150 Cm

150 Cm
Episode 52. Siapa Dalang Perusakan?



Hiks.


Hiks.


Hiks.


"Sayang, ada apa? Katakan...?! Kau dimana?" tanya Mirza sambil merapikan file yang masih berserakan di atas mejanya.


"Sayang....jawablah. Kau dimana?"


Tut.


Tut.


Tut.


"Halo...halo...halo. Sayang...Arumi?!" ucap Mirza gusar.


"Za, ada apa?"


"Entahlah. Arumi menangis. Belum sempat ia berkata apapun, sambungan terputus...."


"Hubungi lagi...."


"Astaga, Sayang..."


"Kenapa...?"


"Tidak aktif..."


.


.


.


.


"Hallo, Nya. Arumi bersama mu?"


"Ya, Kak..."


"Fiuh...Syukurlah kalau Arumi bersama mu"


"Ya, kak. Arumi bersama ku"


"Ada apa dengan...." ucap Elvano terhenti karena Mirza sudah menyambar ponsel dari tangan Elvano.


"Nya, ada apa dengan Arumi? Apa dia baik-baik saja"


"Sepertinya tidak, Pak. Em, lebih baik bapak segera kesini.."


"Kalian ada dimana?"


"Di rumah Arumi..."


"Tunggu aku...!"


Mirza langsung menyambar kunci mobil dan melangkah keluar ruangannya diikuti Elvano. Langkah keduanya begitu tergesa. Beberapa pegawai yang melihat atau berpapasan dengan keduanya faham betul kalaulah telah terjadi sesuatu yang penting karena perilaku yang ditunjukkan kedua laki-laki tampan itu.


Tak lama kemudian, mobil sport silver pun melesat bak anak panah terlepas dari busurnya. Suara raungan mesinnya begitu gahar mengisi ruang udara siang itu.


🌸🌸🌸🌸🌸


Hiks.


Hiks.


Hiks.


Arumi masih terisak. Ada banyak kegamangan yang menyelimuti hatinya. Pun amarah yang mulai menjalari jiwanya. Terlebih saat melihat lukisan miliknya dan ibunya yang rusak.


"Siapa yang telah melakukan semua ini....!"


Arumi meraung pilu. Ia terduduk pada lantai dingin yang belasan tahun ini telah menjadi saksi bisu bahagianya bersama ibunya. Atau pun saksi air matanya yang tumpah saat duka meliputinya.


Sonia yang sejak tadi berdiri tak jauh dari Vanya hanya mampu menatapi putri sambungnya itu. Ada pilu yang juga turut menjalari jiwanya, hingga tak terasa ia pun menangis. Berulangkali Sonia menyapu air matanya yang terus terjun bebas membasahi sebagian wajahnya.


"Maafkan Mami, Ar. Mami tidak tahu. Bahkan kapan kejadiannya pun Mami tidak tahu. Maafkan Mami. Mami benar-benar tidak bisa menjaga rumah ini...."


"Sa...yang...." ucapan Mirza terhenti bersamaan dengan terhentinya langkah panjangnya.


Mata Mirza mengitari seisi ruangan yang tampak berantakan. Terlebih lukisan-lukisan yang rusak.


"Siapa yang melakukan ini semua?" batin Mirza.


Kakinya melangkah begitu cepat menghampiri Arumi. Direngkuhnya kepala Arumi dan dibenamkannya ke dada bidangnya. Tak henti ia mengusap kepala Arumi. Dan sekali waktu ia mengecup lembut pucuk kepala Arumi.


"Aku harus bagaimana, Kak...?" ucap Arumi.


Kedua tangan Arumi memukul satu-satu lengan dan dada Mirza di sela isaknya yang kian menjadi.


Mirza menghela nafas yang amat terasa begitu berat.


"Kita akan cari pelakunya. Segera mungkin..."


Mirza memegang kedua lengan Arumi dan menegakkan tubuhnya. Matanya menatap Arumi penuh perasaan.


"Lihat aku. Lihat aku, sayang..."


Arumi pun menuruti Mirza. Mata keduanya bertemu.


"Masih ada aku. Kita akan cari pelakunya. Aku pun tidak akan rela atas apa yang telah terjadi pada mu ini. Aku janji akan menemukan pelakunya dan memberi pelajaran kepada nya"


"Tapi kak, bagaimana dengan pagelarannya...? Tinggal dua hari lagi..."


"Kita akan cari solusinya. Percayalah..."


Arumi kembali rebah pada dada bidang Mirza. Ada sebuah kesyukuran atas karunia yang Allah berikan kepadanya, yaitu sosok laki-laki yang mampu memberi ketenangan atas kegundahannya.


"Apakah rumah ini dilengkapi CCTV?"


"Hanya bagian tertentu saja..."


"El, coba cek..."


"Siap, Bos. Ayo, sayang..."


"Eits...Vanya di sini saja menemani Arumi" ucap Mirza saat Elvano tiba-tiba saja menggaet tangan Vanya dan membawanya serta.


"Cari kesempatan dalam kesempitan kau, El? Mau ku potong bonus mu..."


