150 Cm

150 Cm
Episode 90. Jatuh Hati



Bunga matahari tampak bergoyang ditiup angin lalu. Warnanya tampak tetap menyala walau di bawah keremangan cahaya lampu taman di antara kuntum bunga lainnya. Keive duduk pada sebuah kursi taman. Matanya menatap hamparan lampu hampir segenap kota. Kerlip cahayanya mampu membius hati menjadi sebuah ketakjuban. Di sebelahnya duduk pula Andrea yang tiada henti menatap keindahan yang ada. Ya, saat ini keduanya tengah berada pada bukit Xy. Sebuah perbukitan yang sudah menjadi satu diantara destinasi wisata kota B.


"Aku senang berada di sini. Semua tampak indah. Terima kasih..."


"Hah....dia berterima kasih kepada ku. Esok aku yakin kau akan mengumpat ku" batin Keive.


"Bawakan pesanan ku..." ucap Keive pada seseorang di ujung telepon yang baru saja ia hubungi.


Tak lama Rauf pun datang dengan membawa paper bag berisi minuman dan beberapa kudapan.


"Temani aku malam ini di sini ya..?"


"Di sini...?"


"Kenapa? Kau keberatan?"


"Oh, sama sekali tidak...."


"Sial...Aku kira di hotel atau tempat yang lebih privat, ternyata di tempat umum seperti ini. Selera mu aneh, Ans..." batin Andrea.


"Apa kau tidak menyukai tempat ini...?" ucap Keive seraya bangkit dari duduknya.


"Aku suka. Tapi jika saja kau mengatakannya sejak awal, tentu aku akan lebih siap dan tidak memakai pakaian seperti ini..."


"Haha..."


Keive melepas jaket yang dipakainya. Keive menyelimutkan jaketnya tersebut pada Andrea yang sejak tadi terlihat gigil karena dingin mulai menyergap. Sejenak Andrea terkesiap. Kemudian senyumnya benar-benar mengembang menghiasi wajah cantiknya.


"Terima kasih..." ucap Andrea.


Keive tersenyum. Tangannya menuang minuman dan menyodorkannya kepada Andrea.


"Kau tahu An, kenapa aku menyukai tempat ini?" ucap Keive sesaat setelah meneguk tuntas minuman di gelas yang dipegangnya.


"Tentu karena keindahannya..."


"Ya. Kau benar. Tapi ada hal lainnya sehingga aku rutin berada di tempat ini"


"Apa...?"


"Papa ku..."


"Papa mu...?"


"Ya, Papa. Saat berada di sini papa memberikan banyak nasihat kepada ku. Baik tentang hidup maupun tantangan bisnis yang kini ku geluti"


"Wah, bisa melow juga nieh laki. Biasanya laki-laki seperti ini penyayang..." batin Andrea.


"Dan jika aku kangen papa atau sekedar me-review segala ucapan papa, maka aku akan datang ke tempat ini..."


"Dimana papa mu sekarang....?"


"Empat tahun lalu ia pergi meninggalkan kami semua..."


"Maksudmu....?"


"Papa sudah tiada..."


"Maaf. Aku turut bersuka..." ucap Andrea.


Tangannya mengusap lembut bahu Keive. Hati Andrea beriak. Ada rasa yang menyentuh sisi sensitivitasnya sehingga ia bersimpati.


"Terima kasih..." ucap Keive datar.


Sekali lagi ia meneguk tuntas segelas minuman di tangannya. Sementara matanya menatap jauh pada hamparan kerlip cahaya lampu sejauh mata memandang.


"Apakah kau hidup sendirian selama ini? Emm, maksud ku keluarga mu yang lain dimana?"


"Kamu benar. Aku sendirian. Aku anak tunggal. Dan mama..."


"Dan mama mu....?"


"Setahun lalu pergi meninggalkan ku untuk selamanya..."


"What...! Ya, Tuhan. Maafkan aku, Ans" ucap Andrea.


Lagi-lagi tangannya mengusap lembut. Kali ini lengan kekar Keive yang menjadi sasaran. Wajah Andrea pun tampak menyesal karena bisa jadi telah mengungkit duka Keive.


"Terima kasih, An..." ucap Keive.


