
"Kenapa? Mami khawatir Arumi akan memenjarakannya?"
"Ar, Andrea anak Mami juga. Mami berkewajiban membimbing dan melindunginya"
"Lalu bagaimana dengan lukisan yang telah dia rusak?! Lukisan yang amat berarti bagi Arumi. Apa Arumi harus melupakan perbuatannya?!"
"Perbuatan apa, Arumi..?! Apa kau mulai menuduh keluarga mu sendiri lagi?!" ucap Permana yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Arumi.
Deg.
Arumi terdiam. Pertanyaan Permana benar-benar telah melukai perasaannya.
"Ayah..." suara Arumi terdengar bergetar.
Jelas sekali jika hatinya tengah gerimis menahan air mata yang siap terjun bebas. Arumi menatap Permana tiada henti. Di ujung tatapannya tersimpan ketidakpercayaan atas ucapan yang telah terlontar dari bibir Permana.
"Maksud Arumi tidak demikian, Yah. Kami tengah mengumpulkan bukti-bukti. Kami ingin tahu siapa pelaku pengrusakan itu" ucap Mirza yang hanya ditanggapi tanpa kata Permana. Permana hanya mengedarkan tatapan sendunya kepada Mirza.
"Ikut Ayah...." ucap Permana.
Tangannya meraih tangan anak perempuan satu-satunya itu dan membawanya serta ke ruangan lainnya.
"Tak bisakah Arumi mendengarkan ayah sekali ini? Tak bisakah Arumi menuruti keinginan ayah sebelum ayah tiada?"
"Jangan berkata demikian, Yah..."
"Harus. Agar kau mengerti...!"
"Kenapa ayah melakukan ini kepada Arumi...?"
"Semua demi keutuhan keluarga baru kita"
"Keluarga? Dia bukan keluarga ku? Ayah, bukan hanya kali ini saja dia merusak kebahagiaan Arumi. Tapi sebelum ini pun, Andrea sudah pernah melakukan nya" ucap Arumi dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah tahu. Tapi sayangnya ayah sudah mengambil tanggungjawab sebagai suami dari mami mereka, artinya anak-anak mami Sonia pun anak ayah juga. Yang artinya juga menjadi saudara mu. Kita keluarga, Ar...Dan ayah harus berlaku adil"
"Lalu bagaimana dengan lukisan ibu yang telah di rusak? Bagaimana dengan acara pagelaran yang tinggal tiga hari lagi? Apa Arumi juga harus merelakannya...?"
"Cari solusinya, Ar..."
"Ayah...." ucap Arumi di sela isaknya.
Air mata yang semula ia tahan akhirnya terjun bebas juga. Tangis atas ucapan Permana yang sudah memporak-porandakan keteguhan dan kepercayaan dalam relung hatinya selama ini hingga menyisakan kekecewaan saja.
"Maafkan Ayah, Ar. Tapi sekali ini ayah meminta kepadamu jangan persoalkan lagi lukisan ibu mu. Demi ayah. Demi keluarga kita..." ucap Permana sambil berlalu meninggalkan Arumi yang masih termangu dengan berurai air mata.
Arumi duduk bersimpuh. Tangisnya kian menjadi. Bahunya hingga terguncang hebat. Ketenangan dalam hatinya benar-benar telah berubah menjadi badai yang akan sangat sulit ditenangkan Sepertinya.
Tak lama kemudian, Arumi bangkit dan langsung berlari meninggalkan ruangan tersebut. Sambil berurai air mata, Arumi menaiki anak tangga menuju ruang lukis.
"Ibu...!!" teriak Arumi saat di dalam ruangan tersebut. Hatinya terluka. Bukan hanya karena perusakan lukisan tapi lebih disebabkan tiada pembelaan dari ayahnya. Dan hal itulah yang membuat hatinya semakin di amuk amarah.
"Ini adalah kenangan ku satu-satunya atas ibu. Selain itu aku tidak memiliki apa pun. Mengapa Tuhan...? Mengapa...?!" ucap Arumi sambil menatap ke sekeliling ruangan dengan lukisan yang telah rusak.
Berulangkali Arumi menatap ke sekelilingnya untuk kemudian terduduk dalam kekecewaan mendalamnya. Arumi terus menangis dan menyesali apa yang telah terjadi. Tangan ya memeluk erat kedua lutut.
