian langkah itupun terhenti di ujung anak tangga. Perhatian Mirza dan Arumi pun langsung beralih pada pemilik langkah kaki tersebut.


Dan Mirza langsung membuang tatapannya saat melihat dua orang yang berdiri tak jauh. Mirza menahan tawa melihat penampilan kedua orang tersebut.


"Siapa mereka, Kak? Menurut kakak yang datang kak El dan Vanya. Tapi kok aku tidak yakin itu mereka..." bisik Arumi.


Mata Arumi menilik seorang laki-laki paruh baya lengkap dengan kerutan karena termakan usia. Tak lupa rambut putih terlihat menyelimuti kepalanya. Sedangkan pasangannya adalah perempuan dengan sasak rambut yang tinggi dan riasan yang lumayan tebal. Tak lupa sebuah tahi lalat besar hinggap di sudut bibirnya.


"Puas kau, Za sukses membuat kami seperti ini?" bisik Elvano saat berdiri dekat dengan Mirza.


"Vanya....??" bisik Arumi.


"Boleh ga aku nangis karena penampilanku ini?"


"Kikikih...." tawa Arumi tertahan.


"Senang sekali melihat temannya susah..." ucap Vanya manyun.


"Bukan begitu...."


BRAKK....!


Mendadak terdengar suara pintu terhempas membuat keempatnya terkejut. Sementara itu, Maria berdiri dengan tubuh gemetar. Seakan ia tahu asal suara tersebut.


"Maaf Tuan dan Nyonya saya permisi dahulu. Selamat atas kepemilikan rumahnya..."


"Kami bagaimana?" seru Elvano.


"Tuan silahkan lihat-lihat dahulu saja. Jika berminat silahkan hubungi saya lagi.." ucap Maria yang kemudian berlalu dengan langkah panjangnya.


BRAKK...!


Suara itu terdengar lagi. Arumi sedikit kecut. Matanya mengitari ruangan mencoba menemukan asal suara tersebut.


KREEEK....!


Vanya langsung merapatkan tubuhnya yang bergetar pada Elvano.


"Aku takut, Kak...." ucap Vanya.


"Hihihi....."


Terdengar suara tawa yang membuat bulu kuduk meremang.


"Kak......Tolong Vanya, Tuhan!!"