
Mata Keive nanar menatap Salim yang tengah tersenyum sinis penuh kemenangan.
"Cepatlah, Kieve...! Waktu berjalan terus. Lima, empat, tiga, dua, satu..."
Mendengar hitungan waktu habis para laki-laki itu pun bergegas merangsek ke tubuh Lidya.
"Aku mohon...Jangan sakiti aku" pinta Lidya di sela isaknya.
"Ok...! Ok...! Aku akan menuruti kemauan mu. Dasar manusia bejat..!"
Tawa pun kembali mengisi udara di tepian hutan yang lengang itu. Tawa kemenangan dari seorang yang rakus akan harta. Siapa lagi jika bukan milik Salim, adik laki-laki beda ibu dari Baron.
Sementara itu, bergetar tangan Keive saat meraih pena dari tangan Salim. Terlebih saat ia membubuhkan tanda tangan di atas kertas berisi pengalihan hak pemilikan perusahaan dan juga berbagai aset kekayaan lainnya. Hati Keive beriak. Ia sungguh merasa tak mampu menjaga apa yang sudah diamanatkan Baron kepadanya. Sebagai anak laki-laki sekaligus anak tertua di keluarganya, perusahaan dan seluruh keluarga adalah tanggungjawabnya sepeninggalan Baron, ayahnya. Mata Keive samar saat menilik kembali isi surat tersebut karena bulir bening yang kian mengerubutinya. Keive memejamkan matanya saat pilu dan amarah itu menduduki hatinya.
"Maafkan Keive, Pa. Keive tak mampu mempertahankan apa yang sudah papa wariskan kepada Keive. Semua Keive lakukan untuk menyelamatkan Lidya dan mama, Pa" batin Keive.
Luruh sudah bulir bening yang sejak tadi mengerubuti mata Keive. Tiada terasa ia terisak pilu mengingat ketidakberdayaannya. Kata maaf pun berulangkali meluncur dari bibir yang masih basah dengan lelehan darah.
"Sekarang lepaskan Lidya..." ucap Keive dengan wajah yang tertunduk.
"Hehe...." kekeh Salim terdengar.
Tangan Salim menepuk bahu Keive beberapakali sebelum akhirnya ia berlalu. Ada seringai kemenangan jelas menghiasi wajah Salim. Seringai kemenangan yang penuh makna kepuasan.
"Piere...itu hadiah mu. Kau dan lainnya bebas melakukan apapun terhadap gadis itu. Haha....!' ucap Salim sambil menutup pintu mobil.
"Bangsat kau, Salim...!" teriak Keive.
Cacian pun keluar dari mulut Keive di tengah amarah yang kian meledak-ledak. Keive frustasi saat mendengar tawa dari para laki-laki yang mengerubuti Lidya yang sudah tak berdaya karena ikatan di tangan dan kakinya. Hanya jerit dan isak Lidya saja yang kian terdengar. Dan itu semakin membuat hati Keive pilu dan juga diamuk amarah.
Keive mendengus hebat. Amarahnya benar-benar sudah menjalari seluruh aliran darahnya terutama saat Ia menyaksikan ketidakberdayaan adik kesayangannya itu.
Dan kini amarah telah membawa Keive pada suatu keputusan, bahwa apa pun kondisinya, bagaimana pun caranya, ia harus menolong Lidya. Kemudian Keive pun membawa tubuh tak berdayanya menuju Lidya dengan merangkak. Sesekali ia terhenti karena hilangnya energi ataupun deraan rasa sakit dari luka di sekujur tubuhnya. Begitu terus yang dilakukan Keive sambil berurai air mata. Tak terbilang lagi bermacam umpatan pun Keive lontarkan tiada henti untuk para laki-laki itu.
"Jangan sakiti adik ku, bangsat....!! Lidya....!!"
Begitu teriak Keive berulangkali di sela rangkakannya yang tertatih itu.
"Ya...Robby. Tolonglah adik ku. Aku mohon dengan sangat ya, Robb. Jika kau kirimkan seseorang untuk membantu ku, maka aku akan menjadi tameng selama hidupnya. Nyawa pun akan ku serahkan kepadanya. Aku mohon ya, Robb...." batin Keive berdoa.
Sementara itu, di dalam mobil....
"Kita pergi sekarang, Tuan...?" ucap sopir.
"Sebentar lagi. Aku ingin melihat babak akhir pertunjukan yang menggairahkan itu. Haha..."
"Babak akhir mereka atau anda, tuan Salim...?"
"Egh..."
Salim mengangkat kepala. Mendengar ucapan laki-laki yang duduk di belakang kemudi perhatian Salim langsung beralih. Mata Salim menilik wajah laki-laki yang kini menghadapnya.
