150 Cm

150 Cm
Episode 41. Surat Izin Menikah



"Kenapa harus tunangan? Kalian menikah saja..." ucap seorang laki-laki.


Sontak Mirza dan Arumi mengalihkan perhatiannya kepada si empunya suara.


"Ayah....?!" ucap Mirza dan Arumi hampir bersamaan saat mendapati Permana tengah berdiri di ujung tangga. Matanya menatap keduanya bergantian.


Berdiri Mirza dan Arumi saat Permana melangkah menghampiri. Senyum Permana terurai begitu khas.


"Kenapa harus tunangan? Kalian menikah saja. Kuliah kan bisa dilanjutkan walau sudah menikah. Begitu pula dengan bekerja dan membuat pagelaran seni lukis" ucap Permana saat berdiri tepat di hadapan keduanya dan duduk sambil terus mengurai senyum.


"Ayah...." ucap Arumi lesu.


Mirza menatap Arumi lekat. Ia tahu betul bagaimana perasaan Arumi saat itu, saat mendengar ucapan Permana.


"Saran yang bagus, Yah..." ucap Mirza dengan mata tetap menatap Arumi.


Sejatinya Mirza benar-benar ingin mengetahui reaksi Arumi yang saat itu tengah menyimpan wajah di pangkuannya.


"Kenapa ayah tidak mendukung keinginan ku? Kenapa ayah justru mendukung keinginan kak Mirza? Apa keduanya sudah bersengkokol?" batin Arumi.


.


.


.


"Ndok..." panggil Permana.


"Ya, Yah..." jawab Arumi tergagap. Matanya langsung menatap Permana dengan sendu.


"Em, tidak apa-apa Yah. Sepertinya Arumi butuh waktu untuk memikirkannya. Seandainya keputusan Arumi tak berubah pun, Mirza akan menunggu sampai keinginan Arumi terwujud"


"Ar, Za...ayah ini sudah tua. Ayah ingin melepas kepergian Arumi saat ayah masih sehat bukan ketika sudah tiada. Karena itu penuhilah keinginan ayah yang satu ini. Agar ayah tenang..."


"Ayah kok ngomongnya gitu. Ayah akan sehat terus kok. Arumi akan selalu berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan ayah..."


Arumi berucap dengan suara bergetar. Saat itu entah mengapa Arumi merasa seakan kata-kata perpisahan. Namun secepat mungkin ia menepis perasaan itu, membungkusnya dan meletakkannya di sudut hati paling dalam.


"Ada apa dengan ayah? Mengapa seakan ayah hendak bepergian jauh? Dan mata ayah pun seperti berkaca-kaca. Ada apa, Ayah? Ah, semoga ini hanya perasaan ku saja..."


"Kok ayah ada di sini...?" ucap Arumi kemudian mengakhiri diamnya.


"Kebetulan mampir saja. Mami mu pesen salah satu menu di sini. Rupanya mami mu ketagihan menu di sini. Hehe..."


"Hehehe...."


"Ayah juga tahu Arumi di sini?"


"Pak Daniel tadi yang memberitahu...."


"O..."


"Za, ayah...mendukung niatmu. Buat Arumi luluh agar ia mau kau nikahi dalam waktu dekat ini. Kalau perlu besok pagi...." ucap Permana sesat sebelum berlalu.


"Ayah...Apaan sih" ucap Arumi.


"Siap, Ndan..." ucap Mirza sambil tersenyum penuh kemenangan karena mendapat dukungan ayah mertuanya.


"Ish...kalian berdua ini sama saja" Arumi manyun. Tangannya mencubit kecil perut Mirza.


"Ck...sakit, sayang"


"Rasakan itu..."


"Aku hanya bercanda, sayang. Masa aku menolak keinginan ayah mertuaku secara langsung. Tapi kalau kau setuju, aku sih siap..."


"Nah, kan...! Dasar memang kakak yang mau cepat-cepat kan? Terus kakak tidak menghargai keinginanku. Begitu kan?"


"Tidak begitu, sayang. Aku...." ucap Mirza terhenti saat pak Daniel datang bersama dua pegawai membawa hidangan.


"Pak Daniel, pesanan ayah mertua saya bagaimana?"


