
"Wah, tak terasa sudah waktunya kau mengikuti pagelaran" ucap Mirza.
"Kenapa..."
"Kau akan lama di sana. Satu bulan. Dan aku akan dilanda kangen akut sepertinya..."
"Egh..."
Mata Arumi menatap laki-laki tampan di hadapannya. Ia masih belum bisa percaya bahwa laki-laki yang biasa irit bicara itu kini begitu lancar mengutarakan perasaannya.
"Apakah ini mimpi.." batin Arumi sambil mengucek telinganya yang gatal atau pun hal lainnya.
"Kenapa? Ada masalah dengan telinga mu? ucap Mirza.
"Mungkin semut..."
Mirza langsung bereaksi. Tangannya menyibak lembut rambut yang menutupi telinga Arumi. Sementara matanya menilik telinga Arumi dengan teliti. Ada kecemasan di ujung tatapannya. Berulangkali Mirza menelengkan kepala untuk memastikan Arumi baik-baik saja. Mirza tidak ingin terjadi sesuatu pada Arumi sekecil apa pun masalahnya. Nice ya....
Sementara itu Arumi sendiri menatap sepintas wajah tampan milik Mirza sambil menyimpan senyum. Tubuhnya menjadi sedikit kaku karena perlakuan Mirza tersebut. Begitu pula hatinya turut berdesir hebat dengan degup jantung yang kian bertalu saat hembusan hangat nafas Mirza mengenai sebagian wajahnya.
"Tidak ada apa-apa. Mungkin sudah jatuh saat kau mengusek nya tadi..."
"Hadeeuh....kok malah jadi panjang begini sih. Padahal aku hanya bereaksi atas dirinya yang tak biasa. Tapi...apa ini? Mengapa ada desiran aneh menyergap hati ku? batin Arumi.
Arumi menghela nafas. Matanya kembali mengarungi hamparan panorama yang sejak tadi telah memikat hatinya. Arumi memejamkan mata. Ia tengah merasai belaian sang bayu pada wajah dan tubuh yang mulai gigil.
Tangan Arumi bersedekap berusaha mengurangi hawa dingin yang baru saja menyergap tubuhnya. Sementara itu, hatinya terus menimbang atas rasa yang baru saja ia temukan.
"Em, Ar. Kita makan, ya..." ucap Mirza sambil menyodorkan hamburger nih size.
Arumi tersenyum sambil menggeleng perlahan.
"Aku diet, Pak. Ini makanan sampah. Bisa-bisa langsung naik berat badan ku, Pak"
"Aku sudah tidak peduli, Ar. Karena aku sudah jatuh cinta padamu. Bukan cum sekali tapi berkali-kali"
"Terima kasih, Pak. Tapi sekali lagi saya meminta kepada bapak. Tolong buat saya kembali jatuh cinta kepada bapak..."
GREEP....
Tiba-tiba saja Mirza merengkuh Arumi dan mendekapnya. Diperlakuan demikian, tubuh Arumi sesaat menolaknya. Entah mengapa. Pun demikian, walau sebagian hatinya menolak, namun sebagian lainnya harus mengakui bahwa ia menyukainya.
"Kau harus tolak jika dia ingin melakukan hal yang berlebihan lagi. Harus...! Pertahankan harga diri mu..." batin Arumi.
"Ini cinta. Tidak berkaitan dengan harga diri. Tiada istilah menolak. Kau tinggal mengikuti saja kemana cinta akan membawa mu..." batin Arumi lainnya.
"Jangan pergi...."
"Egh..."
"Tapi ini penting, Pak. Ini cita-cita saya sebenarnya. Saya harus melakukan ini sebelum saya terjun di dunia bisnis seperti yang ayah inginkan"
Mirza lagi-lagi menghela nafas sambil mengurai dekapannya. Ia begitu berat dengan keinginan Arumi tersebut. Tapi apa mau dikata itu adalah hak Arumi, ia tak memiliki kewenangan apa pun.
"Aku khawatir, Ar. Khawatir ada yang ingin mencelakai mu lagi. Kalau boleh aku akan menyertai untuk menjaga mu"
"Hehe...Tak perlu, Pak. Dan lagi saya tidak sendiri ada banyak teman-teman pelukis lainnya. Jadi bapak jangan berlebihan seperti itu ah..."
"Atau...saya sertakan dua atau tiga bodynya menjagamu?"
"Awas..jika bapak sampai melakukan itu. Saya akan marah dan tidak akan pernah mau menemui bapak lagi..."
