
Arumi tengah merapikan mukena dan sajadah yang baru saja ia gunakan di subuh ini. Sesaat ia menghela nafas lega. Matanya kembali menilik pakaian penambah berat badannya. Ada kilatan rasa bersalah di sana.
"Aku harus mengakhiri ini. Aku berharap setelah menceritakannya kepada kak Mirza, hubungan kami akan tetap baik-baik saja. Tapi seandainya tidak pun, aku akan menerimanya" gumam Arumi.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Ponsel Arumi bergetar. Pendarnya tentu saja menarik perhatian gadis 150 Cm itu.
"Yaelah...kak Mirza. Soboh-soboh banget sih" gumam Arumi sambil menyulam senyum. Karena hatinya sesungguhnya lah bahagia.
Sebuah pesan tertera di layar kaca. Pesan yang membuat Arumi terkesiap sekaligus berseri.
"Dimana? aku di bawah, tepat jendela kamar mu. Aku tengah berbincang dengan ayah"
"What....!"
Arumi melonjak. Ia segera memakai pakaian penambah bobot tubuhnya dan bersiap menemui Mirza.
Tak lama, sekitar sepuluh menit Arumi sudah berlari menuruni anak tangga menuju halaman rumah. Dan benar saja, begitu sampai di halaman tampak Mirza tengah berbincang bersama Permana. Di hadapannya tersaji wedang jahe dan sepiring kudapan.
Melihat kehadiran Arumi keduanya melempar senyuman. Terlebih Mirza, si manusia es namun selalu mencair jika bersama Arumi.
"Kemari, Ndok..." ajak Permana.
Arumi pun segera menempati sebuah kursi di antara keduanya sambil mengumbar senyum khasnya.
"Ndok, nanti malam kita diundang pak Edward untuk makan malam di rumahnya"
"Oya...? ucap Arumi berseri.
Matanya berbinar. Senyum pun menghiasi wajahnya. Tanda hatinya bersukacita. Entah mengapa Arumi menjadi sumringah setiap kali berbicara tentang Edward ataupun Ryu.
"Ya. Semalam ayah mendapat kabar itu melalui telepon"
"Sungguh...?"
"Ya, sayang..."
Permana tampak sedikit kesal, putri semata wayangnya itu seakan tak mempercayainya.
"Hehehe....kak Mirza ikut serta juga kah?"
"Kakak Mirza mu itu mendapat undangan khusus dari pak Edward" ucap Permana sambil mengusek pucuk kepala Arumi.
Sadar namanya disebut, Mirza tersenyum.
"Huu... sombong" ucap Arumi sambil memancungkan bibirnya ke arah Mirza.
Fix...polah Arumi tersebut membuat Mirza tertawa. Pun demikian dengan Permana.
"Ah, sudahlah. Pergilah kalian. Nanti waktu terbaik joging-nya hilang"
Kata Permana sepertinya menjadi isyarat untuk Mirza dan Arumi meninggalkan Permana saat itu.
Kemudian Mirza pun pamit. Mencium punggung tangan Permana dengan takzim. Tak habis satu dupa langkah keduanya sudah semakin menjauh dan masuk mobil sport silver yang parkir di bibir jalan.
Saat itu mentari masih enggan menampakkan diri. Hanya semburat kemerahannya saja yang begitu apik menghiasi sebagian kaki langit.
Laju mobil sport silver cukup cepat melintasi jalan yang masih cukup lengang.
"Kita kemana, Kak..."
"Stadion..."
"Ow...."
"Kenapa? Tidak suka?"
"Em, bukan begitu. Hanya ingin tahu tujuan pastinya saja"
"Kita lari sejenak. Setelah itu kita cari sarapan. Keberatan dengan agenda kita pagi ini?"
"Em, tidak. Sama sekali tidak"
"Good..."
Percakapan pun tak berlangsung lama. Karena setelah itu, keduanya kembali terdiam. Sepertinya keduanya bergelut dalam pikiran dan perasaan masing-masing.
Bersamaan dengan jatuhnya titik pertama hujan, mobil sport silver pun pada areal parkir dengan apik. Tampak kekecewaan tergugat di wajah Mirza saat mendapati titik hujan yang semakin kerap.
"Ya, Tuhan. Mendadak hujan begini. Padahal sebelumnya cerah merekah..." ucap Mirza.
"Betul juga. Hehehe..."
