150 Cm

150 Cm
Episode 38. Berita Sampah



Elvano menghentikan mobil sport silver pada areal parkir tak jauh dari gedung perkuliahan seperti permintaan sang tuan yang juga sahabatnya itu.


"Wa'alaikumussalam...Pagi Gadis ku, calon istriku, ibu dari anak-anakku. Mari berbahagia bersama dan merajut hari menjadi indah. Hanya kau dan aku..." pesan Mirza


Mirza tersenyum tipis sambil menyimpan benda pipih itu ke saku kemejanya. Rupanya kursus yang ia ikuti Sesekali ia menutup mulutnya. Ia menyembunyikan rasa kantuknya setelah hampir semalaman terjaga. Elvano yang sedang asyik mengotak-atik isi ponsel nya, langsung tersenyum saat mendapati polah sahabatnya itu melalui ekor matanya. Ia tahu persis apa yang tengah dialami Mirza setelah semalaman terjaga.


"El, coba deh check. Mengapa terjadi kerumunan mahasiswa di depan kelas?"


"Sekarang,.Bos.."


"Tahun depan. Ya, sekarang Elvano bin Jabir..."


"Hahaha... Busyet, lengkap amat, Bos. Ok. Sambil aku mengecek, Bos baca ini..." ucap Elvano sambil menyodorkan tablet berisi tayangan sebuah acara gosip dari salah satu stasiun televisi swasta.


Mata Mirza mencermati setiap bagian berita yang di tayangkan.


"Kau sudah menjadi topik pembicaraan, sayang. Semua mempertanyakan identitas mu..." gumam Mirza.


"Tapi tunggu...Apa ini?!" ucap Mirza dengan mata membulat sempurna.


Matanya bergerak lincah membaca setiap deret kata yang tertera. Terlebih pada kalimat yang menyebutkan bahwa keberadaan Arumi yang disebut gadis abnormal itu hanya sebuah trik bisnis saja. Dimana perusahaan orangtuanya, Permana Wicaksono tengah mengalami kebangkrutan. Dan Mirza Adyatma selaku pemilik MA Group membantu menyelamatkan perusahaan tersebut. Dan sebagai gantinya Tuan Permana menyerahkan Arumi sebagai tanda balas jasa.


"Berita sampah...!" ucap Mirza geram sambil melempar tablet ke kursi di sebelahnya.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Mirza berpendar.


"Berita macam apa itu, Za?!" ucap William bernada geram.


"Ya, Pa. Mirza baru saja membacanya..."


"Kau urus dengan baik, Za. Jangan berlarut-larut. Papa tidak ingin Permana atau Arumi terluka. Papa tidak dapat membayangkan, bagaimana perasaan Arumi saat membacanya"


Deg.


Mirza tertegun sejenak. Fikirannya mengembara mencari sosok yang kini amat ia sayangi itu.


DREEG...


Pintu mobil tertutup bersamaan dengan Elvano yang duduk kembali di belakang kemudi. Kilat matanya mengisyaratkan ketidaksukaan. Mirza yang melihat itu tahu betul pasti ada sesuatu yang sudah terjadi.


"El..."


"Ya, Za. Sorry..." ucap Elvano sambil menghela nafas berat. Dan tangannya menyodorkan selembar kertas.


Kisah Arumi, si gadis 150 cm. Arumi, selain seorang mahasiswa ia pun ternyata seorang asisten rumah tangga di kediaman Tuan Mirza Adyatma. Terlihat pada saat bagaimana Tuan Mirza memperlakukannya. Jauh dari kata sepasang kekasih, bukan?


"Sampah...!" ucap Mirza sambil meremas lembar kertas tersebut.


"El, aku ingin tahu siapa pembuat dan penyebar berita sampah ini..."


"Baik, Za..."


"Nareta tolong kamu hubungi semua media masa baik cetak maupun elektronik. Jadwalkan saya press conference pukul sebelas siang nanti. Tolong kamu siapkan semuanya. Jangan sampai ada yang terlewat" pinta Mirza melalui sambungan telepon.


"Baik, pak..." ucap Nareta, sekretaris kantor Mirza.


🌸🌸🌸🌸🌸


Arumi tercenung. Ia masih duduk dalam mobil. Matanya sesekali menatap ponsel yang berisi pemberitaan tentang dirinya dan juga ayahnya.