"Aduh jangan donk, Bos. Kasihan ibunya anak-anak nanti"


"Ibunya anak-anak yang mana lagi, El..."


"Yang ini..." ucap Elvano sambil mengerucutkan bibirnya ke arah Vanya disertai lirikan matanya


"Emang Vanya mau sama kamu...?"


"Mau, Pak..." jawab Vanya spontan.


"Yes...! Tuh kan, Bos. Mau..." ucap Elvano sumringah sambil menaik-turunkan kedua alisnya sehingga terlihat kocak.


Sementara itu, Vanya sendiri langsung menyimpan wajahnya dalam-dalam setelah memberi jawaban spontan tadi yang untungnya tidak pakai uhui...😜


"Ya, sudahlah. Kalian berdua cek CCTV"


"Terima kasih, Bos..." ucap Elvano sambil kembali menggaet tangan Vanya dan keduanya berjalan beriringan.


"Maafkan, Mami ya..."


"Ya sudahlah, Mi. Arumi juga minta maaf sudah membentak Mami tadi"


"Mi, bisakah Mirza meminta tolong ke Mami?"


"Tentu saja. Katakan, apa yang bisa Mami bantu?"


"Mirza ingin bertemu dengan semua asisten rumah tangga di rumah ini..."


"Baiklah. Mami akan mengumpulkannya di bawah..." ucap Sonia sambil berlalu.


"Ayah kemana, Ar?"


"Ayah check up dengan kak Arya"


"O..."


"Terima kasih ya, kak. Sudah ada disaat aku membutuhkan..."


"Sama-sama, sayang. Em, sekarang kita turun ke bawah ya. Kita cari petunjuk dari para asisten rumah tangga.."


"Baik, Kak..."


🌸🌸🌸🌸🌸


"Ada apa ya? Kenapa kita dikumpulkan?" tanya pak Parmin, sopir pribadi keluarga Permana.


"Mungkin tuan dan nyonya ingin bagi-bagi bonus"


"Eleh...otak mu kok ya bonus mulu, Min"


"Ya ndak apa-apa toh. Namanya juga harapan. Siapa tau e..."


"Selamat siang...." ucap Mirza saat sampai di ujung tangga.


"Maaf, bukannya saya mencampuri urusan rumah ini. Tapi kalian tahu siapa saya?"


"Tahu, Tuan.."


"Good...Saya tidak akan membiarkan siapapun mengusik kebahagiaan calon istri saya. Jadi mari kita mulai saja agar permasalahannya cepat selesai...."


"Permasalahan apa, Tuan?"


"Apa kalian belum tahu?"


"Belum, Tuan..."


"O...tidak apa-apa. Nanti juga kalian tahu. Begini saja yang berhasil memberikan informasi paling akurat, maka saya akan memberikan bonus kepadanya. Bagaimana...?"


"Bonus...? Siap, Tuan..."


"Tiga hari terakhir siapa saja yang datang ke rumah ini?"


Para asisten rumah tangga saling menatap. Saling bertukar informasi melalui tatapan mata.


"Seingat pak Parmin hanya tamu bapak. Itu pun dua hari yang lalu"


"Kemarin sore juga ada tamu bapak. Lalu ada Non Andrea dan suaminya..." ucap mbok Parmi.


Mendengar penjelasan Mbok Parmi, Mirza dan Arumi saling menatap. Di ujung tatapan keduanya ada kecurigaan yang terbersit.


"Bos..." ucap Elvano sambil menghampiri Mirza.


Langkahnya begitu tergesa. Kemudian Elvano menyodorkan ponselnya yang berisi dua buah video hasil rekaman CCTV. Mirza pun langsung meraih ponsel tersebut.


"Kalian boleh pergi..." ucap Mirza sambil berisyarat kepada para asisten rumah tangga.


"Baik, Tuan. Terima kasih..." ucap para asisten rumah tangga hampir bersamaan.


Kemudian Mirza segera menyimak isi rekaman yang tersimpan di ponsel Elvano. Perhatian Mirza tak teralihkan sedikit pun. Matanya telah terkunci pada sosok dalam rekaman tersebut.


Pun juga dengan Arumi. Matanya tiada henti menatap sosok dalam rekaman.


"Andrea keluar kamar dan berjalan di lorong. Dan lorong itu satu-satunya jalan menuju ruangan lukis. Mungkinkah pelaku perusakan itu adalah Andrea ..?" batin Arumi membuat praduga.


Hiks.


Hiks.


Hiks.


"Maafkan Mami, Ar. Jika benar Andrea yang melakukannya, maka tak segan-segan mami akan memberinya pelajaran yang setimpal.."


"Mi, semuanya baru praduga..."


"Tapi mami punya kewajiban menanyainya. Arumi serahkan pada Mami...


"Kenapa? Mami khawatir Arumi akan memenjarakannya?"


"Ar, Andrea anak Mami juga. Mami berkewajiban membimbing dan melindunginya"


"Lalu bagaimana dengan lukisan yang telah dia rusak?! Lukisan yang amat berarti bagi Arumi. Apa Arumi harus melupakan perbuatannya?!"


"Perbuatan apa, Arumi..


Deg.