150 Cm

150 Cm
Episode 24. Ada yang Kangen...



Malam itu, suasana di rumah keluarga William sedikit berbeda. Ada sedikit ketegangan saat Mirza meminta William, Sonia dan Elvano berkumpul di ruang tengah. Berkali-kali Mirza menghela nafas. Dari gelagatnya, jelas ada sesuatu yang sedang membebani fikirannya.


"Jika dikumpulkan hanya untuk menyaksikan helaan nafas, untuk apa...?" sindir William yang diamini Sonia dan senyuman tipis Elvano.


Tanpa menanggapi sindiran William, kembali Mirza menghela nafasnya. Meletakkan kedua lengannya pada paha dengan tubuh sedikit membungkuk. Sementara jemarinya menyapu wajah sedikit lama di sela helaan nafas panjangnya. Saat ini bukanlah Mirza seperti biasanya yang dingin, kaku, berani, tegas penuh kharisma dan terkadang arogan. Mirza kali ini terkesan lebih lembut, penuh perasaan bahkan suaranya saja sedikit bergetar. Aish...ada apakah dengan Mirza??


"Ma, Pa...Mirza minta maaf, sampai hari ini belum bisa membuat kalian bahagia"


"Hei, ada apa ini, Nak..."


"Jangan potong dulu ma..." pinta Mirza.


"Maaf..."


"Mirza minta maaf, ada banyak salah Mirza terhadap mama dan papa terutama tentang nasihat terakhir mama. Em, ini tentang perjodohan Mirza dan Arumi. Sesungguhnya Mirza tidak menolak tidak juga menerima saat itu. Yang Mirza yakini saat itu pasti ada alasan tertentu mengapa mama dan papa begitu ngotot menjodohkan kami...." ucapan Mirza terhenti. Ia menghela nafas kembali. Ada sedikit senyum yang terbit di sudut bibirnya. Sementara matanya sesekali menatap Wiliam dan Sonia bergantian.


"Saat itu Mirza menolak karena Mirza tengah menjalin hubungan dengan Andrea. Semua perhatian dan rasa ini hanya tertuju padanya. Bahkan Andrea menjadi tolak ukur sebagai gadis yang sangat ideal untuk di jadikan pasangan. Namun seiring waktu semua berubah. Pa, Ma...Mirza telah membuat kesepakatan gila yang Arumi setujui karena di bawah tekanan Mirza. Intinya Arumi harus berhasil membuat Mirza jatuh cinta kepadanya dalam waktu enam bulan..."


"Anak kurang ngajar. Berani-beraninya kau memperlakukan Arumi seperti itu..." ucap William dengan tangan terangkat ke udara.


"Sabar, Pa..."


"Mirza memang salah sudah berlaku tidak adil pada Arumi. Tapi dengan kesepakatan itu paling tidak memberikan kesempatan kepada Mirza untuk mengenal Arumi lebih jauh. Dan diam-diam Mirza mencari tahu perjuangan Arumi untuk mencapai itu. Semangat untuk berubah dan segala program dietnya, sebenarnya Mirza ikuti dari waktu ke waktu. Mirza tidak pernah meninggalkannya karena Mirza sudah tersentuh. Dan setelah itu, perlahan satu-satu sisi positif Arumi terlihat. Kemampuan beladiri nya, melukis hingga kepandaian akademiknya. Sehingga dari semua hal yang Mirza ketahui satu kesimpulan Mirza bahwa Mirza sudah kalah. Karena Mirza sudah jatuh cinta kepada Arumi bahkan sebelum lima bulan dari enam bulan dalam kesepakatan kami...."


Sampai sini kata Mirza terhenti. Matanya menatap satu-satu wajah orang-orang yang amat ia sayangi itu. Ia menilik reaksi apa yang ingin ditampilkan wajah-wajah orang di hadapannya itu. Hening. Mungkin kata ini yang mewakili situasi yang di dapat saat itu. Dan hal tersebut membuat Mirza gamang.


.


.


.


.


.


"Bhuahaha.....!!"


Tiba-tiba saja tawa ketiganya pecah dan telah sukses membuat Mirza termangu. Matanya gamang menatap wajah ketiga orang yang tengah asyik mengadu kenyaringan suara itu.


"Sabar ya, papa menghabiskan tawa papa dulu. Belum puas rasanya..."


Sinar di wajah Mirza meredup, berganti muram. Hatinya menjadi gelisah dan mulai menebak maksud dari tawa dan ucapan William.


"Mau kemana, Za...?" ucap Sonia saat melihat anak semata wayangnya itu berdiri dari duduknya.


"Ke kamar, Ma. Percuma di sini juga, hanya jadi olokan saja..."


"Eh, siapa yang mengolok. Ayo...duduk dahulu. Mama dan papa jelaskan..."


"Ya, Za. Tenanglah..."


"Diam kau. Dasar sahabat ga punya akhlak. Bisa-bisanya menertawai ku..."


"Maaf, Bro..."


"Sebenarnya mama dan papa sudah menduganya. Kebersamaan mu dengan Andrea di Villa hanya sebagai bahan perbandingan perasaan mu. Kau ingin mengetahui perasaan mu yang sebenarnya bukan?"


