
Pukul 7 tepat. Andrea tampak melenggang memasuki hotel H sambil menyunggingkan senyuman. Dress pendek di atas lutut dengan berkerah rendah berwarna hitam pun melekat pada tubuh ****-nya. Berulangkali dress-nya melayang dan atau tersingkap setiap kaki lenjangnya melangkah. Wal hasil penampilan Andrea tersebut sukses menyedot perhatian setiap orang yang ada.
Mata Andrea tampak cekatan menyapu setiap sudut lobby hotel yang tampak ramai. Dari caranya menatap, jelas jika ia tengah mencari seseorang. Dan orang tersebut tak lain tak bukan adalah Keive atau yang Andrea kenal sebagai Ansal.
"Ada yang bisa dibantu, Nyonya?" tanya seorang laki-laki berseragam.
Dilihat dari seragamnya, tentulah ia satu diantara dari sekian pegawai pada hotel tersebut.
"Saya ada janji dengan seorang teman di sini. Bisa saya menunggu sebentar?"
"Tentu saja, Nyonya. Mau dipesankan minuman"
"Tidak. Terima kasih..."
"Kalau begitu saya permisi, Nyonya..." ucap laki-laki itu sesaat sebelum berlalu.
Mata Andrea kembali memutari seisi ruangan. Hatinya mulai beriak. Ia gelisah. Tangannya kembali mengeluarkan catatan kecil.dari dalam tas tangannya. Sebuah catatan yang diberikan Keive siang tadi saat di cafe B.
"Menurut catatan ini, aku benar. Hotel ini yang dimaksud. Ah, bodohnya aku. Mengapa aku tidak meminta nomor kontaknya..." batin Andrea.
Hampir kesalnya menyelimuti hati Andrea, saat itu seorang laki-laki menghampirinya. Perawakannya tinggi dan tampan.
"Maaf, Nyonya. Tuan Ansal menunggu Nyonya di lounge H" ucap laki-laki itu.
Andrea menatap laki-laki itu sesaat. Tatapannya seakan tengah mencari pembenaran atas ucapan laki-laki tersebut.
"Mengapa tidak tuan Ansal sendiri yang menjemput ku?" ucap Andrea bernada kesal.
Laki-laki itu tersenyum mendapat tanggapan Andrea tersebut. Kemudian, tangannya meraih benda pipih dari balik blazer hitam yang ia kenakan. Segera matanya menilik angka-angka pada fitur kontak di ponselnya.
Sesaat benda pipih itu berpendar ketika terhubung pada seseorang di ujung telepon.
"Silahkan, Nyonya..." ucap laki-laki itu sambil menyodorkan ponsel yang tengah berpendar itu.
Sekali lagi mata Andrea menatap laki-laki itu. Tentu saja ia menjadi gamang atas perilaku laki-laki itu.
"Tuan Ansal..."
"Ah, mengapa tidak kau katakan sejak tadi..." ucap Andrea sambil menyambar ponsel dari tangan laki-laki itu.
"Hallo..." ucap Andrea dengan manis.
"Aku tidak suka menunggu lama, An. Cepatlah..." ucap seseorang di ujung telepon yang tak lain Keive.
"Iy-iya. Saya akan segera menuju ke lounge" ucap Andrea sedikit gagu.
Andrea menghela nafas lega. Ia pun menyodorkan kembali ponsel tersebut kepada laki-laki yang sejak tadi berdiri di hadapannya itu.
"Mari Nyonya, saya antar..."
Andrea beranjak dari duduknya dan melenggang menuju tempat yang dimaksud Keive. Cukup cepat langkahnya hingga hampir membersamai langkah Rauf yang merupakan asisten pribadi Keive.
"Silahkan, Nyonya..." ucap Rauf sambil memutar gagang pintu sebuah ruangan.
Dalam keremangan, tampak Keive duduk sempurna pada sebuah sofa berwarna merah mentereng. Ia duduk sedikit bersandar. Sebelah kakinya menopang di atas kaki lainnya. Melihat kehadiran Andrea, Keive menegakkan tubuh dan menurunkan kakinya. Dengan sedikit senyum ia mempersilahkan Andrea duduk. Bersamaan dengan itu seorang pramusaji pun datang dengan membawa minuman pesanan Keive. Juga beberapa cemilan.
"Mengapa Ansal memperlakukan ku seperti ini? Apakah ia telah tertarik pada ku? Ah, aku harus mencari tahu..." batin Andrea.
"Bersulang...." ajak Keive ketika minuman telah di tuangkan.
"Cheers....!" ucap keduanya hampir bersamaan.
"Well, Andrea. Apa kita berteman sekarang?"
"Tentu saja.."
"Good. Aku senang mendengarnya..."
"Apa maksud Ansal sebenarnya...? Apa ini hanya sebuah permainan saja? Ah, tidak mungkin..." perang batin Andrea.
"Kalau begitu bisakah kau menemaniku malam ini?"
Deg.
.
.
.
