
Pagi sekali Arumi sudah berada di sisi lain gedung galeri. Tempat perhelatan pagelaran seni lukis digelar. Tempat yang sudah di padati peserta pagelaran. Mulai usia dini hingga mahasiswa turut terlibat dengan jumlah lebih kurang seribu lima ratus peserta. Suasana pun menjadi riuh oleh gelak tawa atau pun celoteh dari peserta yang ada.
Bergemuruh rasa di dada Arumi menyaksikan semua itu. Ia benar-benar tak menduga jika rencana pagelarannya akan disambut sedemikian luar biasa.
"Selamat nona Arumi. Kau berhasil menyelenggarakan pagelaran seni lukis yang menjadi cita-cita mu selama ini. Aku harap karya mu tidak sampai di sini saja..." ucap Pakusadewo, pengelola galeri.
"Terima kasih, Pak. Semua karena bimbingan, arahan dan bantuan bapak"
"Sudah menjadi kewajiban saya, Non..."
"Sekali lagi terima kasih..."
"Sama-sama, Non..."
Dan begitulah percakapan singkat Arumi dan Pakusadewo. Percakapan diantara riuh-rendah suara saat pembukaan perhelatan di mulai. Arumi pun turut bertepuk tangan memberi apresiasi kepada Arka yang baru saja turun dari podium. Arka telah mengawali dimulainya acara bertajuk 'Mari Melukis'.
Senyum Arka mengembang saat melihat Arumi yang tengah berdiri menatapnya.
"Semua hadiah dari setiap kategori sudah siapa, Kak?"
"Sudah. Vanya sudah mengaturnya..."
"Siap. Dan dia acara penutupan nanti Tuan Mirza Adyatma akan hadir sesuai rencana..."
"Baiklah..."
🌸🌸🌸🌸🌸
Sementara itu, diwaktu yang sama pada tempat yang berbeda. Tampak Permana dan Edward duduk berhadapan. Dua cangkir kopi tampak tersaji dihadapan keduanya. Tiada pergerakan ataupun percakapan yang terjadi. Keduanya yang masih terlihat sama-sama diam. Sepertinya kedua laki-laki itu tengah bergelut dengan fikirannya masing-masing.
Tampak Permana menghela nafas. Ada sesak yang menderanya saat itu. Bahkan kekhawatiran pun mulai menggelitik ujung hatinya. Sesekali matanya menatap lekat Edward yang duduk di hadapannya.
"Aku masih tak mengerti, mengapa kau tiba-tiba saja datang. Dalih mu untuk mencari Yuki dan meminta maafnya lebih terasa sebagai sebuah kedustaan saja..."
"Jaga bicaramu. Aku tulus melakukannya. Dan mengetahui siapa Arumi sebenarnya adalah bonus teristimewa ku saat ini..."
"Sejak kapan kau mengetahuinya...?"
"Sejak setahun setelah kepergiannya. Aku menemukan hasil laboratoriumnya terselip di buku hariannya. Dan aku baru mengetahuinya jika kepergiannya saat itu dibarengi kehamilannya yang berusia tiga minggu. Hal tersebut diperkuat dengan tulisan tangan Yuki pada lembar buku hariannya"
"Mengetahui itu, apa yang kau rasakan..."
"Penyesalannya. Kepergiannya telah memberi ku pelajaran dan menghadiahi ku sebuah penyesalan sepanjang sisa umur ku"
"Apa kau tidak mencarinya?"
"Sudah. Selama hampir tujuh belas tahun, aku mencarinya. Aku mengirimkan orang-orang kepercayaan ku ke seantero belahan dunia. Dan dua tahun terakhir ini, barulah aku menemukan titik terang tentang keberadaannya. Aku pun memutuskan kembali ke tanah air ku, karena Yuki pun ternyata berada di sini"
Permana terdiam.
.
.
.
Hanya keheningan yang menyelimuti keduanya. Keduanya baru menyadarinya, jika pertemuan keduanya justru akan menguak luka lama dan kemungkinan akan menorehkan luka baru.
"Apa kau menjadi pengecut untuk menerima kenyataannya ini?"
"Sejak awal aku menyadari bahwa di suatu hari aku akan dihadapkan pada situasi seperti ini. Dan aku bukanlah seorang yang pengecut..."
"Lalu mengapa kau tidak memberitahu Arumi?"
"Waktunya belum tepat..."
"Jadi kau berniat memberitahunya?"
"Ah, tentu saja aku akan memberitahunya bahwa aku bukan ayah kandungnya"
"Baguslah..."
"Tapi aku tidak rela jika kau yang menjadi ayahnya. Laki-laki pengecut seperti mu rasanya tak pantas jika memiliki anak seperti Arumi" ucap Permana sinis.
"Sesuai atau tidak, rela atau tidak. Ini adalah sebuah kenyataan bahwa Arumi adalah anak kandung ku..."
Edward tersenyum penuh kemenangan.
"Sial...!" ucap Permana berang.
"Aku berterima kasih pada mu karena sudah merawat dan membesarkan Arumi dengan baik..."
"Tak perlu berterima kasih. Semua kulakukan karena cinta ku pada Yuki"
Edward menarik nafas. Mata hitamnya menatap tajam Permana.
"Aku iri padamu..."
"Iri? Kenapa?"
"Kau telah mendampingi Yuki hingga akhir hayatnya. Sedangkan aku terperangkap pada cinta semu yang sukses menghadiahi ku rasa penyesalan yang mendalam"
"Kau nikmati saja. Apa yang kau tanam itulah yang tuai..."