"Siapa kau...?!" ucap Salim.
Salim baru menyadari bahwa laki-laki yang duduk di belakang kemudi bukanlah sopir pribadinya.
Laki-laki itu tersenyum sinis. Mata gelapnya benar-benar membuat Salim kecut. Sontak keringat dingin pun mengembun di kening Salim saat ia mengingat siapa pemilik wajah tampan itu.
"Sekarang kau tahu siapa aku?! Yang pasti aku maut mu...!"
Bersamaan dengan itu tangan laki-laki itu menghantam telak kepala Salim sehingga laki-laki itu pun tak sadarkan diri.
Sementara itu di luar mobil, keadaan benar-benar tak terkendali. Keive begitu frustasi melihat pakaian adik kecilnya tengah dilucuti satu persatu. Merasa tak dapat membalikkan keadaan, Keive putus asa. Keive pun meraih sebuah pistol yang tergeletak di dekatnya. Ia langsung mengarahkan pistol itu pada kepalanya.
Niat Keive sudah bulat. Jika ia tak dapat membantu Lidya, maka ia tak pantas diswbut kakak oleh siapa pun. Untuk itu ia memilih untuk mengakhiri hidupnya.
"Maafkan kakak mu, Lidya. Aku tak dapat menjaga mu..." ucap Keive lirih.
Tangan Keive bergetar saat perlahan menarik slide (kokang) dan menekan *t*rigger (pelatuk). Dan...
DOR...!!
Desing peluru begitu memekakkan telinga.
Hanya seperkian detik saja, pistol itu pun meletup memuntahkan sebutir peluru. Namun bukan pada kepala Keive, tapi kepada seorang laki-laki yang tengah tertawa di hadapan Lidya. Peluru itu bersarang pada lengan kanannya. Dan seketika itu juga laki-laki bertubuh besar itu mengaduh. Sebelah tangannya langsung menutup luka yang baru saja memercikkan darah segar.
Sementara itu, sesaat setelah peluru dimuntahkan...
Keive membuka mata. Nafasnya memburu. Sadar dengan peristiwa barusan, Keive memegang kepalanya yang terasa baik-baik saja, tanpa lubang bekas peluru. Keive tampak bingung. Terlebih saat melihat seorang laki-laki di sudut lain yang jatuh tersungkur.
"Mestinya peluru itu kau arahkan kepada mereka. Bukan ke kepala mu. Suatu kebodohan Jangan kau ulangi lagi..." ucap seorang laki-laki tampan yang tak lain adalah Mirza Adyatma.
Ya...Mirza lah yang telah berhasil mengalihkan arah bidikan pistol di tangan Keive. Ya, hanya sepersekian detik saja. Jika terlambat sedetik saja, maka kepala Keive lah yang akan terlubangi.
"Tapi...." ucap Keive terhenti saat menyadari Mirza tak lagi berada di dekatnya.
"Panggil ambulance dan pihak berwajib, El...!" ucap Mirza sambil berlari.
"Baik, Tuan...!"
Mirza menyerang laki-laki bertubuh kekar dan berwajah sangar itu. Berbekal potongan kayu Mirza tampak menguasai keadaan. Bak pendekar di film-film laga, Mirza berolah jurus begitu apik. Mirza sukses membuat para bodyguard atau lebih tepatnya para kacung itu kocar-kacir. Dan Keive menyaksikan itu semua. Matanya kembali dikerubuti bulir bening. Ia yakin inilah jawaban atas harapan dan doanya. Doa yang dijawab kontan oleh Tuhan YME. Ucap syukur pun berloncatan keluar dari bibir Keive yang lebam dan masih meneteskan darah itu.
"Apakah mata ku tidak salah mengenali? Bukankah ia Tuan Mirza Adyatma. Pengusaha nomor satu di negara kita?" ucap Keive yang terus menatap ke Medan laga.
"Tepat sekali. Dia adalah tuan Mirza Adyatma..."
"Dan anda...Elvano?"
"Benar. Saya Elvano. Asisten pribadi tuan Mirza Adyatma" ucap Elvano sambil memasang wajah sedikit angkuh.
"Kalian begitu terkenal dan begitu melegenda"
"Melegenda? Jadi kau fikir kami ini sudah tua apa?!" ucap Elvano sedikit kesal.
"Bukan seperti itu..." ucap Keive di sela batuknya yang mengeluarkan sedikit darah.
"Terima kasih, Tuhan. Kau telah mengirim dia untuk menyelamatkanku dan juga keluarga ku..." batin Keive.
"Aku akan memenuhi janji ku. Aku akan menjadi bayangan mu, tuan Mirza Adyatma...." batin Keive sekali lagi.
Keive Flashback Off