"Ya, Ma. Karena Mirza mulai menyadari perasaan terhadap Arumi saat perhelatan kampus. Walau Mirza acuh, tapi sebenarnya memperhatikan semuanya. Terlebih saat berada di dekat Arumi Mirza merasakan desiran aneh yang tak Mirza dapat kan saat bersama Andrea. Mirza juga meras jauh lebih nyaman bersama Arumi...."


"Papa dan mama senang mendengarnya. Lalu apa rencana selanjutnya..."


"Ehem... Mirza ingin mengundang Om Permana dan Arumi makan siang di cafe kita, besok. Menurut papa, bagaimana?"


"Boleh juga. Coba nanti papa hubungi om Permana. Bisa tidak..."


"Fiuh...trims Pa, Ma. Kalau begitu Mirza ke kamar dahulu ya..."


"Ya, istirahatlah..."


"El, file kerjasama dengan perusahaan Dewantara tolong ditinjau ulang. Hasilnya tolong kirim ke saya besok pagi..."


"Busyeet...ini mah namanya ngerjain..."


"Terima aja. Sudah takdir Lo, El. Hahaha..." ucap Mirza sambil menaiki anak tangga yang cukup mengular.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pukul sembilan lewat lima belas menit. Mirza duduk menghadapi sebuah laptop yang masih menyala. Setumpuk pekerjaannya telah berhasil membuat Mirza melupakan persoalan pribadinya untuk sementara waktu.


Namun di suatu waktu, setelah beberapa saat ia melakukan pekerjaannya Mirza mendadak merasakan sebuah desiran aneh yang kian membuncah. Sebuah desiran yang membuatnya enggan berkonsentrasi.


"Astaga..." gumam Mirza sambil mengusap kasar wajahnya.


Mirza bangkit dari duduknya dan berjalan mondar-mandir dalam ruang kerjanya. Kini di tangannya tergenggam ponsel. Tampak Mirza menimang-nimang benda pipih di tangannya tersebut. Sedikit ragu ia mencoba menghubungi sebuah kontak berharap kegundahannya hilang atau paling tidak berkurang.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Berulangkali Mirza menghubunginya, namun tiada jawaban.


"Ah, mungkin sudah terlelap..." batin Mirza bermaksud mengakhiri panggilannya.


"Hallo... Assalamu'alaikum"


Mirza terhenyak ketika sebuah suara menyambut panggilan teleponnya.


"Wa'alaikumussalam..."


"Ada apa, Pak...?"


"Maaf mengganggu tidur mu. Aku...aku hanya ingin mendengar suaramu"


"Aish...Arumi kira ada sesuatu yang penting"


"Ini penting bagi ku..."


"Oya, kenapa..."


"Sepertinya aku kangen Arumi..."


"Sepertinya...?


"Hah...benar aku kangen Arumi"


"Pak, bisa tidak obrolannya di lanjut lewat pesan singkat saja?"


"Em, emang tidak mengganggu Arumi...?"


"Ah, tidak kebetulan Arumi juga sedang banyak tugas. Jadi sekalian nemenin begadang. Hehe..."


"Ok. Ok... kebetulan aku juga sedang banyak kerjaan. Asyik juga sepertinya ditemani Arumi..."


"Hehe...Arumi tutup ya. *Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumussalam*..."


Tut.


Tut.


Tut.


"Fiuh...begini rupanya kangen itu. Sebuah rasa yang belum pernah aku alami walau saat bersama Andrea sekali pun"


Senyum Mirza terbit dari ujung bibirnya. Ajaib memang. Setelah berbincang sebentar, gundah di hatinya berkurang. Kemudian Mirza pun memulai kembali pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Mirza mengusap wajahnya disela helaan nafasnya, saat ia merasakan semangat yang luar biasaenyelimuti jiwanya.


Kemudian Mirza meraih kembali benda pipih yang tergeletak tak jauh darinya. Dan ia menguntai sebuah pesan lalu mengirimkannya pada Arumi.


"Mengerjakan tugas matkul apa? Sudah selesai belum?"


Lama pesan itu tak berbalas. Dan Mirza sendiri tenggelam kembali pada pekerjaannya. Namun selang beberapa waktu, ponsel Mirza berpendar.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


"Tugas MB dari bapak. Hehe... Arumi baru mengerjakan Sepertiganya. Bapak sudah selesai?"


"Ada kesulitan kah mengerjakannya? Pekerjaan saya pun belum selesai. Sepertinya masih butuh waktu lama..."


"Kekurangan bahan literatur. Ada sebuah buku penting yang sulit di cari belakangan ini"


"Buku apa...?"


"Buku manajemen operasional..."


"Apakah ini?" pesan Mirza bersama sebuah gambar buku yang dimaksud Arumi.


"Ya, Pak. Bapak memilikinya? Atau bagaimana?"


"Hahaha...anggap kau sudah memilikinya. Besok ku berikan pada mu"


"Sungguh..? Terima kasih, bapak. Buku ini sulit sekali ditemukan..."