"Ya, Allah...kejam sekali pemberitaan ini. Apa tidak punya hati orang yang membuat pemberitaan seperti ini? Tanpa ada konfirmasi, langsung saja menaikkan berita. Hadeeuh..." gumam Arumi.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Arumi berpendar. Ia meliriknya dan menghela nafas berat.


"Assalamu'alaikum...Ya, Pak?"


"Wa'alaikumussalam... Kamu baik-baik saja?"


"Entahlah...Pagi tadi saat berangkat ke kampus, baik-baik saja. Tapi setelah membaca pemberitaan, Arumi jadi tak enak hati..."


"Aku akan segera menyelesaikannya. Jam sebelas nanti pers conference. Kau jangan ambil hati semua pemberitaan itu ya, sayang"


Hiks.


Hiks.


Hiks.


"Arumi harus bagaimana, Pak...?" ucap Arumi di sela isak nya.


"Sayang, maafkan aku. Aku sudah membuat mu menangis...Kau dimana?"


"Diparkiran kampus..."


"Kam-pus..." ucap Mirza. Matanya menyapa seluas areal parkir.


"Dimana, sayang...?"


"Dalam mobil. Tak jauh dari bapak..."


Beep.


Beep.


Beep.


Mirza menajamkan telinganya. Dan suara klakson yang baru ia dengar seakan memberi isyarat. Bersamaan dengan itu, mata Mirza langsung tertuju pada sebuah mobil yang terparkir pada areal parkir di seberang jalan.


"El, kau urus kelas ya. Aku menemui Arumi sebentar. Jangan lupa jam sebelas kita press conference di kantor..."


"Siap, Bos..."


Mirza pun langsung keluar mobil dan menuju mobil dimana Arumi berada. Langkahnya begitu cepat karena Mirza tahu bagaimana situasi dan kondisi Arumi saat ini.


"Bergeser lah, sayang..." ucap Mirza sambil berisyarat agar Arumi berpindah dari belakang kemudi.


"Maafkan aku, sayang..." ucap Mirza sambil menatap Arumi yang masih berusaha mendamaikan gemuruh di hatinya.


Melihat Arumi tak menanggapi ucapannya, Mirza menghela nafas yang terasa begitu berat dalam.dadanya.


"Kita ke tempat lainnya ya biar bisa ngobrol..."


"Kemana..?"


"Ikut saja, ya..." ucap Mirza sambil mengedipkan sebelah matanya dan mengurai senyum khasnya.


Mobil pun melaju menyusuri jalanan kampus dengan kecepatan sedang. Mata Arumi masih tampak basah walau tangisnya baru saja usai. Dengan ekor matanya Arumi mencoba menilik wajah tampan Mirza yang sulit ia maknai. Antara kesal, marah bahkan khawatir semua menjadi satu.


Hampir tiga puluh menit keduanya berkendara tanpa kata. Masing-masing hanya berbicara dalam fikirannya. Hingga di sebuah halaman rumah megah, Mirza menghentikan mobil sport silver yang sudah menemaninya beberapa tahun terakhir ini.


"Maafkan aku, Arumi. Tiada maksud hati menempatkan mu pad situasi yang membuatmu menangis. Maafkan aku..." batin Mirza.


"Hadeeuhh...panasnya nieh baju penambah berat. Semoga tidak akan diserang biang keringat atau sejenisnya..." batin Arumi.


"Aku harus bagaimana agar Arumi tidak menangis lagi...?" batin Mirza.


"Apakah aku akan sanggup mendampingi pak Mirza? Sementara riak saat ini saja belum tentu mampu aku lewati..." batin Arumi.


Hiks.


Hiks.


Hiks.


Entah mengapa, Arumi kembali tenggelam dalam tangisnya. Bulir bening itu kian deras saat Mirza merengkuh kepala Arumi dan menenggelamkan dalam dadanya.


"Apakah Aku sanggup meneruskan semua ini, Pak? Aku akan kuat dan berani jika hanya menyangkut diriku, tapi tidak jika sudah menyangkut keluargaku..."


"Aku mengerti. Tapi mestinya kau harus lebih kuat dan berani. Terlebih ada aku..."