Kedua lengan Mirza menopang pada kemudi. Dengan kepala rebah di atasnya. Wajahnya pun menghadap Arumi. Mata elang Mirza terus saja menilik wajah cantik Arumi yang sedikit berperawakan Jepang, seperti ibunya.
"Kenapa kakak melihatku seperti itu?"
"Kamu cantik..."
"Oya..."
"Dan lagi kau calon istri ku. Jadi wajar donk jika aku mengagumi secara berlebih"
Arumi hanya tersenyum mendapat pujian itu. Tanpa kata terlontar dari bibir tipisnya yang merona.
"Apa kau masih menolak menikah dengan ku?"
"Egh..."
Arumi mengangkat wajahnya dan menatap Mirza.
"Sejujurnya aku ingin sekali secepatnya menikahi mu terlepas dari keinginan ku untuk meluluskan cita-cita mu"
"Apa kakak yakin akan menikahi ku? Apa kakak tidak malu bersanding dengan gadis 150 Cm seperti ku?"
"Sayang, cintaku bukan lagi sebatas fisik. Cintaku lebih pada kepribadianmu dan semua hal yang kamu miliki. Baik kelebihan ataupun kekurangan mu"
"Ada yang ingin Arumi ceritakan pada kakak. Setelah ini mungkin kakak akan membenci Arumi. Dan semua itu akan Arumi terima"
Mirza menghela nafasnya. Dadanya naik-turun dengan teratur. Sementara mata Mirza begitu lekat menatap Arumi. Ia penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh gadis 150 Cm nya itu.
"Arumi...."
Kata Arumi tercekat. Ia tak melanjutkan lagi katanya saat ponselnya berpendar berulangkali.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Mirza pun memberi isyarat agar Arumi menerima panggilan tersebut. Dan hal tersebut langsung diiyakan Arumi.
"Assalamu'alaikum...Kak Arya?"
"Wa'alaikumussalam...Ar. Em, ayah pingsan lagi. Sekarang kami tengah membawanya ke MA Hospital..."
Serasa gelap dunia Arumi mendapat kabar tentang Permana. Gerak bibirnya bergetar saat ingin berujar.
"Ay-ayah...." gumam Arumi lirih.
Melihat itu, Mirza langsung meraih ponsel yang masih terhubung dari genggaman lemah Arumi.
"Ada apa, Arya...?" tanya Mirza.
"Ayah pingsan, Pak. kami tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit"
"Hubungi dokter ayah, Arya. Agar segalanya sudah siap begitu ayah tiba di rumah sakit"
"Baik, Pak..."
Tut.
Tut.
Tut.
Sambungan telepon pun berakhir. Mata Mirza lekat pada Arumi yang masih terkejut akan berita yang baru saja ia dengar. Dan Arumi tampaknya menjadi tak sabar untuk segera menemui ayahnya itu. Melihat itu Mirza langsung melajukan mobil sport silver-nya. Kemudian sambil berfokus pada jalanan, Mirza meraih ponsel dari balik jaket sport-nya. Ia pun menghubungi sebuah kontak yang tertera di sana.
"Faaz, tuan Permana-ayah Arumi tengah menuju rumah sakit. Beliau tak sadarkan diri. Tolong persiapkan segala sesuatunya. Saya ingin pelayanan terbaik untuk beliau"
"Baik, saya dan team langsung mempersiapkannya..." jawab Faaz di ujung telepon yang langsung mengakhiri begitu informasi selesai ia terima.
"Sabar ya, sayang. Ayah dipastikan mendapatkan pelayanan terbaik..." ucap Mirza berusaha menenangkan Arumi.
"Terima kasih, Kak..."
Pagi itu dibawah guyuran hujan, mobil sport silver milik Mirza melaju dengan cepat. Lajunya seakan sanggup mengalahkan cepatnya titik hujan yang menghunjam ke bumi ataupun hembusan sang bayi saat itu. Sementara itu, suara raungan mesinnya terdengar begitu gahar mengisi udara yang dilaluinya.
Mata Mirza sesekali menilik wajah Arumi yang saat itu menampilkan kecemasan. Wajah yang semula berseri kini telah berubah gusar. Dan titik bening pun tengah menghiasi wajah tersebut. Sebagai perwujudan suasana hati Arumi saat itu.
"Sabar ya, sayang..."
Kembali kalimat penguatan tersebut meluncur dari bibir Mirza. Sementara sebelah tangannya mengusap lembut pucuk kepala Arumi yang sudah sandar pada bahunya.