150 Cm

150 Cm
Episode 54. Penasaran



Arumi tertunduk lesu. Matanya menatap dinding yang kosong dari sofa. Dinding yang biasanya penuh berisi lukisan ibunya dan juga lukisannya sendiri. Ada perih yang menduduki relung hatinya. Tak terasa bulir bening pun kembali menghiasi wajahnya.


"Ibu...." gumam lirih Arumi.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Berulangkali ponsel Arumi berpendar. Namun Arumi belum menyadarinya. Barulah yang kesekian kalinya, Arumi menerima panggilan itu.


"Assalamu'alaikum...."


"Selamat siang...Apakah anda Arumi Hirata?" ucap suara di ujung telepon.


Logatnya sedikit asing di telinga. Sejenak fikiran Arumi melambung. Ia mengingat sekiranya mengenal si pemilik suara tersebut.


"Ya, Benar. Saya Arumi Hirata..."


"Saya Ryu dan saya ingin bertemu dengan mu. Penting..."


"Ada kepentingan apa, kak...?"


"Em, tentang lukisan ibu mu..."


Deg.


Hening. Arumi terdiam. Fikirannya kembali melambung. Ia mencoba menerka maksud dan tujuan laki-laki di ujung telepon itu.


"Apa kepentingan Ryu atas lukisan ibu.." batin Arumi.


"Arumi...." panggil laki-laki di ujung telepon.


"Em, ya. Baiklah. Kapan...?" ucap Arumi mengakhiri diamnya.


"Pukul sembilan. Saya tunggu di cafe B..."


"Baiklah..."


"Sampai bertemu nanti, Arumi..."


Tut.


Tut.


Tut.


Sambungan telepon pun terputus. Arumi mengernyitkan dahinya. Matanya menatap deretan angka pada layar teleponnya yang masih berpendar.


"Ryu...Siapa dia...?" batin Arumi ditengah diamnya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Langkah Arumi begitu cepat memasuki cafe B. Tempat yang sudah disetujui Arumi untuk menemui Ryu, laki-laki yang belum ia kenal sama sekali.


Mata Arumi menyapu seisi ruangan sejenak. Ia mencari sosok yang sudah membuat janji temu dengannya. Tak lama seorang laki-laki melambaikan tangannya seakan ia berisyarat kepada Arumi.


Deg.


"Apakah dia...?" batin Arumi.


Seorang laki-laki berwajah oriental. berperawakan cukup tinggi. Berkulit putih dan bermata sipit. Inilah yang membuktikan mengapa gaya bicaranya sedikit berbeda dari kebanyakan orang pribumi. Ada keraguan yang menduduki hatinya begitu saja. Ia benar-benar menjadi ragu.


"Apakah aku harus menemuinya? Atau aku harus mengurungkannya saja? Ah, bodohnya aku. Semestinya aku memberitahu kak Mirza dahulu. Atau setidaknya Vanya untuk menemaniku" batin Arumi.


"Arumi....!"


Sadar namanya disebut, Arumi akhirnya kembali melangkahkan kakinya menghampiri laki-laki tersebut. Senyum laki-laki itu mengembang. Matanya menatap lekat Arumi. Entah mengapa Arumi menangkap ada sebuah kerinduan mendalam di dalam mata gelapnya.


"Duduklah..." ucap Ryu sambil menarik kursi untuk Arumi.


"Kau mungkin bertanya-tanya darimana aku mengetahui tentang lukisan ibu mu...?" ucap Ryu mengawali perbincangan sesaat setelah Arumi duduk sempurna.


Arumi mengangguk. Matanya sejenak menatap Ryu penuh tanya.


"Aish...jangan menatap ku seperti itu. Aku bukan penguntit. Aku hanya kebetulan membaca iklan mu tentang pagelaran seni lukis yang kau bagikan di media sosial. Dan ada tiga lukisan yang menarik perhatianku. Lukisan yang begitu khas..."


"Khas...?'


"Gaya lukisan mu pun begitu menyerupai lukisan Yuki Hirata, ibu mu..."


"Bagaimana kau begitu mengenal ibu ku?"


Ryu tersenyum. Matanya menatap Arumi sejenak.


"Setelah melihat iklan mu, maka aku merasa sebuah titik terang muncul dan berpihak kepada ku. Semula aku ingin menemui Yuki Hirata, tapi sayang sebuah kenyataan pahit harus ku hadapi. Kenyataan bahwa ibu mu telah tiada. Tapi melihat mu aku kembali mempunyai harapan..."


"Apa maksud mu...?" tanya Arumi gagu.


Ryu kembali tersenyum tipis melihat. kegaguan Arumi.


"Nanti aku akan menjawab semua pertanyaan mu, tapi saat ini aku ingin meminta bantuan pada mu.."


"Bantuan...?"


"Ya. Aku hanya ingin melihat lukisan ibu mu..."


Deg.


Arumi terdiam. Hanya matanya saja yang sesekali menatap Ryu. Hatinya makin penasaran tentang jati diri Ryu.


