150 Cm

150 Cm
Episode 84. Andrea...



Edward terlihat begitu tertekan. Berulangkali ia menghela nafas. Setiap helaan yang begitu terasa berat. Pun matanya yang menatap gelisah setiap pucuk dahan yang menguning dari ranting yang patah. Sekali waktu terlihat sebelah tangannya mengusap matanya. Hal tersebut karena tatapannya mulai kabur akibat bulir bening yang kian mengerubuti matanya. Edward benar-benar kalut. Dan hampir saja emosinya tak terkendali.


"Lalu dimana kak Ryu sekarang, Pa...?" tanya Arumi sambil mengguncang lengan Edward.


Jelas Arumi merasa seperti halnya yang dirasakan oleh laki-laki yang beberapa waktu ini diketahui sebagai ayah kandungnya.


"Di penjara..."


Deg.


.


.


.


Suasana mendadak hening. Ucapan Edward sukses membungkam kata Arumi maupun Mirza.


"Pen - ja - ra...?" ucap Mirza dan Arumi kemudian.


Ucapan yang hampir bersamaan itu adalah ungkapan keterkejutan keduanya atas kabar yang baru saja di dengar.


"Seperti yang sudah papa katakan, kakak mu masuk dalam jebakan seorang perempuan. Ia berpura-pura mencintai Ryu hingga anak laki-laki ku itu tergila-gila padanya. Tidak hanya itu perempuan itu pun berhasil meraup keuntungan"


"Keuntungan? Keuntungan apa, Pa?"


"Ar, setiap bulan kakak mu mentransfer sejumlah uang kepada perempuan itu. Bahkan barang-barang mewah tidak segan-segan kakak mu berikan. Hingga akhirnya hubungan keduanya di ujung sebuah keputusan yaitu menikah. Dan liciknya perempuan itu ia meminta perusahaan sebagai mahar pernikahannya..."


"Dan kak Ryu menyetujuinya...?"


"Tentu saja, Ar. Ryu menyetujuinya. Padahal papa sudah berulangkali memperingatkannya, tapi cinta telah membutakan Ryu..."


Lagi-lagi Edward menghela nafas. Ada kegetiran yang amat kental dirasa Arumi saat melihat wajah laki-laki paruh baya itu.


"Lalu bagaimana kak Ryu bisa di penjara? Bukankah keduanya akan menikah?"


"Setelah kepemilikan perusahaan berpindah pada Andrea..."


"Andrea...?!" ucap Arumi yang terkejut saat mendengar sebuah nama disebut. Sebuah nama yang tidak asing di telinganya.


"Mungkinkah Andrea yang dimaksud adalah kak Andrea. Ah, tidak mungkin. Bukankah kak Andrea telah menikah..." batin Arumi.


"Ya, Andrea. Setelah kepemilikan itu berpindah padanya, Andrea membuat jebakan busuk. Ia meminta Ryu menemuinya di sebuah hotel. Dan di sana ia memainkan peran busuknya. Berdasar informasi dari pihak berwajib di kantor polisi pasca berhasilnya rencana busuk Andrea, bahwa Ryu telah memaksa Andrea memenuhi nafsu bejatnya. Ryu yang tengah dibawah pengaruh suatu obat benar-benar tidak menyadari perbuatannya itu. Dan fatalnya lagi, Andrea berhasil membuat perbuatan itu sebagai tindak pemaksaan, bukan hubungan suka sama suka. Hal itu ditandai dengan adanya memar di beberapa bagian tubuhnya..." cerita Edward.


"Astaga...hina sekali perempuan itu" gumam Arumi.


"Kalau boleh Mirza meminta foto perempuan itu, Pa.."


"Tentu saja. Papa kirimkan sekarang ke ponsel mu..."


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Mirza pun berpendar beberapa saat. Dan Mirza pun langsung meraih benda pipih berwarna hitam itu. Mata Mirza tampak sedikit membulat saat mendapati sosok dalam foto yang dikirim Edward barusan. Kening Mirza sedikit mengkerut sementara tangannya menimang-nimang ponselnya itu. Tanda jika Mirza tengah berfikir keras.


"Mirza akan urus, Pa. Papa tidak perlu khawatir, Ryu pasti akan kembali bersama kita dengan nama yang tetap bersih"


Mata Arumi menilik wajah laki-laki tampannya itu. Ia penasaran apa yang tengah direncanakannya. Arumi mengangkat kepalanya sebagai isyarat yang mencerminkan tanya di hatinya tentang sosok perempuan yang dimaksud.


Mirza merengkuh kepala Arumi dan mengecupnya lembut. Bersamaan dengan itu, Mirza memberikan ponselnya dan memperlihatkan wajah si perempuan yang sukses membuat Arumi geram.


"Jangan bereaksi berlebihan ya..." bisik Mirza.


Arumi pun langsung meraih ponsel itu dan langsung melongok ke dalam ponsel yang berpendar itu.