"Sudah, Tuan. Seperti perintah, Tuan Mirza"


"Good. Terima kasih...'


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi, Tuan, Nona. Selamat menikmati..." ucap Daniel sesaat sebelum berlalu.


Daniel pun berlalu setelah mendapat anggukan Mirza. Langkahnya begitu ringan karena tiada ocehan yang ia dapat seperti biasanya dari pemilik MA Group itu.


"Tumben nieh singa sedikit jinak pada pegawainya. Biasanya selalu siap menerkam. Apa sudah jinak ya? Hehe...Dan lagi sikapnya juga mulai mencair tidak se-kaku seperti biasanya. Aku jauh lebih suka Mirza yang seperti ini, lebih manusiawi..."


"Sayang...Kok melihat ku seperti itu? Tampan ya? Makin jatuh cinta ya...?"


"Ah, Em...iya. Kakak tuh tampan. Dan aku....Ah, sudahlah. Mari makan"


"Ar, kalau bicara itu jangan menggantung. Diselesaikan loh. Jangan sampai lawan bicaramu bingung, menduga-duga sampai bertanya-tanya..."


"Tidak penting loh, Kak..."


"Bagi mu tidak. Tapi bagi ku penting" ucap Mirza sambil menyorong satu sendok penuh nasi dan lauk pauk.


"Makan dulu aja ya, nanti kita bahas lagi"


Mirza mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Arumi yang terkesan menghindar itu.


"Hem, kalau sudah jadi istri ku saja. Aku sudah ******* tuh bibit tipis" ucap Mirza gemas.


"Kan kakak sudah pernah merasakannya..."


BLUSH....


Agak memerah wajah Mirza mendengar ucapan Arumi barusan. Tapi bukan Mirza jika tidak bisa menutupi rasanya saat itu.


"Em, ya. Tapi akan jauh berbeda jika kau sudah menjadi istriku. Pasti bisa melakukan hal lebih saat berciuman. Hehe..."


BLUSH.....


Kini Arumi yang wajahnya memerah. Dan Arumi benar-benar tidak dapat menyembunyikan kegaguannya tersebut.


"Duh...makin cantik saja jika wajahnya memerah seperti itu. Ish, gemas melihatnya. Ingin rasanya ku terkam langsung dan ku bawa kabur ke kamar. Hahaha...." batin Mirza sambil menyulam senyum di ujung bibirnya.


"Dasar otak mesum....!"


Lagi-lagi tangan Arumi menghadiahkan cubitan pada lengan Mirza. Dan membuat pengusaha sukses nan menawan itu meringis. Tangan lainnya mengusap-usap lengan bekas cubitan Arumi.


"Ini namanya KDRT sebelum waktunya..." seloroh Mirza yang tak ditanggapi Arumi serius.


"Au, Ah..." jawab Arumi.


Tangan Arumi mendorong piring makannya sedikit menjauh dan membersihkan sisi makanan pada sudut bibirnya.


"Marah ya..."


"Tidak. Hanya kesal saja. Kakak kelewatan bercandanya...


"Hehe...Loh kenapa? Kita kan sama-sama dewasa"


"Ya. Tapi tidak di tempat umum gini juga, Kak"


"Tempat umum? Ini tempat sudah di private loh. Dan lagi ini cafe milik ku. Jadi aku bebas donk..."


Mirza mengikuti langkah Arumi dan langsung memgurungnya dengan kedua lengannya.


"Kak..."


"Hem..."


"Ja-jangan seperti ini donk"


"Tidak apa-apa. Aku kan tidak melakukan apa-apa"


"Ya. Tapi...."


"Hah, baiklah..." ucap Mirza sambil menggeser tubuhnya ke sebelah kanan Arumi.


Kemudian tiba-tiba saja Mirza menarik sebuah kursi kayu ke dekat Arumi.


"Naiklah..." ucap Mirza.


"Tapi, Kak...."


"Tidak apa-apa. Tidak akan ada yang memarahi Nyonya Mirza"


Arumi tersenyum. Kakinya mulai menapak pada kursi di dekatnya. Namun baru saja sebelah kakinya menapak, Arumi hilang keseimbangan. Tubuhnya limbung dan hampir terjerembab jika saja Mirza tidak meraih tubuh gembul itu.


