
Di ruang ICU. Pukul sembilan lewat lima menit. Arumi dan Mirza berdiri dekat brankar dimana Keive terbaring. Bersebrangan dengan keduanya, tampak Maria ibu dari Keive duduk terpekur menatap anak laki-lakinya yang tengah berjuang dengan maut. Di sebelahnya berdiri Lidya, adik perempuan Keive yang sedari tadi sudah berurai air mata. Bagaimana tidak, baginya Keive tidak hanya sosok kakak tapi juga teman dan juga guru.
Hati Arumi sungguh beriak menatap kondisi Keive saat ini. Laki-laki yang telah menyelamatkannya dari muntahan peluru.
"Ma..." ucap Keive dengan suara parau dan lirih sekali.
"Keive..." ucap Maria dengan suara bergetar.
Tangannya menggenggam erat tangan Keive, anak laki-lakinya itu.
"Huk...huk..." Keive batuk tertahan.
Nafasnya tampak payah. Beberapa kali Keive menelan saliva sekedar untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering setelah hampir dua kali dua puluh empat jam tak sadarkan diri.
"Bagaimana kondisimu, nak...?" ucap Maria.
Keive tak menjawab. Ia hanya mengangkat ibu jari sambil tersenyum tipis. Itu pun dengan lemah. Tentu saja dengan sebutir peluru yang mengenai organ vital, Keive adalah manusia paling beruntung karena masih bisa diselamatkan. Walau dengan bermacam alat penopang hidup yang melekat pada tubuhnya, namun paling tidak harapan itu tetap terus ada.
"Keive..." ucap Mirza.
Keive pun mengalihkan perhatiannya. Walau tak menatap wajah Mirza ataupun Arumi, namun dari mimik wajah dan kerling matanya semua tahu bahwa ia menyadari kehadiran keduanya.
"Terima kasih telah menyelamatkan istri ku. Seumur hidup aku berhutang padamu..." ucap Mirza.
Laki-laki tampan pengusaha sukses itu berucap dengan suara sedikit bergetar. Barulah kali pertama ini ia menundukkan hati kepada orang lain.
"Ak-ku...pah-la...wan" ucap Keive susah payah.
Mendengar itu, Arumi mengeratkan dekapannya terhadap Mirza. Bulir bening yang sejak tadi mengerubuti matanya, kini mulai bergerilya dan terjun bebas. Pun demikian, Arumi tetap berusaha agar isaknya tak terdengar Keive.
"Kau pahlawan ku, Keive. Pahlawan keluarga ku. Terima kasih telah menyelamatkan perempuan yang amat aku cintai..."
"Ki...ta...cin-cintai'
"Cukup...jangan lanjutkan. Beristirahatlah, Keive. Jangan bicara lagi. Aku dan kak Mirza sudah tahu cinta mu itu. Kami berterima kasih karenanya" ucap Arumi dengan suara bergetar.
"Ar...." ucap Keive dengan sangat lirih.
"Sudah cukup ngobrolnya tuk hari ini, Keive. Istirahatlah...' ucap Mirza.
"Ma, Lidya...kami pamit dahulu" ucap Arumi sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih, Nak Mirza..." ucap Maria.
"Ar..." panggil Keive.
Kata Keive yang keluar begitu lirih. Pun demikian, masih dapat di dengar oleh Arumi atau pun Mirza hingga langkah keduanya yang baru dua langkah pun terhenti.
"Aku tak tega mengabaikan panggilan Keive, Kak..." bisik Arumi.
"Aku mengerti...."
Mirza ataupun Arumi kembali memutar tubuh. Keduanya kembali mendekati brankar.
"Terima...kasih, Bang. Sudah...mengerti... cintaku atas....Kak Arumi"
"Kakak? Kau memanggilnya kakak. Apa tidak salah...?"
"Aku...sudah...memutuskan...bahwa...Arumi adalah....kakak ku, istri dari...Abang ku"
Mirza mengurai senyum khasnya. Sebelah tangannya menepuk bahu Keive pelan saja.
"Mengapa aku merasa ini adalah waktu perpisahan dengan Keive. Ah, tidak...! Kau pulih Keive" batin Mirza.
"Keive...mengapa ada desiran aneh setiap kau berucap. Setiap kata mu terasa bak perpisahan. Ya, Tuhan...pulihkan kembali Keive. Aku mohon ya, Robb" batin Arumi.
"Kak Arumi....aku suka panggilan itu. Apa kau menyukainya juga, kak?
