
Vanya berdiri tegak. Matanya menatap dengan gamang sebuah bangunan. Ya...bangunan yang menurut sebagian orang dikenal sebagai tempat kuliahnya orang-orang yang pernah bergelut dalam dunia gelap. Beberapa saat Vanya pun menatap Arumi lekat. Ia butuh sebuah penjelasan.
Mendapati tatapan Vanya yang penuh tanya, Arumi memeluk sahabatnya itu. Ada getir yang selintas menelusup relung hatinya. Bahkan kedua mata indahnya mulai dikerubuti bulir bening.
Erat sekali Arumi memeluk Vanya membuat gadis manis itu semakin dirundung tanya.
"Ar, ada apa? Katakan....?" ucap Vanya akhirnya.
"Nya, maafkan aku. Aku tidak memberitahu mu tentang kak Ryu. Em, kak Ryu ada di dalam bangunan ini. Ia terjerat sebuah kasus yang mengharuskannya merasakan dinginnya lantai penjara"
Vanya hilang kata. Matanya menatap bangunan tersebut dengan lekat. Hatinya beriak. Akal sehat nya menolak informasi yang baru saja ia dengar.
"Tidak mungkin, Ar. Bukankah kak Ryu laki-laki baik?"
"Kak Ryu di jebak, Nya..."
"Siapa yang berani melakukan itu, Ar? Mengapa kau tidak membantunya? Mengapa kak Mirza tidak menolongnya...? Bukankah suami mu itu mempunyai pengaruh yang menggurita? Mengapa, Ar...?"
"Sedang di lakukan, Nya. Kami pun mengetahuinya setelah kak Ryu berada di sini..."
Vanya menatap kalut. Kali ini ia tak mampu menahan gejolak yang ada. Ia ingin segera menemui laki-laki yang sesungguhnya diam-diam ia cintai itu sejak pertama kali bertemu. Vanya menarik lengan Arumi dengan sedikit kasar.
"Ayo, Ar temui kak Ryu..." ucap Vanya tak sabar.
Keduanya pun melewati pengamanan begitu saja. Hal tersebut karena sebelumnya Dewa sudah mengkondisikan segalanya.
Bak berlari di antara angin, langkah Vanya begitu cepat. Langkahnya seiring sebaran hatinya saat itu. Hingga di ruang kunjungan pun hati Vanya kian berdesir hebat. Desiran ya seirama dengan degup jantungnya yang bak berloncatan. Duduk Vanya dan Arumi pada kursi.
"Kenapa kau tidak memberitahu ku lebih awal kondisi kak Ryu...?"
"Maaf, Nya. Aku juga baru mengetahuinya"
KREEEK....!!
Pintu ruangan kunjungan terbuka. Sontak perhatian Arumi dan Vanya beralih pada pintu. Berdiri seorang laki-laki di ambang pintu. Wajahnya lusuh. Sorot matanya mengisyaratkan sesal. Dia adalah Ryu Hirata, kakak laki-laki Arumi Hirata.
Melihat Ryu melangkah lesu, Arumi langsung berdiri. Ia menghampirinya. Bukan hanya itu, Arumi langsung menghambur memeluk Ryu. Bulir bening yang sejak tadi ia tahan, kini sudah terjun bebas.
Sementara itu, Vanya hanya mampu berdiri di tempat. Kata yang sudah ia persiapkan sepanjang perjalan, menguap begitu saja. Di matanya pun sudah dipenuhi bulir bening.
"Maafkan aku, Kak..." ucap Arumi sambil terisak.
"Kenapa harus minta maaf. Apa yang terjadi adalah sebuah konsekuensi dari perbuatan kakak sendiri. Justru akulah yang semestinya meminta maaf..." ucap Ryu.
Kedua adik-kakak itu pun kemudian duduk bersebelahan. Tepat di hadapan Vanya yang masih terpaku.
"Nya, apa kabar...?" ucap Ryu dengan suara khasnya.
"Ba-baik, Kak...?"
"Vanya, kok melihat kakak seperti melihat hantu saja..." ucap Ryu.
"Han-tu..? Ah, mana mungkin. Hehe..."
"Kak Mirza tengah berupaya membebaskan kakak dari segala tuduhan. Bukti-bukti pun tengah di kumpulkan. Bersabarlah, Kak..."
"Sampaikan rasa terima kasih ku kepada suami mu. Dan....Ah, aku tidak menduganya sama sekali jika perempuan yang aku cintai itu telah menipu ku habis-habisan. Jika bebas nanti aku akan buat perhitungan khusus dengan nya"
"Di tipu? Perempuan...? Siapa dia, Kak? Aku akan buat perhitungan juga terhadapnya...!"