Mata Edward berkaca-kaca. Dia hampir tak dapat menahan gemuruh di dada yang telah menjadi badai itu.
Permana terdiam. Hatinya pun beriak. Ada sesak yang menghimpit dadanya membuat hatinya bergemuruh hebat.
Tak lama kemudian, Permana pamit. Ia meninggalkan Edward yang masih menyeruput kopi yang sedikit mengebul itu.
"Arumi...Maafkan ayah, Ndok. Sesungguhnya ayah sudah menjadi pengecut. Ayah tak sanggup memberitahu mu yang sebenarnya. Semua karena rasa sayang ku pada mu. Dan kini sebuah kenyataan tengah menanti. Kenyataan bahwa kau bukanlah anak kandung ku. Kenyataan bahwa kau adalah anak kandung Edward. Ah, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara ku memberitahunya...?" batin Permana di sela langkahnya menuju mobil yang terparkir didepan sebuah cafe.
Pagi itu suasana hati Permana dipenuhi mendung. Ada Kegamangan yang menduduki hatinya. Ia benar-benar tak tahu bagaimana menghadapi Arumi nanti.
Tak terasa air mata Permana menitik. Pilu ia rasakan. Saat ini ingatannya justru mengembara. Menyulam kembali keping kenangan bersama istri yang amat ia cintai, Yuki Hirata. Dan ingatan itu akhirnya membuat Permana tergugu dalam Isak tangisnya. Ia benar-benar tenggelam dalam kepiluan yang mendalam. Kepiluan yang tak pernah sirna walau kini ia telah memiliki wanita lain, Sonia.
Lama Permana termangu. Mobilnya pun tak bergerak sedikit pun. Ia masih belum beranjak dari parkiran cafe.
Tok.
Tok.
Tok.
Kaca jendela mobil diketuk seseorang. Permana pun mendongak sesaat ke arah jendela. Secepat kemudian, Permana mengakhiri isaknya. Tangannya pun segera menyapu wajah yang sudah basah air mata sejak tadi.
"Tuan...Apa tuan baik-baik saja?" tanya Ryu.
Permana menurunkan kaca jendela. Dan berusaha mengurai senyum khasnya.
"Ya. Aku baik-baik saja..."
"Syukurlah..." ucap Ryu lega.
"Terima kasih atas perhatiannya. Dan...saya pamit ya"
"Ya, Tuan. Selamat jalan..." ucap Ryu sambil menjura takzim saat mobil Permana mulai bergerak dan berlalu.
Mata Ryu terus menatap kepergian Permana. Hingga menghilang di ujung jalan. Ryu menghela nafas panjang. Kemudian matanya menatap langit yang membiru dengan matahari yang bersinar lembut. Ya..saat itu adalah pukul sembilan lewat tiga menit.
Kemudian Ryu pun melajukan mobilnya. Menyusuri jalanan dengan kecepatan sedang. Laju mobilnya jelas mengarah ke galeri dimana pagelaran berlangsung.
🌸🌸🌸🌸🌸
Pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Acara pun telah selesai. Arumi berdiri menatap keriuhan. Senyumnya tak henti menghiasi wajahnya. Dan seulas wajah tampan telah menarik perhatiannya. Wajah itu tak lain tak bukan adalah milik Mirza Adyatma yang baru saja selesai memberikan trophy, beasiswa dan piagam kesertaan.
"Ada yang melamun nieh. Terpesona dengan kak Mirza?"
"Ah, kau tahu saja. Hahaha..."
"Aku sahabatmu. Tentu saja aku tahu. Em, Ar siapa laki-laki di sudut sana? Sejak tadi selalu memperhatikan mu.."
Mata Arumi mengikuti arah pandang Vanya. Kemudian Arumi tersenyum saat mengetahui laki-laki yang dimaksud Vanya.
"Dia kak Ryu. Kakak laki-laki ku..."
"Apa ka-kakak laki-laki mu..."
"Ya. Dia kakak laki-laki ku seibu, berbeda ayah. Ceritanya panjang. Em, mari aku kenalkan?"
Hanya hitungan detik Arumi sudah menggaet tangan Vanya. Arumi membawa Vanya menyertai langkahnya menuju Ryu. Sedikit berontak Vanya diperlakukan demikian. Namun saat menatap kembali wajah Ryu, Vanya manut saja. Saat itu hati Vanya tengah dilanda rasa penasaran yang hebat.
"Kak, ada yang ingin kenalan nieh..." ucap Arumi asal.
"Oya..."
Mata Ryu begitu lekat menatap Vanya. Dan hal itu tentu saja membuat hati Vanya tak karuan.
Deg.
Deg.
Deg.
Degup jantung Vanya berpacu dengan cepat. Wajahnya merona. Ada desiran aneh yang ia rasakan. Desiran yang berbeda saat ia bersama Elvano sekali pun.
"Hadeuh...Arumi. Aku kan jadi malu" batin Vanya.
"Hei...Aku Ryu"
Tangan Ryu menjulur menunggu sambutan Vanya.
"Aku...Aku. Aku Vanya..." ucap Vanya gagu.
Tangannya pun menyambut tangan Ryu.
"Wah...teman mu cantik, Ar"
BLASH....
Merona wajah Vanya mendapat pujian tersebut. Matanya tak henti menatap Arumi seakan meminta pertolongan.
"Rasakan. Sejak tadi kau menggoda ku. Sekarang aku membalas mu..." bisik Arumi.
"Sialan kau, Ar..."