150 Cm

150 Cm
Episode 92. Pertemuan



Matahari tampak menghiasi langit yang tampak membiru. Hangat hawanya membalut tubuh Arumi yang tengah duduk santai di sebuah kursi pada sebuah cafe. Bukan saja asyik menikmati segelas juice, namun juga asyik membaca sebuah majalah. Sebuah halaman tengah ia cermati. Halaman tersebut mengisahkan tentang seorang pengusaha muda sukses nan rupawan. Siapa lagi jika bukan Mirza Adyatma, suaminya.


Senyum Arumi mengembang menghiasi wajahnya. Matanya lincah bergerak menilik tiap deret kata pada lembar majalah bisnis itu. Bangga hatinya tidak berperi saat seulas wajah tampan terpajang di sana.


"Bahagia dapat suami tajir melintir...?" ucap seseorang.


Dari warna suaranya jelas itu seorang perempuan. Arumi pun langsung mengalihkan perhatiannya ke sumber suara.


"Andrea...?"


"Kak...Panggil aku kak Andrea..."


Arumi menghela nafas. Bahkan Helaannya terdengar jelas.


"Kak Andrea. Ok...."


"Kau bahagia melihat suami tajir mu terpampang di majalah itu?"


"Tentu saja. Kakak sendirian?"


"Tidak. Aku bersama seorang teman. Tepatnya kekasih..."


"Kekasih...? Laki-laki mana lagi yang berhasil kakak gaet? Kaya...? Belum puas setelah merebut dan menjebloskan kak Ryu..."


"Hah...! Ryu. Dia laki-laki terbodoh yang pernah aku kencani"


"Kak...! Dia itu kakak kandung ku"


"So...kalau dia kakak kandung mu, aku tidak boleh mencacinya? Hah...! Nyatanya dia memang laki-laki bodoh. Mau saja ia aku bodohi..."


"Kak...! Kak Ryu itu benar-benar mencintai kakak. Tulus, Kak..."


"Aku tidak peduli...." ucap Andrea dengan santainya.


"Hai, cantik....!" ucap seorang laki-laki dengan swnyum lebarnya.


"Hai, Ans..." ucap Andrea sumringah.


"Ans....? Apakah dia Ansal alias Keive" batin Arumi.


"Ow, kau tidak datang sendiri...?"


"Aku sendiri. Dan kebetulan bertemu Arumi. Dia adik ku, tapi lain ibu dan ayah..."


"Lain ibu dan ayah bagaimana?'


"Ayah dan ibu kami menikah di saat kami sudah besar. Arumi ini juga teman kampus adik ku, Arya..."


"Ow, rumit sekali silsilah keluarga mu, An..."


"whatever..."


"Haha.....lucu sekali. Oya, kenalkan. Aku Ansal..." ucap Keive sambil mengulirkan tangan kepada Arumi.


"Arumi..."


Deg.


.


.


.


Jantung Keive tiba-tiba saja berdesir. Sejenak Keive terdiam. Matanya menatap lekat Arumi.


"Perasaan apa ini...? Aku belum pernah merasakannya sebelumnya..."


"Ah, kelamaan. Nanti jatuh cinta lagi..." ucap Andrea sambil menyambar tangan Keive.


"Haha...." tawa Keive.


"Kalau begitu mari kita ke private room saja..." ajak Keive sambil menggaet lengan Andrea.


Dan sesaat sebelum berlalu, Keive pun tersenyum kepada Arumi. Senyum yang sulit dimaknai oleh Arumi saat itu.


Langkah keduanya pun beriringan meninggalkan meja dimana Arumi berada. Dan hal tersebut disaksikan oleh Arumi sambil mengurai senyum khasnya.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


"Dimana, sayang...?" ucap Mirza di ujung telepon.


"Cafe. Menunggu Vanya...."


"Segera hubungi suami tampan mu ini jika kangen atau terjadi sesuatu..."


"Iya, suami ku sayang...."


"Well...Selamat bersenang-senang"


"Jaga cinta ku, ya..." ucap Arumi.


"Always...Semua milik mu. Jaga juga cinta ku"


"Dengan segenap jiwa dan raga..."


Sambungan telepon itu pun terputus. Seulas senyum pun masih menghiasi Arumi saat seorang gadis berdiri tak jauh dari tempanya duduk.


"Arumiiii....!!" teriaknya.


"Vanyaaa....!!" sambut Arumi.


Keduanya saling berpelukan melepas rindu. Lama keduanya melakukan itu. Sambil sesekali tertawa dan bertingkah bak bocah yang baru saja mendapatkan permen.