"Apa aku terlalu dini berkata demikian? Apa pesonaku belum memabukkannya? Ah, sial...!' batin Keive.
"Maaf jika aku mengatakannya begitu cepat dan tiba-tiba. Jujur saja aku merasa kita click saat pertama kali kita bertemu. Dan hati ku yang berkata demikian..." ucap Keive.
"Ah, sial. Mengapa ia begitu blak-blakan? Tapi sepertinya inilah kesempatan ku menguasainya. Rupanya pesona ku berhasil menarik perhatiannya. Ah, tapi perasaan apa ini? Mengapa jantungku begitu bertalu. Sebuah perasaan yang tak pernah ku dapat saat bersama laki-laki mana pun. Baik itu suami ku dahulu, atau pun Ryu, bahkan Mirza Adyatma sekalipun. Apakah aku jatuh hati padanya? Ah, benar-benar sial...!" batin Andrea.
"Andrea..." ucap Keive menyadarkan Andrea dari lamunannya.
"Ah, ya...Ans. Ada apa?" ucap Andrea gagu.
"Maukah kau menemaniku malam ini?"
"Tentu saja. Tapi yang dimaksud dengan menemani mu ini seperti apa?" ucap Andrea sambil meneguk habis minumannya.
"Ikut aku..." ucap Keive sambil meraih tangan Andrea dan membawanya serta dalam langkahnya.
"Wait..." ucap Andrea sambil meletakkan gelas pada meja dengan tergesa.
"Ans...tunggu dulu. Jangan terlalu cepat" ucap Andrea sedikit manja.
Hatinya beriak. Benar-benar beriak. Ada rasa yang membuatnya begitu suka cita saat Keive atau Ansal memegang tangannya dan membawanya serta mengikuti langkahnya. Andrea benar-benar terhanyut suasana. Hatinya bak telah memilih Ans untuk segera mendudukinya.
"Kemana Ans membawaku? Ini sudah hampir di lobby. Apakah ia berniat berganti hotel? Waw...tak dapat ku bayangkan bagaimana hangatnya dekapan Ansal pada tubuh ku. Pasti akan sangat menyenangkan. Hiiii...." batin Andrea.
"Tidak, Andrea. Bukan di kamar hotel kau menemaniku. Aku tidak se-kotor itu..." batin Keive.
Keive membukakan pintu mobil mewahnya untuk Andrea. Mendapat perlakuan demikian wajah Andrea tampak memerah. Hatinya beriak. Ada bunga-bunga yang bermekaran di mulai memenuhi hatinya. Hatinya memuji setiap perlakuan Keive walau sederhana, namun tetap terasa manis bagi Andrea. Dan kini dalam waktu dua hari saja, puisi-puisi cinta mulai beterbangan mengisi hati dan fikiran Andrea. Semua bak penyatuan, dari mata turun ke hati.
Tak lama kemudian, mobil mewah Keive pun sudah melaju di tengah jalanan yang masih tampak ramai itu. Suara raungan mesinnya sempat menjadi pusat perhatian siapa saja yang dilaluinya.
"Dasar tukang pamer..." ucap seorang laki-laki yang kendaraannya baru saja di lalui Keive.
Katanya bernada kesal. Namun sekular waktu ada senyum yang sedikit tersulam di bibirnya. Laki-laki itu tak lain adalah Mirza Adyatma. Sosok pengusaha muda sukses saat ini. Di sebelahnya duduk seorang perempuan cantik yang tengah menatap wajah Mirza.
"Ada apa kau menatap ku seperti itu...?"
"Aku bingung. Apa sebenarnya yang tengah di rasakan suami tampan ku ini? Kesal atau bahagia?"
"Haha...keduanya, sayang"
"Maksudnya..?"
"Aku kesal karena ada orang yang berani melewati ku dengan cara seperti tadi. Tapi aku bahagia setelah tahu siapa pemilik mobil tersebut..."
"Siapa dia? Aku penasaran...."
"Keive yang tengah menjalankan misi dari ku. Kau tahu dengan siapa ia bepergian?"
"Siapa..?"
"Andrea..."
"Maksud kakak..."
"Ya, sayang. Belum mengerti juga...?"
"Apa ini berkaitan dengan kak Ryu?"
"Betul sekali..." ucap Mirza.
Tangannya mencomot hidung bangir Arumi hingga perempuan 150 cm itu membulatkan matanya dengan sempurna. Sebelah tangannya menapik tangan Mirza yang masih mencomot hidungnya.
"Sakit, Kak..." keluh Arumi.
"Haha....Maaf. Aku obati ya?" ucap Mirza sambil sedikit mendekatkan wajahnya dan memajukan sedikit bibirnya.
"Apaan sih, Kak..." ucap Arumi sambil menolak tubuh Mirza.
"Saya tidak lihat kok, Nyonya...." ucap Elvano yang sejak tadi menyimpan senyum kendati ia tetap fokus pada jalanan, sebab kendali mobil berada padanya.
"Haha..." tawa Mirza.