
"Shereen tunggu...!" teriak King.
Langkahnya masih saja mengejar Shereen yang sudah berada hampir di luar jangkauan langkahnya.
"Sheteen, tunggu....!" teriak King lagi.
Kali ini panggilannya sukses. Shereen mengurangi kecepatan langkahnya. Bahkan ia sempat berhenti sejenak untuk mengurangi jarak antara dirinya dan King.
"Siapa laki-laki yang memarahi mu, tadi...?" tanya King penasaran.
"Ken. Kekasih ku..."
.
.
.
King terdiam. Ia tidak menyangka jika Shereen telah memiliki seorang kekasih. Ia jadi khawatir akan sedikit rasa yang tengah mendiami hatinya kini.
"Apakah cinta bertepuk sebelah tangan akan berulang kembali dalam kisah hidup ku?" batin King.
"Apa pasal ia memarahi mu..?"
Shereen menghela nafas. Matanya berkaca-kaca.
"Ia memarahi ku karena aku telah mendatanginya untuk meminta pertanggungjawaban dari nya?"
"Apa...?!"
"Aku hamil, King..."
.
.
.
King terkejut. Matanya menatap Shereen lekat. Ia tak percaya akan apa yang baru saja terlontar dari bibir sexy Shereen. Hatinya berdenyut saat kegamangan mulai merayapinya. Hingga suatu detik ia teringat sesuatu tentang Ken. Ingatannya melambung sejenak. Wajah Ken yang tak asing menurutnya telah berhasil mengingatkannya pada sosok laki-laki di galeri.
"Ken itu Kevin, kan?" ucap King mengakhiri diamnya.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Tunggu dulu...seingat ku, Ken itu kekasih Sarah?"
"Kau kenal Kak Sarah juga?"
"Kak? Apakah Sarah pun kakak mu?"
"Ya. Dia kakak kandungku..."
"Dan Andrea...?"
"Dia kakak satu ayah lain ibu"
"Wow...rumit sekali ya. Hehe..."
"Kenapa...?"
" Tentang Ken. Mengapa ia menjadi kekasih mu, Sementara ia adalah kekasih kakak mu, Sarah?"
"Kami sama-sama jatuh hati. Tanpa sepengetahuan kak Sarah kami menjalin hubungan. Dan kami sering bertemu di hotel jika hasrat kami sudah tak terbendung lagi..."
"Tapi bukankah kau sering ke hotel selain dengan Ken?" ucap King mengingat informasi dari Elvano.
"Tapi hanya dengan Ken, aku berani tanpa pengaman..."
"Lalu mengapa Ken menolak memberi tanggungjawabnya?"
"Karena ia masih tak yakin jika ini adalah anaknya..."
Shereen tertunduk. Bulir bening yang sejak tadi menggenangi pelupuk matanya kini telah terjun bebas. Menitik pada rerumputan di ujung kakinya. Rupanya Shereen sudah tak mampu menahan segala sesak di dadanya. Ia terus menangis hingga isak mengguncang tubuhnya. Shereen tak mampu membayangkan bagaimana kehidupannya di masa mendatang. Bagaimana reaksi papanya-Putra Jaya atas kondisinya kini? Dunia Shereen bak berputar membolak-balik segala rasa dan menyisakan penyesalan.
"Kemarilah..."
Tangan King merengkuh kepala Shereen. Ia membawanya ke dalam dekapannya. King mengusap perlahan punggung Shereen. Ia mencoba memberi sedikit ketenangan dan rasa perlindungan. Sesungguhnya King sendiri tidaklah tahu mengapa ia melakukan hal tersebut. Mungkinkah Karena ia mulai menaruh hati pada Shereen beberapa waktu sejak Shereen menjadi sukarelawan di panti asuhan tempatnya tinggal? Atau mungkin hanya rasa simpati sebagai seorang teman?. King memberi kecupan lembut pada pucuk kepala Shereen. Dan hal tersebut tentu saja membuat gadis itu terkejut. Ia mendongakkan kepalanya, menatap King.
"Aku akan membantumu. Kita akan menemui Ken lagi. Dan akan meminta pertanggungjawaban darinya" ucap King.
Beberapa saat kemudian, tangis Shereen menyusut. Dan kata terima kasih kembali terucap dari bibirnya. Shereen merasa lega telah meluapkan kegundahan hatinya. Tapi yang membuatnya tak percaya, ia meluapkannya kepada King. Laki-laki yang baru saja ia kenal. Bukan kakaknya atau orangtuanya. Shereen telah menaruh kepercayaan kepada King. Mungkin karena beberapa waktu menjalani hukuman dari Mirza Adyatma, King lah yang telah banyak membantunya.
"King terima kasih ya? Aku pamit..."
"Aku antar. Tunggulah sebentar, aku mengeluarkan motor dahulu..."
