
"Za, Mirza... Tolong bantu ayah meyakinkan Arumi" ucap Permana di sela nafas satu-satunya.
"Ayah...." ucap Arumi penuh pilu.
"Ikut aku..."
Kata singkat Mirza dibarengi dengan gaetan pada lengan Arumi. Gadis itu pun setengah terkesiap. Matanya menatap Mirza seakan meminta penjelasan.
Langkah Mirza begitu cepat. Mirza membawa Arumi ke luar ruang perawatan. Mirza mendudukkan Arumi pada kursi panjang. Mirza menatap wajah Arumi yang kuyu. Tangannya mengusap lembut pipi Arumi yang masih basah dengan air mata.
"Aku tidak akan mengambil keuntungan atas permintaan, ayah. Tapi melihat kondisi ayah, ada baiknya mari kita meluluskan permintaan itu"
Deg.
.
.
.
Arumi terdiam. Mata indahnya menatap sayu Mirza. Cukup lama ia melakukan itu. Seakan tatapan itu ingin mencari sesuatu dalam mata gelap Mirza.
"Pernikahan itu bukan suatu hal yang main-main, Kak..."
"Ya. Dan permintaan ayah pun bukan hal yang main-main..."
"Apa kakak tidak akan menyesal...?"
"Memberi kebahagiaan pada ayah mu, tentu itu lebih utama...Dan lagi mengapa aku harus menyesal? Bukankah kapan pun itu, kita akan tetap menikah juga..."
Arumi terdiam. Ada gurat ragu menyelimuti hatinya dan jelas terlihat pada wajahnya. Pandangan Arumi mendadak ia simpan pada pangkuannya saat mata elang Mirza menukiknya tajam. Hatinya berubah sendu. Dan bulir bening itu pun kembali hadir. Titiknya mulai berjatuhan pada pangkuannya.
"Apa kau masih meragukan cinta ku hingga begitu sulit membuat keputusan?"
"Aku sudah tidak pernah meragukan cinta kakak. Ataupun ketulusan dan keyakinan kakak..."
"Lalu apa masalah mu...?"
"Masalahnya bukan pada kakak, tapi pada ku. Aku tidak yakin mampu menjadi pendamping hidup kakak..."
"Apa karena sebuah angka, 150 cm yang selalu melekat pada mu...? Jika itu, aku sudah tak peduli, Ar. Cintaku sudah bukan pada fisik lagi.."
Arumi terdiam. Hatinya kembali menimbang.
"Apa kau masih ragu...? Jika ya. Maka menikahlah dengan ku. Aku akan membuktikan semuanya..."
Arumi masih terdiam. Bibir tipisnya masih puasa kata. Hanya matanya yang basah saja sesekali menatap Mirza.
"Ar...." panggil Mirza.
Panggilan itu seakan ingin menyadarkan Arumi dari lamunannya. Sekaligus panggilan yang menuntut sebuah jawaban. Hati Mirza beriak. Ia tak percaya gadis yang amat ia cintai itu ternyata masih meragukannya.
"Baiklah...Aku setuju"
Kalian itu akhirnya meluncur juga. Bersorak hati Mirza. Akhirnya jawaban yang ia nanti meluncur juga. Melompat Mirza dengan girang. Bahkan ia berjoget-joget. Hampir semua gaya ia lakukan. Gaya tari hula-hula Hawai, gaya ulat keket yang nemplok di tembok sampai gaya roker yang berjingkrakkan tak karuan. Semua ia lakukan. Tapi hanya dalam fikirannya saja. Dan lagi mana mungkin Mirza melakukannya di tempat umum seperti itu. Tentu saja status pengusaha muda sukses nya tak ingin tercoreng oleh tingkah gilanya.
Kemudian kembali langkah keduanya menuju ruang perawatan dimana Permana berada. Dan melihat kedatangan keduanya Permana mengalihkan perhatiannya.
"Arumi setuju, Yah..."
Satu kalimat yang Arumi terucap membuat senyum Permana mengembang. Sekaligus memberi rasa terkejut pada yang lain, Sonia, Arya dan juga Edward. Tangan Permana terangkat perlahan seakan berisyarat agar Arumi lebih mendekatinya. Dan benar saja saat Arumi berada di sebelahnya, Permana mengusap wajah cantik Putri semata wayangnya itu. Dan bulir bening pun mengambang di kedua matanya.
"Mengapa ayah menangis? Mestinya ayah bahagia..."
"Ini air mata bahagia, Ndok..."
"Kau tidak tahu, Ndok. Makna ganda air mata ini. Selain bahagia, juga sedih. Sebab sesaat lagi kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya..." batin Permana.
"Jadi kapan kalian menikah...?" ucap Permana. Suaranya bergetar.
"Berikan Mirza sepuluh menit untuk menghubungi mama dan papa..." ucap Mirza.