"Ibu....!" ucapnya lirih
Tanpa Arumi sadari ada sepasang mata elang tengah memperhatikannya. Ia berdiri tegak di ambang pintu ruangan dimana Arumi berada. Mata itu tak lain adalah milik Mirza Adyatma. Hatinya bak teriris melihat kondisi Arumi saat ini. Sejenak matanya menatap langit-langit. Hatinya tengah menimbang hal yang akan ia lakukan saat itu.
Kemudian kaki Mirza mulai melangkah perlahan. Ia telah mengakhiri kebimbangannya. Dan ia memilih untuk menenangkan Arumi dan memeluk kembali hatinya yang tengah terluka.
"Sayang..." ucap Mirza.
Tangannya mengusap lengan Arumi yang masih rebah pada lantai. Menyadari kehadiran Mirza, Arumi mengangkat wajahnya dan menatapnya.
"Aku harus bagaimana, Kak...?"
"Kemarilah..." ucap Mirza. Tangannya mengembang lebar.
Melihat itu Arumi langsung menghambur dalam dekapan hangat Mirza. Sebagian wajahnya terbenam pada dada bidang Mirza yang kini turut duduk pada lantai putih bersih itu.
Kembali Arumi menumpahkan sesak yang menghimpit jiwanya. Berulangkali tangannya memukul perlahan dada yang kini menjadi sandarannya itu.
Apa daya Mirza, selain membiarkan Arumi melakukannya. Mirza tahu betul bagaimana perasaan gadis 150 cm itu saat ini. Alih-alih menenangkan, sebelah tangan Mirza mengusap perlahan bahu dan pucuk kepala Arumi. Sesekali ia mengecup lembut pucuk kepala Arumi.
Sementara itu, di sudut lain ruangan itu Permana berdiri menatap polah sepasang kekasih itu. Dari sudut bibirnya terbit sebuah senyuman tiada henti.
"Suatu hari kau akan mengerti, Ndok...." batin Permana dengan mata yang terus menatap sendu Mirza dan Arumi.
🌸🌸🌸🌸🌸
"Hahaha....."
Terdengar suara tawa yang cukup keras dari salah satu ruangan pribadi di rumah kediaman Baron Dewantara. Tawa itu milik Andrea.
"Aku puas, Billy. Aku puas...!"
"Apa kau tidak berlebihan, sayang? Arumi itu anak dari ayah Permana. Suami mami mu. Yang artinya dia sudah menjadi saudara mu..."
"Cih...! Tak sudi aku bersaudara dengannya. Bahkan dengan Arya sekali pun. Kau tahu Billy...aku tidak mempunyai saudara satu pun di dunia ini. Suatu kebetulan satu aku terlahir dari perempuan yang sama dengan Arya. Selebihnya dia bukanlah siapa-siapa bagi ku..."
"Jangan terlalu kejam, sayang. Nanti kau akan menyesal..."
"Mati pun aku tidak akan menyesal asal berhasil membuat hidup Arumi dan Mirza sengsara, tiada tawa ataupun bahagia selamanya..."
"Ck...Ck...Ck...Luar biasa istri ku ini. Jika sudah bertekad semua akan ia lakukan. Lama-lama aku jadi ngeri pada mu..."
"Hahaha...akan berbeda jika dengan mu. Kau laki-laki yang selalu membuat ku bahagia. Karena itu aku menaruh perhatian dan cinta ku pada mu"
"Oya...? Apa kau mencintai ku?"
"Tentu saja aku mencintaimu..."
"Kemarilah..." ucap Billy.
Kedua tangannya mengembang dan memberi keleluasaan pada Andrea untuk mengeksplor dada bidangnya. Melihat itu, Andrea tak menyia-nyiakannya. Andrea langsung menghambur dalam pelukan hangat laki-laki yang sudah menikahinya tanpa rencana itu.
Dengan pertautan kehangatan keduanya makin terlena semakin jauh menembus hasrat yang kian menyata. Dan jadilah keduanya menaiki bukit, menuruni lembah. Mereguk madu yang ditawarkan kuncup-kuncup bunga yang tengah bermekaran. Mengibaskan rasa lelah dan berpacu dalam peluh penuh kenikmatan.
Hingga di penghujung rasa, keduanya mereguk kenikmatan yang menjadi candu.
"Kau luar biasa, sayang..." ucap Billy yang jatuh terkulai di samping Andrea.