
Seperti yang sudah dijanjikan, sore itu Mirza mengantar Arumi pulang. Sementara mobil yang pagi tadi dibawa Arumi diantar oleh pak Harto, salah satu sopir keluarga William.
Mobil sport silver melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman rumah mewah keluarga William.
"Pak..."
Ciiiiit....
Cicit suara mesin mobil saat diberhentikan mendadak. Dan sontak tubuh keduanya berayun sebentar ke depan.
"Kenapa bapak berhenti mendadak..?!" ucap Arumi yang langsung disambut Mirza dengan sentilan pada kening Arumi.
KTAK....
"Aw...! Kenapa bapak menyentilku lagi?" ucap Arumi sedikit kesal.
"Tanganku gatal setiap mendengar kau memanggilku dengan sebutan pak. Apa tidak ada kata lain untuk memanggil ku?"
.
.
.
Arumi diam. Matanya seakan mengisyaratkan bahwa ia tengah berfikir.
"Em, Kek?"
"Selain itu..."
"Em, Om..."
"Selain itu..." ucap Mirza kesal sambil menggelengkan kepala.
"Em, paman...?"
"Hah... selain itu..." ucap Mirza semakin kesal. Bahkan ia menekan suaranya dan terdengar lebih gahar.
.
.
.
Arumi terdiam lagi. Bibirnya bergerak komat-kamit bak merapal mantra. Rupanya ia tengah mengulangi percakapannya dengan Mirza barusan.
"Abang...?" tiba-tiba saja Arumi menyebut panggilan itu.
"Persamaan mungkin..."
Arumi menyembunyikan senyumnya. Sesungguhnya ia tahu apa maksud dari laki-laki yang ia cintai itu. Arumi hanya mengerjainya saja.
.
.
.
"Em, bagaimana perasaan bapak saat di pers conference dan menyangkal berita yang ada?"
Mirza terdiam. Hanya matanya saja yang sesekali melirik ke arah Arumi.
"Pak... bagaimana?"
"Bapak... Lagi-lagi bapak. Aku tidak akan bicara sebelum panggilanku berubah..."
"Baiklah...."
"Yes, Arumi akan merubah panggilan terhadapku. Ayo...Arumi. Cepat panggil aku dengan honey, cintaku atau paling tidak kakak..." batin Mirza.
"Kalau bapak tidak mau bicara ya sudahlah. Aku juga akan diam"
"What...! Ya, Tuhan. Keras kepala sekali kau, Arumi. Apa susahnya memanggilku dengan sebutan selain bapak. Nasib-nasib punya kekasih masih labil..." batin Mirza.
.
.
.
Mirza terdiam. Matanya mengisyaratkan kekesalan. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Terlebih yang sukses membuatnya kesal adalah gadis yang amat ia cintai.
"Baik...baik. Aku kalah. Kau boleh memanggilku apa saja. Aku menyerah..."
"Maafkan Arumi, Kak...?"
Ciiiiiit.....
Kembali mesin mobil mencicit saat Mirza menghentikan mobil mendadak. Dan lagi-lagi Arumi terayun ke depan dan hampir menyentuh dashboard. Beruntung tangan Mirza cepat meraih bahu Arumi dan menahannya.
Wajah Arumi pasi. Kali ini Arumi gagal menyembunyikan keterkejutan sekaligus rasa takutnya.
"Kenapa sih sering sekali berhenti mendadak? Hobby ya.. " ucap Arumi dengan tangan mengusap-usap dada.
"Maaf aku terkejut dengan ucapan mu barusan. Bisa ulangi sekali lagi?"
"Apaan, sih..."
"Ayolah...ulangi sekali saja"
"Maafkan Arumi, Kak..."
"Ya betul. Tapi kata terakhirnya..."
"Kak..." ucap Arumi polos. Saat sadar dengan yang diucapkannya, Arumi langsung membekap mulutnya sendiri. Mirza tersenyum. Ada perasaan yang membuncah saat itu. Perasaan yang sukses dilambungkan hanya karen sebuah panggilan dari seorang gadis.
"Itu jauh lebih baik, sayang. Kakak...Em, aku suka itu"
Tangan Mirza mengusek pucuk kepala Arumi dengan gemas. Sementara itu Arumi tersenyum tipis. Ada getar dalam hatinya yang selalu ia rasa saat diperlakukan demikian oleh Mirza.
"Jangan pernah tinggalkan aku, sayang..."
"Siapa yang akan meninggalkan? Kakak mungkin?"
"Aku? Tidak akan. Aku tidak akan pernah Isa meninggalkan gadis yang aku cintai dan aku juga tak kan sanggup di tinggalkan. Jadi aku minta jangan tinggalkan aku..."
"Aku bahagia sekali. Ini pertama kali seorang gadis memanggilku dengan sebutan kakak. Terlebih karena yang memanggil itu adalah kau, satu-satunya gadis yang aku cintai. Dan aku Janji, tak akan pernah meninggalkanmu..."
"Gombal..."
"Kok gombal sih, sayang..."
"Entah mengapa akhir-akhir ini ba...eh, kakak suka menggombal. Apa karena kursus kilatnya sudah tuntas?"
"Hahaha...."
Mirza tertawa. Sebuah pemandangan langka yang Mirza tampakkan dan kembali Arumi saksikan.
"Sayang, menikah yuk..."
"Kerasukan, Kak? Tiba-tiba saja ngajakin nikah"
"Iya kerasukan. Kerasukan cintanya Arumi..."