"Sstt...!" ucap beberapa orang yang juga berada dalam ruangan tersebut.
"Ah, ya. Maaf...." ucap Vanya sambil mengangguk salah tingkah. Kedua tangannya pun menangkup di depan dada.
Melihat itu, Ryu dan Arumi tersenyum. Jika melihat keduanya demikian, barulah dapat dipastikan jika keduanya benarlah memiliki hubungan darah. Karena wajah keduanya begitu mirip saat tersenyum.
"Vanya... Vanya..." ucap Ryu sambil terus tersenyum.
"Jangan pingsan kalau diberitahu..."
"Apaan sih, Ar..."
"Perempuan itu Andrea..."
"Apa..?!" teriak Vanya sekuatnya.
"Aduh, Vanya...." ucap Arumi dan Ryu hampir bersamaan. Keduanya tampak menutup telinga karena polusi suara yang abru di dengar.
"Wait....Andrea mantan kekasih kak Mirza? Orang yang sudah berulangkali menyakiti mu?" ucap Vanya merendahkan suaranya.
"Hook oh...." ucap Arumi.
"Dan Andrea juga perempuan yang dicintai kak Ryu..." ucap Vanya.
Katanya kian lama kian lirih. Jelas ada kekecewaan yang ia rasakan.
"Nya, kamu tidak apa-apa...?" ucap Ryu saat Vanya terduduk lesu.
"Egh...Ya. Vanya baik-baik saja"
"Jelas kau tidak baik-baik saja, Nya. Aku tahu kau begitu kecewa saat tahu perempuan yang dicintai kak Ryu adalah Andrea..." batin Arumi.
"Aku memang mencintai Andrea. Tapi itu dulu. Sekarang cinta itu telah berubah jadi benci..." ucap Ryu.
Kilat di matanya penuh kecewa dan dendam. Ryu menghela nafas sesaat sebelum matanya beralih menatap Vanya yang masih termangu.
"Maafkan aku, Nya. Cinta yang pernah kau utarakan ku tolak mentah-mentah. Aku lebih memilih mengejar cinta semu Andrea ketimbang mempertimbangkan cinta mu..." batin Ryu.
"Apa yang harus aku lakukan pada situasi ini? Aku benar-benar bingung. Rasanya hati ini kecewa berat saat mengetahui siapa perempuan yang di cintai kak Ryu. Rasanya sakit sekali. Tapi....pun demikian ada sisi lain hati ini yang berontak dan berusaha menghibur kecewanya hati ini..." batin Vanya.
"Apa yang harus aku lakukan terhadap sahabat dan kakak laki-laki ku ini...?" batin Vanya.
"Ar, bantu kakak ya. Kakak harus terbebas dari segala tuduhan. Karena ada hal yang harus kakak lakukan setelahnya..."
"Apa yang akan kakak lakukan?"
"Kakak ingin membalas perempuan itu dan mengejar cinta seseorang..."
"Mengejar cinta seseorang? Cie...sudah move on nieh..."
"Cinta ku pada Andrea sudah terkubur..."
"Ow, begitu. Lalu cinta siapa yang hendak kakak kejar?"
"Seseorang yang sudah mencintai ku. Tapi aku tidak mempedulikannya. Seseorang yang kini telah kecewa atas perbuatan ku..." ucap Ryu.
Manik matanya sepintas melirik ke arah Vanya yang masih tampak diam dan menyimpan wajah di pangkuannya.
"Good. Itu baru kakak ku..." ucap Arumi sambil tersenyum dan memeluk lengan Ryu.
Tak lama kemudian, seorang petugas pun datang. Ia memberitahukan bahwa waktu kunjungan telah usai. Mendengar itu, Ryu bangkit dari duduknya diikuti Arumi dan Vanya.
"Baik-baik ya, Kak. Simpan tenaga untuk saat keluar nanti..." bisik Arumi sambil memeluk Ryu untuk kemudian berlalu meninggalkan Vanya berdua Ryu.
"Vanya pulang ya, Kak..." ucap Vanya lesu sesaat sebelum berlalu.
Namun belum lagi sukses melangkah, tangan Ryu berhasil menghentikan langkahnya. Vanya pun memutar tubuhnya dan menatap wajah tampan Ryu.
"Berikan kesempatan kepada ku untuk mengenal mu lebih jauh, Nya. Aku ingin kau seperti dahulu terhadap ku..." ucap Ryu.
Vanya meraih tangan Ryu dari menggenggam tangannya. Ia tersenyum.
"Akan ku Fikirkan, Kak...." jawab Vanya untuk kemudian berlalu meninggalkan Ryu.