"Ansal....di luar tampak acuh, di dalam begitu peduli dan melow. Laki-laki tipe ini tentu amat penyayang jika sudah menemukan tambatan hatinya. Aku harus memilikinya. Bagaimana pun caranya. Ah, sial...! Ternyata aku sudah gila karena sudah jatuh hati pada laki-laki ini dalam waktu dua hari saja. Ah, benar-benar sial..." batin Andrea.


Andrea tanpa menyadari bahwa tangannya sudah melingkar erat pada lengan Keive. Kepala Andrea pun telah rebah pada lengan tersebut. Melihat itu, Keive menyimpan senyum. Jelas sekali jika senyum itu menggambarkan sebuah kemenangan atas penaklukan Andrea.


"Apa kau masih ingin minum?"


"Tidak, Ans. Nanti bisa-bisa aku tidak mampu berdiri lagi. Hehe..." ucap Andrea walau sebenarnya sudah sedikit teler.


"Oya....? Tapi kau tak perlu khawatir, karena aku akan menggendong mu. Haha...."


"Sungguh...?"


"Tentu saja..."


"Kau baik, Ans..."


"Apa kau menyukai ku...?"


"Ya. Aku menyukai mu. Bahkan sangat menyukai mu"


"Hah...kau terlalu cepat memutuskan, An. Kau tidak tahu maksud ku yang sebenarnya..." batin Keive.


"Ans..."


"Eemmm...."


"Apa kau menyukai ku...?"


"Sial...! Perlukah aku menjawabnya bahwa aku tidak menyukainya? Bahkan aku jijik. Cantik rupa, busuk hati mu Andrea" batin Keive.


"Tentu saja. Mengapa...?"


"Ternyata cinta itu gila..."


"Gila...?"


"Ya. Lihat saja kita. Baru dua hari kita bertemu tapi sudah saling jatuh cinta"


"Tidak perlu menunggu lama untuk jatuh cinta. Karena rasa itu bukan terletak pada berapa banyak pertemuan terjadi. Semua kehendak takdir pastinya...." ucap Keive.


"Oh, Ans...Aku mencintai mu. Sangat mencintai mu. Apa pun akan aku lakukan untuk mu"


"Wow... amazing. Ini adalah rekor terbaru seorang Keive. Dalam waktu dua hari sudah membuat bertekuk lutut seorang perempuan. Tapi apakah benar demikian? Atau ini hanya sebuah sandiwaranya saja? Ah, perduli setan...! Mau benar atau tidak, aku tak peduli. Yang terpenting misi cepat terselesaikan" batin Keive.


"Benarkah...?"


"Tentu saja, Ans. Kau ingin bukti apa dari ku. Katakan saja. Apa kau ingin aku terjun bebas dari bukit ini, Ans?"


"Ah, ada-ada saja. Tentu saja tidak. Saat ini aku bum butuh pembuktian mu. Mungkin esok atau lusa atau nanti. Entahlah..."


"Keraguan mu terhadap ku juga berlaku untuk mu, Ans. Aku pun butuh pembuktiannya mu..."


"Apa aku harus tekun bebas dari bukit ini, Andrea...?"


"Haha...kau lucu, Ans. Itu ucapan ku barusan. Itu konyol"


Tangan Andrea memukul lengan Keive yang masih menjadi alas gelayutan dan rebahan kepalanya.


"Lalu aku harus apa?"


"Peluk aku, Ans. Aku kedinginan..."


"Sial....permintaan yang menjijikkan" batin Keive.


"Ans...." ucap Andrea sambil menatap Keive.


Mau tidak mau, demi kelancaran misi akhirnya Keive meluluskan permintaan Andrea. Tangan kekar Keive kemudian mendekap tubuh Andrea. Walau bermula sedikit ragu, namun saat teringat Mirza akhirnya


"Kemarilah..." ucap Keive.


Mendapat sinyal itu, Andrea langsung menghambur ke dalam dekapan hangat Keive. Beberapa saat Andrean terlena oleh aroma maskulin tubuh Keive. Aroma yang ternyata sukses membuat lambung fikirannya.


"Ah, sial...Seperti dugaan ku, dekapannya begitu nyaman dan menghangatkan. Dan aroma ini begitu menggoda ku. Akankah kau benar-benar jatuh hati pada ku, Ans....?" batin Andrea yang masih merasai wangi aroma maskulin tubuh Keive.