
"Mati kau, Arumi....!!" teriak Andrea sembari mengayunkan belati.
.
.
.
BRAKK....!!
"Hentikan Andrea....!!!!"
.
.
.
Sebuah suara sukses menghentikan niat Andrea. Suara tersebut berasal seorang laki-laki yang berdiri di ambang pintu dan baru saja berhasil di buka paksa.
Nafas laki-laki itu turun-naik begitu cepat. Secepat irama degup jantungnya saat ini. Wajah tampannya sedikit tertutup amarah yang kian buncah. Terlebih dengan manik mata yang membulat sempurna, fix aroma membunuhnya begitu kental terasa.
Andrea tersenyum kecut. Jelas ia terkejut atas kehadiran Mirza yang di luar prediksinya itu. Belati yang semula siap mencencang tubuh Arumi perlahan turun. Pun demikian ia tetap berdiri tak bergeming sedikitpun. Andrea masih berdiri dekat Arumi. Bahkan amat dekat.
"Dendam mu sudah membuat mu semakin gila, Andrea..." ucap Mirza dengan rahang yang mengeras.
"Semua karena mu, sayang. Jika kau tetap memilih ku tentu aku tidak akan seperti ini.."
"Kalau begitu aku yang menjadi penyebabnya? Tapi mengapa Arumi kau jadikan pelampiasan..."
"Karena aku mempunyai urusan tersendiri dengan Arumi. Jadi sekali bertepuk, dua lalat ku dapat"
"Gila. Arumi tengah sakit. Dan lagi aku adalah suaminya, maka urusannya menjadi urusan ku juga"
"Wah...contoh suami teladan rupanya. Haha...." ucap Andrea diakhiri tawa.
"Kak......" ucap Arumi lirih.
Matanya terpejam. Kedua tangannya menjadi penopang kepalanya. Arumi tengah berada pada situasi yang tidak menguntungkan.
"Sayang...." ucap Mirza sambil melangkahkan kaki.
Namun belum sempurna kakinya melangkah, Andrea mencegahnya.
"Jangan mendekat, sayang. Selangkah lagi kakimu melangkah, maka belati ku akan langsung mendarat di tubuh istri 150 cm mu ini...!" ancam Andrea.
Deg.
Deg.
Deg.
Mirza terlihat sedikit panik. Namun ia cepat menguasai rasa keterkejutannya tersebut.
"Sedikit saja kau berani menyentuh ujung rambutnya, aku tak akan segan-segan membunuh mu..." ucap Mirza dengan amarah yang berusaha ia redam. Pun demikian, nyata sekali jika ia tengah diamuk amarah.
"Wow....! Singa mulai mengamuk"
"Andrea....! Apa mau mu? Katakan...!" ucap Mirza.
Matanya jelas menilik kondisi Arumi, perempuan yang amat ia cintai itu. Mirza terlihat cemas. Kecemasan itu terlihat di ujung tatapannya.
"Aku ingin kau meninggalkan Arumi dan menikah dengan ku seperti yang pernah kita rencanakan dahulu"
"Hah...! Dahulu aku pernah terpikat dengan kecantikan mu. Dan itu sebuah kesalahan"
"Kesalahan katamu...?! ucap Andrea geram dengan mata yang mulai dikerubuti air.
Ada rasa kecewa yang menelusup di dalam jiwanya. Sebuah rasa yang mulai membuat riak dalam dadanya dan bersiap menjadi badai.
"Maafkan aku. Kau bukan cinta sejati ku. Karena sesungguhnya cinta ku adalah Arumi"
"Aaaaa......!" teriak histeris Andrea.
Tangannya meraih setiap benda di sekitarnya. Untuk kemudian melemparkannya dengan sembarang. Suasana menjadi gaduh dengan suara benda yang beradu penuh. Dan kesempatan tersebut tak disia-siakan Mirza.
Laki-laki tampan itu secepat kilat menghampiri Arumi. Perasaannya kian tak menentu di selimuti cemas yang membuncah.
"Sayang...." ucap Mirza sambil merengkuh tubuh lesu Arumi.
"Kak....ada apa dengan ku?Mengapa aku tak berenergi begini. Dan...kepala ku begitu pusing"
"Sabarlah...yang terpenting kita keluar dahulu dari kamar ini" ucap Mirza.
Mirza mengangkat tubuh lesu Arumi. Manikatanya tak lepas dari wajah pasi perempuan 150 cm yang amat ia cintai itu. Namun belum lagi sempurna berdiri, Mirza dikejutkan dengan keberadaan Andrea yang mengayunkan belati.