Shereen mengangguk lemah. Energinya telah terkuras. Bahkan tatapannya masih ia simpan pada ujung sepatunya yang terus mengalir rerumputan di bawahnya.
Motor bekas sport pun melaju menyusuri jalanan. Bekas pijakan rodanya menyisakan riak pada genangan air hujan di jalanan yang dilaluinya. King terus memacu motornya tanpa mempedulikan rintik hujan yang kian menjadi. Shereen duduk di belakang makin mengeratkan dekapan lengannya pada pinggang King. Bahkan kepalanya pun rebah pada punggung King yang kekar dan terasa basah itu.
Tak lama kemudian, King pun menghentikan laju motornya pada sebuah bangunan yang terbilang mewah. Bangunan dengan pagar hitam yang tinggi. Shereen pun turun dan berdiri menghadap King yang masih duduk di atas motor sport-nya.
"Terima kasih...." ucap Shereen.
"Sama-sama. Dan jangan terlalu berfikir yang aneh-aneh. Fikirkan saja kesehatan mu"
"Terima kasih karena sudah menjadi temanku..."
"Aish...bicara apa? Sudahlah. Masuklah. Kau sudah kedinginan..." ucap King dengan senyum khasnya.
"Sekali lagi terima kasih..."
"Okay. sama-sama..." ucap King sambil memutar motornya dan berlalu meninggalkan Shereen yang masih menatap kepergiannya.
Kemudian Shereen pun memasuki halaman luas rumahnya. Langkahnya begitu cepat.
"Shereen...." panggil Putra Jaya yang tengah duduk ditemani secangkir kopi.
Shereen pun menghentikan langkahnya. Namun tak mendekati Putra Jaya.
"Setelah kau bersih-bersih, papa ingin bicara dengan mu?"
Shereen hanya mengangguk. Tanpa kata. Kemudian langkahnya kembali menyusuri anak tangga menuju kamarnya.
BRUKK...!
Shereen menutup pintu dengan kasar. Ia berdiri bersandar pada daun pintu. Nafasnya turun-naik begitu cepat. Matanya terasa memanas kembali. Dadanya bergemuruh begitu sesak. Pun demikian ia berusaha menahannya.
Hampir satu jam Shereen melakukan bersih-bersih. Itu merupakan hal terlama yang ia lakukan sepanjang hidupnya. Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Hal tersebut karena tangisnya tengah menguasai jiwanya yang tak kunjung usai. Mengingat semua penolakan dan kata kasar yang terlontar dari mulut Ken, laki-laki yang amat ia cintai itu.
Kemudian, Shereen pun membuka pintu kamar mandinya. Matanya langsung menatap sosok laki-laki yang tengah berdiri menghadap jendela dengan melipat kedua tangannya.
"Papa..." ucap Shereen.
"Ken, menemui papa. Ia menceritakan tentang rencananya untuk segera menikahi Sarah. Papa harap kau menerima keputusan Ken tersebut. Dan berhenti untuk mengejar cintanya, karena ia hanya mencintai Sarah..."
"Tapi, Pa..." ucap Shereen terhenti.
Ada gemuruh dalam dadanya. Matanya telah berkaca-kaca.
"Tapi apa...?" ucap Putra Jaya dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Aku...aku..."
"Gugurkan kandungan mu..."
"Pa...!"
"Jangan ganggu hubungan kakak mu. Kariernya tengah bersinar...!"
"Jadi papa tahu kondisi ku kini?"
"Ken sudah menceritakan semuanya. Dan papa kecewa. Tega-teganya kau melimpahkan tanggungjawab kepada Ken. Dasar anak kurang ajar..."
PLAK....!
Sebuah tamparan telak menghantam pipi Shereen. Dsn hal tersebut membuat Shereen semakin terpukul. Hatinya begitu pilu. Kini riak dalam hatinya telah berubah menjadi badai. Tubuh Shereen terguncang hebat oleh tangisnya. Ia menyalahkan dirinya, Ken dan Putra Jaya.
"Kenapa...?! Kenapa kau tega, Ken?! Kenapa...?!!" ucap Shereen pilu dalam amuk amarahnya.
"Papa...! Kenapa kau tidak mengindahkan ku. Kau terlalu pilih kasih. Kau hanya memikirkan Sarah dengan segala kemungkinannya. Kau tidak pernah melihat ku, Pa. Kenapa....?!"
Shereen meraung dalam kesedihannya. Bibirnya tiada henti mengumpat. Sementara tangannya memukul-mukul perutnya. Ia marah Ken telah berlaku pengecut. Semua kata dan rayuan Ken ternyata tak serupa dengan kenyataannya. Pupus sudah harapan Shereen untuk memiliki Ken sepenuhnya.
"Pengecut kau, Ken....!!"