"Sama-sama. Jika sudah selesai cepatlah istirahat..."


"Belum. Masih ada satu tugas lagi. Apa bapak sudah selesai?"


"Belum..."


"Ya, sudah bapak kerjakan. Nanti tidak selesai, terhambat loh pekerjaan bapak..."


"Terhambat? Tidak. Justru aku senang. Ar, terima kasih ya sudah mau menemaniku. Seperti inilah yang ku mau dari mu. Jangan pernah menolak perhatianku terhadap mu. Aku mohon..."


"Ya ampun...pak Mirza. Manusia kulkas ini, sudah banyak bicara sekarang. Ku kira dinginnya akan bertahan sampai akhir. Hahaha..." batin Arumi.


"Baiklah. Tapi tidak berlebih ya..."


"Bilang jika berlebih atau jika Arumi tidak menyukainya..."


Lama pesan itu belum berbalas. Hingga pekerjaan Mirza pun usai. Mirza menutup laptop nya dan meregangkan tubuh. Wajahnya tampak sumringah menampakkan hatinya yang tengah berseri.


Kemudian tangan Mirza meraih ponsel yang berada tak jauh. Matanya menatap layar ponsel yang tampak kosong. Pesannya tak terbalas.


"Em, sepertinya Arumi sudah tertidur. Apalagi sekarang sudah pukul satu dini hari. Mimpi indah, Arumi..." batin Mirza sambil tersenyum.


🌸🌸🌸🌸🌸


Seusai sarapan Arumi kembali ke kamar. Ia harus segera bersiap jika tidak ingin di teriaki Arya lagi. Arumi tersenyum menatap perubahan pada tubuhnya. Walau tinggi tubuhnya tak dapat diubah, namun setidaknya berat badannya yang terus berkurang semakin mempengaruhi penampilannya.


Pukul tujuh lewat lima belas menit. Arumi menelengkan kepalanya bersiap mendengar teriakan Arya.


"Satu, dua, tiga...." hitung Arumi.


Arumi mengernyitkan dahinya saat tak mendapati teriakan Arya seperti biasanya.


"Apa kesumbat ya tuh mulut lemes. Tumben banget ga da teriakannya..." batin Arumi.


Kemudian Arumi pun segera menuruni anak tangga menuju halaman biasa Arya dan motor sport-nya terparkir.


"Kak Arya...!! mulut mu ter..." ucap Arumi terhenti saat melihat sosok laki-laki yang tengah berdiri dan berbincang dengan ayahnya.


Melihat kehadiran Arumi, laki-laki tampan itu menatap dan tersenyum tipis.


"Pak Mirza... ngapain?"


"Kok gitu nanyanya...?" ucap Permana.


"Tidak apa-apa, Om. Sudah biasa..."


"Egh..."


"Nieh...." ucap Mirza sambil menyodorkan paper bag warna putih.


Arumi menatap Mirza. Ada tanya di ujung tatapannya.


"Em, itu buku manajemen yang Arumi butuhkan..."


"Aaah...Ya. Buku manajemen. Trims ya, Pak"


"Arumi...kenapa manggilnya masih bapak? Mbok ya..cari panggilan yang enak di dengar gitu"


"Kakek..? Om, atau pak de..."


"Sembarangan..." ucap Permana dengan logat kedaerahannya.


"Sudah tidak apa-apa, Om. Mungkin itu memang panggilan sayang Arumi kepada saya"


"Egh...."


"Ya...Ya. Mungkin juga..." tertawa Permana sambil menepuk bahu Mirza.


"Arumi mo sekalian saya antar?"


"Em, Arumi dengan kak Arya aja. Bapak mo ke kantor, kan?"


"Ya... Kalau Arumi mau ga apa-apa saya belok sedikit"


"Jangan, pak. Nanti jadi gosip di kampus"


Mirza menghela nafas sambil tersenyum tipis saja.


"Kak Arya mana, Yah..?"


"Kangen ya...?" ucap Arya yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


"Kaya jelangkung, saja. Muncul kok tiba-tiba..."


"Kaget, ya...?" ucap Arya sambil menarik hidung Arumi.


Melihat interaksi keduanya, hati Mirza berdesir. Tangannya mengepal, walau senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Em, ok. Saya pamit, Om. Arumi, Arya..."


"Ya, Pak..." ucap keduanya bersamaan.


Tak lama mobil sport silver Mirza melaju meninggalkan halaman rumah.


"Arumi, siang nanti ayah jemput ya. Ayah ingin mengajak Arumi ke suatu tempat"


"Arya, Yah?"


"Arumi dahulu ya. Besoknya baru kita semua. Ok anak laki-laki ayah yang super duper ganteng?"


"Ok dech, Ayah. Sekarang kita berangkat Ar, sudah siang. Mami masih ke pasar ya, Yah?"


"Ya. Seperti tidak tahu mami saja kalau sudah di pasar. Semua mau di borong..."


"Hahaha...."


"Kira-kira kemana ayah akan mengajak ku? Em, apa berkaitan dengan pak Mirza...?" batin Arumi saat motor sport mulai meninggalkan rumah.