150 Cm

150 Cm
Episode 112. Hari Kebebasan Ryu...



Duduk Arumi di sebelah Edward. Tak jauh darinya Mirza, Reza, Vanya dan...Elvano. Tak lupa pak Baron, selaku pengacara duduk ataupun berdiri berdekatan.


"Kau tidak apa-apa, Ar..." ucap Edward.


Matanya menatap lengan terluka Arumi yang dibalut. Ada cemas di ujung tatapannya. Dan seiring rasa itu, Edward pun langsung merengkuh anak perempuannya yang baru ditemukan itu. Edward membawa Arumi ke dalam dekapannya yang erat. Itu pun sebelum Arumi sempat menjawab pertanyaannya.


"Maafkan papa, Ar.." ucap Edward lagi.


Arumi terdiam. Ia membiarkan laki-laki paruh baya itu mendekapnya. Laki-laki yang merupakan ayah kandungnya. Laki-laki yang lebih dari dua puluh tahun baru ia temukan.


"Arumi tidak apa-apa, Pa. Arumi baik-baik saja..."


"Bagaimana kau bisa mengatakan baik-baik saja, jika lengan mu saja terluka. Apa yang sudah papa lakukan, Ar? Papa sudah melukai anak papa yang lain demi menyelamatkan anak lain..." ucap Edward.


Bulir bening yang sejak tadi mengerubuti matanya kini mulai bergerilya dan terjun bebas. Tubuh laki-laki yang kini sedikit kurus itu pun terguncang karena isaknya.


"Dan bersalahnya papa, ada korban lain yang sampai kehilangan nyawanya. Papa sangat bersalah, Ar. Apa yang harus papa lakukan..?"


"Semua hanya sebuah kecelakaan. Bukan salah papa..." ucap Arumi mencoba menenangkan.


"Sekarang yang harus papa lakukan adalah tersenyum..." ucap Arumi sambil mengusap air mata yang kian bergerilya itu.


Tangan Arumi menarik sebuah kedua sudut bibir Edward. Isyarat agar Edward segera tersenyum.


"Pa, sebentar lagi kita akan bertemu kak Ryu. Jadi sedih kita sebaik mungkin kita simpan dahulu. Kita sambut kak Ryu dengan bahagia. Karena sudah semestinya demikian..."


Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki. Dari derapnya sepertinya lebih dari sepasang kaki. Dan benar saja, Ryu berdiri di ambang pintu diiringi dua orang petugas. Wajahnya tampak tirus setelah kurang lebih tiga puluh hari berada di balik jeruji besi. Rambutnya sedikit berantakan.


Edward berdiri. Matanya menatap Ryu lekat. Pun demikian dengan Ryu. Matanya menatap Edward penuh perasaan. Ada bulir bening yang mulai mengerubuti matanya. Dan tiba-tiba saja Ryu melangkah cepat menghampiri Edward. Ia bersimpuh. Kedua tangannya memeluk erat kaki laki-laki paruh baya itu.


"Maafkan Ryu, Pa. Maafkan..." ucap Ryu di sela isaknya.


"Bangun Ryu. Bangun..! Berdiri...! Pantang seorang laki-laki menumpahkan air matanya untuk sesuatu yang tak patut...!" ucap Edward.


Mendengar itu Ryu kian tersedu dan mengeratkan dekapnya.


"Maafkan Ryu, Pa. Ryu tidak mengindahkan nasihat papa sedikit pun. Ryu dimabukkan cinta buta yang gila..." ucap Ryu.


Edward membungkuk. Diraihnya bahu Ryu dan menariknya agar berdiri. Mendapat perlakuan tersebut, Ryu manut. Ryu pun berdiri. Wajahnya ia simpan di ujung sepatunya. Sungguh ia merasakan penyesalan dan malu tiada tara.


"Nak, bangkit. Kami semua ada untuk mu. Tak perlu malu. Semua bisa melakukan kesalahan. Dan...papa sudah memaafkan mu" ucap Edward yang kembali memeluk anak laki-laki nya itu.


"Terima kasih, Pa. Pasti Ryu akan selalu membutuhkan dukungan papa dan juga semua" ucap Ryu.


Kali ini matanya beredar menatap satu persatu yang hadir.


"Arumi..." ucap Ryu saat matanya mendapati sosok perempuan 150 cm itu.


"Kak..." ucap Arumi sambil mengumbar senyum khasnya.


"Kemarilah..." ucap Ryu lagi.