"Silahkan..." ucap Permana yang masih memegangi lengan putri yang selalu cantik di matanya itu.
Langkah Mirza begitu cepat meninggalkan ruang perawatan. Dan sebuah ruang office VIP, kini ia masuki. Ruangan yang hanya ia dan keluarganya saja yang dapat memasukinya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Ponsel Dania berpendar. Ia tersenyum saat tahu si penelepon.
"Siapa....?" tanya William.
"Mirza..." jawab Dania.
"Assalamu'alaikum...Nak"
"Wa'alaikumussalam...Ma, papa ada?"
"Ada. Di sebelah mama. Ada apa, Nak..."
"Ya, Nak. Papa menyimak"
"Mohon tidak dipotong pembicaraan Mirza nanti Pa, Ma..."
"Ya, Nak..." ucap Dania dan William hampir bersamaan.
"Em...Pa, Ma. Mirza ingin menikah. Kalau perlu hari ini juga. Ada suatu keadaan darurat yang membuat Mirza harus menikah sekarang juga. Bagaimana menurut Papa dan Mama?"
"Mengapa harus sekarang? Apa kau menghamili anak orang...?!"
"Ish, Papa. Mirza itu bukan laki-laki seperti itu..."
"Lalu kondisi apa yang berhasil memaksa mu untuk menikah saat ini? Dan siapa gadis yang sudah berhasil meluluhkan hari mu?'
"Pa...! Selain Arumi tidak ada gadis lain"
"Ow, jadi Arumi yang sudah kau hamili...?"
"Pa...! Sudah Mirza katakan. Mirza bukan laki-laki seperti itu"
"Hahaha...."
Tawa William dan Dania pecah.
"Jadi mama dan papa merestui tidak...!" ucap Mirza kesal di ujung telepon.
"Ya. Tentu saja, Nak. Terlebih gadis itu Arumi. Jadi kapan?"
"Kalau saat ini juga..?"
"Bocah gendeng...! Kau fikir menikah semudah membalik telapak tangan!"
Kalimat yang bernada keras dari bibir William itu sukses membuat Mirza menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Mirza sungguh-sungguh, Pa... Ini semua permintaan ayah dari Arumi. Beliau tengah dirawat di rumah sakit kita"
"Apa...!"
"Ya, Pa. Karena itu rasa khawatir kami membuat Mirza dan Arumi meluluskan permintaan ayah"
William terdiam. Sama diamnya dengan Dania. Entah apa yang tengah difikirkan kedua orangtua super tajir itu.
"Pa...Ma...?" panggil Mirza.
"Baiklah, Nak. Bagaimana jika jam empat sore nanti?"
"Setuju.... Alhamdulillah"
"Mama akan menyiapkan segala sesuatunya. Kau belilah perhiasan untuk maharnya..."
"Siap laksanakan...!"
"Dasar bocah gendeng...."
"Terima kasih, Pa, Ma...."
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Apa...! J-jam empat sore nanti? Artinya tiga jam lagi...?"
"Ya, sayang..."
Begitu reaksi Arumi saat mendapat kabar dari Mirza. Namun berbeda halnya dengan Permana. Laki-laki itu benar-benar tengah berbahagia atas kabar yang baru saja ia terima.
"Alhamdulillah...." ucapnya lirih dengan sumringah.
"Selamat Permana..." ucap Edward sambil mengusap lengan Permana.
"Selamat juga untuk mu, Edward. Aku minta maaf atas ucapan ku yang lalu" ucap Permana dengan suara bergetar.
"Yang lalu biarlah berlalu..."
Begitulah percakapan singkat antara dua laki-laki yang dipertemukan oleh cinta seorang perempuan yang sama, Yuki Hirata.
Sementara itu, di sudut ruangan Sonia dan Arya berdiri di hadapan Arumi yang berdiri bersandar pada dinding.
"Ar, kamu sudah yakin?" tanya Arya.
"In Syaa Allah, Kak..."
"Syukurlah. Aku tidak ingin menjadi sesalan dikemudian hari"
"Arya...Mami yakin tidak akan ada penyesalan. Karena sejatinya mereka saling mencintai. Dan yang membuat Arumi sedikit ragu adalah waktu pelaksanaannya. Bukankah begitu, Ar...?"
"Ya, Mi. Seakan tidak ada hari esok bagi ayah tuk menyaksikannya. Arumi khawatir, Mi..."
"Tak perlu khawatir. Kita jadikan pernikahan kita sebagai doa bagi kesembuhan ayah..." ucap Mirza yang tiba-tiba saja berdiri di sebelah Arumi.
Arumi tersenyum tipis. Terlebih saat laki-laki yang ia cintai itu mengusek pucuk kepalanya.
"Kalau begitu, Mami akan mempersiapkan segala sesuatunya. Di awali dengan menghubungi Nyonya Dania..." ucap Sonia tersenyum.
"Terima kasih, Mi..." ucap Arumi.