"Entahlah...."


Mendengar ucapan terakhir Arumi, hati Mirza berdesir. Ada Kegamangan yang sukses menduduki hatinya. Ia menatap lekat mata indah Arumi yang masih basah dengan air mata.


Mirza menangkupkan tangan pada pipi Arumi dan disekanya air mata Arumi dengan kedua ibu jarinya.


"Tangis mu membuat ku semakin diamuk marah. Aku berjanji akan menyelesaikan persoalan ini secepatnya. Sabar dan kuatlah, sayang. Aku yang menghadapi semuanya. Kau percaya padaku?"


"Aku masih percaya sampai saat ini...'


"Good...Kau memang gadis ku. Hanya milik ku. Sekarang kita masuk dan menemui papa dan mama..."


Ajak Mirza sambil kembali merengkuh kepala Arumi dan meletakkan kembali pada dada bidangnya.


Sesaat kemudian, Mirza mengurai dekapannya dan turun dari mobil. Sedikit berlari ia mengitari body mobil sport silver-nya itu dan membukakan pintu untuk Arumi.


Sedikit susah Arumi keluar dan itu pun dibantu oleh Mirza. Kemudian keduanya melangkah menuju ruang dimana William dan Dania tengah duduk santai. Digenggamnya erat tangan Arumi sepanjang langkah.


"Pa, Ma..." sapa Mirza setengah mengejutkan keduanya yang tengah berbincang santai.


"Hei, Ar. Sini, Ndok..."


Tangan Dania memberi isyarat agar Arumi duduk di dekatnya. Arumi pun langsung mengikuti isyarat tersebut. Sementara Mirza duduk tak jauh dari Arumi.


"Papa tidak suka jika berlarut-larut, Za. Segeralah selesaikan. Apa seorang Mirza sudah lupa bagaimana caranya bereaksi cepat?" ucap William bernada sindiran.


"Ya, Pa. Semuanya karena keteledoran Mirza. Hari ini juga Mirza akan selesaikan"


"Good. Papa harap demikian. Jika kau gagal bukan saja Arumi yang tersakiti tapi dua keluarga dan juga citra perusahaan kita..."


"Ya, Pa..."


"Arumi, jangan khawatir semua akan baik-baik saja lagi. Percayakan pada Mirza. Mama yakin Mirza bisa menyelesaikannya cepat..."


"Ma, Pa...titip Arumi ya. Mirza ke kantor dahulu. Ada pers conference. Mirza mengadakannya di aula kantor..."


"Ok. Serahkan pada kami. Arumi aman..." ucap William sambil tersenyum menggoda.


"Takut betul..."


"Oya, tentu Mirza takut. Karena kalian bertiga adalah orang terpenting dalam hidup Mirza"


"Ya, sudah. Pergilah..."


"Em, Ar...Aku, aku..."


"Ah, lama sekali. Hanya ingin ke pers conference loh, Za. Bukan ingin ke Medan perang"


Arumi tersenyum geli mendengar ucapan William yang selalu saja sukses membuat senyumnya mengembang.


"Ah, Papa ini mengganggu saja. Ar, ikut sebentar" ucap Mirza sambil menarik Arumi ke ruang atas.


"Hei, jangan kau apa-apakan anak gadis mama itu...!"


Tanpa mempedulikan peringatan Dania, Mirza terus membawa Arumi ke ruangan yang ada di atas.


"Mengapa Arumi terasa ringan ya? Aku tidak merasakan terbebani sama sekali saat menariknya. Bukankah berat tubuh Arumi hampir enam puluh kilogram? Aneh..." batin Mirza.


"Dasar si manusia kulkas, tak berperasaan. Aku kan manusia bukan kambing, main tarik saja..! Tapi kira-kira pak Mirza sadar tidak ya dengan berat tubuh ku? Hadeeuh...." batin Arumi.


***Bagaimana, penasaran juga tidak seperti halnya mamake tentang jalannya pers conference atau rencana Arumi? Simak terus ya kelanjutannya...πŸ’“πŸ’“


Mohon maaf beberapa hari ini tidak up date. Maklum mamake sibuk lebaranan. Hehe....


BTW, MET lebaran untuk semua yang merayakan. Maaf lahir dan batin ya....πŸ™πŸ™***