"Jika aku tidak bisa memiliki mu, maka perempuan lain pun tidak akan pernah....! Aaarrrgghh...!" ucap Andrea bernada penuh amarah.
Melihat situasi yang ada Mirza langsung melindungi Arumi untuk kemudian membiarkan dirinya sebagai tameng Arumi. Sedikit lagi, ujung belati melukai tubuh Mirza yang kini merupakan tameng Arumi mendadak sebuah suara khas terdengar dari ambang pintu.
"Cukup, Andrea....!!" ucap aki-laki itu
"Ryu....!!" ucap Andrea terkejut.
"Ya, aku. Kau mempermainkan telah mempermainkan ku. Tapi akhirnya aku menyadari itu. Aku tahu yang kau inginkan sebenarnya adalah Arumi..."
"Haha......!!" tawa Andrea.
PROK...!
PROK...!
PROK ...!
Andrea bertepuk tangan. Bibirnya menyunggingkan senyum yang sulit dimaknai.
"Pergilah. Jaga adik ku. Biarlah aku yang menghadapi perempuan gila ini.." ucap Ryu sambil mengedarkan tatapannya.
"Kau yakin...?"
"Pergilah....Aku tidak ingin adik ku menangis lagi. Jaga dia..."
"Ow, reuni keluarga tengah berlangsung rupanya. Cih....!" ucap Andrea bernada sarkasme.
"Jangan hiraukan ucapan perempuan tak tahu diri ini. Pergilah...."
Mirza pun memutar tubuh dan langsung melangkah meninggalkan ruang kamarnya. Ia meninggalkan Ryu dan Andrea.
"Bantu tuan Ryu, Wa...." ucap Mirza sambil melangkah cepat.
"Siap, Tuan. Team A tetap stay di rumah ini dan bantu tuan Ryu. Team B, lindungi tun dan nyonya..."
"Siap....!" ucap para bodyguard serentak.
"Bertahanlah, sayang..." ucap Mirza sambil merebahkan tubuh lesu Arumi di kursi mobil sport berwarna silver.
Mirza mengitari mobil mewahnya untuk kemudian melajukannya dengan kecepatan tinggi. Suara deru mesin membumbung tinggi. Kecepatan pergerakan rodanya meninggalkan debu yang beterbangan.
Membulat sempurna mata setiap pengguna jalan yang berhasil dilewati. Tak jarang ada tanya di setiap ujung tatapannya.
"Siapakah dia..."
Mungkin seperti itulah gumaman setiap yang dilalui mobil mewah itu saat menatapnya. Pun demikian, Mirza tak peduli akan setiap tatapan penuh tanya dari orang yang dilewatinya. Dalam fikirannya hanya kesehatan Arumi saja. Mirza kian memacu laju kendaraannya saat mendengar keluhan lirih Arumi.
"Pusing sekali, kak. Mual juga. Arumi ingin muntah...'
Deg.
.
.
.
"Sabar, sayang. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit" ucap Mirza cemas.
Laju kendaraan mewah itu pun kian cepat. Kecepatannya bak anak panah yang terlepas dari busur. Bahkan angin pun mampu ia tandingi.
Tak menghabiskan satu dupa, akhirnya Mirza menghentikan laju mobil sport berwarna silver tepat di parkiran VVIP. Beberapa perawat dan dokter menyambut kedatangannya. Maklum ia adalah pemilik MA Hospital.
"Tuan...." ucap seorang laki-laki.
"Danu..." ucap Mirza.
"Maafkan saya, Tuan. Saya terlambat. Saya terlalu lama menyelesaikan misi yang tuan berikan..."
"Tidak apa-apa. Tapi....apakah misinya sukses?"
"Ya, Tuan. Tentu saja..."
"Syukurlah...Setelah istri saya pulih, kita akan bahas"
"Baik, Tuan..."
"Oya, tolong tempatkan pengamanan ekstra untuk istri saya. Saya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap istri saya..."
"Baik, Tuan..." ucap Danu.
Ia menjura takzim. Setelah Mirza berlalu dan memunggunginya, barulah ia menegakkan kembali tubuhnya. Matanya menatap lekat punggung laki-laki tampan yang telah memberikan kepercayaan dan penghidupan yang layak untuknya itu hingga si empunya menghilang di balik dinding ruang perawatan.
"Melamun, Pak..." ucap Dewa yang tiba-tiba saja berada di belakang Danu.
Tepukan tangannya pada bahu sukses membuat Danu terkesiap
"Astaga..." ucap Danu.
"Masih terpesona dengan tuan?"
"Always.... Dia adalah penyelamat hidup ku sekaligus panutan ku"
"Begitu pula dengan ku..." ucap Dewa sambil menghela nafas dalam.