Mendapati isyarat tersebut, Arumi segera menghampiri Ryu dan Edward. Ketiganya pun kemudian saling berpelukan dan saling memberi dukungan. Ada bulir bening yang kembali bergerilya dari mata Arumi. Hatinya benar-benar beriak. Rasanya up and down bak naik rollercoaster.


Segudang syukur pun ketiganya panjatkan. Sebuah ungkapan yang sesungguhnya tak dapat dilukiskan dengan kata.


"Alhamdulillah...semua menjadi lebih baik sekarang. Em, kita pulang yuk sudah siang..." ucap Arumi kemudian.


"Aku juga sudah lapar. Hehe..." ucap Ryu diakhiri dengan tawa ringannya.


"Mirza..." sapa Ryu dengan mengurai senyum.


Keduanya pun saling bertegur sapa sambil saling rangkul.


"Terima kasih sudah membantu ku. Aku berhutang banyak pada mu..." ucap Ryu.


"Sekali lagi terima kasih..."


Kemudian Ryu menatap Elvano yang sejak tadi bersikap sedikit rikuh. Hatinya tengah bersiap jika saja mendadak ia dapati adegan yang tak diinginkan. Adegan yang diperlihatkan Ryu bersama Vanya.


"El, apa kabar?" sapa Ryu.


Sementara El, yang disapa hanya terpaku. Rupanya fikirannya tengah mengembara. Entah kemana. Hingga ketiga kali, barulah kesadaran Elvano kembali. Itu pun dengan hilangnya kepiawaian mengolah kata yang biasa Elvano tunjukkan. Yaah...Elvano jadi gagu.


"Hei... Ryu. Apa kabar mu?"


"Sepertinya kita berdua dalam keadaan baik-baik saja..." ucap Ryu sambil mengurai senyum.


Ryu tahu bagaimana perasaan Elvano saat ini. Dan ia dapat mengerti akan hal tersebut.


"Terima kasih atas bantuan mu. Aku berhutang kepada mu juga..."


"Santai, Bro..." ucap Elvano berusaha se-rileks mungkin.


"Ku rasa yang mestinya wajib dan kudu bersantai adalah kak Elvano..." bisik Arumi pada Mirza.


"Sstt...Pelankan suara mu. Kalau tidak si kutu kupret itu mendengarnya" timpal Mirza sambil menatap sekilas Elvano.


"Duuh... kuat-kuatlah hati" batin Elvano saat Ryu menghampiri Vanya.


"Hei..." sapa Ryu dengan senyum khasnya.


"Hei..." balas Vanya sambil tersenyum tipis.


Jelas dari gerak-geriknya, Vanya rikuh. Matanya tak dapat fokus menatap Ryu. Hanya sesekali saja manik matanya sempurna menatap Ryu.


"Aku tahu semua yang telah kau lakukan untuk ku. Arumi menceritakan semuanya. Dan aku sangat berterima kasih atas semua yang telah kau lakukan" ucap Ryu.


"Ah, kak Ryu tidak perlu sungkan seperti itu..."


"Em, permintaan ku saat itu apakah sudah kau fikirkan..?"


Deg.


.


.


.


Vanya terdiam. Degup jantungnya seakan terhenti sesaat. Hatinya pun beriak. Sementara fikirannya mengembara pada waktu Ryu mengutarakan permintaannya itu.


"Jika belum memiliki jawabannya, aku maklum. Dan mari kita saling belajar untuk memulai apa yang semestinya kita mulai sejak dahulu..." ucap Ryu dengan suara bergetar dan begitu hati-hati.


"Em, ya...." ucap Vanya gagu.


"Em, ya. Bagaimana maksudnya...?" ucap Ryu.


"Aku...aku memang belum punya jawabannya. Karena itu mari sekali lagi kita belajar untuk mengenal dahulu. Kita mulai segalanya dari awal.."


"Ah, sial...!! Enak sekali kau Ryu. Yang sudah kau buang, kini hendak kau ambil kembali. Sungguh tak tahu diri..." batin Elvano.


"Sabar..El. Semua ada waktunya" ucap Mirza.


Sebelah tangannya menepuk bahu asisten pribadinya itu. Mirza tahu betul seperti apa perasaan Elvano saat ini.


Hari semakin siang. Mentari pun kian berkompromi dengan langit agar sinarnya sampai ke bumi. Sementara itu sesekali awan putih pun menggoda di perut langit. Ia tengah bercerita tentang segala rasa yang tengah di alami setiap anak manusia seperti Mirza dan Arumi, atau Ryu dan Vanya dan juga Elvano.


Apa dan bagaimana, hanya waktu yang akan memastikan semua itu.