"Arumi..."


Mirza terkesiap. Dengan cepat tangannya meraih tubuh Arumi dan mendekapnya erat. Arumi bergelayut dengan kedua lengan melingkar pada leher Mirza. Mata keduanya pun saling bertautan dalam. Menyelami kedalamannya. Berselancar seiring degup irama jantung yang kian bertalu.


"MasyaAllah...indah sekali mata mu Arumi. Begitu indah, teduh dan menenangkan bara yang berkobar di dada ini. Berulangkali sudah aku jatuh hati padamu. Teruslah menjadi seperti ini, Arumi..." batin Mirza.


"Degup jantung ini milik mu, kak. Hanya milik mu. Aku mencintai mu. Sungguh hanya kau seorang yang telah menjadi pilihanku untuk menjadi imam ku dunia dan akhirat" batin Arumi.


"Aku mencintai mu..." ucap Mirza lirih tanpa melepaskan dekapan ataupun tatapannya.


"Kak...."


Ucapan Arumi begitu lirih. Bahkan nyaris tak terdengar. Matanya benar-benar terkunci pada kedalaman mata Mirza yang menyala terang.


PLAK...!


Arumi terpaksa memukul lengan Mirza untuk mengembalikan kesadaran. Dan benar saja, Mirza terkesiap dan langsung melepaskan dekapannya sesaat setelah memberikan kesempatan pada Arumi untuk berdiri sempurna di atas kursi.


Sikap Mirza jadi sangat rikuh. Begitu pun Arumi. Tak hentinya Arumi mengusap wajahnya ataupun membetulkan rambutnya walau sebelumnya sudah ia rapikan.


"Maaf..." ucap Mirza gagu.


"Em, terima kasih...kakak sudah menolong saya. Jika tidak ada kakak pasti Arumi sdh jatuh tadi"


"Bukankah itu kewajiban ku sebagai suami..? Wajar donk...."


"Iya, wajar. Calon suami ku yang tampan rupawan..."


"Itu memang sudah bawaan sejak lahir, sayang. Hehe..."


"Menikah, yuk...."


"Kakak ini loh. Masih usaha ya...?"


"Haha....siapa tahu kamu khilaf, yank"


"Tidak akan, kak..."


"Aku akan membolehkan mu tetap kuliah dan atau mengejar cita-cita mu setelah menikah nanti. Sungguh..."


"Tapi saat menikah nanti akan ada banyak tanggungjawab yang harus dipenuhi. Aku khawatir tanggungjawab itu akan terganggu hanya karen aku tetap kuliah dan atau mewujudkan cita-cita ku..."


"Aku tidak seperti itu, yank. Menuntut tanggungjawab terlalu banyak dari mu. Dan lagi jika kau ingin merasakan dunia kerja, aku bisa memfasilitasi mu saat ini juga..."


"Memfasilitasi apa?"


"Kerja. Kau bisa bekerja di perusahaan dimana pun kau mau..."


"Sungguh...?! Tapi pasti akan sangat kaku jika aku bekerja di MA Group. Semua akan sungkan jika tahu siapa aku"


"Hehe....betul juga"


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Mirza berpendar.


"Ya, Faaz. Ada apa..." ucap Mirza datar.


"Bisakah kita bertemu...? Penting..."


"Aku bersama Arumi..."


"Jangan...! Arumi tidak boleh tahu"


.


.


.


Mirza terdiam ditengah-tengah percakapan. Hatinya sedikit gelisah saat mendengar nada bicara Faaz.


"Za...!"


"Za...!"


"Ya, baiklah. Aku antar dahulu. Kau dimana?"


"Di rumah sakit..."


"Baiklah..."


Tut.


Tut.


Tut.


Percakapan pun terputus dan menyisakan pertanyaan di hati Mirza.


"Kak, ada apa...?"


"Faaz meminta ku menemuinya..."


"Mungkin penting. Kalau begitu mari kita pulang..." ucap Arumi sambil mengurai senyum.


"Maaf ya, sayang. Lain kali kita sambung lagi perbincangan kita..."


"Tidak apa-apa, Kak...."