"Akh...!" teriak Arumi tertahan.


Bibir tipisnya langsung tertutup jemari yang seketika bergerak sesaat setelah mengetahui identitas perempuan yang bernama Andrea itu.


"Apa kalian mengenalnya?" tanya Edward sambil menatap Arumi dan Mirza bergantian.


"Tidak, Pa...maksud Arumi tahu tapi tidak begitu mengenalnya..."


"Ya, Pa. Kami akan mengeluarkan Ryu dan mengembalikan segala aset dan kepemilikan perusahaan secepatnya..." ucap Mirza yang duduk menyandarkan tubuhnya pada kursi.


"Dan bodyguard itu, apa ada kaitannya dengan Andrea?"


"Andrea belum puas dengan kepemilikan perusahaan. Ia pun mengincar rumah ini...." ucap Edward sambil bangkit dari duduknya.


Edward melangkah mendekati bibir pembatas roof. Edward berdiri tegak. Kedua tangannya bersedekap di dada. Dan matanya pun menatap tajam. Sebuah tatapan yang jauh entah kemana.


"Dasar perempuan keji. Kalau bertemu nanti akan ku remas mulut berbisanya itu. Dan ku kuras isi kepalanya yang kotor itu..." ucap Arumi geram.


"Nyonya Mirza di rumah saja, ya. Biar suami tampan mu ini yang mengurus semuanya..."


"Kaaak...." ucap Arumi bernada kecewa setengah manja.


Arumi tidak terima jika ia hanya duduk diam di rumah menunggu kabar dari suaminya itu.


"Sayang..." ucap Mirza sedikit membulatkan matanya.


"Tapi kak, mana bisa aku duduk diam di rumah..."


"Siapa yang menyuruhmu duduk diam? Aku meminta mu di rumah bukan untuk percuma. Aku ingin kau menyiapkan lukisan mu untuk pameran bulan depan"


"Egh..."


Arumi mengangkat kepalanya. Perempuan 150 cm itu menatap wajah tampan laki-lakinya itu dengan melempar tanya di ujung tatapannya.


"Jangan salah pengertian. Aku tidak ada maksud apa pun selain membantu papa"


Mirza begitu meyakinkan. Mirza tahu betul jika tanya yang tercurah di wajah Arumi menyimpan cemburu karena sesungguhnya Arumi tahu bagaimana kisah dirinya bersama Andrea dahulu.


Mirza kembali merengkuh tubuh Arumi. Ia mendekapnya erat sambil sesekali mengecup lembut pucuk kepala Arumi.


"Aku hanya memiliki mu. Tiada perempuan selain dirimu, sayang. Hal ini karena hanya kau saja yang berhak memiliki ku"


"Terima kasih, kak..."


CUP...!


Ucapan Arumi berbalas kecupan kilat pada bibir tipisnya. Spontan matanya membulat sempurna dengan wajah yang merona.


"Ehem..." Edward berdehem sambil memutar tubuhnya.


"Ya, jadi begitu pa. Nanti Mirza yang mengurusnya..." ucap Mirza tergagap seperti pencuri yang tertangkap basah.


"Kapan event pamerannya dilaksanakan?"


"Awal bulan depan, Pa. Papa datang kan?"


"Tentu saja papa akan datang..." ucap Edward sambil mendekap Arumi.


"Pa, untuk sementara jangan melakukan aktivitas yang berlebihan di luar rumah. Mirza khawatir perempuan itu akan melakukan hal yang buruk terhadap papa.."


"Baiklah. Papa mengerti..."


"Dan Mirza akan menambah bodyguard di rumah ini. Semua demi keamanan papa. Apa papa keberatan?"


"Tentu saja tidak. Lakukanlah apa yang menurut mu terbaik..."


"Tentu, Pa. Mirza akan melakukan hal yang terbaik..."


"Terima kasih, Za..."


"Tidak ada kata terima kasih dari orangtua kepada anaknya. Karena setiap keinginan dan ucapan orangtua adalah bak perintah bagi anak-anaknya..."


"Wah...ternyata tuan Williams begitu berhasil mendidik mu, Za. Aku senang laki-laki seperti mu yang menikahi putri ku" ucap Edward.


Sebelah tangannya menepuk bahu Mirza. Sementara senyum pun tersulam di bibirnya. Edward sedikit tenang dengan kesediaan Mirza untuk membantu Ryu.


"Ah, papa bisa saja. Sudah kewajiban Mirza, Pa.


Sementara itu, melihat interaksi Edward dan Mirza, senyum khas Arumi pun mengembang. Senyum yang menandakan kebahagiaan. Itulah cerminan dari bagaimana perasaan dalam hatinya saat ini.


"Semoga kalian akan selalu bahagia dan akur. Dan aku tidak akan tinggal diam jika ada yang berusaha mengusik kebahagiaan ini" batin Arumi.