"Satu tahun ku tinggal ke luar negeri, kau tak berubah. Keponakan ku mana?" ucap Vanya yang sekali lagi memeluk Arumi


"Kau pun sama. Satu tahun di luar negeri ngomongnya masih suka ngaco. Keponakan apa maksud mu?"


"Sudah hampir satu tahun kau menikah, Ar. Ngapain aza sampai-sampai satu keponakan pun belum kau berikan untuk ku?" ucap Vanya sambil menarik sebuah kursi dan mendudukinya.


"Woles....Semua Tuhan yang mengatur. Mengapa aku meragukan kehendak-Nya"


"Ini yang selalu ku rindu dari seorang Arumi. Selalu optimis dan tawakal kepada Tuhan YME..." ucap Vanya dengan gaya kocak


Tangan Vanya menggenggam tangan Arumi yang terus mengumbar senyum karena mendapati polah sahabatnya itu.


"Bagaimana pekerjaan mu di sana, Nya?'


"Wah, sama saja dengan di sini"


"Sama saja bagaimana?"


"Itu loh...Pengaruh suami tampan mu itu. Luar biasa ya. Di sini atau di luar negeri sama tenarnya. Tinggal sebut namanya, pekerjaan jadi mudah. Haha...."


"Ow, jadi kau memanfaatkan ketenaran suami ku...?'


"Tentu saja. Aku kan bekerja untuk perusahaan suami mu. Haha..."


"Hadeeuh..." ucap Arumi tepok jidat.


"Ar, kak Ryu apa kabar?"


Deg.


.


.


.


Arumi hilang kata. Matanya menatap Vanya. Ada sesal di ujung tatapannya.


"Maafkan aku, Nya. Aku terlambat menyadari perasaan mu terhadap Ryu. Seandainya aku tahu lebih awal tentu aku akan berusaha mendekatkan mu dengan kak Ryu..."


"Ar....?"


"Ya, Nya. Kak Ryu. Em, Bagaimana jika kita menemuinya?"


"Ish...malu, Ar..."


"Makan tuh malu. Dasar jomblo..." ucap Arumi sambil mengusap pucuk kepala Vanya.


"Aah...Arumi" ucap Vanya bernada manja.


Vanya pun segera saja merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Yuk...." ucap Arumi sambil berdiri.


"Kemana?"


"Menemui kak Ryu..."


"Ogah...Malu Ar"


"Ayoklah..." ucap Arumi.


Tangannya menarik lengan Vanya. Hal tersebut membuat gadis cantik berambut ikal itu akhirnya ikut dalam langkah Arumi. Mau tidak mau. Langkah Vanya terlihat seakan berat karena rasa di hatinya tak dapat membayangkan bagaimana saat bertemu Ryu, laki-laki yang diam-diam ia cintai.


"Maaf. Permisi... Jangan hiraukan kami. Kami baik-baik saja..." ucap Vanya sambil mengangguk dan menebar senyum kepada siapa saja yang dilaluinya. Vanya salah tingkah atas perlakuan Arumi tersebut. Dan Arumi yang melihat itu hanya senyum-senyum menahan tawanya sambil sesekali membalas sapaan pegawai atau pun pengunjung cafe yang mengetahui status dirinya sebagai Nyonya Mirza Adyatma, sosok pengusaha muda sukses yang namanya hingga penjuru dunia bisnis.


Hingga di areal parkir barulah Arumi melepaskan cengkraman tangannya. Dan itu membuat Vanya semakin menyimpan wajahnya di balik punggung Arumi.


"Dasar jomblo...." ledek Arumi.


Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti tepat di depan keduanya. Seorang laki-laki bertubuh tinggi nan tegap keluar dari mobil. Sebuah kacamata hitam bertengger menghiasi bangir hidungnya. Laki-laki itu melangkah begitu cepat mengitari hampir separuh body mobil mewah yang di bawanya tadi.


Sedikit menjura tubuhnya penuh takzim, ia membukakan pintu mobil untuk Arumi.


"Silahkan, Nyonya..." ucapnya.


"Terima kasih, Dewa..." ucap Arumi sambil masuk ke dalam mobil.


Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Senyuman yang begitu khas dari perempuan 150 cm itu.


Tak lama kemudian mobil pun melaju menyusuri jalanan yang ramai. Tak ada percakapan berarti. Karena keduanya hanya diam dalam fikiran masing-masing.


"Apa yang harus aku lakukan saat bertemu kak Ryu nanti? Haruskah aku menunjukkan kembali Bagaimana perasaan ini?" Ah, tidak. Jangan kau lakukan itu, Nya. Dimana harga diri mu...?!" batin Vanya.


"Maafkan aku, Nya. Maafkan...." batin Arumi.