150 Cm

150 Cm
Episode 107. Ketidakpedulian Andrea



Raungan sirine kendaraan petugas memecah keheningan malam yang terus merangsek kian jauh. Pergulatan mesin kendaraan saling berbagi suara mengisi udara malam. Kejar-kejaran antara petugas dengan Andrea terus berlangsung tanpa ampun. Bukan saja sebagai tersangka, namun kejahatan tengah berlangsung akan menambah dakwaan Andrea saat ini.


Silih berganti kendaraan petugas berada berdekatan dengan kendaraan yang di gawangi Roy, suami yang telah lama Andrea tinggalkan. Rupanya kepiawaian Roy dalam mengendalikan kuda besi tak dapat dianggap enteng. Pun demikian, para petugas pun tak hilang akal dan taktik. Mereka lihai memainkan kemudi demi memperpendek jarak kendaraan. Hingga di suatu ketika, kendaraan seorang petugas dari arah lain berhasil memblokir akses jalan. Rupanya informasi pengejaran terhadap Andrea telah tersiar ke pusat kendali keamanan kota.


Mencicit mesin kendaraan yang di gawangi Roy. Ia pun hampir hilang kendali atas kendaraannya.


Hos.


Hos.


Hos.


Nafas Roy naik-turun dengan cepat. Matanya nanar menatap kendaraan yang telah sukses menghadabg laju kendaraannya.


"Sial...!"


Kata umpatan Roy terlontar begitu saja. Tangannya memukul kemudi sebagai pelampiasan kekesalannya.


"Roy..." ucap Andrea sedikit bergetar.


Hati Andrea sedikit beriak. Ia menjadi kecut saat kendaraannya putar haluan dan menghasilkan suara mencicit pada mesin.


"Sabarlah, An. Kita pasti lolos" ucap Roy berusaha menenangkan Andrea.


"Mami mohon menyerahlah, An. Sesungguhnya perbuatan mu ini, merugikan diri mu sendiri..."


"Persetan dengan semua itu. Yang pasti aku tidak ingin masuk penjara..."


"Sayang..." kata Sonia terhenti.


"Diamlah, Mi. Aku tidak butuh saran-saran mu lagi"


Hati Sonia beriak. Ada bulir bening yang mulai mengerubuti matanya. Bibir tipisnya pun mulai bergetar menahan pilu dalam hatinya. Sonia tak menyangka, jika putri kesayangannya itu telah jauh berubah.


"Apa salahku ya, Tuhan hingga putri ku seperti ini? Apa salah ku....?!" batin Sonia pilu.


Dalam dunia ini tiada tangis yang paling memilukan, selain tangis seorang ibu. Tiada tangis yang mampu membuahkan doa yang di dengar Tuhan, selain tangis seorang ibu. Walau mustahil menjadi ibu yang sempurna, namun seorang ibu pasti berusaha untuk menjadi ibu terbaik bagi anak-anaknya.


"An, kita terkepung..." ucap Roy sambil mengedarkan matanya.


"Ah, sial....!" ucap Andrea.


Mata Andrea menatap kendaraan petugas yang datang hampir bersamaan mengepung keberadaannya.


"Menyerahlah, nona Andrea...! Anda sudah kami kepung..." ucap seorang petugas melalui pengeras suara.


"An, tidak ada pilihan lain. Kita harus menyudahinya..."


"Dan dipenjara, maksud mu...?!"


"Itu resiko teringan, ketimbang mati..."


"Bangsat kau, Roy...!"


CILIK...!


Pintu mobil terbuka. Bersamaan dengan itu, Roy keluar dengan tangan terangkat. Hatinya beriak. Ia sudah membuat pilihan. Tak lama kemudian, Andrea pun keluar dengan menjadikan Sonia tamengnya. Kilat cahaya lampu sirine begitu menyilaukan mata. Hal tersebut membuat Andrea menyipitkan mata.


"Menyerahlah, Nona Andrea....!" ucap petugas lagi.


"Sudahlah, Sayang. Mami tidak ingin melihatmu lebih menyesal nantinya. Kami semua menyayangi mu, Nak..." bujuk Sonia.


"Aaah...berisik!"


BUK....!


Andrea menyarangkan gagang pisau ke kepala Sonia. Hal tersebut tentu saja membuat perempuan paruh baya itu terhuyung dan jatuh tak sadarkan diri.


"Mami....!!" teriak Arya yang baru saja sampai di tempat kejadian.


Arumi pun yang melihat itu tak kalah terkesiap. Ia langsung keluar mobil dan berdiri menatap tajam kearah Andrea.


"Mami.....?" ucap Andrea lirih.


Rupanya Andrea sendiri terkejut atas tindakannya tersebut. Andrea menatap tubuh Sonia dengan gamang. Bersamaan dengan itu, petugas pun merangsek mendekati Andrea. Dan dalam sekejap Andrea pun diringkus bak pesakitan yang telah lama buron. Pisau yang sejak semula tergenggam di tangan pun berhasil diamankan petugas.


"Nona Anda ditahan. Segala pernyataan anda akan dicatat. Anda berhak untuk diam selama belum didampingi pengacara. Dan negara akan menyiapkan pengacara jika anda tidak mampu menyiapkannya..." ucap petugas sambil memborgol Andrea.