"Kau penggemar ibu ku? Tapi dari mana kau mengetahui ibu ku...?"


"Perlihatkan aku lukisan ibu mu, barulah akan aku ceritakan semuanya demi menjawab pertanyaan mu itu"


"Maaf aku tidak bisa memperlihatkan lukisan ibu ku...'


"Kenapa...?"


"Karena semua lukisan itu telah rusak..." ucap Arumi lesu.


"Apa...?!"


"Seseorang telah merusaknya. Semuanya..." ucap Arumi dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.


"What...?! Ah, sial...! Em, apa kau baik-baik saja?" ucap Ryu.


"Aku tidak baik-baik saja. Aku tengah mencari solusi yang entah akan ku temui di titik mana..."


"Maksud mu solusi untuk pagelaran seni mu?'


"Ya. Sampai saat ini semuanya masih dengan hasil yang sama, yaitu nihil..."


Keheningan kembali menyambangi hati keduanya. Hanya desah nafas yang begitu berat yang keduanya rasakan saat itu.


"Aish...mengapa aku justru terjebak dalam masalah mu?" ucap Ryu sambil menatap Arumi yang saat itu baru saja berdiri.


"Duduklah...Aku mempunyai solusi terbaik untuk mu"


"Jangan memberi harapan palsu kepada ku. Karena kucing bisa berubah jadi singa"


"Wow...menyeramkan sekali" ucap Ryu sambil tersenyum.


"Ikutlah dengan ku..." ucap Ryu kembali.


Kali ini tangan Ryu langsung menyambar tangan Arumi dan membawanya serta dalam langkah panjangnya.


"Lepaskan...!" ucap Arumi berontak.


"Aku tidak akan menyakiti mu. Justru aku akan membantu mu. Kau tenanglah, jangan berontak seperti ini. Aku bukan penyamun seperti yang ada dalam otakmu itu..." ucap Ryu sambil tersenyum dan melepas genggaman tangannya.


Arumi terdiam. Ia langsung duduk di dalam mobil dari pintu yang dibukakan oleh Ryu. Rasa ingin tahu Arumi ternyata mampu mengalahkan akal sehatnya. Arumi begitu penasaran dengan siapa sebenarnya Ryu dan mengapa ia begitu mengenal ibunya. Alasan itulah yang membuat Arumi mengikuti keinginan Ryu.


Tak lama kemudian, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Lajunya menerobos rintik hujan yang saat itu mulai menyapa bumi.


Sementara itu sebuah mobil sport silver terlihat melaju mengikuti mobil yang membawa Arumi. Mobil itu melaju di bawah kendali Elvano atas keinginan Mirza Adyatma.


Ada kegusaran di mata Mirza sejak menangkap keberadaan Arumi bersama Ryu di cafe tadi. Hatinya selalu berbisik untuk menenangkan jiwanya yang mulai bergejolak. Ia cemburu melihat kebersamaan Arumi dan Ryu.


"Tenang, Bos. Jangan berfikiran aneh-aneh"


"Aku tidak berfikiran aneh-aneh. Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan Arumi..." kilah Mirza sambil membetulkan posisi duduknya.


Elvano tersenyum. Ia tahu betul bagaimana tabiat sahabat sekaligus bosnya itu. Terlebih mengenai perasaannya terhadap Arumi.


Mata Mirza menatap gamang sebuah bangunan yang baru saja dimasuki mobil mewah berwarna hitam. Mobil yang diikuti Mirza dan Elvano.


"*Siapa laki-laki itu? Apa kepentingannya dengan Arumi? Dan mengapa Arumi biasa saja menanggapi laki-laki itu. Ataukah Arumi sudah mengenalnya...?"


BRUKK*...!


Pintu mobil tertutup. Rupanya Elvano yang baru saja melakukannya. Ia tengah mencari informasi dari orang sekitar tentang pemilik bangunan mewah itu.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Masuklah, Ar..." pinta Ryu sambil tersenyum menatap Arumi yang tampak ragu.


"Selamat siang, Tuan..." ucap seorang asisten rumah tangga yang kebetulan lewat. Matanya pun sempat menatap Arumi dan melempar senyum nya penuh takzim.


Mata Arumi menyapu setiap ruangan yang di lalui nya. Ada beberapa ornamen atau pun furniture yang begitu menarik perhatiannya. Sepertinya hal tersebut sedikit menjawab tentang identitas mendasar Ryu. Langkah Arumi begitu cepat. Ia mengimbangi langkah panjang Ryu. Hingga di depan pintu sebuah ruangan Ryu menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Arumi.


"Di dalam ruangan ini terdapat semua jawaban atas banyak pertanyaan di dalam kepalamu itu. Sekaligus menjelaskan tentang siapa aku..."


Darah Arumi Berdesir. Hatinya beriak. Fikirannya mengembara. Ia mencoba menebak isi ruangan tersebut. Sementara matanya menatap bergantian menatap pintu ruangan dan Ryu.


KREEEK....!!


Derit pintu terbuka terdengar. Seiring itu, mata Arumi membulat sempurna. Ia terlena akan isi ruangan tersebut.