"Ish...ambekan loh. Kalau tidak mau ya sudah. Tapi berjanjilah kau akan selalu berkirim kabar kepadaku..."
"Baiklah..."
"Mengapa aku merasa jika Arumi begitu acuh menanggapi permintaan sederhanaku tadi? Apa Arumi benar-benar sudah tidak mencintai ku lagi?" Ayolah, Za. Positif thinking. Yakin bahwa kau bisa memilikinya..." batin Arumi.
"Pak, bisakah kita pulang sekarang. Sudah malam..." ajak Arumi
"Ok..."
Sepanjang perjalanan pulang tak ada kata sedikitpun yang terucap. Baik Arumi maupun Mirza hanya diam dalam fikirannya masing-masing.
"Terima kasih sudah mengantar..." ucap Arumi sedikit gagu mengakhiri diamnya.
Mirza hanya tersenyum menanggapi ucapan Arumi. Tangannya terangkat sejenak untuk selanjutnya melajukan mobil sport silver-nya dengan kecepatan tinggi. Hatinya bergemuruh. Barulah Arumi yang berani bersikap seakan mengacuhkannya. Karena biasanya ialah yang akan bersikap dingin dan acuh kepada para gadis yang sudah menggilainya.
"Mirza menghentikan mobil dengan tiba-tiba. Ia memukul kesal kemudi berulangkali. Ada kesal yang menyelimuti hatinya. Bagaimana tidak, ia merasa begitu sulit meraih Arumi ke dalam dekapannya dan menjadi miliknya.
"Arumi...bagaimana cara ku agar kau menjadi milik ku sepenuhnya? Katakan Arumi...!" ucap Mirza dalam remang lampu jalan.
🌸🌸🌸🌸🌸
"Baru pulang, Ndok...?"
"Ayah...Belum tidur?
"Bagaimana ayah bisa tidur jika putri ayah belum pulang. Ayah khawatir. Bahkan Mami Sonia pun demikian. Ia merasa tidak kau hargai karena kau datang dan pulang sesuka mu tanpa memberitahunya. Apa anak ayah sudah menjadi orang yang tak bertanggung jawab?!"
"Arumi tidak bermaksud demikian, Yah. Arumi hanya..."
"Sudah... sudah. Tidurlah...Sudah malam. Besok pagi temui mami Sonia dan minta maaflah..."
"Baik, Yah..."
Arumi langsung menaiki anak tangga. Hatinya sedikit gerimis, ada kata yang berhasil mengusik ketenangan hatinya.
"Siapa yang mengantar mu?"
Arumi terhentak saat sebuah pertanyaan menyasar ke telinganya dengan tiba-tiba.
"Astaga...kak Arya. Mengagetkan saja..." ucap Arumi sambil membuka pintu kamarnya.
"Yak...yak...yak...! Aku kakak mu. Aku berhak tahu..." ucap Arya saat Arumi menghambur ke dalam kamar.
"Kau kakak ku, bukan penjaga ku..." ucap Arumi yang baru saja menyembulkan kepalanya dari balik pintu yang di bukanya.
"Justru karena aku kakak mu, aku akan menjaga mu.."
KLETAK....
"Aw..."
Arumi mengusap keningnya yang baru saja dihinggapi jari Arya.
"Sakit, Kak..." ucap Arumi manyun.
"Rasakan...Makanya bicara sopan kepada kakak mu ini"
"Kakak Semprul..."
"Eits...." ucap Arya yang memasang jurus sentilan maut membuat Arumi langsung mengangkat tangan melindungi keningnya.
"Jadi katakan siapa dia..?"
"Dia adalah...."
Arumi menghentikan kata dan bermaksud menutup pintu. Namun sial ternyata kaki Arya berhasil menghalanginya sehingga sukses menghalangi niat Arumi.
"Kak...ini sudah malam. Aku ngantuk..."
"Suruh siapa pulang larut seperti ini? Jangan-jangan kalian sudah melakukan hal yang tidak baik?"
"Ish...apaan sih, Kak. Aku ini gadis baik-baik. Tidak seperti yang ada di otak mesum kakak itu.."
"Otak mesum kata mu?! Hah...ini baru mesum..." ucap Arya sambil berusaha memeluk Arumi.
"Tidak....! Otak mesum...!" teriak Arumi sambil menutup pintu.
" Melihat ekspresi wajah mu aku jadi makin menyukai mu. Kau lugu juga konyol..." batin Arya.