"Keive...sudahlah. Kau sudah banyak bicara. Sekarang istirahatlah" ucap Arumi.
"Ya, Kak. Istirahatlah. Kak Arumi dan bang Mirza akan menunggui kakak kok. Ya, kan kak, bang..."
"Ya, tentu saja. Mengapa tidak..." ucap Mirza sambil tersenyum dan duduk pada sebuah kursi yang baru saja disiapkan seorang perawat.
"Kak, bang...titip...mama dan...Lidya ya...
"Pasti aku akan menjaga mama dan Lidya. Keduanya adalah keluarga ku" ucap Mirza.
"Kak Arumi..?"
"Ah, ya. Tentu saja. Mama Maria adalah mama ku juga. Dan Lidya adalah adik ku...." ucap Arumi.
"Terima...Kasih" ucap Keive sambil mengerlingkan mata.
"Ma, maafkan....Keive. Ikhlas...kan, Ke-kei-ive..." ucap Keive.
Bip.
Bip.
Bip.
Suara dari monitor alat vital di ruang ICU terdengar cepat dan tentu saja membuat panik. Maria tak hentinya mengguncang tubuh Keive. Begitu pula dengan Lidya. Berulangkali keduanya menyebut nama Keive dengan pilu.
"Dokter...!!" teriak Mirza yang langsung di respon dokter dan perawat yang ada. Mereka tahu betul siapa yang tengah membutuhkan mereka.
Arumi memeluk Mirza. Tangisnya pecah. Terlebih saat alat Defibrillator berulangkali menghentak tubuh Keive. Hingga nada bip itu pun berujung panjang dan menghilang barulah team dokter menghentikan tindakan medisnya.
"Maaf...." ucap seorang dokter.
Matanya menatap Mirza dan katanya jadi hilang. Terutama saat tangan Mirza berisyarat agar semua team dokter meninggalkan ruangan tersebut.
"Keive....!!"
Saat itu waktu bak terhenti. Suasana mendadak sunyi. Benar-benar sunyi. Dunia bak mengerti sedih yang sedang memeluk jiwa. Kata pun menjadi hilang. Dan air mata mulai terjun bebas saat semua menyadari situasi yang ada.
"Kak..." ucap Arumi.
Ia mengeratkan dekapannya pada Mirza. Tangisnya kian pecah dan tak tertahan lagi. Bagaimana tidak, laki-laki yang telah menjadikan diri sebagai tameng untuk Arumi kini telah pergi untuk selamanya sebelum Arumi sempat membalas kebaikannya.
"Sabar ya, sayang..."
"Kau senang, kakak ku mengorbankan dirinya untuk mu. Perempuan yang tak sepatutnya ia cintai. Apa kau bahagia? Apa kau puas...?" ucap Lidya ketus.
"Aku...."
Kata Arumi hilang. Mulutnya bak terkunci. Terlebih saat kata dan tatapan mata Lidya yang menyerang dan menghakimi dirinya.
"Tentu kau bahagia menjadi rebutan para laki-laki. Perempuan yang mempunyai kekurangan, tapi banyak digilai laki-laki. Apa kau mengguna-gunai kakak ku atau banyak laki-laki lainnya?" ucap Lidya.
"Lidya...Jaga bicara mu! Bukan waktu dan tempat yang tepat untuk mengatakan hal seperti itu!" ucap Maria di sela isaknya.
"Pasti dalam hati mu kau tertawa..." ucap Lidya.
"Kita pergi, sayang..." ajak Mirza.
Ia tahu situasi yang tengah terjadi mungkin saja menyakiti perasaan orang yang ia cintai, Arumi.
Arumi pun mengiyakan ajakan suami tampannya itu. Namun baru dua langkah, kata Lidya kembali membombardir hati Arumi.
"Pergi..! Pergilah...! Dasar pembunuh...!"
PLAK...!
"Tutup mulut mu, Lidya...!" teriak Maria yang dibarengi dengan sebuah tamparan di wajah Lidya.
Gadis yang baru saja merayakan pertambahan usia diangka dua puluh itu terkesiap atas tindakan Maria barusan. Sebelah tangannya
"Lancang....! Kau tidak tahu siapa tuan Mirza bagi kakak mu?!"
"Ma...!"
"Cukup...Kau tidak dengar apa kata kakak mu tadi...?"
Lidya terdiam. Wajahnya tersimpan di ujung sepatunya. Tak lama kemudian, air matanya pun satu-satu kembali jatuh tak tertahankan.