"Hehehe...." Arumi tertawa.
"Hehe...Diajakin nikah, dibilang kerasukan. Hadeeuh...aku serius loh, sayang. Daripada seperti sekarang, ingin cium bibir saja tidak bisa. Padahal aku sudah tergoda dengan bibir tipis mu yang merona itu"
PLAK.....
Arumi memukul lengan Mirza. Cukup bertenaga hingga membuat laki-laki tampan itu meringis.
"Sakit, sayang..."
"Otak mesum..."
"Hahaha....." Mirza kembali tertawa mendengar sebutan yang disematkan padanya.
"Yank, kita mampir ke cafe dulu ya. Sudah lama tidak ke cafe..."
Arumi mengangguk sambil mengurai senyum.
Seperti biasa, Mirza akan turun terlebih dahulu. Memutari body mobil dan membukakan pintu untuk Arumi. Tak lupa ia pun akan membantu Arumi sambil mengurai senyum khasnya. Rupanya si manusia kulkas sudah mulai mencair.
"Terima kasih....Kak" ucap Arumi sedikit gagu saat sudah berdiri sempurna di luar mobil.
Sepintas mata Arumi menyapu sekitaran cafe. Matanya begitu teliti menilik, bahkan cenderung waspada. Memanglah Arumi menyimpan kekhawatiran akan kehadiran paparazi selalu datang dan pergi bak jelangkung. Paparazi yang selalu memberondong dengan pertanyaan kepada siapa pun yang sedang diburu. Hadeeuh...sungguh merepotkan.
"Jangan khawatir, Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya. Terutama keamanan dan kenyamanan saat kita berada di cafe" ucap Mirza sambil tersenyum dan melangkah beriringan dengan Arumi.
"Kakak yakin...?"
"Seribu persen yakin..." ucap Mirza dengan senyum mengembang.
"Selamat datang, Tuan Mirza, Non Arumi..." sapa seorang laki-laki yang tak lain adalah pak Daniel. Orang kepercayaan Mirza yang diserahi mengelola cafe.
"Pak Daniel, tempatnya sudah siap...?'
"Sudah, Tuan. Seperti biasa, tempat favorit Tuan. Mari saya temani ke roof..."
Ketiganya pun melangkah menuju tempat yang dimaksud. Arumi melenggang santai di dekat Mirza yang sesekali mengusek pucuk kepala Arumi dengan perlahan atau memintanya agar berjalan hati-hati saat menapaki anak tangga. Sungguh hal yang sederhana, namun cukup membuat Arumi menyimpan semua perlakuan tersebut sebagai kenangan indah di sudut hatinya.
"Silahkan, Tuan. Hidangannya akan segera diantarkan. Harap Tuan dan Nona bersabar menunggu..."
"Terima kasih, Pak Daniel..." ucap Mirza sesaat sebelum pak Daniel berlalu.
"Kita kan belum pesan apapun, Kak. Tapi kenapa pak Daniel berbicara tentang hidangan...?"
"Aku yang sudah memesan tadi..."
"Ow, jadi semuanya sudah direncanakan?"
"Hehehe...iya, sayang. Boleh kan?'
"Boleh. Arumi tidak masalah. Tapi awas...kalau menunya tidak ada yang aku sukai.."
"Memang apa yang akan calon istriku ini lakukan jika menu tak sesuai..."
"Aku akan menghukum kakak..."
"Wah, aku akan lihat bagaimana Nyonya Mirza menghukum. Hehe...." ucap Mirza sambil mencubit kecil dagu Arumi.
"Ah, meremehkan sekali Tuan Mirza ini..." ucap Arumi sambil menghadiahi sodokan di perut Mirza
BUK....
"Aduh..." keluh Mirza.
Mirza meringis. Namun hanya beberapa saat. Selanjutnya Mirza tertawa kecil. Rasa sakitnya telah berubah menjadi tawa. Dan begitulah cinta.
"Oya, kembali ke pembicaraan sebelumnya. Menikah. Bagaimana?"
"Aku tidak menolak. Tapi...tak bisakah kita menundanya sampai aku memenuhi keinginan ku yang menjadi cita-cita ku"
"Keinginan yang menjadi cita-cita. Apa itu...?"
"Aku ingin menyelesaikan kuliah dan...aku juga ingin mencicipi dunia kerja walau sebentar sambil berusaha membuat pagelaran seni lukis. Kedua hal tersebut merupakan wujud tanggungjawab ku sebagai seorang anak. Ayah menginginkan aku meneruskan perusahaan, sehingga aku berkuliah jurusan MB. Sedangkan seni lukis adalah sudah ada dalam darah ku dari ibu yang juga menyukai seni lukis.."
.
.
.
Mirza terdiam. Hanya matanya saja yang menatap mata indah Arumi. Mata yang kini tengah berkaca-kaca.
"Aku mengerti. Baiklah. Aku akan menunggu mu..."
Tangan Mirza menggenggam erat tangan Arumi. Sesekali mengusapnya dengan perlahan. Sekali waktu mengecupnya dengan lembut.
Sementara itu, Arumi menatap lekat laki-laki yang tengah berlaku manis terhadapnya itu.
"Tapi...kalo boleh usul bagaimana jika aku melamar mu dan kita bertunangan. Agar aku tenang, sayang..."
"Kenapa harus tunangan? Kalian menikah saja..." ucap seorang laki-laki.
Sontak Mirza dan Arumi mengalihkan perhatiannya kepada si empunya suara.
"Ayah....?!'