Namun belum sempat borgol membelit pergelangan tangan, Andrea meraih pistol yang tergantung di pinggang seorang petugas. Andrea langsung menodongkan pistol tersebut ke segala arah.


BUK...!


BAK...!


DUAK...!


Roy menyarangkan beberapa pukulan kepada petugas yang tengah meraih sebelah tangannya ke belakang. Kemudian dengan secepat kilat, Roy masuk kembali ke dalam mobil. Ia menancap gas dan menghantamkan mobilnya ke salah satu mobil petugas. Hal tersebut untuk memberi ruang jalur meloloskan diri.


Dor..!


Dor..!


Dor..!


"Cepat masuklah, Andrea...!" ucap Roy sesaat pintu mobil terbuka.


Andrea menyeringai. Matanya menatap nanar sosok Arumi yang duduk memeluk Sonia tak jauh dari tempatnya berdiri. Entah apa yang ada dalam fikiran Andrea saat itu. Namun sepintas tangan Andrea bergerak. Andrea mengarahkan moncong pistol pada Arumi.


"Matilah kau, Arumi...!!" ucap Andrea.


Bersamaan dengan itu bunyi desing peluru menggedor telinga.


DOR...!!


DOR...!!


Semua makin terkesiap karena peluru itu melesat cepat ke arah Arumi.


"Arumi....!!" ucap seorang laki-laki yang dengan cepat menarik tubuh Arumi dan menjadikan dirinya tameng atas Arumi.


"Akh....!" keluh Arumi.


Sebelah tangan Arumi mendekap lengan lainnya. Ada darah yang mulai mengisi sela jarinya.


Sementara itu tak jauh dari tempat Arumi berada. Tepatnya bersamaan dengan keluhan Arumi dua laki-laki turut mengerang.


"Akh...!"


"Akh...!"


Seorang laki-laki yang menjadikan tubuhnya tameng atas Arumi, langsung roboh sesaat setelah butir peluru menggedor dadanya. Darah langsung tumpah membasahi kemeja berwarna putih yang ia kenakan.


"Keive...!!" teriak Arumi saat kesadarannya kembali. Ia pun menghambur mendekati Keive.


Suara mesin kembali meraung. Roy kembali memacu kuda besinya itu untuk pergi dari tempat tersebut. Bersamaan dengan itu beberapa petugas pun kembali mengejar laju kendaraan Roy dan Andrea.


"Mengapa kau melakukan Keive...!"


"Aku..hanya melindungi perempuan...yang aku kagumi, perempuan yang amat aku...cintai"


"Cin-tai...?"


"Ya, Ar. Nyonya Mirza Adyatma...Aku...mencintaimu..." ucap Keive dengan terbata dan terdengar parau.


"Tapi kau tak perlu melakukan hal bodoh seperti ini..."


"Tidak ada hal bodoh dalam cinta, Ar. Akh...!" ucap Keive di akhiri dengan erangan.


"Aku ingin mendengar jawaban mu, Ar. Jawaban di akhir usiaku'


"Bicara apa, Keive..." ucap seorang laki-laki dengan suara khasnya.


"Kak Mirza..." ucap Arumi.


"Maafkan, aku datang terlambat..."


"Bukankah kakak di luar kota?"


"Aku segera kembali begitu mendapat kabar dari Dewa..."


"Kau benar-benar terlambat, Tuan Mirza Adyatma. Karena akulah yang menjadi pahlawan saat ini..."


"Diamlah, Keive. Semakin banyak kau bicara, semakin banyak darah yang keluar..." ucap Mirza sesaat sebelum tubuh kekar itu di letakkan pada sebuah brankar.


"Ar..." panggil Keive.


Tangganya melambai lemah pada Arumi. Melihat itu, Arumi justru menatap Mirza, seakan meminta persetujuan Mirza. Mendapat tatapan Arumi, Mirza pun mengangguk sambil mengurai senyum sebagai tanda izinnya.


Kemudian Arumi pun menghampiri Keive yang tengah mencegah paramedis membawanya ke dalam a**mbulance. Sesampainya Arumi di dekatnya, Keive meraih tangan Arumi. Dan hal tersebut tentu saja membuat Arumi terkesiap. Terlebih Mirza.


Tangannya sedikit terkepal. Walau ia tahu apa isi hati istri 150 cm nya itu, namun tetap saja hatinya beriak. Kacau. Mirza cemburu.


"Katakan jawaban mu, Ar..."


"Aku..Aku tidak mengerti mengapa kau mencintai perempuan yang penuh kekurangan ini?"


"Cinta tak perlu alasan, Ar. Akh...!"


"Keive....!" teriak Arumi saat erangan Keive terdengar.


Sesaat kemudian, tubuh kekar itu pun lesu. Tangan yang semula menggenggam erat jemari Arumi pun kini lunglai. Arumi membekap mulutnya sendiri. Bersamaan dengan itu bulir bening pun meninggalkan relung matanya.


"Keive..." ucap Arumi.


"Sayang...." ucap Mirza yang langsung merengkuh Arumi dan membawanya dalam dekapannya.


"Apakah Keive akan pergi dengan cara seperti ini, Kak..?"


Deg.